Anta's Diary

Anta's Diary
Perlombaan Dimulai



Happy Reading...


*****


Hari itu Anta menemui Dion di ruang musik bersama Ria.


"Tumben banget sih cariin Abang aku, cie Anta ada apa nih?" ledek Ria.


"Ih jangan lebay deh, Anta mau minta Kak Dion jangan ikut lomba besok," ucap Anta.


"Lho memangnya kenapa?"


"Nanti Anta ceritain, panggilin gih!" pinta Anta seraya mendorong punggung Ria pelan.


Terdengar suara kegaduhan dari dalam ruangan. Dion sedang bercanda bersama kawan-kawannya. Apalagi Jojo terus saja memburu pipi para temannya untuk diberi kecupan.


Ria membuka pintu ruangan itu secara tiba-tiba. Terlihat Dion dan Jojo sudah jatuh di lantai. Kedua anak itu terlihat saling tindih. keduanya menoleh ke arah Ria dan Anta yang berdiri di pintu dengan wajah terperanjat.


"Idih... Aku enggak nyangka Abang sama Kak Joko mainnya kayak gitu," ucap Ria seraya menggelengkan kepalanya bersamaan dengan mata sambil berdecak.


"Eh sembarangan kalau ngomong, minggir Jo!"


Dion langsung mendorong tubuh Jojo menjauh darinya.


"Sakit Dion... Huh...!" keluh Jojo yang langsung merapikan tatanan rambutnya itu.


"Pada ngapain ke sini?" tanya Dion.


"Anta mau ngomong katanya," ucap Ria menunjuk gadis di sampingnya.


"Ngomong apa?"


"Anta tau pasti Anta dibilang gila, tapi... Anta harus ngomong ini ke Kak Dion."


Gadis itu menatap Dion dengan lekat.


Wah, jangan-jangan nih cewek mau nembak gue lagi, gue enggak nyangka ternyata diem-diem dia terpesona juga sama karisma yang gue pancarkan.


Dion terlihat senyum-senyum sendiri sambil menatap Anta.


"Woi! Dia malah enggak jelas senyum-senyum sendiri!"


Tepukan tangan Ria di hadapan wajah Dion menyentak pria itu.


"Eng-enggak kok, gue enggak mikirin Anta," sahut Dion spontan.


"Yeee siapa yang nanya kayak gitu?" tanya Ria.


Dion terlihat canggung dan kikuk sendiri, lalu ia menarik lengan Anta.


"Ayo, ngomongnya di samping aja!" ajak Dion.


Jojo dan lainnya yang merasa ingin tahu langsung dihadang oleh Ria.


"Enggak boleh kepo, udah pada diem aja di dalam sini!" seru Ria.


Di samping ruangan musik, Anta melepaskan tangannya dari Dion.


"Udah sini aja, jangan jauh-jauh!" pinta Anta.


"Ehm ehm... elo mau ngomong apa, gue siap dengerinnya," ucap Dion.


Pikiran pemuda itu sudah salah paham dan merasa yakin kalau saat itu gadis yang ada di hadapannya ini akan menyatakan cinta.


"Anta mau bilang, jangan ikut lomba renang besok, ya?" pinta Anta.


"Elo yakin suka sama gue? Eh, apa tadi elo bilang?" Dion memastikan lagi tangkapan suara Anta kala itu.


Gadis itu sudah mengernyitkan dahi mendengar kata-kata suka dari pemuda di hadapannya itu.


"Suka?" tanya Anta.


"Tadi elo bilang apa, jangan ikut lomba renang besok?"


Dion mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya, kata hantu legenda kolam renang itu bilang di perlombaan renang nanti akan ada tumbal berikutnya dan kemungkinan Kak Dion akan jadi tumbal selanjutnya," ucap Anta.


"Hahahaha... elo ngomong apa sih?"


Dion menyentuh dahi Anta dengan punggung tangannya.


"Elo waras, kan?" ledek Dion.


"Tuh kan, pasti Anta dibilang gila, pokoknya Anta enggak mau Kak Dion ikut lomba, nanti kalau kamu jadi tumbal selanjutnya terus kamu bakalan enggak ada di sini lagi, kamu akan—"


"Akan apa?" tanya Dion.


"Akan... ma- mati."


"Heh, emang elo Tuhan udah bisa mastiin kapan gue mati? Gue pikir elo mau ngomong apa ngajak gue ke sini," ketus Dion.


"Yang ajak Anta ke sini kan Kakak, bukan Anta."


"Bodo amat! Gue mau nge-band lagi!"


Anta menahan lengan Dion seketika sampai membuat detak jantung pemuda itu berdenyut lebih cepat. Ia menatap tangan Anta yang menggenggam lengannya.


"Anta enggak mau Kak Dion kenapa-kenapa," ucap gadis itu.


Dion langsung memutar badannya ke arah Anta. Ia menatap gadis itu lekat.


"Elo, khawatir sama gue?" tanya Dion.


Anta menganggukkan kepala mengiyakan. Wajah pemuda itu langsung tersenyum senang sementara wajah gadis di hadapannya itu masih terlihat cemas. Dion membawa tubuh gadis itu ke pelukannya.


"Ria, ngapain panggil aku ke sini?" tanya Arga yang tiba-tiba muncul karena membaca pesan chat dari Ria.


"Arga, sini lihat deh!" bisik Ria seraya menunjukkan keadaan Anta dan Dion.


Kedua mata pemuda itu langsung terperanjat. Ada gurat kekecewaan di wajahnya. Namun, ia hanya bisa terdiam.


"Oh, kirain ada apa, aku balik ke kelas," ucap Arga laku melangkah pergi.


"Aku ikut!" seru Ria langsung menyusul langkah Arga.


"Dion, tega kamu ya mengkhianati aku!" pekik Jojo.


Anta langsung tersadar dan mendorong tubuh Dion menjauh darinya. Ia lantas pergi begitu saja meninggalkan pemuda itu.


"Elo jadian sama tuh adek kelas?" tanya Ferdian.


"Enggak!"


"Kalau enggak jadian kenapa peluk-peluk?"


Jojo mendorong bahu Dion dengan kesal.


"Tadi itu, ummm itu... Udah lah yuk main band lagi, nanti gue mau latihan renang soalnya," ucap Dion lalu melangkah masuk ke dalam ruangan musik.


***


Hari perlombaan renang antar sekolah di kawasan satu wilayah itu pun dimulai. Sebagai tuan rumah SMA Satu Jiwa menyiapkan segalanya dengan baik. Arga dan Arya sudah berusaha meyakinkan Dion untuk tidak ikut lomba.


Akhirnya, Anta memutuskan untuk memberikan obat tidur pada pemuda itu dan mencampurkannya dalam minuman jus jeruk yang langsung ia berikan ke Dion.


"Elo masih khawatir sama gue?" tanya Dion pada Anta saat menyerahkan jus jeruk itu.


"Hmm... semua teman yang ada di sini juga khawatir, bukan Anta aja kok," sahut gadis itu.


"Udah deh minum aja!" seru Arya.


"Ya, ayo kita siap-siap dulu, habis ini grup kita duluan yang lomba!"


Arga merangkul bahu Arya dan membawanya pergi.


"Tapi itu, itu si Anta..."


"Udah sih biarin aja ngomong dulu sama Dion!" ucap Arga.


Mey mengikuti Arya dan Arga kemudian, lalu disusul Ria.


"Habisin minuman penyemangat dari Anta," ucap gadis itu.


Dion langsung menghabiskan minuman pemberian Anta. Hantu Dimas terlihat mengawasi dari balik dinding.


"Gue mau ganti baju dulu, elo mau ngeliat gue ganti baju?" tanya Dion di ruang para siswa SMA Satu Jiwa yang mengikuti lomba itu.


"Idih, enggak suka gelay!"


Anta mencibir Dion dan langsung pergi dari tempat itu. Dion tertawa dibuatnya.


Anta menarik hantu Dimas.


"Nanti kalau dia bobo, jagain ya!" pinta Anta.


"Bobo, tidur maksudnya? Emangnya kamu apain dia?" tanya Dimas.


"Anta enggak mau dia ikut lomba, pokoknya jagain!"


Gadis itu lalu melangkah pergi ke arena perlombaan. Terlihat Ria dan Mey sudah duduk di bangku penonton bersama yang lain. Pak Herdi tampak mengamati dan mengawasi jalannya perlombaan.


"Kamu dukung siapa, Nta?" tanya Ria yang kegirangan melihat cowok-cowok berbadan tegap apalagi tubuh Arga.


Perut Arga terlihat berbentuk kotak-kotak hanya memakai kolor biru selutut dan siap berlomba di arena kolam renang itu.


"Aku dukung Arya dong!" jawab Mey.


Kedua matanya tampak tak berkedip menatap tubuh Arya. Tubuh pemuda itu tak kalah menggoda untuk dilihat. Apalagi belakangan ini, pemuda itu sangat berlatih keras untuk bisa berenang dan mengikuti lomba.


"Anta dukung siapa, ya?"


Perlombaan renang gaya bebas itu berlangsung. Arga dan Arya terlihat berjuang untuk menjadi pemenang. Sorak gembira para penonton seraya bertepuk tangan riuh terdengar.


"Arga, Arga, Arga!" teriak Ria seraya bertepuk tangan dengan hebohnya.


"Arya, Arya, Arya!" teriak Mey tak kalah hebohnya.


Anta yang berdiri di antara kedua gadis bucin itu hanya bisa menutup kedua telinganya yang mulai risih dengan teriakan kedua orang itu.


"Arga, Arya, Arga, Arya!"


Teriakan Anta lantang terdengar sampai membuat Mey dan Ria menatap ke arahnya.


"Apa? Dua-duanya kan temen Anta, terserah Anta dong mau dukung siapa!" seru Anta lalu melanjutkan kembali teriakan dukungannya itu.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni