Anta's Diary

Anta's Diary
Ulang Tahun (Part 1)



Happy Reading...


******


"Oh, iya ada yang mau saya tanyain nih, kalian punya penglaris, ya?" tanya Anan.


Andri langsung memandang Anta dengan wajah terperanjat. Keduanya tak mengerti dengan pertanyaan Anan barusan.


"Penglaris gimana?" tanya Andri.


"Udah deh jangan bohong, elo piara ular gede kan di dalam restoran ini? Dan gue yakin banget kalau ular gede itu buat bikin restoran ini laris, ya kan?" tanya Anan.


"Ular gede? Buahahahahha...."


Anta langsung terbahak-bahak begitu mengerti maksud ular besar yang dibicarakan Anan.


"Kok ketawa?" tanya Anan.


"Papa masih enggak ngerti dia ngomong apa, dan kenapa kamu ketawa, Nta?" tanya Andri.


"Itu Pa, maksud Yanda mungkin Ratu Sanca, si penjaga restoran ini," ucap Anta.


"Oh, maksudnya itu."


Brak!


Anan langsung mundur membawa kursinya begitu juga dengan Anta yang terkejut langsung naik ke atas sofa.


Secara spontan Andri menggebrak meja dia langsung sadar kalau ternyata Anan versi baru ini masih bisa melihat makluk tak kasat mata.


"Elo bisa lihat Ratu Sanca?" tanya Andri menunjuk Anan.


"Kaget gue, Bro! Gue emang bisa lihat hantu, tapi gue baru itu lihat makhluk setengah ular dan setengah manusia, jadi gue yakin itu piaraan elo," sahut Anan.


"Bukanlah, dia malah penjaga restoran elo sebelumnya, elo yang buat Ratu Sanca ke sini sama Dita. Jadi, Ratu Sanca itu jagain ini restoran supaya jauh-jauh dari pesaing yang mau main halus atau curang," ucap Andri.


"Gue yang bawa dia?"


"Iya, gue ceritain deh soal Anan dan Dita ini."


"Nggak usah, gue buru-buru, makasih ya pembayarannya. Lumayan banget buat pengobatan nenek gue, oh iya sering-sering pesen ikan sama gue, ya!" pinta Anan.


"Oke deh, nanti gue ke toko elo selain gue mau cerita soal Anan," ucap Andri.


Anta menghampiri Anan lalu mencium punggung tangan milik pria itu.


"Cakep bener sikap elo, Neng, semoga jadi anak pinter anak baik anak soleha," ucap Anan.


"Amiiiinnn...."


Andri dan Anta menyahut bersamaan. Saat Anan membuka pintu ruang kerja milik Andri itu, betapa terkejutnya kala ia melihat Raja sedang bermain kuda-kudaan dengan Ratu Sanca sambil menyuapi makhluk itu dengan tikus putih.


"Astagfirullah... anak siapa itu malah main bareng sama ular gede macam itu?" pekik Anan.


"Hehehe... Emang udah biasa Raja kayak gitu," sahut Anta.


Anan berusaha bersandar pada dinding saat hendak ke luar dari restoran. Ia tak mau terkena buntut Ratu Sanca. Wajahnya terlihat jijik karena sisik sang ular.


"Yanda mau ke mana itu, Kak?" tanya Raja.


"Mau pulang, dia belum sadar kalau dia yanda kita."


"Duh, Raja jadi enggak sabar ketemu Bunda."


"Nantinya juga kita ketemu, ayo bantu Kak Anta merapikan dekorasi!" ajak Anta.


***


Anta dan yang lainnya sudah mulai mendekorasi ruangan. Dekorasi ulang tahun anak itu sangat menarik. Apalagi hasil karya itu dibuat berdasarkan ide cantik dari Tasya. Tatanan dekorasi bertajuk "Candy Crush" dengan tatanan dekorasi berbentuk permen-permen cantik. Semua permen asli dan bisa di makan. Sampai Raja selalu terkenal pukul oleh sang kakak karena terus mencicipi permen lolipop yang disediakan sebagai souvenir.


Tasya mendekorasinya sangat sederhana. Ia memesan berbagai macam permen seperti permen coklat, susu dengan berbagai macam warna dan bentuk. Lalu, dia atur berbagai permen itu sedemikian rupa pada sebuah meja. Dia juga menambahkan untuk tema ulang tahun itu seperti gambar-gambar permen pada kertas yang ditempelkan di dinding. Dinding restoran juga dihiasi juga dengan balon-balon dan kertas warna.


Tak lama kemudian, Sebuah mobil sedan hitam datang ke area tersebut. Seorang anak pria langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam restoran. Dia tak sengaja menabrak Anta.


"Dion?"


Anta menunjuk pria muda yang menggunakan celana jeans dan kemeja berwarna putih.


"Kok, elo tau nama gue, pasti elo salah satu penggemar gue, ya?"


"Idih, amit-amit! Ogah banget Anta bisa jadi fans kamu!"


Arya yang sedang membantu Tasya membersihkan lantai itu langsung menghampiri Anta. Sebuah sapu berada di tangan anak itu.


"Kenapa, Nta, dia ngapain kamu?" tanya Arya.


"Duh, ini siapa lagi, datang-datang malah ngancem pake sapu gitu?" gumam Dion.


"Heh, gue lagi nyapu bukan ngancem elo!" sahut Arya.


"Abang Dion, tungguin Ria dong!"


"Hahahaha... dekorasi kamu kocak banget,masa serba pink hahahaha...." Dion bertolak pinggang seraya mencibir Ria.


Gaun warna merah muda dengan panjang sampai lutut itu terlihat cantik di tubuh gadis itu.


"Ih, manis tau! Lagian emang konsepnya serba pink, ini kenapa baju Abang putih?"


"Males amat gue pake pink, ogah!"


"Jadi kalian yang ulang tahun?" tanya Anta.


"Bukan gue, ini adek sepupu gue yang ultah. Elo harusnya mikir masa cowok cakep kayak gue luka g tahun serba pink, hahahaha...."


"Najis! Pede banget ini orang!" sahut Arya.


"Ada apaan sih?" tanya Arga yang ikut menghampiri.


Sementara Mey dan Tasya masih sibuk membuat permen dengan hiasan pita di tengahnya.


"Ya ampun, cakep banget ini cowok," gumam Ria.


Gadis itu menghampiri Arga dan mengulurkan tangan kanannya.


"Hai, aku Ria."


"Hai, gue Arga," sahut Arga yang tadinya memegang kemoceng di tangannya lalu ia berikan pada Arya.


"Kok, dikasih ke gue?" tanya Arya.


"Sekalian titip, tolong taro belakang," ucap Arga.


Hartono dan sang istri kemudian masuk ke dalam restoran. Tasya langsung sigap menghampiri untuk menyambut kedua orang itu.


"Mey, tolong panggil Pak Andri," pinta Tasya dan Mey langsung menurut.


"Maaf sebelumnya, apa ibu kamu masih hidup?" tanya Anta.


Ia teringat hantu perempuan yang dulu selalu berada di dekat Dion.


"Sembarangan elo, ibu gue masih hidup, nanti juga ke sini. Dia jemput bokap gue dulu di bandara," sahut Dion.


"Ah, syukurlah. Terima kasih Ya Allah, ibunya Dion masih hidup," ucap Anta.


"Ini cewek stres kali ya," cibir Dion langsung berlalu dari hadapan Anta.


Tadinya Arya yang sudah kesal dengan kelakuan anak itu sudah bersiap memukul dengan gagang sapu, tetapi Anta langsung melarang.


Arga terlihat risih karena Ria selalu mengikuti gerakannya. Ia sampai menjauh ke luar restoran. Namun, gadis itu tetap saja mengikutinya.


"Kenapa elo nanyain ibunya?" tanya Arya.


"Karena pas Anta ketemu dia di SMA nanti, ibunya itu udah meninggal karena ulah pria itu," ucap Anta seraya menunjuk Hartono.


"Bagus dong kalau enggak jadi meninggal."


"Tapi, Om Doni tetap meninggal, terus kenapa ibunya enggak meninggal?"


"Karena Nenek Lampir mati jadi enggak ada iblis Ro yang bangkit," sahut Arya.


"Bener juga ya, atau mungkin bertukar jiwa dengan Hyena," gumam gadis itu.


"Udah yuk siap-siap, pakai kostum badut, kan tadi elo udah kalah suit," ucap Arya seraya mengusap rambut di kepala Anta.


"Panas tau, masa harus Anta sih yang kalah... Gimana kalau Arya aja yang jadi badut?"


"Keuntungannya apa buat gue?"


"Ummm... Anta traktir nonton bioskop, gimana?" tanya Anta.


"Nonton layar tancap juga gue mau asal sama elo, Nta," lirih Arya.


"Ngomong apa barusan?" tanya Anta.


"Enggak ngomong apa-apa, cuma bilang oke boleh juga," ucap anak muda itu mengelak.


Mey yang mendengar percakapan keduanya terlihat sangat kecewa.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni