Anta's Diary

Anta's Diary
S2 - Kematian Raisa



Happy Reading ...


******


Raisa menaiki sepedanya menuju ke rumahnya di alamat Jalan Melati. Di pertengahan Jalan menuju rumah, ia menghentikan laju sepedanya di depan halaman rumah nomor lima.


"Hai, Nyak Muna!" sapa Raisa kala melihat wanita itu sedang mempersiapkan dagangannya.


"Halo, Raisa! Kamu baru pulang, ya?" tanya wanita itu melukiskan senyum hangat di wajahnya.


"Iya, Nyak. Nanti aku mau pesen nasi uduknya kalau udah siap, ya?"


"Siap! Hati-hati ya pulangnya!" seru Nyak Muna panggilan khas wanita itu.


Raisa kembali mengayuh sepedanya di jalan sampai melintasi kebun singkong. Seorang pria pemilik kebun yang ia kenal itu menyapa gadis kecil tersebut.


"Halo, Pak!"


"Halo, Nak Raisa, baru pulang sekolah, ya?" tanyanya.


"Iya."


Tiba-tiba, ban sepeda gadis itu mendadak bocor karena tertusuk sebuah paku.


"Duh, ban aku kempes," ucap gadis itu.


"Sini, Bapak coba betulkan!" Pria itu datang menawarkan bantuan.


Raisa yang memang membutuhkan bantuan karena harus menempuh dua ratus meter menuju rumahnya, akhirnya menyetujui saran pria itu.


"Ayo, ikut!" pinta pria yang mengenakan kaus lengan pendek hadiah dari salah satu partai pemilu dan celana kulot panjang warna hitam.


Pria itu membawa Raisa menuju ke belakang rumah dan mengarah ke area gudang bawah tanah. Raisa perlahan mengikuti, meskipun ia merasa agak takut dengan sekeliling. Pohon-pohon singkong mulai tumbuh dengan lebat.


"Raisa suka singkong?" tanyanya.


"Suka."


"Nanti Bapak bawakan singkong ya dari sini. Kebetulan banyak yang bisa dipanen," ucapnya seraya menuntun sepeda milik Raisa.


"Wah, dengan senang hati kalau begitu aku terima. Aku jadi nggak enak nih udah dibantuin benerin sepeda plus dikasih singkong." Raisa tampak tertawa dengan senyum merekah. Gadis itu merasa kalau hari itu adalah hari keberuntungannya setelah tadi berkenalan dengan Anji.


Pria itu menaruh sepeda di samping sebuah pintu kayu yang berada di tanah itu.


"Itu ruangan apa, Pak?" tanya Raisa kala melihat pria itu membuka pintu kayu tersebut.


"Ini ruang bawah tanah milik saya. Seru lho main di dalam sini," ujarnya.


Raisa hanya tersenyum kecil karena sebenarnya ia merasa takut jika harus ke dalam sana.


"Semua peralatan saya ada di sana, tolong bawa sepeda ini ke bawah ya, kalau dibawa ke atas terlalu berat," ucapnya.


Entah karena ingin segera membutuhkan sepeda diperbaiki lalu pulang serta mendapatkan singkong atau memang gadis kecil itu benar-benar tak menaruh curiga pada kebaikan terselubung pria itu.


"Nah, ini lihat kan peralatan yang Bapak punya itu berat," ucapnya.


Raisa menjawab dengan anggukan.


"Minum dulu," ucapnya seraya menyerahkan sekaleng soda yang pasti digemari oleh anak-anak.


Pria itu menyalakan sebuah lampu yang sinarnya temaram. Suasana lembab sangat terasa tetapi membuat siapapun betah berada di sana karena kesejukan yang mendera. Raisa membuka kaleng soda itu dan meminumnya. Seteguk demi seteguk mulai melewati kerongkongannya dan hal itu terasa menyegarkan.


Namun, gadis itu mulai limbung. Ia merasa melihat ada dua sosok pria yang sedang memperbaiki sepedanya seperti hologram lalu kembali menyatu.


"Ah, pusing banget kepalaku," lirih gadis kecil itu.


Pria itu hanya menoleh ke arah Raisa lalu tersenyum menyeringai. Gadis itu mulai tumbang dan tergeletak di atas lantai kayu itu.


"Raisa ... kenapa kau begitu mudahnya mau mengikutiku sama seperti Mikha?" tuturnya.


Pria itu mulai melucuti semua yang menempel di tubuh Raisa dan langsung melahapnya. Gadis kecil itu mulai mengerang kesakitan dan mencoba memohon untuk dilepaskan.


Namun, setelah pria bejat itu menyalurkan nafsu jahatnya, gadis itu hanya bisa berdiri seraya menangis memandangi tubuh seorang gadis yang tegeletak di hadapannya. Luka sayatan di leher anak perempuan itu menganga seiring darah segar yang mengucur deras.


*****


To be continue...


Jangan lupa favorit, like, komen dan vote.