
Happy Reading...
*****
Arya mengetuk pintu apartemen Anta hari itu, Raja membuka pintu dan menyapanya.
"Assalamualaikum, Kak Anta ada?" tanya Arya.
"Walaikumsalam, ada tuh. Bentar ya aku panggil," sahut Raja.
Arya masuk ke dalam dan duduk di sofa yang ditunjuk Raja. Tak lama kemudian Anta datang dan menyapa pemuda itu. Raja dan Tasya mengintip dari balik dinding dapur.
"Tumben, ada apaan, Ya?"
"Tadi kamu ke mana sama Dion?"
"Hmmm... Anta malas jawab lah kalau ujung-ujungnya ribut," sahut Anta.
"Aku tadi kan cari kamu pakai gps tapi malah mati, aku malah nyasar ke galeri," ucap Arya bersungut-sungut.
"Anta ke Mall Kota, bukan galeri."
"Sudah kuduga."
"Arya marah sama Anta?"
"Enggak, ngapain juga aku marah, udah terlanjur juga ngebiarin kamu sama Dion."
"Ya habisnya Anta enggak tega soalnya dia mau pergi ke Inggris, mau ada acara juga kok di restoran Papa Andri," ucap Anta.
"Iya aku tau. Nih buat kamu."
Arya menyerahkan satu gantungan kunci pasangan tadi pada Anta.
"Apaan nih?"
"Cilok."
"Ini gantungan kunci tau!"
"Iya kalau udah tau kenapa nanya."
"Maksudnya dalam rangka apa kasih kayak gini?"
"Udah jangan bawel, pakai aja di tas kamu. Udah ah aku mau pulang, capek."
"Yeee... siapa suruh datang ke sini kalau capek bukannya pulang dulu sana istirahat."
"Habisnya aku kangen sama kamu!"
Arya langsung menutup mulutnya karena mengucap dengan spontan.
"Aku pulang, assalamualaikum!"
Arya langsung ke luar dari apartemen milik Tasya itu. Anta masih menatap punggung pemuda itu dengan tatapan tak percaya.
"Cie... Anta!" ledek Tasya yang muncul dari balik dinding tersebut.
"Cie... Kak Anta."
Raja ikut meledek gadis itu.
"Pada ngapain sih cie cie gitu? Kaga jelas ih!"
"Udah jelas itu, Nta. Udah sih kurang apa coba si Arya. Dia ganteng, baik, perhatian, rela berkorban lho buat kamu," ucap Tasya.
"Duh, Anta tuh masih belum kepikiran suka sama cowok apa pacaran gitu Tante, males aja gitu."
"Hmmm nanti kalau udah cinta terus terlambat nyesel lho."
"Pada ngomongin apa sih?" Raja menyimak sedari tadi dengan toples berisi keripik di tangannya.
"Eh anak kecil enggak usah ikut campur!" seru Tasya.
"Pada ngomongin pacar kan? Yah... Kalau sama aku, aku aja Udah punya pacar, wlek!" sahut Raja menekan remote TV mencari chanel sinetron remaja yang suka ia tonton bersama Mama Dewi.
"Apa? Raja punya pacar?"
Tasya dan Anta menyahut bersamaan.
"Iya dong, Raja gitu lho!"
"Eh bocah! Cewek ingusan mana yang mau sama kamu?" tanya Anta seraya bertolak pinggang.
"Ada dong, banyak lho yang mau sama aku, wleeek...!" ledek Raja seraya menjukurkan lidahnya.
"Udah genit ya keponakan Tante yang bocil ini, siapa pacar kamu sih?" tanya Tasya seraya mengacak-acak rambut Raja.
"Angel."
"What? Adek tirinya Arga?" tanya Anta.
"Yoi, cakep kan? Raja gitu lho."
Anta masih menatap Raja dengan tatapan tak percaya kala ponsel miliknya berdering. Ria menghubungi Anta agar datang ke rumahnya bersama yang lain. Hari itu ia akan mengadakan pesta perpisahan untuk Dion dengan cara pesta barbeque di tepi kolam renang rumahnya.
"Bentar aku angkat," ucap Anta menghampiri ponselnya yang berdering kala sedang bermain ular tangga bersama Raja.
"Halo, kenapa Ria?"
"Nta, nanti ke rumah ya berenang bareng sama barbeque, aku mau adain pesta perpisahan aja sama Bang Dion," ucap Ria.
"Lho, bukannya mau di restoran Papa Andri?"
"Itu kan acara dia, ini acara aku, ajak aja Raja sama yang lain, pokoknya pada datang ya," ucap Ria.
"Oke deh kalau gitu nanti Anta ajak Raja."
Sambungan ponsel itu terputus, Anta duduk kembali di hadapan Raja.
"Dari siapa Kak?" tanya Raja.
"Ria, dia mau ajak kita swimming swimming, sambil memanggang daging, barbeque gitu, mau ikut?" jawab Anta sambil memeragakan orang yang sedang berenang dengan kepakan kedua tangannya
"Wah, boleh tuh, aku mau ikut ya, Kak..."
Raja memohon dengan tatapan penuh harap.
"Oke, let's go!" ajak Anta.
"Oke, siap!"
