Anta's Diary

Anta's Diary
Kematian Hyena



Reader : Thor, kok catatan harian Anta enggak ditunjukan?


Author : Kalau tiap Anta nulis harus dijabarkan sama aja jadi cerita ulang, dong! Jadi, nikmati saja alur cerita author dengan jari jemari getarkan hati hehehe...


Happy Reading...


******


Akhirnya, adegan yang sedang ditunggu Arya dan Tasya itu terjadi. Hyena meminum segelas wine itu sampai habis. Bahkan setiap Pak Herdi menuangkan kembali gelas itu sambil membuat rayuan gombal, wanita itu tertawa seraya meminum habis air dalam gelasnya.


Hyena mulai mabuk bahkan tak sadarkan diri. Lebih menguntungkan lagi, kalung suku Ro itu ia kenakan sehingga Herdi dengan mudah mencurinya. Kemudian, pria itu mengantarkan Hyena pulang dibantu oleh Arya. Setelahnya, ia segera kembali menghampiri Tasya dan Anta yang sudah menunggu mereka di taman dekat apartemen.


"Gimana kondisi Hyena?" tanya Tasya.


"Mabok parah, hahaha..." jawab Arya.


"Ini kalungnya," ucap Herdi seraya menyerahkan kalung yang ia curi dari leher Hyena.


Tasya dan Anta bersiap melakukan pemusnahan pada kalung itu. Mereka membuat lubang di tanah lalu membuang kalung itu ke dalamnya. Wanita yang mengenakan sweater merah muda itu lantas memerintahkan keponakannya untuk menuang bensin yang sudah mereka beli secara eceran.


"Korek api, bawa enggak?" tanya Tasya.


"Saya enggak merokok," jawab Herdi.


"Aku juga enggak," sahut Arya.


"Minjem sama tukang nasi goreng aja, bentar Anta pinjem sama abang nasgor," ucap Anta.


"Gue ikut."


Arya menemani Anta menuju tukang nasi goreng. Keheningan tercipta di antara Tasya dan Herdi. Kedua insan itu tampak canggung meskipun keduanya mencoba melempar senyum.


"Jadi, apa yang terjadi pada Hyena kala kalung ini kita bakar?" tanya Herdi.


"Entahlah, aku juga enggak tau apa dia dan benda ini berhubungan," jawab Tasya.


Wanita itu berjongkok di hadapan lubang tanah tadi. Herdi mengikuti gerakannya.


"Kamu ngapain?" tanya Tasya.


"Kamu juga ngapain?"


"Aku jongkok."


"Saya juga jongkok, hehehe..."


"Idih, nggak jelas!"


Anta dan Arya datang membawa korek gas yang mereka pinjam barusan.


"Minggir, aku mau bakar benda terkutuk ini," ucap Arya.


Kalung yang berada di lubang dalam tanah itu langsung terbakar. Setelah memastikan benda itu hangus bahkan hancur, mereka kembali ke rumah.


***


Pukul dua dini hari, Arya terbangun dari tidurnya. Ia menuju lemari es untuk meraih air putih. Tenggorokannya terasa tercekat kala itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu rumahnya. Pemuda itu lantas saja menyalakan lampu dapur lalu ia menoleh pada jam dinding bergambar lukisan kincir angin khas negara Belanda di dinding dapur itu.


"Gila, jam dua gini bertamu, siapa lagi yang datang itu," gumam Arya.


Ternyata bukan hanya Arya yang mendengar suara ketukan pintu berkali-kali itu. Ayahnya juga terbangun karena suara tersebut makin jelas terdengar.


"Siapa sih, Yah, masih jam dua pagi gini bertamu le rumah kita?" tanya Arya.


"Ayah juga enggak tau, apa mungkin itu Arga baru sampai terus main ke sini?"


Herdi balik bertanya.


"Wah, kalau emang itu Arga mah kelewatan, coba sini biar Arya yang buka."


Pemuda itu melangkah menuju pintu utama, lalu ia buka kuncinya. Tanpa pikir panjang lagi ia langsung berteriak kepada si pengetuk pintu itu.


"Heh, siap—"


Seruannya terhenti kala melihat Hyena datang dengan penampilan sangat mengerikan. Tubuh wanita itu penuh luka bakar. Bau hangus dan anyir darah menyeruak sampai ke hidung Arya dan Herdi.


Wajah wanita itu tertutup rambutnya sendiri.


Lalu, Hyena menyibak rambutnya sampai memperlihatkan wajah yang renta layaknya wanita paruh baya berusia lebih dari 100 tahun. Senyum wanita itu menyeringai menunjukkan gigi hitam yang berderet mengerikan.


"Akan aku bunuh kamu!" teriak Hyena sambil mengarahkan kedua tangannya ke leher Arya.


Wanita itu akan mencekik leher pemuda itu.


"Awas, Ya!"


Herdi langsung menarik lengan Arya agar menghindar dari Hyena.


"Hahaha... Kenapa kalian tau tentang kalung itu, kenapa? Rencana yang sudah kususun matang dengan mengorbankan anak ini malah sia-sia, kini jika aku tidak bisa mendapatkanmu Herdi, maka tak ada siapapun yang bisa mendapatkanmu. Lalu aku akan membunuh anakmu!"


Wanita itu berteriak-teriak saat menuturkan semua keluhannya tadi. Herdi berusaha melindungi putranya dengan merentangkan kedua tangannya.


"Aku akan membunuh kalian!"


Hantu Susi dan Tomo yang sedang melintas langsung terperanjat.


Susi menepuk bahu Tomo.


"Wah, gawat tuh, itu kan Arya temennya Anta, kamu panggil Anta ke sini, kalau enggak bisa masuk rumahnya kamu minta tolong sama Silla. Atau gini aja, aku yang cari Silla biar bangunin Anta ke sini, ya?"


Tomo memberikan ide.


"Kalau soal ketemu Silla, aku yakin itu ide kamu yang mau banget, enggak bisa! Pokoknya aku yang ketemu Silla dan panggil Anta ke sini," ucap Susi lalu menghilang menuju apartemen Anta.


Sementara Tomo menghampiri Hyena untuk menarik wanita itu, tetapi ia tak bisa menyentuhnya. Ia berusaha kembali sampai terjatuh di lantai.


Herdi berusaha menahan cengkeraman tangan Hyena dan membuatnya terdorong ke luar. Pria itu sampai tak sadar kala menginjak perut Tomo.


"Duh, maaf ya," ucap Herdi.


Saat ia menoleh pada penampakan Tomo, awalnya ia sempat bergidik ngeri. Namun, menghadapi Hyena lebih mengerikan dan harus segera di laksanakan. Arya juga berlari ke luar menyusul sang ayah. Ia juga tak sengaja menabrak hantu penunggu lama Apartemen Emas itu.


"Lho, giliran kalian bisa nginjek saya, giliran saya mau pegang itu perempuan malah enggak bisa," gumam Tomo.


Ia berusaha bangkit menuju pergumulan seru antara Herdi dan Hyena.


"Aku pasti bisa sentuh wanita itu, hiaaaaaattt!"


Tomo berhasil menabrak Hyena. Dia menarik rambut wanita itu sampai menabrak dinding kaca di sudut koridor lantai sepuluh apartemen itu. Wanita itu menembus kaca dan akhirnya jatuh menimpa sebuah mobil yang terparkir di lantai bawah.


Anta berlari bersama Tasya menghampiri Arya. Di belakangnya ada hantu Silla dan Susi yang ikut berlari padahal mereka bisa menghilang. Mereka langsung menoleh dari kaca jendela yang pecah itu untuk melihat kondisi Hyena. Dia orang satpam apartemen sudah berada di samping jasad wanita itu.


"Kalian enggak apa-apa, kan?" tanya Tasya menoleh ke arah Herdi dan Arya.


Herdi dan Arya menjawab bersamaan dengan gelengan kepala.


"Kok bisa dia sampai sini dengan kondisi seperti itu?" gumam Tasya.


"Mungkin dia diem-diem ngumpet biar enggak ketahuan, dan yang pasti kita tahu kalau tuh nenek lampir terhubung dengan kalung tadi," sahut Anta.


"Eh, Tomonya aku mana?" tanya hantu Susi dengan nada panik.


"Tuh, nyangkut di pohon sebelah mobil," tunjuk Silla.


"Ah... tidak... sayang tunggu aku, aku akan datang menolongmu...!"


Susi langsung melompat dari celah jendela yang pecah itu menuju Tomo. Hantu pria itu tersangkut di sebuah pohon yang berada di parkiran apartemen.


"Dasar, pasangan yang aneh," gumam Silla.


***


Dua tahun berlalu setelah berita heboh kematian Hyena di Apartemen Emas, Anta menjalani kehidupannya dengan tenang. Arga juga sudah kembali dan bersekolah bersama dengan Anta, Arya dan Mey. Mereka sangat akur selama bersekolah di SMP.


Lima sekawan ditambah dengan Raja itu selalu berhasil menolong hantu yang meminta bantuan. Meskipun Mey tak bisa melihat penampakan, tapi dengan bantuan teman-temannya ia tetap bisa mengatasi para hantu yang mereka tolong. Ketakutan yang awalnya menghinggapinya kini mulai hilang karena sudah terbiasa.


"Pulang sekolah kita nonton, yuk!" ajak Mey.


"Duh, Anta enggak bisa, Anta harus bantu Papa Andri di restoran," jawab gadis itu.


"Lho, karyawannya pada ke mana?" tanya Arya.


"Ada, cuma nanti malam ada pesta ulang tahun, kekurangan orang buat jadi pelayan," ucap Anta.


"Gue bantuin elo deh," sahut Arya.


"Aku juga bantuin kamu," sahut Arga menimpali.


"Kalau kalian pada bantuin Anta, aku nonton sama siapa, dong?" tanya Mey.


Kedua anak muda itu tak ada yang menjawab karena sibuk menatap tajam masing-masing.


"Ya udah kalau gitu, aku bantuin kamu aja ya, Nta?" pinta Mey.


"Waduh, nanti kalau enggak boleh sama Papa Andri gimana, kalian kan juga butuh gaji, entar yang ada upah harian Anta dibagi empat sama kalian, huaaaa...!"


"Gue enggak perlu gaji, gue perlunya elo!" sahut Arya.


Arga makin mendekat menatap tajam ke wajah Arya.


"Elo tuh ya...."


Arga mencengkeram kerah seragam Arya. Anta menepuk jidatnya sendiri dan menunduk malu.


Sementara Mey yang terperanjat mendengar penuturan Arya barusan tampak sedih dengan berkaca-kaca.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni