
Happy Reading...
*****
"Bunda, kenapa aku enggak bisa lihat hantunya Kak Anta?" tanya Raja.
"Mungkin, Anta sudah ada di surga, dia kan anak yang baik," jawab Dita sambil mengusap kepala Raja.
Anak itu lama kelamaan tertidur di pangkuan Dita seraya memandangi jenazah Anta di hadapannya.
"Kalau Dita dan Anan bisa kembali harusnya kamu juga bisa kembali, Nta..."
Dewi masih terisak dan tak dapat menghentikan bulir bening yang jatuh membasahi pipinya.
Anan sampai bersama Nenek Darma di panti asuhan itu.
"Nek, duluan masuk ke dalam, aku mau keliling dulu," ucap Anan.
"Kamu mau ngapain?" tanya wanita paruh baya itu.
"Aku berharap bisa ketemu sama arwah Anta sebelum dia benar-benar menghilang," ucap Anan.
"Nan, jangan terlalu dipaksakan, kamu harusnya mendoakan gadis itu supaya tenang dan kembali ke rumah Allah," ucap Nenek.
"Anan cuma penasaran aja, Nek, sebentar aja kok mau keliling sini," ucap Anan.
Nenek Darma akhirnya menyerah dan masuk ke dalam panti asuhan, sementara Anan melangkah berkeliling panti asuhan. Sayangnya, ia tak juga menemukan Anta sampai ia menyerah karena kelelahan. Pria itu tertidur di kursi teras panti asuhan.
***
Keesokan harinya, petugas yang memandikan jenazah datang. Ia meminta sejumlah peralatan yang akan digunakan untuk menyucikan tubuh gadis itu. Dewi bersama Aiko dan Ibu Ari menyiapkan bahan seperti air putih secukupnya, sabun, wangi-wangian non alkohol, dan air kapur barus.
Sementara itu, para pria seperti Arya, Arga, Herdi dan Dion menyiapkan tandu jenazah yang hendak membawa tubuh Anta setelah mereka tadi bergantian membantu petugas penggali kubur di kebun belakang.
Tasya juga menyiapkan sarung tangan untuk memandikan jenazah Anta. Lalu ada juga kapas, potongan atau gulungan kain kecil, kain dan juga handuk. Kemudian, Tasya, Dita, Dewi, Aiko dan Nenek Darma masuk ke sebuah bilik di mana jasad Anta berada.
"Kalian harus kuat dan ikhlas ya, jangan ada yang menangis," ucap Ibu petugas yang memimpin jalannya pemandian jenazah itu pada para wanita tersebut.
Petugas itu lalu membaca niat, Tasya memberikan kain bersih penutup jenazah agar aurat tidak terlihat. Dia selalu menghela napas berat agar merasa lega demi menahan tangisnya. Begitu juga dengan Dewi dan Dita. Petugas itu lantas meninggikan kepala jenazah untuk menghindari air mengalir ke bagian kepala.
Lalu, ia juga membersihkan seluruh anggota badan Anta dari gigi, lubang hidung, celah ketiak, lubang telinga, celah jari tangan, dan rambut. Dita berusaha menenangkan diri saat berusaha menekan dengan lembut bagian perut Anta. Petugas itu mengutarakan tujuan melakukan hal itu untuk mengeluarkan kotoran yang mungkin masih tersisa. Tak ada bagian manapun yang luput untuk dibersihkan.
Petugas itu lalu menyiramkan air terlebih dahulu ke bagian anggota tubuh yang sebelah kanan, lalu ke bagian sebelah kiri. Lantas ia mandikanntubuh Anta dengan menggunakan air sabun. Lalu, jenazah diwudhukan, dibersihkan rambut dengan sampo atau daun bidara. Air yang digunakan juga dicampur wangi-wangian pada bilasan terakhir. Setelah selesai dimandikan, tubuh Anta dikeringkan dengan kain agar tidak basah saat dikafani. Sebelum dikafani, tubuh Anta diberi lapor barus.
"Yang mau cium silakan, tapi jangan nangis ya," ucap Ibu petugas itu.
Dita, Tasya, Dewi, Raja, bahkan Anan dan Andri bergantian mencium kening dan pipi gadis itu. Rasanya masih tak percaya kalau gadis itu akan pergi begitu cepat. Ria juga maju dan mencium pipi Anta.
"Terima kasih sudah menjadi sahabatku yang tulus, selamat jalan sahabat kesayangannku, I will always love you, Nta," lirih Ria.
Lalu, jenazah Anta dikafani. Gadis itu sudah berbalut kafan layaknya sosok pocong. Ikatan demi ikatan juga sudah rapi membalut kafan gadis itu kecuali wajahnya yang belum selesai tertutup. Arya tersentak kala melihat tangan gadis itu bergerak dari balik kafan yang membungkus tubuh Anta.
"Perasan gue aja kali, ya," gumam Arya.
"Kenapa elo?" bisik Arga.
"Gue ngerasa kalau barusan itu lihat si Anta gerak, Ga," bisik Arya.
"Ah, halusinasi elo aja kali," sahut Arga.
Ibu petugas yang memandikan jenazah Anta itu lantas hendak menutup wajah gadis itu dengan kapas. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.
"Hatchi... hatchi...!"
Suara bersin terdengar dari gadis itu. Sontak saja semua yang berada di sekitar gadis itu langsung berteriak tak percaya dan mundur beberapa langkah. Para anak panti langsung histeris ketakutan. Sementara yang lainnya masih menatap tak percaya.