"Naik apa ke sana?" tanya Tasya.
"Minta jemput Kak Arga aja, gimana?"
Raja memberi ide yang langsung disetujui oleh Anta.
"Hemat ongkos! "
"Tunggu, aku siapin baju renang dulu," sahut Raja.
"Oh iya, Anta sampai lupa."
***
Keesokan harinya, Arga yang sudah dihubungi Anta menunggu di depan apartemen. Terlihat Arya juga sudah yakin kalau dia akan datang. Ia langsung menghampiri mobil Arga.
"Ga, cewek tuh badannya kekar lagi," ucap Arya.
"Ih, emangnya eyke doyan begituan apa?" Sahut Arga dengan suara sengau berlagak seperti banci salon.
"Hahaha.... cocok banget luh!"
Arya tertawa sampai tak sengaja menarik spion mobil Arga.
"Halo cowok-cowok cakep yang ganteng, mau dengerin eyke nyanyi enggak?"
Pria gemulai dengan tank top warna merah dan rok mini berbahan jeans itu sudah hadir di samping Arga.
"Astagfirullah... masih siang gini udah ada penampakan aja, ngagetin Mas, eh Mbak!" sahut Arga dengan spontan.
"Ih, enak aja penampakan, dandanan eyke udah kayak Marlin Monroe gini dibilang penampakan. Mau dinyanyikan apa?"
"Itu, tanya sama dia mau minta lagu apa?" Arga menunjuk Arya yang sudah menghilang.
"Lha, kenapa itu bocah?" tanya Arga seraya mencari keberadaan Arya yang ternyata bersembunyi di balik mobil dengan posisi berjongkok.
"Nah, ketemu si ganteng yang satu, ayo coba mau lagu apa?"
Pengamen itu berhasil menemukan Arya dan menarik tangannya.
"Ampun, Bang, saya masih perjaka, saya belum kawin, ampun Bang..."
Arya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya kala itu.
"Yee kenapa takut, sini aku perjakain mau enggak?" tantang pengamen itu.
"Ga, kasih duit aja gih enggak usah pakai nyanyi, gue gemetaran ini," ucap Arya.
"Saya nyanyiin aja deh, saya perjakain juga boleh, gratis kok."
"Ogah!" sahut Arya.
"Eh, ada kamtib tuh! razia razia razia!" seru Arga padahal ia berbohong.
"Aaaaaa... kamtib? Eyke kabur dulu, sampai jumpa lagi ganteng, bye....!" Pria itu berlari menjauh dengan kencangnya.
"Buahahahahaa...! Emang enak gue bohongin," ucap Arga yang masih memegangi perutnya karena tertawa dengan senangnya.
"Ah, syukurlah... bagus juga ide lu, Ga. Gue udah takut di pegang-pegang sama dia," sahut Arya yang hendak membuka pintu mobil Arga dan masuk ke dalamnya.
"Haalah, gue yakin elo demen juga dipegang dua, daripada enggak ada yang megang, hahahaha..."
"Hayo, nungguin Anta ya!"
Gadis itu menepuk bahu Arya dan membuatnya terkejut.
"Kodok terjengkang mati!"
Sahut Arya dengan spontannya.
"Buahahaha... kasian kodoknya!" sahut Raja.
Arga dan Anta juga langsung tertawa bersamaan.
"Udah udah udah, ayo kita jalan!" seru Arga.
Anta dan Raja lalu naik ke mobil tersebut menyusul Arya. Mereka melaju ke rumah Dion.
Di tengah jalan, mereka terhadang kerumunan para warga yang mengerumuni sesuatu. Kemacetan pun tak terelakkan.
"Ada apaan sih?" tanya Arya.
"Tau deh, macet begini," sahut Arga seraya membuka kaca jendela mobilnya.
"Ada apaan, Pak? Kok rame kayak gini?" tanya Arga pada pria pengendara motor di samping mobilnya..
"Ada yang kecelakaan, Den!" sahutnya.
"Oh, pantes macet. Oke deh Pak, makasih ya."
"Ada kecelakaan ya, mending buru-buru kabur, Ga. Gue takut jadi pasien si Anta berikutnya," sahut Arya.
Mobil Arga perlahan merayap di jalan yang masih macet itu. Namun, ke empat pasang mata para anak muda yang ada di dalam mobil Arga tersentak akan jasad korban kecelakaan yang digotong ramai-ramai melewati depan mobil Arga.
"Ga, dari pakaiannya kayak pernah liat," ucap Arya.
"Waduh, itu mah bencong tadi, Ya."
"Gawat nih, gue enggak mau ya tuh bencong gentayangan ngejar kita. Apalagi yang gue takutin jangan-jangan dia kecelakaan gara-gara tadi dia lari pas elo boongin soal kamtib," sahut Arya menuding Arga.
"Waduh gimana dong?" Arga menjambak rambutnya sendiri dengan gemas.
"Gais... kayaknya hantu yang kalian omongin lagi berdiri di samping mobil Arga, deh," bisik Anta.
Arya, Arga dan Raja lalu menoleh ke arah kiri mobil Arga secara bersamaan.
*****
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Kalau masih versi lama nanti enggak dihitung.
Selamat menjalankan ibadah puasa.