Anta's Diary

Anta's Diary
Tersesat di Hutan Kuntilanak



Sebelum membaca... hayo jangan lupa Vote ya Kakak-kakak sayang sekalian please...


Happy Reading...


******


Sementara itu, para siswa-siswa SMP Karya Bangsa berkumpul di aula untuk pembagian kelompok. Satu kelompok tiap kelas terdiri dari lima orang. Seperti suatu kebetulan yang memang diinginkan, Anta harus satu kelompok dengan Mey, Arya, Arga dan Iman.


"Gak ada temen yang lain apa, nih... Anta bosen tau!" keluh Anta.


"Nikmati aja, Nta, memangnya kamu bosen sama saya?" tanya Mey.


"Ya, enggaklah, Mey yang cantik macam Idol Kroya," ucap Anta merangkul bahu Mey.


"Korea, Anta," sahut Mey.


"Ya, beda tipis lah," ucap Anta terkekeh.


"Kita mau ngapain sih, bikin tim segala, bukannya calon ketua osis itu gue sama elo, kok kita malah satu tim?" gerutu Arya menatap Arga dengan ketus.


"Ya, mana aku tahu tanyalah sama panitia, berani gak?"


"Enggaklah, repot ntar gue dicabut lagi jadi kandidat."


"Guys, nanti gimana pas acara nanti malam?" tanya Iman yang selalu menggenggam cemilan di tangannya.


"Liat ntar malam, lah. Tugas aja belum ada baru dibagiin kelompok," sahut Arga.


"Oh, ya udah, kalau gitu kita cari nasi kotak, yuk!" ajak Iman.


"Ah, dasar gembul, di otak luh gak jauh dari makanan!" sahut Arya.


***


Saat malam tiba sekitar pukul setengah delapan malam setelah mengerjakan ibadah solat isya dan makan malam, semua murid berkumpul. Mereka akan melakukan jurit malam. Acara yang selalu diadakan para sekolah saat melakukan camping apalagi acara kegiatan pemilihan OSIS.


"Jadi, kita ikuti peta ini?" tanya Anta.


"Iya, buat dapetin bendera kita mau pisah apa satu kelompok aja?" tanya Arga.


"Satu kelompok aja kalau pisah nanti repot," sahut Arya.


"Halah, bilang aja takut ya, kan?" sahut Arga.


"Iya gue juga takut, Ga," sahut Iman.


"Ya udah, kita bareng-bareng aja satu kelompok," sahut Anta.


Akhirnya mereka semua bersatu mencari bendera sesuai petunjuk dari peta yang dipegang Arga. Sayangnya setelah satu jam berlalu dan mendapatkan lima bendera dari sepuluh bendera yang harus dikumpulkan, mereka tersesat masuk ke dalam hutan kuntilanak. Masing-masing anak menyalakan senter sebagai penerangan karena tiba-tiba minim penerangan di dalam sana.


"Kita nyasar, ya? kok ini ini gelap banget kayak masuk hutan, ya?" tanya Anta kala tersadar di dalam hutan itu gelap sekali.


"Tolong... tolong..." teriak Arya yang langsung diikuti Iman.


Arya yang sedang ketakutan melihat sosok hantu seperti perempuan berambut panjang yang wajahnya tak dapat terlihat. Rambut acak-acakan wanita itu menutupi wajahnya saat melayang menghampiri kelima anak itu.


"Apaan, tuh!" teriak Arya.


"Mana, gue gak lihat apa-apa," sahut Iman.


Arga mengarahkan cahaya senternya pada hantu perempuan tersebut.


"Astagfirullah... hantu apa itu, Nta?" tanya Arga yang mendekat ke tubuh Anta.


Mey dan Iman saling menatap satu sama lain mereka tak bisa melihat apapun di sana.


Hantu perempuan itu sampai ke hadapan Arya yang lantas tak bisa menggerakkan kakinya. Hantu perempuan itu mengusap-ngusap rambutnya yang sangat panjang seraya berputar mengelilingi Arya.


"Mbak Kunti, itu kutunya gede banget, ih jorok!" seru Anta menunjuk ke arah serangga yang berjatuhan tersebut.


"Hmmm... kamu berani ya sama saya?" hantu Kuntilanak itu menatap sinis ke arah Anta.


"Arya, elo kenapa?" tanya Iman.


Anta menepuk bahu Iman kala itu.


"A-apa, apa itu, Nta?"


Kini Iman pun ikut gemetar sampai ia tak bisa menahan aliran air seni yang membasahi celana dan sepatunya. Suara perempuan itu awalnya menangis lalu berganti menjadi suara tawa.


"Aduh, mati aku," gumam Arya.


Bulu kuduk Arya langsung meremang. Harusnya setelah beberapa kali melihat penampakan hantu, ia sudah bisa bertahan mengendalikan rasa takutnya. Tapi, ini beda, hantu itu makin dekat di hadapannya.


Lutut Arya gemetar terasa lemas, seolah kedua kakinya itu tak mampu menopang tubuhnya lagi. Hantu perempuan yang kerap disebut kuntilanak itu makin mendekat ke wajah tampan Arya.


"Hai... Hai ganteng mau cari siapa?" tanya hantu itu dengan suara mendesah dan lembut.


"Sa-sa-saya mau cari Kunti..." sahut Arya dengan nada gemetar.


"Kunti? Kuntilanak? hiyahiyahiya... adek-nya mau cari aku dong!" soraknya.


"Idih, najong! bukanlah, saya mau pulang!" sahut Arya dengan nada spontan.


"Ngapain pulang, mending main sama Tante, hihihihi..."


Hantu perempuan itu kini beralih melihat ke arah Arga dan mendekatinya setelah melewati iman dengan pandangan sinis tak suka.


"Anta, ada apa sih?" tanya Mey.


Anta menggenggam tangan Mey dan memperlihatkan hantu itu.


"Aaaaaaaa!"


Brug!


"Yah, dia pakai pingsan lagi si Mey," gumam Anta.


Hantu perempuan itu makin mendekat ke arah Arga yang tiba-tiba tak bisa juga menggerakkan kakinya untuk mundur.


"Ka-kamu, kamu yang cantik, jangan kesss-ke sini!" cegah Arga.


Hantu perempuan itu langsung berlutut di hadapan Arga dan mengarahkan ubun-ubun kepalanya pada Arga.


"Ma-maksudnya apa ini?" tanya Arga tak mengerti.


"Ayolah, banyak pemuda bahkan pria tua bangka yang datang ke hutan ini untuk mencari Kuntilanak, lalu mereka akan menjadikan Kuntilanak sebagai istri," ucap hantu perempuan itu menjelaskan.


"Tapi, tapi, tapi saya gak cari istri, saya masih sekolah," ucap Arga.


Anta malah tertawa melihat Arga, Arya, dan Iman yang mematung tapi ia juga berusaha menepuk pipi Mey agar sadar.


"Gak apa kalau kamu masih sekolah, nanti Tante ajarin biar pintar hihihi... cepetan paku saya!" ucap Kuntilanak itu.


"Hai, Mirah! Ngapain kamu di situ?" seru suara seorang wanita yang baru saja sampai.


Ia melayang menghampiri hantu kuntilanak bernama Mirah di hadapan Arga tersebut.


******


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta


Vie Love You All...😘😘😘


Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE buat dapatkan GA pulsa 20K tiap bulannya, semangat...!!!