
Hai para pembaca tersayang, jangan lupa Vote sebelum membaca, terima kasih.
******
Tempat tisu itu sulit Arya jangkau karena ia harus menjaga selang infus agar aliran darahnya tak naik. Sebuah tangan membantu Arya dan menyerahkan lembaran gulungan tisu untuk Arya.
"Makasih ya, Om..." ucap Arya.
"Eh bentar, kan gue di kamar mandi sendirian, terus yang di samping gue ini siapa..."
Deg...
Perlahan Arya melihat ke arah kaki yang tak menapak. Permukaan kulit tampak pucat dengan bekas noda darah dan nanah yang menjadi satu terlihat mengerikan. Apalagi saat kedua mata Arya mencoba mengamati sampai ke paha. Dagingnya hancur terlihat berongga.
"Duh, kok perasaan bukan manusia nih," gumamnya.
"Memang bukan, Dek."
Deg...
Suara pria terdengar berat menggema di kamar mandi itu saat Arya mendengarnya. Arya tak mau melihat ke arah hantu tersebut karena perutnya masih terasa mulas. Ia mencoba melanjutkan kegiatannya meskipun seluruh tubuhnya bergetar gemetaran.
"Kamu makan apa, Dek, kok bau ya?" tanya hantu pria itu.
"Duh, bodo amat lah Om, namanya orang buang hajat ya bau, kalau wangi mah jadi parfum," celetuk Arya yang lupa kalau sedang berbicara dengan hantu.
Arya menutup kedua matanya saat mencoba meraih tombol selang pembersih di belakangnya. Namun, karena saking ketakutannya tangannya terpeleset saat meraih dan hampir jatuh. Akan tetapi, hantu itu dengan sigap menolong Arya. Dia menahan lengan Arya agar tak jatuh ke lantai.
Arya yang tak sadar langsung berteriak saat melihat wajah pucat si hantu pria dalam toilet itu. Dari rongga hidung dan kedua mata hantu tersebut masih mengeluarkan cairan darah yang tak mau berhenti meski hantu itu coba menyeka darah tersebut.
"Hai!"
Hantu pria itu berjongkok agar bisa melihat wajah Arya.
"Ja-ja-jangan lihat ke-ke-ke saya, Om. Sa-sa-saya takut," ucap Arya dengan bibir gemetar ketakutan.
"Gak usah takut, saya malah seneng lho ketemu kamu, jarang-jarang ada pasien yang bisa lihat saya, paling anak kecil pernah lihat saya, sama tukang bersih-bersih, janitor rumah sakit," ucapnya.
"I-iya, Om."
"Hayo mau dibantuin gak?" tanya hantu itu.
"Enggak, Om. Makasih..."
Arya mencoba bangkit dengan kedua kaki gemetar. Ia meraih selang infus-nya dengan mata tertutup mengandalkan indera peraba di tubuhnya. Arya lalu mencoba melangkah tapi tiba-tiba terasa sulit saat ia coba melangkah.
"Om tolong jangan tahan saya," pinta Arya.
"Saya gak tahan kamu, kok. Tuh kamu belum pakai celana," ucapnya sambil tertawa kala melihat celana Arya masih berada di atas mata kakinya.
Arya menoleh ke arah kakinya.
"Oh iya, Om. Saya belum pakai celana, hehehe..." sahut Arya lalu mencoba menaikan celananya kembali.
"Kamu ngapain, Ya? Kok ke kamar mandi gak minta bantuan Ayah?" tanya Pak Herdi yang langsung mengejutkan Arya.
"Astaga, Ayah... untung aku gak jantungan dari tadi kaget terus."
"Emang kamu kaget kenapa?"
"Enggak, Yah, cuma kaget aja, bantuin aku jalan ke kasur, Yah?" pinta Arya.
"Lah, tadi ke kamar mandi bisa balik kasur gak bisa," sahut Pak Herdi.
"Habisnya gemetaran susah buat jalan."
Pak Herdi tertawa mendengar penuturan Arya, lalu ia membantu Arya menuju ke atas ranjangnya kembali.
***
Keesokan harinya, Anta, Raja, Arya dan Arga sudah diperbolehkan pulang. Selang infus juga sudah dibuka karena kondisi mereka yang stabil.
"Saya gak suka ya anak saya main sama kamu, jadi jangan pernah bawa Arga main kemanapun!" hardiknya dengan menunjuk ke wajah Anta seraya dengan mata tajam menatap Anta.
"Maafin Anta, Tante," ucap Anta.
"Mami gak boleh gitu sama Anta, kan aku juga yang mau ikut Anta pergi, sampai kapanpun aku gak akan jauh-jauh dari Anta," ucap Arga.
"Tapi Mami gak suka, pokoknya mulai besok kamu jangan main sama anak pembawa sial ini," tukas Ibunya Arga seraya menunjuk Anta tapi Tasya langsung menepis tangan wanita itu.
Di belakang Tasya juga sudah bersiap Tante Dewi untuk menghardik balik Nyonya Laila.
"Jaga ucapan Nyonya ya, gadis ini bukan anak pembawa sial, dia itu pembawa keberuntungan buat saya," ucap Tasya bertolak pinggang di hadapan Nyonya Laila.
"Iya, dia juga pembawa keberuntungan buat saya," sahut Tante Dewi ikut pasang badan buat Anta.
"Huh, kalian sama aja! Ayo Arga kita pulang!" Laila menarik tangan Arga menuju mobilnya untuk pulang.
"Maafin aku ya, Nta..." ucap Arga sebelum ia ditarik lebih jauh oleh Ibunya lalu ia menurut dan masuk ke dalam mobil milik ibunya dan melaju pergi.
"Hih sebel banget, belum pernah diulek tuh bibir pakai hak sepatu aku," ucap Tante Dewi dengan geram dan kesal.
"Sabar Sayang, nanti kamu tambah berkerut lho," sahut Andri.
"Heh, kok kamu ngatain aku tua ya?"
"Aku gak ada bilang ngatain kamu tua, kok."
"Itu, pakai bilang wajah aku tambah kerutan, hayo?"
"Astaga, Dewi... hayolah kita pulang aja, Anta sama Raja mau naik mobil mana?" tanya Andri.
"Anta sama Tante Tasya aja, biar Raja ikut Papa Andri," sahut Anta.
"Oke, Raja ikut Mama sama Papa." Raja masuk ke dalam mobil Andri dan Tante Dewi.
"Yuk, kita pulang!" ajak Doni.
***
Sementara itu di mobil Pak Herdi, Hyena ikut serta menjemput Arya. Dengan wajah penuh kesal Arya berusaha menghindari tatapan Hyena ke arahnya.
"Oh iya, bulan depan kita jadi menikah kan, sayang?" tanya Hyena memandang Pak Herdi penuh tatapan mesra.
Arya mendengus kesal mendengarnya.
*******
To be continue...
Follow IG author ya @vie_junaeni
Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta
Vie Love You All...😘😘😘
Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE...!!!