
Happy Reading...
*****
Lee menyuapi si kembar dengan penuh perhatian. Sementara itu, si Wewe Gombel terlihat tersiksa karena tubuhnya penuh cakaran dan gigitan dari si kembar.
"Aku kapok ah menculik anak lagi, apa lagi anaknya kayak gini," keluhnya.
Lee hanya bisa tertawa sembari menyuapi bubur pada Dira dan Adam. Tiba-tiba, terdengar suara memanggil nama Dira dan Adam.
"Unda, unda," ucap kedua anak kembar itu bersamaan.
"Oh, itu pasti suara Bunda kalian," ucap Lee.
Hantu Silla menunjuk pohon beringin besar.
"Wewe, keluar kamu, aku tau kamu di sini!" seru Hantu Silla.
Wewe Gombel turun dari pohon beringin menghadap Silla.
"Oh ini yang namanya wewe gombel, akubsudha menculik adik kembar Anta, ya? Astagfirullah, aduh itu pepaya gantung gitu, aduh ngilu liatnya," sahut Anta yang langsung melepas jaket yang ia kenakan.
"Malu kalau dilihat cowok, Tante!"
Anta menutupi tubuh bagian depan si Wewe.
Entah kenapa Wewe malah merasa terharu mendapat perlakuan Anta.
"Kamu enggak takut sama saya?" tanya Wewe.
"Enggak."
"Satu keluarga dia, enggak akan ada yang takut sama kaum kita, mereka cuma takut sama Tuhan, sahut Silla.
"Satu keluarga? Jadi anak kembar tadi keluarganya dia juga dong jangan-jangan," ucap Wewe.
"Nah, ternyata elo yang culik anak gue, mana sekarang anak-anak gue, kembalikan atau golok ini bakalan menebas— Astagfirullah itu apaan gede banget?" Anan langsung berbalik badan dan menatap Dita yang juga terkejut melihat tubuh bagian depan si Wewe.
Dita juga langsung menutup kedua mata Raja agar tidak terkontaminasi dengan penampakan si Wewe.
"Eh, udah dibilangin jaketnya dipake terus dikancing kayak gini, duh enggak muat lagi kegedean punya kamunya ampe gantung sampai perut gitu. Ya udah pakai jaketnya dibalik aja biar resletingnya ada di belakang," ucap Anta.
"Saya minta maaf, saya juga kapok menculik anak kalian," ucap si Wewe.
"Terus anak saya mana?" tanya Dita.
Lee turun seraya membawa kedua anak Dita dan Anan.
"Lee?" Anta, Dita dan Raja berucap bersamaan yak percaya.
"Anta, Tante Dita, Raja, wah jadi ini anak kalian, pantes aja mukanya enggak asing," ucap Lee yang menyerahkan Dira ke Anta dan menyerahkan Adam ke Dita.
"Kamu apa kabar, orang tua kamu juga apa kabar?" tanya Dita.
"Kabar aku baik, aku sekarang tinggal di sini sama si Wewe, maafin dia ya emang hobi banget menculik anak," sahut Lee.
"Bunda tuh bener ya jagain si kembar yang salah itu bocah, asik main game lupa jagain adiknya!" Anta menunjuk Raja yang langsung bersembunyi di balik punggung Anan.
"Udah Anta, Raja kan udah minta maaf. Pokoknya gini ya Wewe, jangan culik anak kecil lagi!" perintah Dita.
"Habis saya kesepian, Lee kadang ada kadang pergi," sahut Wewe.
"Kan aku juga harus bolak balik bertemu ibuku," sahut Lee.
"Udah sekarang gini aja, kamu boleh ikut ke kebun singkong, di sana juga ada Sadako, Silla juga mau ikut tinggal di panti asuhan, kan?" tanya Dita.
Silla mengangguk.
"Ya udah, kalian ikut semua pulang, yuk, asal... kalian enggak boleh mengganggu anak-anak panti," ucap Dita.
Wewe pun akhirnya sepakat mengikuti keluarga Anan dan Dita pulang.
"Anta nanti kasih kamu daster ya supaya nutupi tubuh kamu, malu tau kayak orang gila enggak pakai baju," ucap Anta.
Silla tertawa seraya merangkul Wewe.
Semenjak itu, catatan harian di buku Anta sudah penuh terisi dengan pengalamannya bersama para hantu. Ia sangat bersyukur mendapatkan keluarga yang utuh kembali dan penuh dengan kebahagiaan.
Apalagi saat rumah di seberang panti asuhan dijual. Tasya memutuskan untuk membeli rumah tersebut agar bisa berdekatan dengan keluarga Dita. Ada yang lebih sangat berbahagia yaitu, Arya. Pemuda itu bisa setiap hari melihat gadisnya meskipun harus menjaga para bayi setiap ia datang untuk mengapel Anta.
Di hari minggu itu tepat di acara ulang tahun Raja, semua berkumpul. Arga dan Ria juga datang bersama Angel ke pesta ulang tahun yang hanya dihadiri kerabat dekat.
Angel menyerahkan kotak hadiah berwarna hijau pada Raja.
"Apa ini?" tanya Raja.
"Buka aja!"
Sebuah buku tebal yang bersampul hijau terbuat dari beludru yang halus tergeletak dengan cantik di dalamnya.
"Buku?" tanya Raja.
"Iya, aku beli di toko antik, kata nenek yang jual buku itu cocok buat kamu!" ucap Angel.
Anta menoleh ke arah kado milik Raja dari Angel.
"Kok, bukunya mirip sama buku harian punya Anta," ucap Anta.
*****
Tamat... Tamat... Tamat...
Terima kasih buat para pembaca yang sudah meluangkan waktu untuk membaca hasil karya Vie dari Pocong Tampan sampai Anta's Diary. Duh, terharu banget sama komentar support kalian yang selalu hadir. Meskipun belum dibalas satu-satu, tapi Vie selalu baca dan like semua komentar kalian.
Sampai jumpa di cerita selanjutnya... untuk sementara waktu kepoin Instagram aku @Vie_junaeni untuk tau kabar terbaru karya aku ya. Jangan lupa di follow.
Terima kasih.
Vie love you all...