Anta's Diary

Anta's Diary
Suku Ro



Happy Reading all...


*******


Anta menemui Arga di sebuah Apartemen baru yang berada di dekat Mall Kota. Ia kini tinggal bersama dengan ayahnya, Sahid. Arya masih mengikuti gadis itu bersama Dion. Mereka menggunakan busway menuju rumah Arga.


"Wuih, keren juga ini apartemen," ucap Arya berdecak kagum.


Mereka sudah tiba di halaman bangunan gedung berlantai tiga puluh lima itu. Dinding bangunan itu berwarna ungu muda dan bertuliskan Apartemen Kenanga di bagian depan lobby.


"Lebih bagus dari tempat tinggal Anta, ya?" ucap Anta.


"Iya, rumah elo mah kayak rumah susun bukan kayak apartemen, sih," sahut Arya.


"Hmmm sama aja, rumah Ayah kamu juga di situ sih bareng sama rumah Anta."


"Tanyain Arga, dia ada di lantai berapa dan nomor rumahnya juga berapa!" seru Arya.


Anta mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya lalu menghubungi Arga. Pria itu langsung turun dari ruangannya menuju lobby untuk menyambut kedatangan Anta.


"Gerak cepet amat luh tau-tau udah sampai depan lobby aja?" tanya Arya saat Arga datang dari dalam lobby menuju ke arah mereka.


"Iya dong, gue enggak mau Anta nunggu lama, yuk masuk!" sahut Arga menarik lengan Anta.


"Kaga usah pegang-pegang!" seru Arya menepis tangan Arga dari lengan Anta.


Dion mengamati sambil tertawa. Tapi, kesedihan kemudian terlihat di wajah pemuda itu sampai membuat Anta bertanya padanya.


"Kamu kenapa, Dion?"


"Elo bener, Nta, gue kayak hologram sampai enggak ada bayangannya di cermin, gue kan kangen mau ngaca," ucap Dion.


"Kamu lihat aja muka Arya, itu kan muka kamu," ucap Anta.


"Tapi kan beda, kalau gue mau monyong, mau ketawa, mau nangis, kan enggak mungkin Arya ngelakuin hal yang sama ama gue," ucap Dion.


"Tenang, gue udah bahas masalah ini sama Abi, dan coba deh inget waktu di jembatan suku Ro, Nta," sahut Arga.


"Jembatan Suku Ro? Idih... Anta takut kalau inget itu, banyak banget hal mengerikan saat itu, dan pastinya kamu kan hampir kehilangan nyawa kamu," sahut Anta.


"Tapi, ada solusi buat Dion dan Arya bisa balik tukeran lagi, ya kan?" tanya Arga.


"Iya sih, tapi itu kan jauh, masa ada kuil Suku Ro di sini, enggak mungkin," ucap Anta.


"Tapi mungkin aja ada sumber mata air yang sama yang dibangun sama Suku Ro, di sekitar sini," ucap Arga.


"Kalian ngomongin apa, sih?" tanya Arya yang sedari tadi hanya bisa menyimak pembicaraan Arga dan Anta di dalam lift menuju lantai sepuluh.


"Nanti gue ceritain," sahut Arga.


Pintu lift terbuka dan ia membawa rombongan lainnya tersebut menuju rumahnya. Sahid yang membuka pintu rumahnya itu menyambut kedatangan Anta dengan senyuman hangat dan pelukan penuh kasih sayang.


"Halo, Om, apa kabar?" sapa Anta.


"Halo, cantik! Kabar Om baik, kamu apa kabar?"


"Kabar Anta juga baik," sahut Anta.


Sahid menoleh ke arah Arya.


"Jadi, ini anaknya Herdi yang sekarang, yang terjebak di dalam tubuh seorang anak muda bernama Dion?" tanya Sahid.


"Iya, Bi, ini Arya, Dion juga ikut tapi Abi kan enggak bisa lihat," ucap Arga.


"Oh begitu, oke kalau gitu duduk dulu, Abi tadi udah pesen kue mufin buat kalian, sebentar ya saya ambilkan," ucap Sahid menuju ke dapur.


Tak lama kemudian, Sahid kembali dengan minuman jus buah dalam kemasan kotak karton dan juga kudapan kue muffin yang ia pesan di toko roti seberang apartemen miliknya tersebut. Ia mulai membuka suara dan menceritakan kejadian mengenai Suku Ro pada Arya yang sedari tadi tak sabar ingin mendengar ceritanya.


"Yang saya pernah dengan kisah tentang suku Ro pemilik kuil tersebut, mereka punya ajaran sesat yang mengharuskan menumbalkan anak bayinya yang berjenis kelamin laki-laki yang lahir pada hari jumat. Mereka memenggal kepala bayinya lalu menguburkan di depan rumah sebagai bentuk ritual atau pemujaan. Lalu tubuh sang bayi di buat sup dan di jual oleh warga sekita," ucap Sahid.


"Dan ketika anak mereka mulai habis mereka mulai mengincar anak-anak kecil di sekitarnya, ya kan, Om?" tanya Anta.


"Iya itu benar, warga lalu marah ketika suku Ro mulai menculik bayi dari luar kuil yang dijadikan sebagai fondasi bangunan tempat tinggal dan kuil tersebut," ucap Sahid menjelaskan kembali.


"Apa tujuan suku Ro itu, ya, ih mengerikan banget?" tanya Arya.


"Entah apa tujuannya yang jelas mereka itu sesat. Oleh karena itu suku tersebut di anggap sesat, entah siapa yang mencuci otak mereka sampai berpikiran mengerikan seperti itu," jawab Sahid.


"Apa suku Ro di bantai dengan cara di penggal kepalanya?" tanya Arya.


"Iya sepertinya begitu, warga yang marah memenggal semua kepala suku mereka," jawab Sahid.


"Lalu, menurut Abi, apa masih ada suku Ro di sini atau mata air yang bisa menukar jiwa seperti yang Abi bilang semalam?" tanya Arga.


"Mungkin saja, selama masih ada pengikut mereka pasti ada sumber mata air dan sumber energi dari iblis Ro itu, apalagi jika iblis itu hendak dibangkitkan kembali," jawab Sahid.


"Om Hartono, dia kan bagian dari Suku Ro," sahut Dion.


"Oh iya bener, Hartono pemilik taman hiburan yang baru itu, Om nya Dion, dia itu salah satu suku Ro sama Tante Hyena," ucap Anta.


"Hyena? Hyena calon istri Herdi yang sekarang koma?" tanya Sahid.


"Iya bener, Om, Hyena si Nenek Lampir," sahut Arya.


"Di mana taman hiburannya?" tanya Sahid.


"Di seberang restoran Papa Andri, tempat pernikahan Hyena dan Om Herdi tempo hari," sahut Anta.


"Oh, berarti bisa jadi di taman hiburan itu ada sumber energi yang akan digunakan untuk membangkitkan suku Ro, bahkan juga ada sumber mata air yang fungsinya sama," ucap Sahid.


Sahid kemudian terbatuk-batuk sampai mengeluarkan lendir berdarah. Arga segera meraih segelas air dan obat untuk ayahnya itu.


"Abi minum obat dulu," ucap Arga menyerahkan obat dan segelas air putih tersebut.


"Makasih, Ga," ucap Sahid.


"Om Sahid masih sakit?" tanya Anta.


Sahid hanya menjawab dengan senyuman tapi wajahnya masih tampak tenang meskipun raut wajah Arga sudah terlihat panik.


"Lalu, mengenai tumbal si hantu legenda renang bagaimana?" tanya Arya.


"Oh iya mengenai itu, selain gue curiga sama orang yang namanya Heru, tapi enggak ada salahnya kalian tetap waspada sama sekitaran kalian di sekolah itu, apalagi bokap elo kerja juga jadi guru di sekolah itu, nah elo harus suruh bokap elo waspada," ucap Arga.


"Arga bener, Pak Herdi itu temenan sama Pak Heru, takutnya nanti malah dicelakain lagi sama Heru," sahut Anta.


*******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni