
Happy Reading
Jangan lupa kirim hadiah dan Vote ya...
*****
Ria menepati janjinya membawa Anta dan yang lainnya ke sebuah cafe yang baru saja buka dan berada sekitar 200 meter dari sekolah. Padahal Tasya sudah hadir menjemput Anta di gerbang sekolah.
"Maaf ya, Tante, Anta lupa kasih tau," ucap gadis itu.
"Tau gitu tadi Tante jemput Raja dulu deh," ucap wanita yang mengenakan kaus biru dan celana jeans hitam itu.
"Iya maaf, nanti Anta bawain makanan deh," ucap gadis itu seraya memeluk Tasya.
"Oke deh."
Tasya melihat ke arah Dita yang baru saja ke luar bersama Pak Herdi. Mereka menuju ke kedai kopi yang berada di seberang sekolah.
"Ya udah sana hati-hati ya, Tante mau beli es capucino dulu," ucap Tasya.
Ia melambaikan tangan pada Anta dan yang lainnya. Wanita itu melangkah menuju ke arah Dita dan Pak Herdi.
"Jadi, kita naik apa ke sana?" tanya Mey.
"Naik mobil aku, muatlah kan lebar," sahut Ria.
Hari itu Ria dijemput oleh seorang sopir pribadi milik ayahnya. Kebetulan ayahnya dan ibunya sedang pergi bersama keluarga Dion. Arga dan Arya mengikuti para gadis. Mereka sudah meminta izin pulang terlambat pada orang tua masing-masing. Keduanya terperanjat kala melihat sosok anak muda tersenyum dengan tangan melambai pada mereka dari arah kursi depan samping Pak Sopir.
"Lho, ada Kak Dion?" tanya Anta.
"Ya, menurut elo siapa lagi?" tanya Dion.
"Gue ajak abang gue tadi, boleh kan kebetulan dia ada perlu di cafe itu, soalnya pemiliknya mau nawarin dia manggung di situ sama temen nge-band dia," ucap Ria.
"Boleh aja kok," sahut Anta.
"Gue males banget liat muka tuh cowok," bisik Arya ke Arga.
"Sama, gue juga males banget, sama kayak gue males liat muka elo," sahut Arga.
Arya menarik rambut pemuda yang duduk di sampingnya itu dengan gemas. Arga juga bergantian melakukan hal yang sama.
"Ini pada kenapa, sih, bisa tidak pada duduk tenang gitu yang akur," ucap Anta seraya melemparkan tatapan tajam ke arah kedua anak muda itu.
Keduanya terdiam saking takutnya melihat sosok Anta yang bagaikan singa betina lapar dan siap menerkam mangsanya.
***
Akhirnya para anak muda itu sampai di sebuah kafe dengan nuansa tahun 90-an. Kafe yang bernama "90'sLove" itu menyuguhkan beberapa menu minuman dari cokelat, yoghurt, dan aneka buah lainnya. Di kafe itu juga terdapat menu nasi goreng, mie goreng, serta aneka sosis dan nugget. Ada juga bermacam kue dan puding yang bisa dipilih dalam rak etalase yang terletak di samping meja pemesanan.
"Halo, selamat datang di kafe baru saya, perkenalkan nama saya Jeremy!" sapa pemilik kafe yang tampak gagah dengan kemeja hitam lengan panjang.
Ia juga memakai celana jeans dan celemek warna cokelat bergambar logo kafe tersebut.
"Halo, Kak, aku Ria yang tadi pesen meja yang ada karaokenya itu," sahut Ria membalas sapaan pria tersebut.
"Oh ya saya ingat, kamu sepupunya Dion, kan?" tanya Jeremy.
"Iya."
"Mana Dion?"
"Masih di mobil kayaknya," ucap Ria menoleh pada Anta dan Mey.
Mereka bertiga jadi bingung sendiri kala para pria muda itu belum juga masuk ke dalam kafe.
"Kalian tunggu sini bentar ya, Anta mau liat pada ngapain itu orang belum juga masuk," ucap Anta.
Rupanya mereka bertiga sedang cekcok satu sama lain akibat ulah Arya. Awalnya anak muda itu mencibir Dion sampai keduanya makin dalam terlibat adu mulut. Sang sopir terlihat menggeleng-gelengkan kepala tak bisa berbuat banyak.
Arga yang berusaha menengahi malah terkena cibiran Dion dan Arya sehingga emosinya makin tersulut. Ketiganya saling dorong dan adu mulut di samping mobil fortuner warna putih itu.
"Hei, hei, pada bisa diam tidak...!"