"Astagfirullah...." pekik ini petugas itu.
"Hatchi... hatchi...!"
Suara bersin dari bibir gadis itu kembali terulang.
"Asik, Kak Anta balik lagi jadi pocong....!" seru Raja yang langsung bersorak kegirangan.
Kedua mata gadis itu perlahan terbuka. Tubuh Anta perlahan bergerak dan berusaha untuk duduk. Dita dan Anan langsung spontan bergegas menghampiri meski ketakutan melanda wanita itu tapi ia mencoba membantu Anta bersama Anan.
Anta menoleh ke arah Dita dan Anan lalu bola matanya berkeliling ke menelisik sekitarnya. Ia lantas tersenyum meringis menunjukkan deretan gigi putihnya pada ketiga pria yang berdiri di hadapannya dan menatap tak percaya.
"Hai, semuanya....!" sapa Anta.
Ria yang melihat Anta menyapa langsung jatuh ke lantai tak sadarkan diri kemudian.
***
Sebelum Anta terbangun dan kembali dari kematiannya. Gadis itu terbangun di suatu ruangan berkabut. Sayup-sayup ia mendengar suara seluruh anggota keluarga dan orang-orang terdekatnya menangis. Akan tetapi, ia tak bisa mendekat.
Rupanya gadis itu mengalami mati suri. Banyak wajah seram yang mendekat dan berusaha menyentuh Anta tetapi mereka tak bisa. Setelah menghindari berbagai sosok dengan wajah seram dan suara aneh itu, gadis itu terus melangkah sampai ke ujung koridor. Ternyata ia sampai di sebuah hamparan ladang yang sangat luas tanpa batas dan kosong.
Anta melihat hamparan kosong berwarna oranye dan setitik cahaya yang sangat bersinar. Kilauan cahaya tersebut mengundangnya untuk datang menghampiri meski sangat jauh untuk dikejar.
Seorang wanita berpakaian seperti Ratu Sanca terlihat dari kilauan cahaya tersebut. Wanita itu lantas datang menghampiri. Namun, wanita itu kini memiliki kedua kaki. Ia terlihat sangat cantik.
"Ratu Sanca, apa itu kamu?" tanya Anta.
"Iya, Anta sayang, ini aku," ucapnya seraya melangkah mendekat.
"Kau akan merasakan jiwamu keluar langsung dari tubuhmu, seakan sebuah saputangan sutra yang ditarik dari saku di salah satu sudut. Kau akan merasa terbang di sekitar dan kemudian kembali dan masuk lagi. Kupastikan kau tak akan mati," ucap Ratu Sanca.
"Anta enggak ngerti deh Ratu ngomong apa," sahut Anta.
"Anta, sekarang kamu sudah berpisah dengan tubuhmu, tetapi aku akan mengembalikan ke tubuhmu lagi," ucap Ratu Sanca.
"Maksud Ratu? Anta enggak ngerti deh," sahut gadis itu.
"Anta balik ya ke dunia, aku mau istirahat dulu di sini, jadi ini pertemuan terakhir kita," ucapnya seraya mengusap kepala Anta dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Anta enggak ngerti, pertemuan terakhir?"
"Lekas, waktu kita enggak banyak. Terima kasih sudah mengubah pandanganku terhadap manusia, kamu dan keluargamu membuatku lebih paham kalau masih banyak manusia yang baik di dunia ini, ucap Ratu Sanca lalu mengecup kening Anta dan memeluk gadis itu.
Cahaya berpendar menyilaukan. Tampak silau dan membuat gadis itu menutup mata. Ia ingin berteriak memanggil Ratu Sanca tetapi tak bisa. Rasa sesak di dada dan kesulitan bernapas menghinggapinya.
Anta tersadar saat ia terbaring dengan wajah hampir tertutup kapas.
"Hai, semuanya!" sapa Anta.
"Astagfirullahaladzim... Allahu Akbar....!" Petugas pemandu jenazah itu tak henti-hentinya mengucap takbir dan istighfar kala melihat Anta.
"Asik... Kak Anta jadi pocong!" sahut Raja yang langsung menghampiri Anta dan memeluknya.
"Apa? Jadi pocong? Anta masih hidup tau!" jawab Anta yang merasa sesak dengan ikatan di seluruh tubuhnya.
"Anta, kamu masih hidup?"
Dewi langsung menghampiri Anta dan memeriksa embusan napas di bawah rongga hidungnya.
"Masih napas," gumam Dewi.
"Iyalah Mama, Anta masih hidup, tolong bukain!" pinta Anta.
Petugas pemandi jenazah dan Ibu Ari lantas memerintahkan para lelaki untuk ke luar ruangan. Ikatan dan balutan kafan gadis itu akan dibuka. Dita dan Tasya masih saja memeluk Anta dengan wajah bahagia.
"Emangnya tadi Anta mati, ya?" tanya Anta.
"Iya, bahkan kita udah mandiin kamu," jawa Dita.
"Yah, aku pikir aku bakalan punya Kakak hantu," jawab Raja.
"Heh, temen kamu udah kebanyakan hantu masih ngarep Anta jadi pocong, ayo keluar!"
Dewi menarik ujung daun telinga milik Raja dan membawanya ke luar ruangan.
"Ini, anak ini dibawa ke mana?" tanya Aiko saat melihat Ria yang masih pingsan.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Vie punya cerpen baru, yuk mampir
"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon
Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, cuma komen dan love ya.
Follow IG : @vie_junaeni