Anta's Diary

Anta's Diary
S2 - Ceritanya Tante Dewi (Part 2)



Happy Reading...


*****


"Oh, nama ibu Nyi Ageng. Baiklah karena saya harus segera pulang, saya tinggal Nyi di sini bersama suster, ya?"


"Iya, Nak, nanti saya minta anak saya datang ke mari untuk menjemput."


"Untung saja ada dokter yang bisa menangani Ibu dengan segera. Besok Nyi akan dipindahkan ke rumah sakit umum. Tahan dulu sakit di kaki ini, ya?"


"Sudah tak begitu sakit, kok. Terima kasih sekali lagi, Nak Dewi. Tapi, tunggu sebentar," ucapnya menahan Tante Dewi saat hendak beranjak pergi.


"Ada apa, Nyi?"


"Kemarikan tanganmu!" pintanya.


Tante Dewi dengan mudahnya mengulurkan tangan kanannya ke arah wanita paruh baya yang sudah mengenakan baju pasien rumah sakit bersalin.


"Saya hanya bisa memberikanmu ini, mintalah sesuatu yang paling kau inginkan, lalu lempar koin emas ini ke laut." Wanita bernama Nyi Ageng itu menyerahkan koin emas ke telapak tangan Tante Dewi.


"Maksud Nyi Ageng?" tanya Tante.


"Saya mau istirahat dulu, ya," ucap Nyi Ageng.


Wanita paruh baya itu terlihat langsung terlelap begitu pulasnya. Tante Dewi jadi tak tega membangunkan wanita yang terbaring itu.


"Aku nggak salah dengar, kan? Apa iya yang dikatakan Nyi Ageng itu benar," gumamnya.


Tante Dewi memutuskan untuk pulang dengan menaiki mobil taxi yang berada di pangkalan depan rumah sakit bersalin tersebut.


***


Keesokan harinya menuju ke rumah sakit. Mobil yang dikendarai Andri saat mengantar Dewi melewati sebuah jalan raya yang terdapat jembatan. Di bawah jembatan itu ada laut yang juga dijadikan tempat wisata air.


Tante Dewi masih mengingat perkataan Nyi Ageng yang ia tolong pada malam harinya sebelumnya. Ia mengeluarkan koin emas dari dalam tasnya dan melempar koin itu ke laut dari dalam jendela.


"Kamu buang apa?" tanya Andri.


"Bukan sampah, kok," sahutnya.


"Kalau bukan sampah terus apa?"


"Koin."


"Koin? Tetep aja itu sampah logam. Kalau dimakan sama ikan seperti lumba-lumba bahkan penyi gimana hayo?" tanya Andri seraya fokus menyetir.


"Nggak mungkin juga ada hewan yang kamu sebutin itu. Aku cuma mau kayak adegan di fortune fountain. Buat permintaan dengan melemparkan koin ke airnya hehehe."


"Ngaco kamu, Dew! Tetep aja itu sampah."


"Iya, maaf." Dewi mengusap bahu suaminya dengan lembut.


"Rahasia," jawabnya seraya terkekeh.


"Masa sama suami sendiri rahasia, nggak boleh gitu."


"Hehehe, udah fokus nyetir aja."


Hari itu, Tante Dewi meminta agar ia merasakan kehamilan dan memberikan Andri keturunan. Namun, ada hal yang dia tak tahu. Saat koin emas pemberian Nyi Ageng terlempar ke laut yang luas, itu tandanya perjanjian antara si pelempar dengan dirinya sudah terjalin.


Setelah perjanjian itu terjalin dan permintaan terkabulkan, maka akan ada sesuatu hal yang akan dipinta untuk menjadi pembayarannya. Pastinya, Nyi Ageng akan datang meminta harga yang harus dibayar.


***


Dita menatap Tante Dewi dengan tajam. Wanita itu malah berjalan mondar-mandir sampai Andri sadar dari pingsannya.


"Ada apa ini? Aduh kepala gue pusing banget," keluh Andri.


"Maaf, Ndri, tadi kepala kamu kepentok," sahut Dita masih mondar-mandir tak jelas.


"Ta, kamu kenapa sih? Tante pusing tau liatnya!" keluh Tante Dewi.


"Tante itu ketemu Nyi Ageng," sahut Dita.


"Lha, emang iya Nyi Ageng."


"Tante tau nggak siapa Nyi Ageng itu?" Dita bertolak pinggang di hadapan Dewi.


"Tau, dia ibu yang Tante tolong tempo hari," ucap wanita itu seraya menggaruk kepalanya penuh kebingungan.


"Tante Dewi, Nyi Ageng itu semacam jin jahat apa iblis gitu. Dia yang udah membuat suatu kumpulan sekte sesat yang udah buat Mamanya Ria masuk penjara," ucap Dita.


"Apa? Sekte sesat? Terus hubungannya sama Tante apa?" tanya Dewi.


"Koin emas itu kan pemberian dia, terus Tante pasti bikin permintaan supaya bisa hamil, iya kan?" tanya Dita.


Tante Dewi nenganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Nah, itu artinya Tante buat perjanjian sama dia!" seru Dita.


"Perjanjian? Terus gimana dong?"


Andri mendekati Dewi yang mulai terlihat panik.


"Gimana dong, Sayang?" tanya Dewi pada Andri.


*****


To be continue...


Jangan lupa favorit, like, komentar dan vote ya.