Anta's Diary

Anta's Diary
Arya Galau



Happy Reading...


******


"Hadiah? Tumben dia kasih Abang hadiah, jangan-jangan cuma mau iseng lagi. Terus pas Abang buka isinya bom."


Dion langsung berjongkok dan meletakkan kotak hitam itu agak jauh. Ia mengulurkan tangan kanan untuk membuka kotak. Sementara di tangan kirinya ia menutup daun telinganya.


Anta, Ria dan Arga jadi reflek mengikuti kelakuan Dion dengan berjongkok dan menutup kedua lubang telinga mereka. Saat Dion membukanya terlihat gantungan kunci yang sama dengan milik Anta.


"Ngapain si Arya kasih gue kayak gini?" Dion mengangkat gantungan kunci itu ke hadapan wajahnya.


"Itu kan punya Arya," ucap Anta menunjuk benda di tangan Dion.


"Terus kalau ini punya si Arya kenapa di kasih ke Aku?" tanya Dion.


"Anta enggak tau, tapi sini Anta yang pegang, mungkin dia salah kasih." Anta meraih benda di tangan Dion itu.


"Hmmm... mungkin juga sih."


"Tapi tadi kayaknya Arya enggak salah kasih, kok, emang dia nyiapin itu kado suruh dikasihkan ke Abang Dion," sahut Ria.


"Kayaknya salah kasih," ucap Anta bersikeras.


Arga melirik gantungan kunci yang ada di tas Anta, ia melihat kemiripan dengan gantungan kunci yang Arya berikan pada Dion itu.


"Kok sama sih gantungan kuncinya, si Anta versi cewek, nah yang itu versi cowok," gumam Arga seraya mengamati. Pemuda itu mulai menemukan titik temu yang kemungkinan sesuai dengan pemikirannya. Mungkinkah Arya memberikan gantungan kunci itu pada Dion agar Anta berjodoh dengan pemuda itu?


"Aku mau pulang dulu, ya, kamu sama Kak Dion, kan?" tanya Arga pada Ria setelah berpikir sejenak.


"Gue mau antar Anta pulang, elo aja yang anter adek gue," pinta Dion.


"Tapi, aku mau ke rumah Arya, Kak, mau nagih utang," jawab Arga asal.


"Utang apaan? Kok bisa sih?"


"Ya adalah, utang duit, biasa sama temen," jawab Arga.


"Gini aja, udah gini aja, aku ikut kamu ke rumah Arya, nanti pas sampai apartemen, aku pindah mobil ke mobil Abang Dion," ucap Ria.


"Ya udah gitu aja," sahut Dion.


"Ya udah deh, ayo pulang sekarang!" ajak Anta.


Ria naik mobil Arga dan Anta akhirnya naik mobil Dion menuju Apartemen Emas.


***


Sesampainya di depan Apartemen Emas, setelah mereka turun dari dalam mobil, Dion menarik tangan Anta dan membawa gadis itu ke pelukannya.


"Biarkan seperti ini, Nta."


"Ta-tapi, Kak..."


"Besok antar aku ke bandara ya, aku mau lihat kamu untuk terakhir kali."


"Emang Kak Dion enggak balik lagi ke sini?"


"Entahlah, aku takut cukup lama ada di sana," lirih Dion.


Arya yang baru datang setelah merenung di taman itu melihat Anta dalam pelukan Dion. Setelah menghentikan langkahnya cukup lama, ia akhirnya memilih beranjak pergi. Arga menahannya.


"Ikut gue!" Arga menarik tangan Arya menuju taman lagi.


"Ga, terus aku gimana?" tanya Ria.


"Tunggu situ dulu, ya!"


Arga masih menarik tangan Arya menuju taman.


"Apaan sih, Ga, gue mau pulang!" seru Arya.


"Jawab pertanyaan gue, kenapa elo kasih gantungan kunci yang sama ama punya Anta ke Dion? Elo lepasin Anta buat Dion?" tanya Arga.


"Udahlah, elo aja udah move on sama Ria, terus gue enggak bisa move on gitu? Capek gue nungguin dia buka hati sama gue!"


"Jadi elo nyerah?"


"Iya."


"Terus elo pikir dengan elo nyerahin Anta ke Dion yang mau pergi jauh, itu si Anta bakal bahagia? Belum tentu lho si Anta bakal bertahan dengan LDR," ucap Arga.


"Tau lah, gue udah lihat dia bahagia kok sama Dion."


"Udah lihat? Cuma lihat kan, belum tanya langsung sama Anta?"


"Gue udah pernah tanya, dia bilang dia sayang sama gue kayak dia sayang sama elo, dia cuma anggap gue sahabatnya."


Arya merebahkan bokongnya di kursi taman. Di samping kursi itu ada sosok pocong baru yang bergentayangan di taman itu karena belum bisa pergi dengan tenang. Pocong itu menunggu kekasihnya datang, akan tetapi si kekasih belum datang ia malah mengalami kerampokan dan tewas di taman itu. Arga menyusul Arya dengan ikut duduk di kursi taman tersebut.


"Geseran, Cong!" pinta Arya.


"Pindah tempat apa, ini kan tempat gue nunggu pacar gue, kenapa pas ngumpul di sini, sih?"


"Males buat pindah, udah mager, elo aja yang geser."


"Masih aja galau luh, Bro? Belum kelar yang tadi?" tanya pocong itu.


"Gue mau pulang nih temen gue ngajakin ke sini lagi," sahut Arya.


"Temen elo bisa liat gue juga, ya?" tanya pocong berwajah pucat itu.


"Bisa, Bang Cong!" seru Arga.


"Nama gue Joko, bukan bencong."


"Bang Cong, itu maksudnya Abang Pocong!" sahut Arga.


"Oh, panggil gue Joko aja!"


"Penghuni baru, ya?" tanya Arga.


"Iya, hiks hiks, huhuuu..." Pocong itu malah menangis sejadi-jadinya.


"Tuh, mulai lagi deh, tadi giliran gue yang galau dia yang nangis," sahut Arya.


"Habisnya gue kepikiran pacar gue kenapa enggak sampe-sampe sini," ucapnya.


"Elo ditinggalkan kali sama tuh cewek?" tanya Arga.


"Enggak mungkin dia kan setia banget sama aku," ucapnya bangga.


"Terus dia udah tau elo udah mati?" tanya Arya.


"Nah, itu yang gue enggak tau, apa dia udah tau ya?"


"Dia dateng kali ke kuburan elo, bukan ke sini!" sahut Arya.


"Lha, kok gue baru kepikiran ya, gue ke kuburan dulu lah," ucap pocong itu lalu bangkit dan melompat pergi.


"Capek, capek dah luh ke kuburan, hahaha..." Arya menertawai sosok hantu itu.


"Nah, ini baru Arya yang gue kenal, yang suka blak blakan ngatain orang!" Arga merangkul bahu Arya.


"Balik, yuk!" ajak Arga.


"Ga, gue mau sekolah keluar negeri aja, gue ambil sekolah musik di busan."


"Kok, elo jadi ikutan pindah, nanti yang jagain Anta siapa?" Arga mulai bertolak pinggang dengan tatapan sinis.


"Elo yang jagain sama Ria," sahut Arya.


"Ya, elo pikir dulu deh matang-matang. Lagian kenapa juga elo ambil sekolah musik, supaya nyaingin Dion?"


"Gue enggak akan pernah bisa nyaingin Dion, sudahlah ayo balik!" ajak Arya.


Mobil Dion sudah beranjak pergi, Ria juga sudah pamit menghubungi ponsel Arga tadi. Arya menatap tempat di mana Anta dan Dion berpelukan.


"Gue pulang, Ya. Elo jangan ambil keputusan terlalu cepat, pikirin baik-baik, bentar lagi kita naik kelas punya adek kelas yang bisa kita kerjain hahahaha, dan itu enggak akan seru tanpa elo!" ucap Arga.


Arya hanya tersenyum mengangkat tangan kanannya dan melambai pada Arga yang melangkah masuk menuju mobilnya.


"Assalamualaikum...!" seru Arga.


"Walaikumsalam."


Arya mencoba untuk melangkah masuk ke dalam Apartemen Emas. Ia memandang gedung yang menjulang tinggi itu. Kakinya terasa berat untuk melangkah ke dalam. Namun, ia harus tetap tegar.


"Halo, Pak!" tegur Arya pada salah satu satpam.


"Halo, Mas Arya! Selamat malam!"


Arya menekan tombol lift dan masuk ke dalamnya. Seperti biasa ia bertemu dengan hantu Tomo dan Susi yang masih saja awet bergentayangan berdua di dunia ini.


"Lemes amat, Ya?" tegur Tomo.


"Lagi capek gue, eh itu bola mata Om Tomo kok warnanya beda?"


"Oh, ini si Susi beliin aku contact lense," sahutnya.


"Beli di mana?"


"Enggak beli sih, aku pake koleksi lensa kontak penunggu kamar di lantai 15 itu, yang meninggal minggu lalu. Dia bilang boleh buat aku, ya udah aku ambil aja buat Tomo."


"Tapi ini rada miring kayaknya, Beb," sahut Tomo.


Susi langsung menarik bola mata milik Tomo keluar dari rongga matanya untuk membenarkan posisi lensa kontak tersebut.


"Astagfirullah, enggak gitu juga kali cara benerinnya!" keluh Arya seraya berpaling tak mau melihat betapa jijiknya hal yang dilakukan Tomo dan Susi.


Pintu lift terbuka di lantai sepuluh. Arya keluar dan menuju apartemennya. Langkahnya terhenti kala ia melihat seseorang berdiri di depan pintu apartemennya.


*****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰


Selamat menjalankan ibadah puasa.