Anta's Diary

Anta's Diary
S2 - Kulit Ratu Sanca



Happy Reading ...


*****


Sore hari kala berada di teras rumah Anta bersama Arya dan para adik kembar mereka.


"Kok, si kembar di bawa ke sini? Bukannya ada Tanye Tasya?" tanya Anta.


"Tau tuh, katanya aku disuruh bawa ke rumah kamu dulu. Ayah aku pulang-pulang sakit kepala katanya," ucap Arya.


"Apa? Sakit kepala?" tanya Dita yang lantas tertawa.


"Bunda kenapa, sih?" tanya Anta tak mengerti.


"Nanti kalau kalian lebih lebih lebih dewasa lagi, dan pastinya sudah menikah, kalian akan mengerti," ucap Dita seraya terkekeh dan menyuapi anak kembarnya dengan bubur wortel ikan salmon buatannya.


"Arya ngerti nggak, sih?" tanya Anta.


"Nggak, emang Bunda sama Ayah aku kenapa?" Arya balik bertanya.


"Tau ...."


Anta melihat ke arah Fasya dan Disya yang langsung menangis.


"Eh, itu pada kenapa?" tanya Anta panik.


"Lho, pada kena– Kyaaaaaaaaa!" Arya langsung berteriak kala melihat wujud Ratu Sanca tersenyum dengan bagian ekor yang berada di kakinya.


"Oh iya, Anta belum cerita kalau Rata Sanca kembali tapi ini masih kecilan belum segede dulu hehehe."


Dita langsung memanggil Mami Aiko untuk membantu menghentikan tangis kedua adik kembar Arya.


"Ya ampun, ini Ratu Sanca? Pantes aja badannya lebih kecil mana mukanya abege banget. Duh, Fasya Disya jangan nangis, dong! Kalian cemen banget sih nggak kaya Adam sama Dira," keluh Arya.


"Justru mereka anak normal, Ya! Wajar kalau anak kecil takut hantu atau makhluk gaib, coba liat si Adam sama Dira, masa hantu yang takut sama mereka," sahut Oma Aiko.


"Hehehe, Mami bisa aja. Eh, tunggu deh, anak aku normal, Mi ... cuma ya maklum deh kalau soal perhantuan mereka nggak takut. Tapi anak aku normal tau, Mi!" protes Dita.


"Iya iya iya, normal! Ini memangnya Bunda kamu lagi apa?" tanya Aiko pada Arya.


Wanita itu menggendong Fasya sementara Arya sudah menggendong Disya.


"Apa? Masih sore kok main dokter-dokteran," ucap Oma Aiko.


Wanita itu menggendong Fasya menuju taman bunganya.


"Maksudnya Oma apa, sih?" tanya Arya menoleh pada Anta.


"Mana Anta tau!" sahut gadis itu yang sedang membantu Ratu Sanca saat ganti kulit.


Dita menahan sakit perut karena tertawa mendengar ucapan Mami Aiko di depan kedua anak kembarnya.


"Bunda kamu kenapa lagi itu?" tanya Arya.


"Anta juga nggak tau! Ini ribet banget sih masa baru netes dari telur terus ganti kulit sih, mana sisiknya kayak batik gini warnanya. Eh, bener lho bekas kulit Ratu Sanca jadi kain batik," ucap Anta.


"Wah, lumayan tuh Nta, buat Bunda jahit jadi pakaian kemeja batik apa dress batik. Sering-sering aja Ratu Sanca ganti kulit, lumayan buat Bunda kulitnya hehehe," sahut Dita.


"Apan sih, Bunda. Sekalian aja mutiara hitam air matanya Ratu Sanca kita jual, hahaha," ucap Anta.


"Kalian ini benar-benar memanfaatkan aku, huh!" Ratu Sanca melenguh kesal.


"Oh iya nanti abis magrib, anterin Anta, yuk!" ajak Anta pada Arya.


"Mau minta anterin ke mana?" tanya Arya.


"Ya siap-siap aja nanti malam," ucap Anta.


Suara lonceng sepeda milik Raja terdengar. Anak itu datang dari pergi memancing di rawa dekat rumah Robi.


"Aku bawa ikan yang Ratu Sanca mau," ucapnya.


"Ya ampun, Bunda kan udah bilang mendingan beli daripada kamu mancing di rawa! Mana pulangnya bawa temen yang aneh lagi!" seru Dita.


"Temen yang aneh? Maksud Bunda apaan?" tanya Raja.


Dita, Anta, Arya, dan Ratu Sanca menatap ke arah belakang Raja bersamaan.


*****


To be continue...