
Happy Reading...
***
"Apaan sih, enggak ada tuh Anta jadian sama siapa-siapa," celetuk Arga.
"Eh, suara siapa tuh, kok aku sepertinya kenal?" tanya Ria.
"Bukan siapa-siapa," Arya langsung mematikan sambungan ponsel di tangannya itu.
Ia tau Ria begitu menyukai Arga, tapi untuk saat ini, ia tak mau gadis itu mengikutinya karena terlalu bahaya. Arya lalu masuk ke dalam mobil mengikuti rombongan Anta itu.
***
Alamat yang diberikan Martha cukup jauh, butuh tiga jam perjalanan untuk sampai ke sana. Namun, setelah satu setengah jam perjalanan, ban mobil yang dikendarai Andri mengalami pecah ban. Mereka harus berhenti di sebuah bengkel pinggir jalan yang akhirnya bisa melayani penggantian ban mobil.
"Duh, Anta lapar nih, Tante," rengek Anta pada Tasya.
"Tante juga mau pipis, udah enggak tahan," sahut Tasya.
Wanita itu melangkah menuju montir bengkel dan menanyakan mini market terdekat. Sang montir mengarahkan kalau seratus meter dari bengkel tersebut ada sebuah mini market di kiri jalan. Tasya dan Anta melangkah ke sana. Arya yang melihat itu langsung mengikuti langkah kedua wanita itu. Arga juga turut mengikuti di samping Arya.
"Pada ngapain sih ngikutin Anta?" tanya Anta.
"Dih, pede banget elo, gue mau beli kopi sama roti," sahut Arya.
"Halah, bilang aja mau ngikutin Anta, ya kan?" celetuk Arga.
"Udah ih pada berisik aja!" sahut Tasya.
Tak lama kemudian, sebuah mini market terlihat di kiri jalan. Tasya bergegas masuk ke dalam sana dan menanyakan perihal toilet. Sementara itu, Anta mencari roti dan susu di rak etalase.
Sebuah ruangan sempit dengan wc jongkok dan sebuah ember kecil yang menampung air dari keran terlihat. Bau pesing menyengat sampai ke hidung Tasya. Awalnya dia ragu untuk masuk ke kamar mandi yang kumuh dan kotor itu, tetapi kandung kemih yang penuh itu sudah tak tahan untuk dibuang.
Ia akhirnya terpaksa menggunakan kamar mandi tersebut meskipun rasa jijik menghinggapinya. Setelah selesai melakukan buang hajatnya, Tasya merapikan kembali retsleting celana yang ia gunakan. Karena terburu-buru ia tak sengaja membuat tangannya terjepit retsleting sampai meneteskan darah.
Tasya mencuci telunjuknya yang berdarah agar terhenti tetesan yang ke luar itu. Tiba-tiba ia mencium bau anyir, amis, dan menjijikkan di toilet tersebut.
"Perasaan tangan aku darahnya cuma sedikit, kenapa bau anyirnya kayak darah yang ke luar itu banyak banget ya, mana lama-lama kok bau busuk," gumam Tasya.
Ia segera membuka pintu kamar mandi tersebut, tapi macet dan tak bisa terbuka seolah-olah terkunci dari luar. Wanita itu mulai panik dan menggedor pintu kamar mandi itu. Anehnya, tak ada siapapun yang mendekat menghampiri wanita yang panik itu.
Sejurus kemudian, sesuatu menyentuh bahu Tasya. Sentuhan itu menyentaknya dan membuat tubuh wanita itu gemetar ketakutan. Perlahan-lahan ia menoleh ke sesuatu yang ada di bahu kanannya. Nampak tangan kanan seseorang yang berkulit pucat dan penuh luka berongga terlihat.
Luka itu mengeluarkan darah dan nanah yang menjadi satu menimbulkan bau yang busuk. Tasya makin gemetar ketakutan kala menyadari kalau sosok itu pastilah hantu.
"Ka-kamu, siapa? Tolong jangan ganggu saya," ucap Tasya dengan bibir gemetar. Kedua kakinya juga mendadak lemas seolah tak mampu menopang tubuh wanita itu.
Tasya menangkap sosok wajah menyeramkan sedang menyeringai ke arahnya. Rambut keriting itu terlihat kaku karena bekas darah yang membuat rambut itu menempel. Terlihat juga luka menganga di kepala hantu itu. Para belatung langsung menyapa wanita itu. Ulat kecil itu menggeliat di kepala hantu itu. Di leher hantu itu juga terdapat luka sayatan yang melingkari lehernya.
"Tante... Tante ngapain di dalam lama banget?" suara Anta dengan lantangnya terdengar di luar pintu kamar mandi seraya menggedor keras pintu itu.
"Ayam bengek!"
Hantu itu buka suara mengejutkan Tasya. Rupanya hantu itu terkejut kala mendengar gedoran pintu dari Anta.
"Kampret tuh cewek, kok bisa ya menemukan tempat ini, kan elo udah gue bawa ke tempat alam gue?" tanyanya pada Tasya.
"Kamu perempuan apa laki, sih?" tanya Tasya.
"Gue, ehem ehem, tadinya gue laki terus gue mau berubah jadi perempuan tapi gagal, gue ketangkap sama suku sesat terus gue dijadiin tumbal sama mereka, huh!" keluhnya. Nada suara yang berat tadi perlahan berubah jadi lebih manis seperti suara perempuan.
"Suku Ro? Bukannya kalau mereka suka menumbalkan manusia itu dengan memenggal kepala, ya?" tanya Tasya.
"Bener banget, Sis, nih lihat kepala aku bisa copot," ucapnya.
Krek krek krek...
Terdengar bunyi gemerutuk tulang leher yang bergerak saat hantu itu melepas kepalanya sendiri.
"Aaaaaaa...!" teriak Tasya seraya menutup wajahnya.
"Tadi nanya kan, giliran gue jawab sambil ngebuktiin elo malah takut, gimana sih," ucapnya.
Anta masih memanggil dari luar, kini nadanya mulai panik saat mendengar Tasya berteriak.
"Bukain pintunya!" seru Anta.
"Elo bisa lihat gue rupanya, enggak takut elo sama gue?" tanya hantu itu tak mengindahkan seruan Anta.
"Ta-tadinya takut, tapi karena ada Anta di luar aku udah biasa aja lihat kamu," sahut Tasya.
"Minggir, Nta, mau aku dobrak pintunya!" ucap Arga.
Arya juga bersiap jika memang Arga hendak mendobrak paksa pintu tersebut.
Ceklek.
Pintu kamar mandi itu terbuka. Anta sudah bertolak pinggang berdiri di depan daun pintu usang itu. Di belakangnya ada Arya dan Arga. Tasya langsung buru-buru ke luar dan menghampiri Anta dengan wajah ketakutan.
"Tante lama banget sih di kamar mandi, semedi ya?" tanya Anta.
"Bukan itu, tuh Tante dikunciin sama dia!" tunjuk Tasya.
Hantu penunggu kamar mandi usang itu lalu ke luar. Kepala hantu itu ada di kedua tangannya. Wajahnya yang menyeringai berubah menjadi lebih manis kala melihat dua pria tampan di belakang Anta. Ia segera memasang kembali kepalanya.
"Wuaahhhh cakep banget para cowok ini," ucapnya.
"Tante, ini hantu cowok apa cewek?" bisik Anta.
"Bencong," bisik Tasya menjawab pertanyaan Anta.
"Wah, kalian semua bisa lihat gue, ih senangnya..."
Hantu itu berjingkrak-jingkrak kegirangan. Ia juga mengelilingi Arga dan Arya, sesekali ia mencolek lengan dua anak muda itu dan mencubitnya dengan gemas.
"Ih... bisa gue pegang senangnya," ucap hantu itu lagi.
"Hidih, gue geli! Buat elo aja, Ga!"
Arya mendorong Arga sampai menabrak hantu itu.
"Hai..."
"Wlek... kepalanya bau banget!" ucap Arga buru-buru menghindar.
Hantu itu hendak menghampiri Arya dan Arga tetapi Anta langsung menahannya.
"Stop Om, eh Tante, kita mau lanjutin perjalanan ke Desa Jingga, jadi jangan ganggu kita, atau nanti Anta pisahin nih kepalanya jauh-jauh," ancam Anta.
"Wait, Desa Jingga? Itu Desa tempat kepala gue dipenggal dulu, elo mau ngapain ke sana, mau bunuh diri elo pada ketemu Suku Ro?" tanya hantu itu.
"Kamu tahu letak desa itu dan mati di sana rupanya," ucap Tasya.
"Nama kamu siapa?" tanya Anta.
"Nama gue Desta, tapi gue mau ngerubah nama gue jadi Desti hehehe..."
Hantu itu berucap seraya melingkarkan lengannya di tangan Arya.
Arya langsung menepis dan mendorong hantu itu langsung ke tubuh Arga. Desta tersenyum genit ke arah Arga. Tadinya ia mau melingkarkan lengannya di tangan Arga, tetapi anak muda itu langsung mendorong tubuh hantu itu ke dalam kamar mandi.
"Ih... sekalinya ketemu manusia yang bisa lihat gue dan gue sentuh, eh pada jahat sama gue, ih sebel!" keluh Desta.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni