Anta's Diary

Anta's Diary
Kematian Anta



Happy Reading...


*****


Dokter yang mengoperasi Anta kemudian ke luar dari ruangan operasi. Wajahnya tampak terlihat sedih dan menunduk. Ia tak berani menatap Dewi.


"Dokter Shendi, apa yang terjadi dengan putri saya?"


Dewi langsung mengguncang kedua bahu teman kerjanya di rumah sakit itu.


"Maaf Dew, maafkan saya. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain," ucapnya.


"Maksud kamu...?"


"Saya terlambat menolong gadis itu," ucapnya.


Dewi menatap ke arah ruang operasi yang terbuka itu. Ia melihat dua suster di dalam sana sedang menutup seluruh tubuh putri kesayangannya itu dengan selimut berwarna putih. Wanita itu langsung mendorong kasar Dokter Shendi dan berlari ke dalam ruangan operasi sambil berteriak.


"Anta....!"


Andri mengejar sang istri dan berusaha menenangkan wanita itu. Dita dan Raja langsung bangkit begitu juga dengan Tasya dan Ria. Semua yang ada di depan ruang operasi itu juga melangkah mendekat, tetapi para suster sudah menahannya.


Teriakan nama Anta dan tangisan terdengar bersahutan. Dion bahkan menyakiti diri sendiri dengan membenturkan kepalanya ke dinding. Herdi berusaha menenangkan pemuda itu.


Dita dan Anan masuk ke dalam ruangan. Semua alat yang melekat di tubuh gadis itu sudah dilepas dan dirapikan. Raja terlihat meraung-raung menangis kencang sampai terduduk lemas di lantai. Tasya berusaha menenangkan anak itu.


Tiba-tiba, Arya memutuskan untuk melangkah pergi. Akan tetapi, Herdi langsung menahan anak itu.


"Kamu mau ke mana?" tanya sang ayah.


"Aku mau menuntut balas," jawab Arya dengan wajah kesal dengan mata memerah karena menangis.


"Maksud kamu?"


"Aku mau ketemu sama Mey, aku mau buat perhitungan sama dia," ucap Arya.


"Enggak gitu juga caranya, Ya," sanggah Herdi.


Arya menepis tangan ayahnya dia bahkan mendorong pria itu menjauh darinya. Pemuda itu lantas berlari menjauh.


"Biar saya aja, Om, yang kejar dia," ucap Arga.


Arga berlari menyusul Arya. Dia tahu tujuan pemuda itu pasti akan menuju ke kantor polisi tempat Mey berada.


***


Di kantor polisi, ibu dari Mey datang dengan pemuda yang baru ia kencani dua bulan ini. Pemuda yang menjadi pacar sebelumnya telah mati mengenaskan saat mencoba memperkosa gadis itu.


Kekuatan dalam diri gadis itu mulai memuncak kala merasakan darah segar dari di korban kala itu. Namun, Mey memutuskan untuk mempertahankan nyawa ibunya. Ia bahkan sudah bisa mengendalikan sang ibu agar menuruti semua kehendaknya.


"Mey, kamu enggak apa-apa kan sayang?" tanya sang ibu yang langsung memeluk gadis itu.


Mey hanya terdiam saat menerima pelukan erat itu.


"Sekarang kamu tenang aja, Mami sudah menyewa pengacara mahal dan handal untuk membebaskan kamu, tetapi kamu harus menjalani rehabilitasi dulu ya di rumah sakit," ucap sang ibu.


"Rumah sakit jiwa? Jadi, aku dianggap gila?" tanya Mey buka suara.


Ia melepas pelukan ibunya dan menatap wanita di hadapannya itu dengan tatapan berkaca-kaca. Gadis itu mulai menangis.


"Jadi sekarang aku dianggap gila, Mi?" tanya Mey.


"Bukan gitu sayang, tapi menurut pengacara lebih baik kamu berada dalam perawatan dibandingkan harus meringkuk dalam penjara. Lagipula hukumannya akan lebih ringan, Nak. Nanti Mami akan percepat perawatan kamu terus kita pindah rumah, kita pindah ke luar kota atau luar negeri, bagaimana?"


"Pindah? Setelah aku membangun sedikit demi sedikit wilayah kekuasaanku?"


Wajah gadis itu mulai menatap sang ibu dengan tatapan mengerika. Senyum miliknya juga menyeringai menghias di wajah gadis itu. Bola mata gadis itu berubah gelap. Ia mulai mencekik leher ibunya.


"Mey, lepaskan Mami, lepaskan!"


"Biarkan aku menguasai tubuh ini seutuhnya," ucap Mey.


"Mey, kamu kenapa, Nak? Lepasin Mami, aargghhh!"


Para penjaga langsung menolong wanita itu dan menahan tubuh Mey sampai gadis itu melepaskan cengkeraman kuat di leher ibunya. Gadis itu langsung kembali di ikat di kursi.


"Mami, tolongin aku, aku enggak gila, aku enggak gila," ucap Mey.


Sang ibu yang sudah ketakutan langsung ke luar dan menangis. Pacar mudanya itu langsung menyambutnya dan menenangkannya. Ia lantas pergi menemui pengacara dan memilih rumah sakit jiwa yang sesuai untuk menampung putrinya itu.


Tak lama kemudian Arya datang bersama Arga. Mereka menemui Mey yang terbaring di ruang tahanan dalam kantor polisi itu. Gadis itu sendirian di sana.


"Arya, kamu datang buat membebaskan aku, kan?" tanya Mey ia mengeluarkan tangannya dari celah jeruji besi berusaha menjangkau Arya.


Pemuda itu lantas menyambut tangan Mey. Akan tetapi, pemuda yang tampak marah itu langsung menarik tangan gadis itu dan membenturkan tubuh gadis itu lalu mendorongnya jatuh ke lantai.


Salah satu polisi menahan pemuda itu bersama dengan Arga.


"Anta, Anta terbunuh?" tanya Mey seraya mengusap luka di lututnya.


"Iya, kamu udah bunuh Anta, kenapa bukan aku aja yang kamu bunuh! Sahabat macam apa kamu?" hardik Arya.


"Ya, kendalikan emosi kamu," lirih Arga.


"Tapi, tapi, tapi aku enggak bermaksud untuk—"


Gadis itu tampak kebingungan dan tak mengerti.


"Aku membunuh Anta?" tanyanya menoleh pada Arga.


"Hanya karena cinta kamu sama Arya kamu rela bersekutu dengan iblis, aku enggak nyangka Mey, dab bahkan iblis itu sudah mengendalikan kamu sampai membunuh Anta."


Arga mendekat pada Mey.


"Kamu bohong, Ga, Anta enggak mungkin mati," ucap Mey masih berusaha tak percaya dengan berita yang ia dengar.


"Anta mati, Mey, dan itu karena kamu," ucap Arga.


"Bohong! Kamu bohong! Kalian bohong! Aaaaaaaa....!"


Gadis itu berteriak dan menutup kedua telinganya yang mendengar bisikan Nyi Ageng.


"Kita bisa keluar dari sini, aku bisa membantumu lagi untuk mendapatkan Arya," bisik Nyi Ageng.


"Hentikan! Hentikan semua ini!" teriak Mey, ia berusaha untuk tak mau lagi menuruti perintah iblis dalam tubuhnya.


Gadis itu terus berteriak dan berputar-putar sampai ia jatuh tak sadarkan diri. Petugas polisi wanita masuk memeriksa gadis itu. Kepolisian memutuskan kalau Mey harus dibawa segera ke rumah sakit jiwa.


***


Setelah tubuh Anta dibersihkan, pihak keluarga membawa jasad gadis itu ke panti asuhan. Dita dan Anan memutuskan untuk membawa gadis itu ke sana dibandingkan ke apartemen. Mereka memilih untuk mendoakan gadis itu di sana. Mereka juga akan menguburkan Anta di wilayah kebun belakang panti asuhan agar bisa setiap hari datang ke makam gadis itu dan mendoakan.


Ambulans membawa jasad Anta kemudian menuju panti asuhan. Dita tak pernah lepas memeluk gadis itu seraya menangis. Begitu juga dengan Dewi yang selalu berada di samping keduanya.


Sesampainya di panti asuhan, jasad Anta dibaringkan di ruang tamu yang sudah disiapkan. Para anak panti asuhan juga sudah siap membacakan yasin dan tahlil bagi Anta. Raja meringkuk di pangkuan Dita yang duduk bersama Dewi di hadapan jenazah Anta. Mata mereka terlihat makin sembab karena linangan air mata itu tak mau terhenti.


Di beranda panti asuhan Tasya menghampiri Herdi di sana.


"Arya belum kembali?" tanya Tasya pada Herdi yang masih mondar-mandir di depan panti asuhan.


"Aku lagi coba telepon Arya, aku juga suruh Ria buat telepon Arga, supaya mereka langsung ke sini," jawab Herdi.


Wanita itu masih menunduk dan menangis. Ia uang sedang berhalangan tak bisa ikut membaca doa tahlil untuk Anta. Herdi langsung menghampiri Tasya dan memeluk wanita itu. Tangisannya makin pecah kala berada dipelukan Herdi.


Dion mencari sesuatu dalam mobil yang terparkir di depan halaman panti asuhan. Ia mencari dengan penuh kebingungan. Ria menghampiri sepupunya itu setelah memberi kabar di forum sekolah perihal kematian Anta.


"Abang cari apa?" tanya Ria.


"Ratu Sanca, dia tuh Abang taro di dalam mobil, tapi menghilang," jawab Dion.


"Ratu Sanca, maksud Abang apaan, sih?" tanya Ria tak mengerti.


"Aduh, kamu mana tahu soal ular besar itu, dia tadi ikut aku sama Anta ke rumah Mey, tetapi sekarang dia hilang," ucap Dion.


"Ular besar, Abang jangan nakutin aku deh," sahut Ria menatap dengan heran yang bercampur rasa takut juga.


"Duh, apa ketinggalan di rumah sakit, ya?" gumam Dion. Pemuda itu berpikir kalaupun ia kembali ke rumah sakit, apa bisa dia melihat makhluk gaib itu tanpa bantuan Anta.


Akhirnya, Ria membawa pemuda itu masuk ke panti asuhan untuk mendoakan Anta. Mereka memutuskan untuk menginap di sana sampai pemakaman Anta besok pagi. Dewi memutuskan untuk mengubur gadis cantik itu esok hari karena hari sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


Sementara itu, Anan pulang dan menceritakan pada Nenek Darma perihal kematian gadis itu. Ia lalu membawa sang nenek menuju ke panti asuhan untuk melihat sosok Anta terakhir kalinya sebelum dikebumikan.


"Bunda, kenapa aku enggak bisa lihat hantunya Kak Anta?" tanya Raja.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Vie punya cerpen baru, yuk mampir


"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon


Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, cuma komen dan love ya.


Follow IG : @vie_junaeni