Anta's Diary

Anta's Diary
I Love You, Sya.



Happy Reading...


*****


"Enggak mau, pokoknya biarin kayak gini dulu!" pinta Arya.


Keheningan tercipta lagi kemudian. Kedua tangan gadis itu lurus tak merespon pelukan Arya. Namun, entah kenapa rasanya gadis itu ingin membalas pelukan pemuda itu. Perlahan-lahan kedua tangannya mulai naik untuk membalas pelukan Arya. Hampir saja ia membalas pelukan pemuda yang sudah lama menyukainya itu, tiba-tiba seseorang berseru menyentak keduanya.


"Heh, kalian pada ngapain itu?"


Dewi baru saja sampai di lantai itu dan mengamati Anta dan Arya.


Anta yang terkejut dan panik langsung mendorong anak muda itu sampai jatuh ke lantai.


"Kamu ngapain bolos sekolah berdua, malah pacaran di rumah sakit?" tanya Dewi seraya bertolak pinggang.


"Anta nggak bolos, tuh Arya yang bolos," sahut Anta.


"Sama aja, Nta, buktinya elo di sini," sahut Arya menimpali.


Dewi menarik telinga Anta dengan gemas.


"Udah berani ya kamu bolos sekolah, harusnya kamu contoh si Raja, biar kelihatan badung gitu tapi enggak pernah bolos sekolah," ujarnya.


"Aduh, sakit tau Ma, lepasin!" pinta Anta.


"Tante, kasian Anta, saya aja yang dijewer," pinta Arya.


"Oh, kamu mah belain Anta, mau ganti Anta gitu? Oke kalau gitu sini kupingnya!"


Dewi langsung menarik ujung daun telinga Arya dengan gemas. Anak itupun langsung menjerit kesakitan. Sementara Anta sedang mengusap daun telinganya yang terasa perih.


"Aduh, sakit sakit sakit, Tante... tadi bilang apa Raja enggak pernah bolos sekolah patut dicontoh, tuh lihat tuh siapa di ujung sana!" tunjuk Arya yang melihat Raja sedang mengamati papan petunjuk mengenai rumah sakit.


Wanita itu melepas tarikan telinga di tangan Arya lalu menoleh pada Raja.


"RAJA...!"


Anak laki-laki itu lalu menoleh dan tampak terkejut. Ia segera bersembunyi di balik pohon hias.


"Dududududu..." ucap Raja.


"Enggak usah ngumpet udah kelihatan!" seru Dewi menghampiri Raja. Arya dan Anta mengikuti Wnaita itu.


"Jangan marah dulu, Ma... Aku kan tadi ikut mobil Tante Tasya ke sini, jadinya bolos sekolah," ucap Raja langsung membela diri.


"Memangnya Tasya kenapa, sampai kalian bolos sekolah gini, hah?"


"Tante Tasya enggak kenapa-kenapa, tadi kita habis tolong Om Mark sama Jorji kecelakaan," ucap Anta.


"Hah, mereka kecelakaan? Terus kondisi mereka gimana sekarang?" tanya Dewi.


"Kak Jorji di ICU tadi habis operasi, kalau Om Mark katanya sih luka ringan apanya yang patah ya, Anta lupa. Dia sekarang ada sama Tante Tasya," jawab Anta.


"Di ruangan mana?" tanya Dewi.


"Itu yang Anta belum tau, hehehe..."


"Mama cari kabar dulu deh, kalian di sini jangan kemana-mana," ucap Dewi.


Wanita itu pergi ke bagian informasi rumah sakit. Anta dan Arya saling bertatapan.


"Wah, gawat nih," sahut Raja, "kata Mama Dewi kalau ada dua orang berduaan yang ketiganya itu setan, berati aku kan orang ketiga, jadinya aku di sini tuh..."


"Setan!" seru Anta dan Arya bersamaan.


***


Sementara itu, Tasya berada di ruang perawatan Mark.


"Hai, Mark!" sapa Taysa saat pria yang sedang berbaring itu tersadar.


"Hai, Sya! Gimana Jorji, kamu tau keadaanya?" tanya Mark mulai panik. Atasan piyama dari rumah sakit itu terbuka memperlihatka dirinya yang bertelanjang dada.


"Udah, jangan gerak dulu, aku kancingin baju kamu dulu," ucap Tasya.


Kedua mata Mark dan Tasya saling bertatapan.


"Thank you," ucap Mark.


"Aduh, cobaan berat ini mah," gumam Tasya lirih, lalu ia menarik selimut Mark dan menutupi tubuh pria itu.


"Tolong, Sya, saya mau duduk," ucap Mark.


"Enggak apa kok, pergelangan kaki aku aja yang patah, bantu aku!" pinta Mark.


Tasya lalu memutar tuas pada ranjang tersebut dan membuat posisi Mark menjadi duduk.


"Udah, segini cukup enggak?" tanya Tasya.


"Iya enggak apa-apa, udah cukup."


"Percuma di selimuti kalau dada bidangnya kelihatan lagi, mana bagus banget lagi badannya Mark," gumam Tasya.


"Kamu ngomong apa, Sya?" tanya Mark.


"Enggak ngomong apa-apa, kok. Eh kamu mau makan siang, enggak?" tanya Tasya melirik paket nasi dari rumah sakit untuk Mark.


"Hmm... I don't feel hungry."


(Aku tak merasa lapar.)


"Kamu harus makan, nanti kalau tambah sakit gimana?" tanya Tasya.


"I'm just thinking about Jorji."


(Aku sedang berpikir tentang Jorji.)


Mark menghela napas berat.


"Padahal aku sudah berjanji pada orang tuanya untuk menjaganya," ucap Mark.


"Tuh kan bener, aku udah menduga kalau dia buka anak kandung kamu," ucap Tasya.


"Ayahnya dihukum mati saat di penjara, dia teman sekamar. Padahal kakaknya Jorji yang melakukan pembunuhan, tapi ayahnya yang menyerahkan diri dan dihukum mati. Saat itu Jorji berusia tujuh tahun. Aku dan Laura memutuskan untuk mengadopsi anak itu," ucap Mark.


Tasya melihat ketulusan di wajah pria itu. Ia begitu menyayangi anak angkatnya tersebut. Tasya menceritakan keadaan Jorji kala itu. Mark langsung menangis ketika mendengarnya.


"Udah Mark, kamu harus yakin kalau Jorji pasti bisa sembuh," ucap Tasya berusaha menenangkan Mark.


Mark lantas merebahkan kepalanya ke pelukan Tasya. Ia terlihat rapuh kala itu. Ia berusaha menenangkan pria itu dengan mengusap punggungnya.


Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar, daun pintu itu terbuka.


"Permisi... apa benar di sini—"


Pak Herdi yang membawa kotak makan dalam tas kanvas itu langsung terkejut dan menjatuhkan kotak makan dari tangannya itu. Ia sangat terkejut ketika melihat Tasya dan Mark saling berpelukan.


"Pak Herdi, kamu kok bisa ada di sini?" tanya Tasya melepas pelukan Mark.


"Ummm... tadi itu, maaf kalau saya menganggu, saya permisi."


Pria itu langsung menutup pintu dan pergi begitu saja.


"Lho, kok pergi, Pak Herdi...!" teriak Tasya.


"Itu pacar kamu, Sya? Apa aku udah buat dia salah paham, ya?" tanya Mark.


"Duh, aku bingung jelasinnya, aku coba susul dia dulu, ya, nanti aku balik lagi ke sini," ucap Tasya.


Wanita itu langsung meninggalkan ruangan perawatan Mark. Tasya menemukan kotak makan yang tergeletak di depan pintu itu. Ia lalu meraihnya dan mencari Pak Herdi kemudian. Wanita itu menemukan ayahnya Arya di depan lift. Pria itu terlihat menyeka sudut matanya yang basah.


"Hayo, nangis ya? Cemburu ya?" tanya Tasya mengejutkan Herdi kala itu.


"Enggak kok, biasa aja. Kamu ngapain di sini, bukannya kamu lagi ngurusin Mark," ketus Herdi.


"Cie... cemburu kan?" ledek Tasya menunjuk Herdi.


"Siapa yang cemburu? Saya cuma kesel udah bikin nasi goreng capek-capek, taunya yang mau dikasih nasi goreng lagi berduaan sama cowok lain," ucap Herdi mendengus kesal.


"Wah, berarti ini buat aku? Dan ini nasi goreng buatan kamu? Uwuuu co cwit banget sih..." ucap Tasya seraya mengedip-ngedipkan kedua matanya memandang Herdi.


"Kamu ngapain begitu? Kamu Cacingan?" tanya Herdi asal pria itu masih mencoba menyeka air matanya yang menetes.


"Dih, begitu banget ngomongnya, enggak mau nemenin aku makan nasi goreng ini?" tanya Tasya.


Herdi lalu menarik lengan Tasya dan memeluknya. Wanita itu sangat terkejut dan tak menyangka. Degup jantungnya berdetak kencang. Tak ada suara dan kata yang terucap. Seolah waktu berhenti di sekitar keduanya. Sampai suster dan para pengunjung yang melintas tak menganggu keduanya. Setelah menarik napas panjang dan menghelanya, Herdi akhirnya buka suara.


"I love you, Sya."


*****


To be continue…


Follow IG : @vie_junaeni