Anta's Diary

Anta's Diary
Menolong Hantu Lumpur



Ke empat anak itu sampai di sebuah kampung di pinggiran kota di Jalan Kliwon.


"Terus ke mana, nih?" tanya Arya.


"Masuk gang sebelah ke kiri terus ke rumah nomor 25," jawab Anta.


Hantu lumpur itu mengangguk.


"Tuh, bener kan kata Tantenya," tunjuk Anta.


Semuanya ikut menoleh termasuk Mey. Anta dan Arga sadar akan hal itu. Keduanya saling bertatapan seolah saling bertanya satu sama lain. Mereka sadar kalau Mey sebenarnya sudah bisa melihat hantu.


"Mey, Anta mau tanya—"


Arga mencolek siku Anta agar tak menanyakan hal tersebut.


"Kenapa, Nta?" tanya Mey.


"Mey, kamu lapar enggak?" tanya Anta mengalihkan pertanyaannya tadi.


"Heh, pada ngapain masih di sini?"


Arya yang tak sabar langsung menarik lengan Anta agar bergegas.


Mereka pun mencari rumah Dokter Iman sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah bercat hijau dengan pagar hitam. Seorang wanita paruh baya menyambut mereka.


"Mau cari siapa?" tanya Nenek itu.


"Dokter Iman ada?" tanya Anta seraya mencium punggung tangan wanita itu.


"Ada, silakan masuk! Iman... ada tamu, nih..." seru Nenek itu memanggil Dokter Iman.


Pria berpakaian kaus putih dan celana kolor bergambar spongebob itu ke luar dari balik tirai.


"Astagfirullah, kalian mau apa ke sini?"


Dokter Iman langsung berbalik arah menuju kamarnya kembali, ia malu memakai kolor yang terlihat imut itu.


"Hahaha... manis banget kolornya, Dok," ucap Arya meledek Iman.


"Beuh pake meledek kayak elo nggak pernah pake kolor imut aja, gue pernah lihat kolor elo gambar mickey mouse," sahut Arga.


"Kapan? Jangan fitnah elo!"


"Pas ganti baju yang kita ekskul renang, gue nggak sengaja liat, hahaha..."


Arya langsung membekap mulut Arga agar tak meledeknya lagi.


Anta dan Mey saling bertatapan lalu tertawa.


"Puas elo pada ketawain gue, mau lihat enggak gue pakai kolor apa?"


Arya menantang dua gadis di hadapannya.


Anta dengan kesal menjambak rambut Arya.


Tak lama kemudian, Iman datang sudah berganti celana panjang. Anta menceritakan perihal kedatangannya. Ia menyentuh tangan dokter itu agar bisa melihat hantu lumpur. Kini hantu bernama Sri itu sudah bersih dan terlihat cantik seperti saat dia masih manusia.


"Abang, ini Sri," ucap hantu lumpur itu menghampiri suaminya dan mencoba memeluknya.


"Kenapa kamu masih gentayangan, sayangku?" tanya Iman menyambut pelukan istrinya seraya menangis.


"Sri enggak bermaksud mengganggu kamu, aku cuma mau minta maaf dan kasih tau jasad aku dimana," ucapnya.


Sri tak tahan juga untuk menangis.


"Lalu jasad kamu di mana, Sri?"


"Ada di dalam gua yang tertutup longsor, bukan cuma aku, tapi ada tiga warga lain yang bersembunyi di sana dan akhirnya mati karena tak ada oksigen. Kami tak bisa bertahan hidup karena longsor itu," ucap Sri.


"Jadi, kamu masih ada di sana?"


Sri mengangguk.


Neneknya Iman datang membawa air minum ia memperhatikan cucunya yang berbicara sendiri sambil menangis. Wanita paruh baya itu hampir saja pingsan melihat pembicaraan cucunya. Arya dengan sigap meraih nampan di tangan wanita itu dan Arga meraih tubuh wanita itu untuk menahannya.


"Duduk dulu, Nek, nanti kita jelasin," lirih Arga.


"Dan aku enggak akan tenang sebelum jasadku dan warga lainnya ditemukan," ucap Sri.


Arya mendekat pada Anta lalu mengamati pembicaraan suami istri tersebut. Anak muda itu meraih biskuit dalam toples yang ada di atas meja kecil dekat dengan kursi yang ia duduki. Ia mengunyahnya diikuti oleh Anta yang merasa lapar.


"Kok, biskuit ini aneh, ya?" gumam Arya seraya mengamati biskuit itu dengan saksama.


"Iya, baunya juga rada amis," ucap Anta.


Iman menoleh denga uraian air mata. Ia seka bulir bening itu seraya berucap, "hiks hiks... jangan dimakan, itu biskuit kucing saya."


"Buaahhhh!"


Anta dan Arya saling menyemburkan biskuit dalam mulut mereka ke muka masung-masing.


"Makanya, tunggu dipersilakan, kalian pada celamitan banget, sih," ucap Arga.


Mey menyerahkan tisu pada Arya dan Anta. Setelah itu, Arga menceritakan pada Neneknya Iman mengenai pembicaraan cucunya itu dengan hantu istrinya Sri.


"Kalau gitu kita temui Mbah Larjo," ucap Nek Sari.


"Dukun yang di kampung sebelah, Nek?" tanya Iman yang dijawab anggukan oleh wanita paruh baya itu.


"Iya yang di kampung sebelah, kan dia orang pinter Kali aja bisa bantu proses pencarian jasad Sri. Lagian kalau di sini adanya dukun beranak, sama dukun pijet masa kita datangi, enggak nyambung toh," sahut Nenek Marni seraya menoyor kepala Iman dengan gemas.


"Nek, harusnya minta tolong sama petugas penanggulangan bencana buat evakuasi, masa minta dukun, buat apa?" tanya Iman.


"Biar bantu arwah istri kamu tenang," ucap Nenek.


"Ya udah, besok aku ajak itu dukun ke kampung Sri buat cari jasad dia," ucap Iman.


Setelah selesai dengan urusan membantu hantu lumpur itu, Anta dan lainnya pamit. Mereka bergegas menuju rumah Ria yang terletak 200 meter dari rumah Dokter Iman.


"Naik ojek aja apa, kaki gue pegel," keluh Arya.


"Tanggung dikit lagi, cemen banget luh!" sahut Arga.


"Belum kenyang luh makan biskuit kucing?" ledek Arya.


"Dih, banyakan kamu sih nyemilnya, tapi kalau lama-lama dirasain enak juga tau," ucap Anta.


"Iyuh... jorok banget sih, Nta!" sahut Mey.


"Yeee... anggap aja lagi makan biskuit ikan."


"Anta mau kalau aku beliin biskuit kucing yang kemasan satu kilo itu?"


Arga merangkul bahu gadis itu.


"Hahaha... lucu banget sih kamu, masa serius gitu nanggepin Anta mau biskuit kucing. Eh, gimana kabar saudara tiri kamu si Angel?" tanya Anta.


Arya yang melihat tindakan Arga langsung hadir di tengah keduanya. Ia merangkul bahu Arga dan Anta menjadi pemisah jarak keduanya. Sementara itu, Mey menatap cemburu saat berjalan di belakang ketiga anak itu.


"Si Angel jutek sama aku, dia enggak mau tegur aku sama sekali," jawab Arga.


"Kalian ngomongin siapa, sih?" tanya Arya.


"Kepo!"


Arga dan Anta menyahut bersamaan.


***


Keempat anak muda itu sampai di sebuah rumah besar berbentuk klasik berpagar warna putih. Cat dinding rumah besar itu juga terlihat sudah usang.


“Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang kakek tua penunggu rumah itu.


“Siang, Kek, Ria ada?" tanya Anta.


"Kalian cari Non Ria wah dia itu... ada. Kalian siapa nya Non Ria?"


"Gurunya, Kek," sahut Arya.


"Kalian pakai seragam sama ama Non, masa ngaku gurunya?"


"Nah, itu tau, ya kita temennya Ria."


“Oh, begitu bilang dong dari tadi, mari masuk, saya panggil Non Ria dulu," ucapnya mempersilakan.


Keempat anak muda itu melangkah


mengikuti langkah kaki pria paruh baya itu menuju teras rumah besar itu.


“Silakan duduk di sini, saya panggil Non Ria dulu,” ucapnya.


“Nta, ada yang cari tuh!" tunjuk Arga ke depan gerbang hitam yang mereka lewati tadi.


Arya yang menoleh ke arah yang ditunjuk Arga langsung terkejut dan mendekat ke arah Anta. Mey juga melihatnya.


"Mey, ngaku deh, kamu bisa lihat hantu, kan?" tanya Anta.


Mey menoleh pada gadis itu.


"Emang iya, Mey bisa lihat hantu?"


Arya ikut menelisik menatap Mey.


Arga juga sudah menyimak.


“Maksud kamu, Nta?" tanya Mey.


"Udah deh jangan bohong, kamu lihat kan hantu yang lagi ngeliatin kita, Mey?”


Sosok perempuan seusia belia seperti mereka dengan rambut pendek seleher sedang menatap ke arah mereka. Wajah pucat itu terlihat sangat sedih. Ia memakai pakaian tidur bergambar bintang kecil warna kuninh dan terlihat lusuh. Tubuhnya bersimbah darah di bagian perutnya seperti terkena tusukan. Hantu itu mendekat saat tau para anak itu dapat melihatnya.


Mey langsung mendekat ke samping Anta seraya menguatkan diri untuk melihat hantu tersebut.


“Tuh kan, kamu bisa lihat, Mey?” tebak Anta.


“Bi-bi-bisa, iya aku bisa lihat," jawab Mey.


“Sejak kapan kamu bisa lihat?” tanya Arga.


“Sejak tadi, aku kepentok di pohon asem terus bisa lihat hantu."


Gadis itu berusaha berbohong.


“Ada apa dengan pohon asem sekolah? Masa kepentok di sana langsung bisa lihat hantu?” tanya Arya.


“Aku jatuh terus kepalaku terbentur, nah, dari situ aku bisa lihat penampakan,” ucap Mey


berbohong lagi.


“Oh, gitu.”


TIba-tiba, hantu wanita itu mendekat ke hadapan mereka dan makin dekat.


Hantu perempuan itu maju perlahan menyentuh wajah Arga dengan kedua tangannya yang


pucat. Tangan hantu wanita itu terasa kasar dan berbau menjijikkan saat menyentuh pipi pemuda itu.


“A-an-anda, mau apa?” tanya Arga dengan penuh kegugupan merasuk ke raga, ia takut juga jika berhadapan sangat dekat.


“Tolong saya..." lirih hantu itu.


"Yah, pasien baru lagi deh," celetuk Arya sambil menyembunyikan wajahnya di balik kursi yang diduduki Anta.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni