
Happy Reading
*****
Di Rumah Sakit Keluarga.
Tante Dewi sudah siuman. Dita menemani di sampingnya. Sementara itu, Andri membeli minum dan sarapan untuk mengisi perutnya. Dokter Arini memeriksa keadaan Tante Dewi dengan saksama.
"Kita lakukan USG ya, saya penasaran," ucapnya.
"Rin, aku kenapa ya, apa ada miom atau kista di perut aku?" tanya Dewi.
"Belum bisa dipastikan, tapi saya mau lakukan USG kamu sekarang!" ucap Dokter Arini.
Ia memerintahkan dua suster asistennya untuk membawa alat USG ke ruang perawatan Tante Dewi.
Andri datang seraya membawakan dita air mineral dalam botol serta roti isi coklat pada Dita.
"Makasih, Ndri," ucap Dita.
"Sama-sama, jadi istri saya sakit apa, Dok?" tanya Andri.
"Tunggu sebentar ya, saya akan memastikan," jawab Dokter Arini.
Setelah alat USG itu sampai, Dokter Arini mulai mengecek perut pasiennya dan meneliti layar tersebut.
"Dew, kamu lihat ini!" Dokter Arini menunjuk ke sebuah benda yang terlihat bergerak di latar monitor.
"Apa? Aku hamil?" pekik Tante Dewi.
"Tapi bukankah kamu sudah melakukan operasi angkat rahim?" tanya Dokter Arini.
"Ini apa maksudnya, ya?" tanya Andri.
"Ini, Ndri, lihat ke monitor. Usia janin di kandungan Dewi sekitar enam minggu. Detak jantungnya bagus, dan perkembangan janin ini juga baik," ucap Dokter Arini.
Tiba-tiba, dentuman dari tubuh Andri terdengar saat ia menghantam lantai kamar perawatan. Pria itu tak sadarkan diri kala mendengar berita kehamilan istrinya. Dita langsung meminta para suster untuk mengangkat tubuh Andri ke atas sofa.
Bobot tubuh Andri lebih berat dari dugaan Dita, wanita itu sempat tak kuat saat mengangkat tubuh pria itu ke atas sofa. Kepala Andri sampai terantuk pinggir sofa dengan keras.
"Haduh, maaf ya Ndri," lirih Dita.
"Maaf, Tante, habisnya Andri berat, nih." Dita menunjukkan deretan gigi putih dan rapi yang ia miliki. Para suster juga tertawa kecil saat membantu mengangkat tubuh Andri.
"Baru ini saya lihat ada suami denger istrinya hamil bukannya jingkrak kegirangan malah pingsan," gumam Dokter Arini.
"Tapi, serius kan aku hamil, Rin?" tanya Tante Dewi memastikan kembali penglihatannya.
"Kamu lihat sendiri, kan? Ini janin kamu. Aku harus liat rekam medis saat operasi kamu waktu itu dan siapa dokter yang menangani operasi tersebut," ucap Dokter Arini lalu membersihkan cairan gel dingin di perut Tante Dewi dengan tisu.
"Iya, makasih banyak sebelumnya."
"Karena mual kamu parah bahkan sampai pingsan, sebaiknya kamu bed rest dulu satu apa dua hari di sini, ya," pinta Dokter Arini.
"Baiklah, makasih banyak ya Rin. Mungkin ini keajaiban dari Allah buat saya," ucapnya.
"Tapi, Wi ... usia kamu hampir kepala lima, sebuah resiko besar jika kamu harus mempertahankan janin ini."
"Aku tau, tapi ini yang aku inginkan. Aku juga ingin Andri bahagia dan memiliki keturunan." Tante Dewi menatap penuh cinta pada pria yang terbaring tak sadarkan diri di atas sofa.
"Baiklah, kalau itu mau kamu. Aku hanya bisa bantu merawat kamu, memberi kamu vitamin dan memastikan kamu dan janin dalam kandungan kamu sehat meskipun cukup penuh resiko," ucap Dokter Arini.
"Iya, aku tahu. Udah sana balik ke ruangan kamu atau visit pasien lain!" titah Tante Dewi pada rekan kerjanya itu.
Dokter Arini dan dua suster asistennya pamit. Akan tetapi, salah satu suster akan kembali membawa minyak kayu putih dan air teh manis hangat untuk Andri. Dita mengucapkan terima kasih seraya mengipasi wajah Andri dengan koran di tangannya. Setelah semuanya keluar ruangan, Dita bangkit dan menghampiri Tante Dewi.
"Ta, kamu denger kan? Aku hamil," ucap Tante Dewi dengan menunjukkan wajah berbinar.
"Aku tau, aku udah denger semuanya. Tapi, adakah yang aku nggak tau sebelum Tante mulai hamil?" tanya Dita seraya bertolak pinggang.
"Kamu kok ngomong gitu, bukannya ucapin selamat sama Tante kamu ini."
"Tante udah nggak punya rahim, kok bisa Tante hamil? Adakah sesuatu yang Tante lakuin sampai keajaiban itu datang dan membuat Tante hamil? Jawab yang jujur Tante, atau Dita panggil Anta supaya menerawang apa yang Tante pernah lakuin," ancam Dita.
*****
To be continue...
Jangan lupa favorit, like, komentar, dan vite. Terima kasih.