
Happy Reading...
******
"Nungguin, ya?" tanyanya seraya menunjuk Anan dan Dita sembari melayangkan senyum meringis.
"Lama banget nih, buruan Pak lanjutin cerita yang tadi," pinta Anan.
"Nih, saya lanjutin, eh kalian mau wedang jahe, enggak?" tanya Pak Samsul.
"Pak, gini ya, pernah enggak ngerasain minum wedang jahe campur sambel nasi goreng?"
Anan mulai mengancam kesal.
"Anan..."
Dita menoleh dengan tatapan tajam pada pria di sampingnya.
"Apa? Gemes aku, Ta, ini si Bapak ngajakin ngelawak mulu dari tadi," ucap Anan kesal.
"Ya biar seru, Mas, biar tambah penasaran," ucap pria itu.
"Oke, lanjut!" seru Anan.
"Nah, saya lanjut nih, pas saya melihat jenazah yang datang dari mobil ambulans tadi, saya baru sadar kalau jenazah yang datang ke ruangan saya itu ternyata remaja cantik yang menghampiri saya beberapa waktu yang lalu. Wajah cantiknya serupa, bahkan pakaian yang dia kenakan saat kecelakaan pun sama dengan yang mendatangi saya," tuturnya.
"Jadi yang datang ke Bapak itu hantunya?" tanya Dita.
“Kayaknya gitu, lha saya kaget banget pas waktu itu, karena jenazahnya sama persis dengan orang yang mendatangi saya sebelumnya. Kayaknya emamg roh dari remaja tersebut yang datang duluan ke saya dan menitipkan pesan untuk membersihkan jasadnya dengan baik,” ucapnya.
"Rambut panjang bergelombang, kulit putih, pakai atasan gambar kucing sama rok pendek selutut, terus ada tai lalat di ujung hidungnya?" tanya Anan.
"Kok, Mas bisa tau?" tanya Pak Samsul tak mengerti.
"Nan, balik ke kamar Raja aja, yuk!"
Dita mencoba menarik lengan Anan. Ia ketakutan saat melihat hantu remaja perempuan yang diceritakan tadi sudah berada di belakang Pak Samsul. Wajah pucat itu tersenyum kala ia tahu Dita dan Anan melihatnya.
"Hebat kan tebakan saya," ucap Anan seraya bangkit berdiri.
"Mas, itu beneran lho, persis banget ciri-ciri yang disebutkan sama Mas," ucap Samsul mencoba menahan Anan dan Dita agar jangan pergi.
"Lagi asal nebak aja, Pak, saya mau balik ke dalam dulu," ucap Anan.
Ia dan Dita lantas melangkah menuju ke dalam rumah sakit.
Sementara itu di dalam ruang perawatan Raja, ia terbangun karena merasa kehausan. Anak itu mencoba menjangkau air dalam botol yang ada di kabinet samping ranjang.
"Kok, lembek-lembek ya, ini apaan, sih?"
Raja menyentuh sesuatu yang terasa lunak dan penglihatannya belum bisa melihat jelas karena cahaya yang minim di dalam ruangan itu. Perlahan ia membawa tangannya tadi ke dekat dengan indera penciumannya.
"Bau amis ih, ini apa sih?"
Raja berusaha menyentuh kembali sesuatu yang tadi ia sentuh. Perlahan ia dapat menangkap sosok tersebut. Ternyata anak itu menyentuh tubuh leher tubuh tersebut yang tanpa kepala. Rupanya hantu itu sengaja menakuti agar Raja menyentuh leher milik hantu itu.
"Heh, sejak kapan kamu di situ, biasanya yang nemenin aku si Tante Key," ucap Raja.
Hantu pria tanpa kepala itu hanya menjawab dengan gerakan tangan yang tak dimengerti oleh Raja.
"Enggak ngerti kamu ngomong apa, tolong ambilkan aku botol air minum itu," ucap Raja.
Sosok hantu tanpa kepala itu masih saja berbicara dengan gerakan tangan yang tak dimengerti oleh Raja.
"Heh, Jupri!" seru Tante Key yang tiba-tiba datang ke ruang perawatan Raja.
Lampu ruangan tersebut lalu menyala. Makin terlihat jelas bagaimana rupa sosok hantu pria tanpa kepala itu.
"Woah... itu pas banget potongan di lehernya, emang ini Om siapa tadi namanya, matinya kenapa, Tante Key?" tanya Raja.
"Seminggu yang lalu dia masuk ke mesin pemotong kertas di percetakan yang ada di belakang rumah sakit, eh pas banget kepalanya yang masuk terus putus deh," ucap Tante Key.
"Lha, terus kepalanya mana?" tanya Raja penasaran.
"Kepalanya hancur kelindes ban mobil forklip pas lagi angkut barang buku-buku cetak," jawab Tante Key.
Hantu yang dipanggil Jupri tadi terlihat ingin menangis tapi ia tak tahu bagaimana mengucek kedua matanya karena tak punya kepala.
"Ya gitu deh, tapi biasanya dia ada di deket lift kenapa ada di sini?"
Tante Key menghampiri hantu Jupri seraya mengelilinginya.
"Oh, kamu mau gangguin Raja, hmmm... Aku bilangin ya kamu salah alamat tau, anak ini enggak takut sama hantu macam kita," ucap Tante Key.
Terdengar derap langkah menuju ke dalam kamar perawatan Raja. Pintu terbuka dan munculah sosok Dita dan Anan yang baru selesai menyantap nasi goreng.
"Dita...!" teriak Tante Key menyambut kedatangan Dita.
"Aaaaaaa! Pergi, jangan dekati aku!"
Dita tak kalah berteriak seraya bersembunyi di belakang tubuh Anan.
"Ta, kamu serius enggak ingat sama aku?" tanya Tante Key.
"Enggak tau ah aku enggak mau tau mau ingat apa enggak pokoknya jauh-jauh!" seru Dita.
"Udah Tante Key, jangan terlalu dipaksakan, susah kalau bawaannya takut mulu," ucap Anan.
Hantu tanpa kepala itu mendekat lalu mengibaskan kedua tangannya pada Dita dan Anan untuk menyapa. Keduanya menoleh ke arah hantu tersebut.
"Aaaaaaaa...!"
Teriakan Dita langsung membuat telinga Anan terasa sakit. Akan tetapi, saat ia menoleh wanita di belakangnya itu telah jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri kemudian.
"Hmmm... pasti pingsannya pules sekalian tidur bangun-bangun besok," gumam Anan lalu membopong tubuh wanita itu ke sofa.
"Dih, Bunda penakut banget sekarang," ucap Raja.
"Enggak boleh gitu, tapi emang tuh hantu nyeremin banget," ucap Anan menoleh pada hantu tanpa kepala.
"Udah sana Jupri, kita pergi aja yuk, siapa tau nemu kepala baru buat kamu. Pakai kepala patung mau, enggak?" tanya Tante Key.
"Emang dia bisa jawab?" tanya Anan.
"Bisa, katanya mau," sahut Tante Key lalu menghilang bersama hantu Jupri.
Anan menoleh pada Raja lalu saling tertawa.
"Kamu bisa bayangkan, tuh hantu pakai kepala patung manekin, kayak apa coba, hahaha..." ucap Anan.
"Tau ih, idenya Tante Key ada-ada aja," sahut Raja.
"Kamu tidur gih, mau didongengin apa?" tanya Anan yang duduk di kursi samping ranjang tempat Raja berbaring.
"Didongengin? Emang aku anak TK apa, aku tuh udah gede, Yanda," ucap Raja.
"Lha, kata Anta kan—"
"Oh iya, aku mau dengerin dongeng, Yanda cerita aja," ucap Raja yang baru tersadar kalau Anta memberitahunya untuk berakting.
"Kamu mau cerita apa?" tanya Anan yang bersiap dengan ponsel di tangannya dan mencari di aplikasi pencarian mengenai dongeng anak.
"Cerita hantu suster ngesot masuk got aja, atau Kuntilanak beranak kembar, seru tuh kayaknya," ucap Raja.
"Ja, itu cerita horor bukan dongeng," sahut Anan.
"Ya udah sih cerita aja, seru tau Yanda."
Anan menatap Raja dengan tatapan aneh.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni