Anta's Diary

Anta's Diary
Mencari Anta



Jangan lupa bayar cerita ini dengan cara kumpulin poin buat VOTE ya ke Anta. terima kasih...


***


Ah, masa sih? coba nanti gue tanya


sama Dion,” sahut Arya yang tak sadar kembali keceplosan.


Fani dan Lisna langsung saling


bertatapan dan tak mengerti dengan ucapan Arya barusan.


"Maksudnya, coba nanti gue pikir dulu, gue inget-inget apa kita pernah jadian apa enggak," sahut Arya.


"Abang, ayo pulang!" seru Ria meneriaki Arya yang langsung menjawab, "oke."


"Gue pergi dulu, ya, daaahhh..."


Arya melepas tangan Fani yang terus memegangi ujung jaketnya itu.


Ia segera melangkah menuju Ria dan keluarganya itu meninggalkan Fani dan Lisna.


Raja kembali ke restoran The Anan's karena tak juga menemukan Anta. Ia berpikir kalau kakaknya itu sudah pulang dan berada di dalam restoran. Namun, saat ia tiba di sana tak ada sang kakak yang ia temui.


"Kok, bisa sih kamu pulang enggak sama Anta?" tanya Tasya.


"Aku juga enggak tau, tadi Kak Anta sama Kak Arya," ucap Raja.


"Coba Tante telepon Arya, mana nomor teleponnya?" pinta Tasya.


"Aku enggak tau, Tante," jawab Raja.


"Astaga, ya udah Tante telepon Anta."


Wanita itu mengeluarkan ponsel dari saku dan menghubungi Anta. Ponsel gadis itu berdering di pohon besar dekat danau. Rupanya Fani menyembunyikan tas gadis itu di pohon tersebut. Hantu perempuan berpakaian pelayan restoran itu meraih tas tersebut.


"Halo."


Suara hantu perempuan itu terdengar parau dan mengejutkan Tasya.


"Si-siapa, ini?" tanya Tasya.


"Aku Sherly," jawabnya.


Tasya mencoba mengecek kembali layar ponselnya untuk meyakinkan diri kalau ia sedang menghubungi Anta.


"Bener kok, ini nomor Anta," gumamnya.


"Maaf, ya, Mbak, ini hape keponakan saya, kenapa ada sama Mbak?" tanya Tasya.


"Ada yang buang ke sini," jawabnya.


"Ada yang buang? Kok, bisa?" tanya Tasya lagi.


"Bisa."


"Mbak ada di mana sekarang ini ponselnya?"


"Sama saya."


"Iya saya tau, maksudnya posisinya ada di mana?"


"Di bawah pohon."


"Bawah pohon di mana, di rumah Mbak, alamatnya di mana?" tanya Tasya mulai gemas.


"Pohon besar dekat danau, dalam taman bermain ini," jawabnya datar dan bersuara dingin.


Tut, tut, tut.


Sherly mematikan ponsel milik Anta tersebut. Ia letakkan lagi ponsel itu dalam tas kecil berwarna ungu.


"Yah, kok dimatiin," gumam Tasya menatap layar ponsel itu.


"Jadi, Kak Anta ada di mana?" tanya Raja.


"Enggak tau, yang angkat bukan Anta, tapi cewek katanya ada di pohon besar dekat danau," jawab Tasya.


"Wah, jangan-jangan hantu perempuan yang kepalanya miring tadi, terus lehernya banyak belatung, hiy... serem!" sahut Raja.


"Berarti, kita harus ke sana. Ayo, Ja, tunjukkan di mana tempatnya!"


Tasya meraih tas jinjingnya yang dia kalungkan ke bahu lalu bergegas menuju taman bermain di seberang restoran itu.


"Apa aku harus ikut?" tanya Ratu Sanca menahan langkah Tasya.


"Enggak usah, kan Ratu jagain restoran ini, tunggu sini aja!" pinta Tasya.


"Baiklah, kalian hati-hati," ucap Ratu Sanca.


Tasya melangkah dengan menarik lengan Raja yang mencoba bertahan karena tak mau bertemu dengan hantu menjijikan dengan hantu penuh belatung tadi.


"Ayo, ikut!" ajak Tasya.


"Jijik, Tante, aku di restoran aja," pinta Raja.


Tiba-tiba mobil sedan hitam yang baru ke luar gerbang taman bermain berhenti mendadak di hadapan mereka. Untung saja sang sopir menekan pedal rem dengan cekatan sehingga berhenti tepat di hadapan Tasya dan Raja.


"Tante Tasya, mau ke mana?" tanya Arya yang mengeluarkan sebagian kepalanya ke luar jendela.


"Kamu kenal?" tanya Hartono.


"Mau cari Anta," jawab Tasya.


"Hah, cari Anta?"


Arya langsung turun dari mobil dan menghampiri Tasya.


"Emang Anta ke mana?" tanya Arya.


"Enggak tau, kata Raja sama kamu," jawab Tasya.


"Ya, tadi kan sama Kakak," ucap Raja menunjuk ke arah Arya.


"Enggak sama gue, kan tadi gue manggil terus je ruang kantor, tadi dia gue tinggal gitu," ucap Arya.


"Ada apa sih?" tanya Ria yang turun juga dari mobil.


"Anta hilang," jawab Arya.


"Hilang, kok bisa?"


"Ini makanya mau cari, tadi Tante hubungi hapenya nyambung, yang angkat tapi bukan dia," jawab Tasya.


"Yang angkat siapa?" tanya Arya menelisik wanita di hadapannya itu.


Tasya menjawab dengan berbisik pada Arya.


"Kata Raja, hantu," bisik Tasya.


"Hah, terus jangan-jangan dia diculik sama hantu," pekik Arya.


"Heh, kalian mau pulang enggak?" tegur Hartono yang ke luar dari mobil itu bersama sang istri.


"Begini, Pak, keponakan saya belum ke luar dari wahana, yang saya takutkan dia ada di dalam," ucap Tasya.


"Tapi, taman bermain itu sudah tutup besok baru buka lagi, masa bisa ketinggalan di dalam?" tanya Hartono.


"Nah, makanya itu saya mau tau, Pak," sahut Tasya.


"Oke, saya panggil Mang Teguh dulu buat bukain gerbang sama kawal kalian ke dalam," ucap Hartono.


Pria itu lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi si penjaga taman. Tak lama kemudian seorang pria bertubuh tegap berpakaian seragam penjaga keamanan membukakan pintu gerbang.


"Nah, silahkan kalian cari sama penjaga itu, ayo pulang Dion, Ria!" ucap Hartono.


"Abang Dion, ayo, Papa udah ajak pulang, tuh," ucap Ria menarik lengan Arya.


"Kamu pulang duluan aja, gue mau cari Anta nanti gue pulang pakai taxi aja," jawab Arya.


"Atau nanti saya antar pulang," sahut Tasya.


"Ya udah, kalau gitu aku ikut cari Anta," pinta Ria.


"Jangan, elo pulang aja, biar enggak diomelin Om sama Tante, nanti gue kabari," ucap Arya.


Ria akhirnya menurut, lalu ia masuk ke dalam mobil dan menjelaskan perihal sosok Arya dalam tubuh Dion belum mau pulang.


Mobil milik Hartono itu melaju pamit meninggalkan Tasya dan lainnya.


"Halo, Pak Teguh, permisi ya sebentar saya mau cari keponakan saya dulu," ucap Tasya.


"Kok bisa ya keponakan kalian ketinggalan di taman ini?" tanyanya.


"Bisa, Pak, bisa jadi dia ketiduran," jawab Arya.


"Kalian silakan mencari keberadaan keponakan kalian, saya mau ke wc dulu, ya, kebelet. Nanti kalau sudah ketemu harap hubungi saya lagi," ucap satpam itu lalu ia segera berlari ke kamar mandi.


Beberapa petugas penjaga stand tampak masih membereskan kedai dan stand mereka untuk bersiap pulang.


Tasya langsung berdekatan dengan Raja. Setelah wahana itu ditutup, banyak juga hantu dengan bagian tubuh tak lengkap terlihat berdiri menatap ke arahnya dengan tatapan kosong. Ada pula yang tersenyum menyeringai.


"Tuh, hantu itu tadi minta es krim sama aku," bisik Raja.


"Terus kamu kasih?" tanya Tasya.


"Kasih lah, bukan dia doang, hantu yang itu juga tadi minta," tunjuk Raja.


"Banyak juga ya hantu anak kecilnya," bisik Tasya.


"Tante, kok aku makin berat sih, punggung aku berat banget, nih," gumam Raja yang merasakan ada sesuatu di punggungnya itu.


Tasya mencoba menoleh perlahan-lahan. Ia sangat terkejut kala melihat Arya sudah memeluk Raja dari belakang. Ia bersembunyi di punggung milik Raja.


"Jelas aja berat, yang nemplok di kamu macam dia!" tunjuk Tasya pada Arya yang menunjukkan deretan giginya itu meringis.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.