
Happy Reading...
*****
"Dih, begitu banget ngomongnya, enggak mau nemenin aku makan nasi goreng ini?" tanya Tasya.
Herdi lalu menarik lengan Tasya dan memeluknya. Wanita itu sangat terkejut dan tak menyangka. Degup jantungnya berdetak kencang. Tak ada suara dan kata yang terucap. Seolah waktu berhenti di sekitar keduanya. Sampai suster dan para pengunjung yang melintas tak menganggu keduanya. Setelah menarik napas panjang dan menghelanya, Herdi akhirnya buka suara.
"I love you, Sya."
"Hahahaha....!" tawa Tasya sampai menggelegar saat berada di pelukan Herdi kala itu.
"Kok Kamu ketawa, sih?" tanya Herdi melepas pelukannya dan menelisik wajah wanita itu.
"Ya habisnya kamu lucu, tumben banget bilang begitu," ucap Tasya.
"Sya, aku serius, aku sampai buatin nasi goreng buat kamu," ucapnya.
"Nasi goreng yang ini? Kenapa tadi ditinggal gitu aja?" tanya Tasya.
"Habisnya kamu lagi sama itu... Aku ngerasa ganggu," ucap pria itu seraya menunduk.
"Kita duduk dulu, yuk!" ajak Tasya ke ruang tunggu untuk tamu pasien.
Ia membuka kotak nasi yang sudah berantakan itu. Awalnya nasi goreng dalam kotak itu tersusun rapi, tapi kini sudah tak tentu bentuknya.
"Hahaha... ancur banget bentuknya, ini nasi aduk ya?" ledek Tasya.
"Tadinya tuh bagus, tapi kan tadi jatuh, kayak hati aku yang jatuh tadi," ucap Herdi.
"Apa sih, enggak jelas! Aku cobain dulu ya," ucap Tasya.
Tiba-tiba, raut wajah Tasya berubah menjadi tak karuan, ia juga menepuk bahu Herdi berkali-kali.
"Asin banget....!" seru Tasya.
Ia menunjuk ke arah galon berisi air mineral dengan tumpukan gelas karton di samping galon tersebut.
"Minum, aku mau minum, Pak!" pinta Tasya.
Herdi langsung meraih air tersebut dan memberikannya pada Tasya.
"Asin banget, kamu taro garam berapa sendok?" tanya Tasya.
"Emang asin, ya? Coba sini aku cobain!" Herdi meraih sendok plastik di tangan Tasya dan mencoba nasi goreng buatannya.
"Huek, asin banget!" seru pria itu.
"Tuh kan ini mah pengen kawin yang buat," UCAP Tasya meledek Herdi.
"Eh, kok kamu tau, kamu mau kawin sama saya?" tanya Herdi seraya tersenyum dan menaikkan alisnya berkali-kali.
"Buahahaha.... Kayak kucing aja kawin tinggal nyari pojokan, nikah kali!" seru Tasya.
"Ya, maksudnya itu, mau enggak, Sya?"
"Mau apa?" tanya Tasya pura-pura tak menangkap arah pembicaraan tersebut.
"Hmmm... menikah dengan aku? Mau ya?" pinta Herdi lagi.
"Yeee... maksa!"
"Kalau enggak mau nanti aku bunuh diri lho jadi pocong gentayangin kamu," macam Herdi.
"Hahaha... udah pernah tau, kamu pernah jadi pocong terus jagain aku," ucap Tasya.
"Oh iya ya, Herdi yang sebelumnya, tuh buktinya waktu jadi pocong aja aku jagain kamu terus, jadi... mau ya nikah sama aku?" pinta Herdi.
"Ini kok jadi ngelamar gini, mana nggak ada cincin lamarannya," ucap Tasya.
"Nanti aku beliin cincinnya, kamu ikut biar pilih sendiri," sahut Herdi.
"Hmmm... Aku mau enggak, ya..."
Tasya melirik Herdi sekilas lalu memandang ke langit-langit ruangan.
"Kamu pasti ragu karena Mark, ya?" tanya Herdi langsung menuduh Tasya.
"Kok, jadi bawa-bawa Mark?"
Tasya menoleh ke arah pria di sampingnya sambil berusaha memakan nasi goreng yang asin diselingi air putih itu agar rasanya masih nyaman saat masuk ke dalam mulut.
"Ya, aku tau lah, Mark lebih muda lebih ganteng, kelihatan keren juga," ucap pria itu bersungut-sungut.
Herdi yang malas mendengar pujian Tasya tentang Mark hendak memilih pergi dengan bangkit dari kursinya. Tasya menahan lengan Herdi kala itu.
"Aku males denger lanjutannya, jadi aku memilih untuk pergi," jawab pria itu.
"Astaga... sampai segitunya udah nyerah aja, ya ampun kamu tuh ya, duduk dulu!" pinta Tasya.
"Enggak, Sya, aku tau kok kalau kamu suka sama Mark, jadi aku memilih untuk pergi asalkan kau bahagia," sahut Herdi.
"Hahaha... Kayak judul lagu ya, asalkan kau bahagia, hehhee... dengerin dulu aku belum selesai ngomong," ucap Tasya.
"Emang masih mau ngomong apa lagi? Kurang ya pujian kamu barusan buat Mark?" terka pria itu dengan wajah tak mau menoleh.
"Mau ngomongin kalau aku lebih suka pria dewasa kayak kamu," ucap Tasya.
Herdi perlahan menoleh kala mendengar ucapan Tasya barusan.
"Maksud kamu?" tanya Herdi mulai antusias.
"Aku mau nikah sama kamu," ucap Tasya.
"Serius?"
"Hmmm... bentar deh mikir dulu," ledek Tasya.
"Sya... serius kamu mau nikah sama aku, kan?" Herdi sudah berjongkok di hadapan Tasya kali ini.
"Yes... I do, I will, aku bersedia," sahut Tasya tersenyum bahagia.
Herdi langsung menarik Tasya setelah ia ambil kotak makan dan meletakkannya di kursi sebelah. Ia lantas menggendong Tasya dan berputar-putar kegirangan.
"Yeee... dia mau nikah sama saya!" seru Herdi sambil tertawa bersama Tasya.
Sontak saja beberapa pengunjung di sana dan suster rumah sakit yang melintas bertepuk tangan dan memberikan ucapan selamat. Tante Dewi yang baru saja sampai dan melihat ke arah kerumunan itu langsung menganga menatap tak percaya.
"Kalian...?" Dewi menunjuk ke arah Herdi dan Tasya.
Keduanya lalu menoleh dan tersenyum malu.
"Hehehe... Tante, aku boleh kan nikah sama Pak Herdi?" tanya Tasya.
"Ya, gimana ya, kamu kok nanya sama saya?" tanya Dewi.
"Aku enggak punya orang tua kan di dunia ini, dan Tante udah aku anggap sebagai ibu aku sendiri, jadi aku minta izin sama Tante," ucap Tasya.
Kedua mata lentik Dewi terlihat berkaca-kaca dari balik lensa kacamatanya. Ia lalu menghampiri Tasya dan memeluknya.
"Selamat ya, kamu berhak bahagia, kamu boleh nikah sama Herdi."
"Aa... makasih, Tante."
"Dan kamu Herdi, awas ya kalau kamu sampai menyakiti Tasya," ancam Dewi seraya melepas pelukannya dari Tasya dan menatap ke arah Herdi. Ia mengusap bulir bening yang jatuh di pipinya.
"Pasti Ibu Mertua, pasti saya akan menjaga amanah dari Anda," ucap Herdi.
"Bagus, jadi kapan kalian menikah?" tanya Dewi.
"Secepatnya!" sahut Herdi.
"Eh... tanya dulu sama yang lain, kamu aja belum nanya sama anak kamu," ucap Tasya.
"Mau tanya apa sama saya?"
Arya muncul bersama Anta dan Raja.
"Lho, kok pada ke sini, tadi kan saya suruh tunggu di sana," sahut Dewi.
"Bosen, Ma, jadi kita mau cari Tante Tasya ke sini, Arya juga cari ayahnya," ucap Anta.
"Ya udah kebetulan kalau gitu, jadi gini, Ayah mau nikah sama Tasya, kamu setuju kan, Ya?" tanya Herdi.
"APA?"
Arya, Anta dan Raja menyahut bersamaan debgan wajah terperanjat tak percaya.
*****
To be continue…
Follow IG : @vie_junaeni