
Jangan lupa Vote yang banyak buat Anta ya...
*******
Kita semua pamit, ya, Nak. Kamu jagain Raja yang bener, enggak usah terlalu kepo sama para hantu," ucap Dita menepuk bahu Anta.
"Bener, enggak usah juga sok pahlawan menolong para hantu ataupun manusia lainnya, itu si Raja masuk tanah kuburan kan ditumbalin sama cewek yang kalian tolong," ucap Anan.
"Hah, maksudnya Yanda...?"
"Perempuan yang bernama Delima, dia malah menjebak si Ardi juga, lho," sahut Dita.
"Astaga, Anta enggak nyangka deh, Bunda."
Wajah Anta terlihat terperanjat dan tak percaya.
"Makanya kamu jangan polos polos banget jadi manusia, nanti banyak yang memanfaatkan kepolosan kamu," ucap Dita mengusap kepala putri cantiknya itu.
"Mirip siapa ya polosnya, hihihi..." celetuk Anita.
"Siapa lagi kalau bukan ini perempuan tersayangku," sahut Anan memberi kecupan di kepala Dita.
"Ah... tapi kan, aku banyak belajar dari semua kejadian yang menimpa aku dulu," ucap Dita lalu wanita itu memandang Anta dengan tatapan tajam.
"Oh iya, kamu pindah SMA aja ya, jangan di sekolah itu lagi, Bunda enggak mau kamu dekat sekolah para hantu, nanti yang ada kamu sama Raja selalu aja kepo sama para hantu itu," ucap Dita.
"Iya, terus semua hantu yang sekolah di sana kamu tolongin deh," sahut Anan membela istrinya itu.
"Oke, deh, Anta nurut aja sama Bunda," jawab Anta.
"Sama Yanda enggak nurut?" tanya Anan menunjuk dirinya sendiri.
"Nurut juga lah, masa enggak," jawab Anta memeluk Anan.
"Nah, gitu dong, terus kamu sama Raja belajar yang bener, biar lulus ujian dapat nilai bagus," ucap Dita.
"Tenang, ada Arya yang jagain kamu, suruh dia kasih contekan jawaban buat kamu," celetuk Anan menunjuk Arya.
"Idih, emang dia pinter, dia mah—"
Ucapan Anta tertahan kala melirik ke arah Arya.
"Wah, macam-macam cumi albino sama gue!" Arya menarik rambut Anta.
"Awww... tuh Yanda dari tadi aku di zolimi terus sama dia!"
Anta mengadu pada Anan sambil menunjuk Arya.
"Heh, bungkus permen, awas ya macam-macam sama anak gue!" ancam Anan.
"Iya, Om, maafin saya, enggak berani Om saya sama Anta," ucap Arya seraya menundukkan kepalanya lalu menjauhi gadis itu.
"Udah, udah, jangan pada ribut, ayo kita pada pamit pulang!" ajak Dita menarik lengan Anan.
Dita dan Anan memeluk putra dan putri mereka seraya pamit.
"Dah, semuanya...!" Mereka melambaikan tangan menuju sinar terang di belakang mereka dan pergi menghilang masuk ke dalam sinar tersebut.
Semuanya menghilang kecuali Arya yang masih berdiri di samping Anta.
Seorang suster mengejutkan Anta dan Tasya.
"Bu, jenazah sudah dibersihkan siap dibawa pulang," ucapnya.
"Iya, makasih banyak, Suster," jawab Tasya.
Tasya menggenggam tangan Anta untuk mengawal Doni pulang menuju pemakaman.
Mereka bertemu Pak Herdi yang hampir saja masuk ke dalam lift menuju kamar Raja. Pria itu menatap sosok pocong yang berada di belakang tubuh Anta. Kedua kakinya terasa lemas meskipun ia berusaha melangkah menuju sosok itu.
Begitu juga dengan Arya. Air matanya tak kuasa ia tahan saat melihat sosok ayahnya. Tasya dah Anta berpindah tempat agar keduanya bisa leluasa bertemu.
"Arya..." ucap Pak Herdi seraya menyentuh wajah sosok pocong itu.
"Ayah..."
"Arya..."
"Ayah..."
"Arya..."
"A—"
"Stop! enggak selesai selesai nanti kakau terus-terusan saling panggil, udah buruan peluk!" sahut Anta menghentikan kelakuan lebay ala drama dua pria di hadapannya itu.
"Oh iya bener, ya udah bentar gue peluk Ayah gue dulu."
"Kenapa kamu baru datang sekarang, Ya?" tanya Pak Herdi.
"Aku juga enggak tau kenapa baru sekarang bisa balik lagi, tapi Ayah enggak takut kan lihat aku kayak gini?"
"Enggaklah kamu kan anak Ayah kalau pocong lain baru Ayah takut," tukas Pak Herdi.
"Lalu, kenapa Ayah enggak pernah cerita kalau bisa lihat penampakan?" tanya Arya.
"Ayah malu, Ayah takut pokoknya enggak siap, sekarang Ayah jadi ngerti pas ngeliat Anta."
"Tenang aja, Yah, sekarang ada Arya yang bakalan nemenin Ayah ke manapun dan melindungi Ayah dari para hantu atau orang jahat," ucap Arya bangga.
"Oh iya, Sya. Saya turut berduka cita atas kematian suami kamu," ucap Pak Herdi.
"Iya, Pak. Makasih sebelumnya," jawab Tasya.
"Kalian mau ke mana?" tanya pria itu.
"Mau urus pemakaman Om Doni," jawab Anta.
"Lah terus si Raja sama siapa?"
"Ada Mama Dewi kan sama Om Andri."
"Oh ya udah kalau gitu, mari saya antar!" ajak pria itu menuju mobilnya untuk mengikuti ambulans yang membawa jenazah Doni.
***
Keesokan harinya, Raja terbangun dengan merentangkan kedua tangannya ke atas. Ia mengubah posisi berbaringnya jadi duduk.
"Lho, aku di mana ini?" gumam Raja seraya kedua matanya memindai sekeliling ruangan itu.
Sosok tangan yang bernama Naga itu mencolek bahu Raja.
"Weits, Naga ngagetin aku aja, eh kamu nangkring di bahu aku macam burung beo aja menclok di bahu hahaha..." ucap anak itu.
"Pada ke mana ya?" Raja berusaha melangkah menuju ke luar ruangan.
Naga menengadahkan tangannya tanda tak tahu.
"Kita coba ke luar, yuk!" ajak Raja perlahan ia buka pintu ruangan tersebut.
"Eh, mau ke mana? Kata Mama kamu, kamu enggak boleh ke mana-mana sampai dia datang," tegur salah satu suster bertubuh gemuk itu menakutkan Raja.
"Oh, gitu. Emangnya Mama saya ke mana?"
"Katanya ada pemakaman keluarga yang harus dihadiri, karena kamu belum sadar juga makanya kamu dititip sama saya," ucap suster itu.
"Dititip, emang aku barang apa dititip. Ya udah aku balik lagi deh ke dalam," ucapnya.
Namun, tak berapa lama kemudian ia kembali membuka pintu dan menanyakan pada suster tadi.
"Suster, aku lapar," keluh Raja.
"Oh iya, kamu belum makan ya, bentar ya saya panggil bagian pantry buat bawain kamu makanan," ucap suster itu.
"Tapi, porsinya dua ya kan belum makan dari kemaren hehehe..." ucap Raja.
"Bocah, kecil-kecil banyak juga makannya. Ya udah tunggu aja di dalam!"
"Susu cokelat satu ya, sama roti cokelat, sama puding kalau ada," pinta Raja.
"Astaga, kau pikir ini restoran apa?" tanya suster itu sembari menatap tajam.
"Hehehe... Ya kali boleh request," sahut Raja menutup pintu kamarnya kemudian.
*******
To be continue...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta