
Happy Reading...
****
Enggak usah kamu jelasin, tuh hantu si Mia ada di belakang Anta," ucap Jorji langsung menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.
Arga dan Arya langsung menoleh dan melakukan hal yang sama. Hanya Ria yang tak dapat melihat hantu Mia itu terlihat kebingungan. Anta langsung menoleh ke belakang tubuhnya.
"Hai, Mia!" sapa Anta.
"Bubar, bubar! Balik aja yuk ke kelas!"
Arya menarik lengan Anta untuk bangkit dari kantin.
"Tapi, Ya, itu si Mia gimana?" tanya Anta masih menoleh pada hantu Mia.
"Bisa enggak elu cuek gitu, emang nggak capek apa nolongin hantu mulu?" tanya Arya dengan suara membentak.
Bibir Anta mengerucut dan menatap sebal pada pemuda yang menarik lengannya menuju kelas.
"Ga, tungguin aku dong! Boro-boro digandeng kayak si Anta," ucap Ria.
"Kamu bisa jalan, kan?" tanya Arga.
Ria mengangguk.
"Ya udah, jalan aja yang bener!" ketus Arga.
Ria menghentak-hentakkan kedua kakinya dengan kesal. Lalu, ia melangkah menyusul Arga. Sementara itu, Jorji masih menatap hantu Mia dengan takut-takut.
"Hai, jangan ikut ya, nih main sama temen baru, bye...!"
Jorji langsung lari tunggang langgang sampai menyusul Anta dan Arya.
"Wuih... cepet juga larinya," ucap Arya.
***
Sepulang sekolah, tempat kejadian perkara saat Mia terjun dari lantai lima itu sudah mulai ramai dikunjungi oleh polisi. Beberapa media yang datang meliput juga sudah hadir.
Ria menarik tangan Anta menuju ke toilet kala itu. Perutnya terasa sakit setelah diem-diem menyantap roti goreng di kelas bersama Anta.
Mereka melangkah menuju toilet dan saat hendak memasuki toilet perempuan, mereka tak sengaja menabrak Fani dan Lisna yang baru saja keluar.
"Eh, para kutu busuk! Berani-beraninya luh ya nabrak gue!" hardik Fani.
"Udah Fan, jangan diladeni kita ke kantin dulu, yuk!" ajak Lisna yang mulai takut menatap Anta.
"Maaf ya, Kak, kita enggak sengaja," ucap Ria sembari menundukkan kepalanya, ia tampak takut.
"Tau ih, kan kita bilang enggak sengaja, lagian udah minta maaf juga," sahut Anta.
"Enggak apa-apa kok, eh mau pada pakai toilet ini ya? Nih, silakan," ucap Lisna sembari memaksakan wajahnya dengan tersenyum.
"Na, elo kenapa sih, mereka tuh pakai toilet yang dipojok itu, kenapa kasih masuk yang di sini?" tanya Fani dengan raut wajah bingung dan heran.
"Udah deh, kita ke kantin aja!" ajak Lisna lagi.
"Hai, Anta! Eh, aku mau tanya dong, kira-kira Dion punya pacar enggak?" tanya Jorji yang tiba-tiba datang dan menepuk bahu Anta.
"Wah kurang tau, Kak, coba tanya sama Kak Dion!" jawab Anta.
"Oh gitu..."
"Heh, anak baru! Jangan kecentilan deh sok banegt mah deketin Dion, gue aja yang dari kelas 10 bareng- bareng dia belum pernah jalan bareng kecuali ada kegiatan sekolah," sahut Fani mendorong bahu kanan Jorji dengan ujung telunjuknya.
"Yeee... apa urusannya sama aku, mungkin aja si Dion enggak mau sama elo, makanya ngaca!" sahut Jorji.
"Heh, elo tuh yang ngaca!" sahut Fani menjambak rambut Jorji yang dikuncir satu.
"Wah, beraninya main jambak rambut aku, jangan mentang-mentang orang lama ya di sini, jadi semena-mena."
Jorji tak mau kalah, ia lantas membalas jambak2an Fani.
Adegan pertarungan Jorji dan Fani pun menjadi tontonan murid yang melintas. Mereka juga mengambil gambar video pertarungan keduanya.
"Nta, ayo masuk aja yuk, aku kebelet nih!" pinta Ria sambil menarik lengan Anta dan buru-buru ke dalam.
"Ih, kita pisahin dulu mereka," ucap Anta.
"Ah, aku enggak mau kena cakar!" sahut Ria.
Benar saja perkataan Ria, saat Lisna yang mencoba melerai terkena cakaran Fani, bahkan ia juga jatuh ke atas rumput di sebelah lantai keramik sekolah karena dorongan tangan Jorji yang tak sengaja.
"Heh, pada ngapain kalian?"
Suara ibu guru Bimbingan Konseling yang baru hadir mendekat bersama Pak Herdi.
"Lagi main masak-masakan! Harusnya ya Ibu Yeni liat dong mereka lagi berantem," sahut Pak Herdi.
"Iya, Pak, saya tau, ayo kita pisahin!" ucapnya.
Bukannya berhenti dan takut karena kehadiran dua guru tersebut, Fani dan Jorji makin bertambah liar. Arga, Arya, bahkan Dion dan teman satu band mendekat.
Pak Herdi akhirnya berteriak setelah ia terdorong oleh Fani. Kerudung yang menutupi Ibu Yeni juga sempat tertarik, kini Ibu guru itu sudah sibuk membetulkan kerudungnya seraya menatap tajam ke arah dua siswi itu.
"Kalian pada berantem gara-gara apa, sih?" tanya Herdi sambil berseru dan bertolak pinggang serta menatap tajam pada kedua gadis itu.
"Nih, gara-gara dia, Pak!" sahut Anta seraya menunjuk ke arah Dion.
Pemuda itu menatap Anta tak percaya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kok, gara-gara gue?" tanya Dion.
"Iya, Bang, mereka rebutan jadi pacar Abang," sahut Ria membenarkan.
"Hayu luh Dion, hayu luh... makanya jangan sok playboy udah diributin dua cewek masih aja mau deketin Anta," gumam Arya menuding Dion.
"Diam luh, gue gambar nih pipi elu pakai tangan gue!" ancam Dion.
"Wah, ancaman nih, Pak ni Pak, ini si Dion mau nampar saya!" Arya mengadu pada Pak Herdi.
"Jangan mulai deh, Ya!" Anta menarik ujung daun telinga pemuda itu.
"Duh, sakit sakit sakit, Nta...!"
"Sukurin, makanya diam aja!" sahut Arga.
"Kalian berdua, ikut saya ke ruang BK!" seru Ibu Yeni pada Fani dan Jorji.
"Kamu ikut Dion!" ajak Herdi.
"Lho, kok saya ikut Pak?" tanya Dion.
"Saya mau tau aja kamu pilih mana biar mereka damai gitu," ucap Herdi.
"Lho kok gitu, jelas saya pilih...."
Dion yang hendak menunjuk Anta tiba-tiba kehilangan gadis itu. Ria sudah menarik gadis itu masuk ke dalam toilet perempuan.
"Elu mau nunjuk Arga, Sob?" tanya Arya seraya tersenyum meledek.
"Ah, rese luh!"
Dion akhirnya menurut dan mengikuti Pak Herdi padahal pria itu hanya bercanda mengajak pemuda itu ikut serta ke ruang BK.
"Ayo pulang, Elo mau ngintip si Anta sama Ria apa?" tanya Arga seraya merangkul Arya.
"Idih, emang gue cowok apaan se hina itu, entar mata gue bintitan," sahut Arya.
Sementara itu di dalam toilet, Anta menunggu Ria yang masih berada di salah satu bilik itu di depan cermin toilet. Tiba-tiba saat ia mencuci tangan sebuah bayangan perempuan muncul di cermin mengejutkan gadis itu.
"Astagfirullah, apaan tuh, ya?"
Anta langsung mundur beberapa langkah dengan refleknya. Bayangan gadis itu lalu keluar dari dalam cermin. Bunyi retakan di cermin itu terdengar seolah-olah pecah tertimpuk benda dari arah depan.
Terlihat kedua tangan keluar dari cermin lalu sosok itu merangkak dengan kedua tangannya yang tiba terlebih dahulu. Kedua tangan sosok itu terlihat pucat dan penuh darah sangat mengerikan. Perlahan-lahan kepala dengan rambut menutupi wajah itu juga ikut keluar. Lalu, tangan yang penuh darah itu menampilkan wajah yang tadinya tertutup rambut. Wajah hantu itu masih Anta kenal.
"Ah si Mia, nakutin aja nih, Anta pikir siapa," ucap Anta seraya membantu hantu Mia ke luar dari cermin.
"Kok kamu enggak takut sama aku, sih? Aku kan mau nakutin kamu kayak tadi si Jorji anak baru itu ketakutan liat aku," ucap Mia.
Setelah tubuh hantu itu keluar sepenuhnya karena bantuan Anta, kemudian ia berjalan terseok-seok karena kaki kanannya patah bengkok ke arah berlawan. Uluran tangannya yang penuh dengan darah akibat luka menyeret aspal berusaha menyentuh wajahnya sendiri.
"Aku jelek banget ya, Nta?" tanya Mia.
Wajah Mia memang kala itu terlihat hancur, hantu itu lalu makin mendekat ke Anta.
"Kamu ngapain sih bunuh diri? Masih rame tuh TKP kamu sama pak polisi dan media," ucap Anta.
Kedua tangan Mila sudah berada di atas bahu Anta. Bau anyir darah menusuk ke dalam hidung gadis itu sampai membuat perutnya bergejolak minta segera di keluarkan.
"Jangan deket-deket dong, Mia rada-rada bau, nih!" pinta Anta.
"Ah, Anta mah bikin aku tambah baper aja nih, aku sedih tau," ucap Mia.
"WOI...!!! Bengong aja kamu di situ," Ria menepuk bahu Anta, sekejap itu juga hantu Mia malah menghilang.
"Ah, Ria ngagetin aja, siapa yang bengong sih, orang Anta lagi ngobrol sama si Mia, Anta mau tanya kenapa dia bunuh diri," sahut Anta.
"Ih, untung aku punya temen kayak kamu cuma satu, coba punya lima aja kayak kamu, udah gila aku kali ya ketakutan mulu, udah yuk balik aja!" ajak Ria.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Vie punya cerpen baru, yuk mampir
"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon
Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, jangan lupa komen dan love ya.
Follow IG : @vie_junaeni