Anta's Diary

Anta's Diary
Di Panti Asuhan



Hayo, sebelum membaca jangan lupa kirimkan poin kalian buat VOTE, bayar tulisan aku pakai poin kalian ya hehehe terima kasih...


***


Setelah seminggu berlalu dari kejadian mengerikan yang menimpa Mey, kini ia tinggal di rumah Tasya bersama Anta. Tante Dewi datang ke rumah itu bersama Raja dengan membawa brosur sekolah yang tadi ia dapatkan dari pameran pendidikan di Mall Kota.


"Hai, Tante!" sapa Tasya.


"Hai, Sya, eh gimana persiapan buat ke anak yatim besok?" tanya Dewi.


"Beres, Tante, jam tujuh malam besok, kan?"


"Iya, janjian sama pemilik panti ya jam tujuh malam besok. Anta mana?" tanya Dewi.


"Di dapur lagi pada cuci piring sama cuci baju," jawab Tasya.


"Panggil ke sini dong, tolong!" pinta Dewi.


"Oke."


Tak lama kemudian Tasya datang bersama Anta dan Mey.


"Sini deh, Nta, Mama punya brosur sekolah bagus, nih, ada artisnya, tuh gambar modelnya aja artis sinetron yang Mama suka itu," ucap Dewi.


"Iya, tiap malam tuh sinetron dipandangin terus aku dipukul-pukul, kata Mama 'Raja, itu ganteng banget si Jojo' uh... sakit tau pundak aku dipukulin," keluh Raja.


"Heh, anak kecil main nyahut aja enggak jelas, udah sih diem aja!" gertak Dewi melirik tajam pada Raja.


"Huh, dasar, mending aku cari makan di kulkas Tante Tasya," ucap Raja melangkah menuju lemari pendingin dalam rumah itu.


"Ada apa, Mama?" tanya Anta.


"Eh iya, ngomong-ngomong cuci piring kok kalau malam piring di rumah Mama bersih ya, apa iya Raja yang bersihin, tapi enggak mungkin lah, dia kan males banget?" tanya Tante Dewi.


"Oh, palingan Tante Silla," sahut Anta.


"Wuih keren, punya pembantu hantu," celetuk Tasya.


"Waduh, terus nanti gajinya gimana, kalau dia minta tumbal gimana?" tanya Dewi dengan raut wajah panik.


"Tante Silla enggak gitu, dikasih mie instan juga udah seneng hahaha..." sahut Anta.


"Masa sih, dia makan mie instan?"


"Ya kalau mau lebih elit, beliin aja steak apa spaghetti," sahut Anta.


"Oh, iya ya, bagus deh kalau cuma dikasih makan aja para hantu jadi pembantu hihihi..." ucap Dewi seraya tertawa.


"Itu bawa apa?" tanya Anta menunjuk brosur di tangan Dewi.


"Ini, kamu mau Mama daftarkan ke sekolah ini, Sekolah Satu Jiwa, tuh bagus ya nama sekolahnya, banyak artis nih di sini," ucap Dewi dengan bangga menyerahkan brosur itu pada Anta.


"Duh, Tante mau jadiin Anta pinter apa mau jadiin dia artis, sih?" tanya Tasya menimpali.


"Iya, siapa tau bisa jadi artis main sinetron sama Jojo yang di tv itu hihihi..."


"Sinetron sekarang lebay, lagian mukanya pada tua-tua banget padahal umur masih muda, Anta enggak mau jadi tua ah," ucap Anta.


"Mereka kan hanya dituntut mendalami peran, meskipun aslinya masih sekolah tapi sinetronnya udah nikah udah ibu-ibu, ya dandan juga harus terlihat lebih dewasa," sahut Mey.


"Nah, Mey bener tuh, cakep pendapatnya," tunjuk Dewi seraya tersenyum pada Mey.


"Ya udah, terserah Mama aja, kalau emang mau sekolah di situ Anta nurut, Mey juga ya sekolah di situ," pinta Anta.


"Oke, ke manapun Anta sekolah aku akan ikut," sahut Mey.


"Ya udah, Mama mau daftarin kalian langsung kalau gitu, Mama pergi dulu, ya, dah..."


Wanita itu bergegas menemui Andri untuk meminta suaminya mengantar dia ke sekolah Satu Jiwa untuk mendaftarkan Anta dan Mey.


"Yang mau sekolah siapa, sih, perasaan yang mau sekolah kalian berdua kenapa Tante Dewi semangat banget," ucap Tasya.


"Emang tuh artis ada terus di sekolah, lagian cuma model doang belum tentu beneran sekolah di sana, hadeh..." keluh Anta.


***


Malam itu, Anta dan keluarga datang ke sebuah panti asuhan yang bernama "Anak Ceria" yang berada di dekat perkampungan yang terletak di belakang apartemen Emas.


"Ini kampung sepi banget?" tanya Mey dengan nada berbisik di dekat Anta.


"Apaan sepi rame tau, tuh pada ngeliatin kita di pinggiran, belum lagi yang gelayutan di atas pohon, sampai ada yang main bareng sama Raja noh kelihatan!" tunjuk Anta pada kursi belakang mobil yang ada di hadapannya.


Mobil yang dikendarai Andri itu memang berjalan lebih dulu jadi Anta bisa melihat Raja dan hantu anak kecil yang berada di bagian belakang mobil tersebut.


"Itu bilangin si Raja jangan sampe tuh hantu anak kecil dibawa pulang," ucap Tasya.


"Tau tuh bilangin sama Raja jangan suka main sama hantu," sahut Arya yang duduk di kursi depan samping Tasya yang sedang menyetir.


"Nah, kamu sendiri kalau bukan hantu apa coba namanya, bungkus permen?" sahut Anta yang selalu gemas menarik ikatan pocong Arya.


"Aduh, sakit cumi! Gue mah hantu spesial, mungkin harusnya gue jadi malaikat penjaga tapi malah dalam bentuk pocong gini," sahut Arya.


Anta dan Tasya langsung tertawa bersamaan sampai membuat Mey merasa heran.


"Kalian pasti pada ketawa bareng Arya, ya?" tanya Mey.


"Iya, Mey, dia lucu banget masa ngaku-ngaku jadi malaikat penjaga, udah jelas dia hantu pocong hahaha..." sahut Anta menertawakan Arya.


"Tuh kan bener."


Raut wajah Mey terlihat murung, ia masih sedih karena merasa belum bisa melihat Arya tanpa bantuan Anta.


Aku harus cari orang pinter yang bisa buka mata batin aku, biar aku bisa lihat Arya terus, batin Mey seraya menatap ke arah luar jendela.


Sesampainya di panti asuhan Anak Ceria, tiga orang wanita berseragam panti asuhan sudah menunggu kedatangan keluarga Anta. Paket makanan untuk seratus orang juga sudah sampai berikut bingkisan mainan untuk para anak panti.


"Selamat malam, selamat datang di rumah kamu," sapa seorang wanita paruh baya yang menggunakan hijab dan kaca mata itu.


"Selamat malam, Ibu Desi, senang berkenalan dengan Anda dan senang sekali rasanya bisa sampai ke sini," ucap Dewi menjabat tangan Ibu Desi.


"Oh iya, saya sudah panggil Ustad Hanif untuk memimpin jalannya tahlil, mari masuk ke dalam! Tari, Munah, tolong antar para tamu ke dalam!" pinta ibu Desi pada dua asistennya itu.


"Mari, silahkan ikut saya!" ucap Tari.


Dewi, Andri dan Tasya mengikuti mereka masuk. Sementara itu, Anta dan Raja saling berpandangan sebelum masuk, Mey melihat keduanya dengan pandangan aneh.


"Kak Anta denger suara bayi pada nangis kan dari sana!" tunjuk Raja pada daerah samping panti asuhan yang terdapat banyak pohon singkong.


"Iya, suara tangis bayinya banyak banget," ucap Anta.


"Ke sana, yuk!" ajak Raja.


"Eh, ayo pada masuk, kita ke sini mau ngedoain Om Doni dan Mama aku, kan, bukan malah cari hantu," sahut Mey mencegah keduanya.


"Eh, iya hehehe ayo Ja kita masuk aja, eh bentar, Arya enggak ikut masuk?" tanya Anta pada Arya.


"Enggak ah, aku takut kan di dalam mau tahlilan nanti aku kepanasan terus kebakar gimana?" jawab Arya.


"Oh iya iya, kamu kan setan, bagus deh kalau sadar diri, adaw...!"


Arya menarik rambut Anta dari belakang.


*****


To be continue...


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mampir juga ke Novelku lainnya.