Anta berteriak seraya hadir di tengah ketiganya. Hampir saja gadis itu terkena pukulan Arya. Akan tetapi, pemuda itu langsung sadar kalau ia akan melayangkan tinju pada wajah gadis itu sehingga ia membelokkan ke dinding mobil.
"Duh, tangan gue sakit," pekik Arya.
"Lagian mau main pukul-pukul segala, pada kenapa sih?"
"Dia duluan yang mulai," sahut Dion menunjuk Arya.
"Elo aja yang baperan, gue mah ngomong apa adanya, elo baper wleeekk!" sahut Arya.
"Udah sih stop!"
Ketiga pemuda itu malah melanjutkan aksi saling cibir dan adu mulut.
"Dari tadi juga saya suruh diem enggak didengerin, Non," ucap Pak Sopir.
Anta yang terlanjur kesal menginjak kaki ketiga pemuda itu bergantian sekuat tenaga. Ketiga ajak muda itu langsung mengaduh seraya memegangi kaki yang diinjak gadis itu.
"Udah, puas kan ributnya, itu baru kaki yang Anta injak belum kepala kalian. Ayo masuk ke dalam!"
Tak ada lagi bantahan dari anak muda itu selain saling bertatap satu sama lain. Ketiganya akhirnya mengikuti Anta masuk ke dalam kafe.
Jeremy langsung menyambut Dion dan membawa pemuda itu duduk satu meja dengannya. Mereka terlihat membicarakan mengenai grup band pemuda itu untuk membuat kesepakatan manggung di kafe tersebut.
"Mari ikut saya!" ajak seorang pelayan wanita dengan rambut dicat merah yang terlihat nyentrik itu pada Ria.
"Oke, Mbak. Yuk, gaisss...!" Ria menarik lengan Anta dan Mey.
Arga dan Arya mengikuti di belakang ketiganya. Wajah keduanya masih terlihat masam menahan kesal satu sama lain. Mereka memasuki sebuah ruangan privat dengan layar tv besar dan sebuah audio karaoke di sampingnya. Sebuah meja besar tanpa kursi tergeletak di tengah ruangan tersebut.
"Mau langsung pesen makanan apa mau karaoke dulu?" tanya si pelayan.
"Gue sih ke sini mau makan," sahut Arya.
"Iya, Anta juga laper," sahut Anta.
"Oke, kita pesen makan langsung terus sambil karaoke deh," sahut Ria.
Perlahan tersebut lalu meletakkan tiga buku menu di meja tersebut. Ia lalu melangkah menuju ke dekat pintu untuk menunggu.
"Silakan dipilih mau makan dan minum apa, saya tunggu di sini biar enggak bolak-balik," ucapnya.
"Oke deh Mbak, eh Arga sini duduk samping Ria."
Ria berusaha menggoda Arga dengan menepuk alas duduk di sampingnya. Anta duduk di samping Mey dan memilih menu. Sementara Arga masih berusaha tersenyum menolak Ria tetapi Arya dengan sengaja mendorong anak muda itu sampai jatuh tepat di sisi samping Ria.
"Ups, maaf Ga, gue nggak sengaja," ucap Arya.
Arya langsung menuju ke area samping Anta yang kosong. Ia duduk di samping gadis itu sambil tersenyum puas. Tadinya Arga mau bangkit dan membalas tetapi gadis di sampingnya itu sudah menarik lengannya dan menunjukkan menu makanan.
"Anta mau mie goreng spesial seafood, terus minumnya milkshake stroberi, sama puding coklat yang di depan tadi terus kue sponge rasa keju ini juga enak, terus salad buah, terus—"
Arya langsung membekap mulut gadis itu.
"Hmmmffffhhh!"
Anta berusaha melepaskan diri sampai menggigit tangan Arya.
"Duh, si cumi albino, dasar ngelunjak, tau diri dong kalau ditraktir makan, masa semua makanan mau elo borong," hardik Arya.
"Yee, Anta tau diri kok, nanti Anta bayar sisanya, Ria traktir Mie goreng aja sama air putihnya, sisanya Anta," sahut gadis itu seraya mencubit paha Arya.
Arya berusaha berteriak karena kesakitan tetapi ia coba tahan dan berusaha menarik tangan Anta dari pahanya.
"Udah enggak apa, semua aku yang bayar tenang aja," sahut Ria.
"Nggak gitu Ria, Anta itu makannya banyak, nanti kebanyakan keluar uang kamunya," ucap Anta.
"Iya, jangan kaget kalau makan sama Anta," sahut Mey menimpali.
Gadis itu tersentak kala melirik ke arah tangan Anta yang berada di genggaman tangan Arya. Ia salah paham saat itu. Ia mengira keduanya sengaja berpegangan tangan padahal keduanya saling mencubit satu sama lain.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni