
******
Pak Herdi masih berdiri di tempatnya karena bingung harus melakukan apa, sementara Delima yang ketakutan hanya meringkuk dan mulai menangis. Anta kembali ke posisi awal tadi untuk menarik tangan Pak Herdi.
"Ayo, Om, kenapa bengong bantuin Anta!"
"Gimana caranya?" tanya Pak Herdi.
"Ya gimana ya, kita cari tiap kuburan satu-satu, yang mana kira-kira yang nangkap Raja," sahut anak gadis itu.
"Tapi..."
"Pak Herdi eh Om bisa lihat hantu, kan?" tebak Anta yang akhirnya berani juga buka suara setelah beberapa hari yang lalu agak takut bila berbicara dengan sosok pria itu.
Pak Herdi hanya terdiam tak menjawab. Akan tetapi gadis itu tetapi menarik tangan pria itu. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya menoleh ke arah Delima.
"Tante, ayo ikut, nanti repot kalau Tante yang diculik hantu di sini," seru Anta.
Delima menoleh ke arah kanan kiri lalu bangkit berdiri. Ia ketakutan juga jika membayangkan jika ia diculik hantu di area pemakaman itu.
"Aku balik ke mobil aja ya, terus aku ke kantor polisi buat minta bantuan, gimana?" tanya Delima.
"Tapi yakin, Tante bisa ke kantor polisi?" tanya Anta.
"Ke luar dari sini pasti jalan raya, kan? Nah, aku bisa cari taxi, karena aku enggak bisa nyetir," sahutnya.
"Kita anterin dulu ke depan sampai menemukan taxi, bagaimana?" tanya Pak Herdi.
"Nah, Tante juga harus bertemu sama Tante Tasya dan tolong bawa ke sini, ya?" pinta Anta.
Delima mengangguk lalu mereka mengantarkan gadis itu pergi ke luar dari area pemakaman.
***
Di apartemen Emas kepanikan melanda Tante Dewi dan Tasya setelah mengetahui kalau Anta dan Raja menghilang. Tasya meraih gelas berisi air di rumah Tante Dewi.
"Minum dulu, capek aku tuh lihat Tante dari tadi mondar-mandir macam itu," ucap Tasya.
Tante Dewi meraih gelas dari tangan Tasya namun saat mendekatkan gelas itu ke bibirnya wanita itu seperti melihat sesuatu di pantulan dinding gelas dan melemparnya.
"Ih, si Tante kenapa ya lempar-lempar gelas gitu, untung enggak pecah gelasnya," ucap Tasya.
"Tadi, tadi aku lihat pocong, Sya."
"Pocong? kayak apa Tante pocongnya?" tanya Tasya.
"Kayak pernah lihat gitu mukanya tuh lumayan cakep, sih."
"Ada gitu pocong cakep?" celetuk Andri.
"Anan juga dulu kaya gitu, pocong edisi tampan hehehe," sahut Tasya.
"Tunggu deh mukanya tuh mirip..."
"Nah, coba konsentrasi lagi buat liat!" sahut Tasya berharap Tante Dewi dapat melihat siapa sosok pocong itu.
"Enggak bisa, Sya, lagian aku juga enggak mau lihat lagi."
"Sya, coba lihat ini!" panggil Doni berteriak dari pintu depan karena tadinya ia hendak ke luar menuju rumahnya.
Tante Dewi mengikuti Tasya dari belakang, di sampingnya ada Andri yang ikut juga ke arah suara Doni.
Sosok pocong sedang melompat-lompat bolak balik tak tau arah terlihat di mata Tasya. Sosok itu mengingatkan dia akan Anan dan Pak Herdi dulu.
"Si-siapa, tuh pop-pocong, Sya?" tanya Doni masih saja merasa ketakutan jika bertemu hantu.
"Kalian lihat apa?" bisik Tante Dewi.
"Jangan-jangan pocong yang Tante bilang tadi," jawab Tasya ikut berbisik juga.
Andri langsung menarik tangan Tante Dewi.
"Masuk, Dew, serem kan dengernya," bisik Andri yang dijawab anggukan kepala wanita itu.
Tasya mencoba mendekati sosok pocong tersebut. Namun, Doni menahan lengan wanita itu.
"Enggak apa-apa, aku mau lihat bentar," bisik Tasya yang akhirnya dilepas oleh Doni.
Sosok hantu Susi dan Tomo lalu datang mengejutkan Doni.
"Siapa tuh, Don?" tanya Susi.
"Aku hantu bukan kampret, tau!" sahut Susi.
"Ya makanya ngagetin, kalau liat kamu udah biasa itu pocong baru kayaknya di sini," ucap Doni.
"Bulan si Uli, kan?" tanya Tomo.
"Kayaknya bukan, coba samperin, yuk!" ajak Susi mengikuti Tasya menghampiri sosok pocong itu.
Tasya berjalan mengendap-endap menghampiri sosok tersebut, di sampingnya Susi dan Tomo mengikuti. Herannya mereka malah mengikuti cara jalan Tasya. Lalu, ketika mereka sudah hampir sampai, sosok pocong itu berbalik badan dan menatap ke ketiganya.
"Aaaaaaaaaaaaaaa!"
Tasya, Susi, Tomo dan pocong tersebut saling berteriak satu sama lain.
Doni menutup kedua telinga dengan kedua telapak tangannya karena teriakan heboh di hadapannya itu.
"Hantu... setan...!" tunjuk Pocong itu yang ketakutan sampai merapat ke dinding di belakangnya.
"Heh, kamu tuh juga setan tau, pocong juga coba tuh ngaca!" seru Susi.
"Arya, kamu Arya, kan?" tanya Tasya mencoba mengamati wajah sosok pocong itu.
"Tante Tasya, masa saya jadi pocong, benaran gak, nih?" keluh Arya yang mencoba mengamati dirinya di kaca jendela.
"Oh, iya ini anak songong itu kan, yang suka gangguin Anta?" tanya Susi.
"Heh, gue enggak songong ya, emang udah bawaannya gue kayak gini," sahut Arya.
"Terus kamu kenapa baru sekarang bisa muncul?" tanya Tasya.
"Saya juga enggak tahu, Tante, tau-tau saya muncul di sini, mungkin saya disuruh cari Anta kali," jawabnya.
"Nah, bisa jadi, kan kali aja banyak perbuatan salah kamu sama Anta makanya kamu enggak tenang hahaha," sahut Tasya seraya tertawa geli sendiri memegangi perutnya.
"Dih, Tante, emangnya saya segitu nakalnya apa sama Anta, ngomong-ngomong di mana tuh cumi albino?" tanya Arya.
"Nah, itu dia, Ya, dia sama Raja hilang," sahut Tasya.
"Waduh, hayo lah cari, masa masih di sini!" ajak Arya.
"Oh iya bener kita coba cari. Susi Tomo, kamu cari Anta sama Raja sekitara apartemen, ya, aku sama Doni sama Arya mau coba cari di luar, kali aja ke sekolah ada," ucap Tasya.
"Cari Silla sama Uli, siapa tau mereka tau juga Anta ke mana," sahut Arya.
"Tunggu di sini!"
Wanita itu lalu pamit pada Tante Dewi dan Andri agar esok hari jika kedua anak itu tak kunjung pulang untuk segera menghubungi polisi. Mereka juga harus mencari tau keberadaan kedua anak itu dengan menghubungi teman-teman sekolahnya.
Selepas itu, Tasya dan Doni bergegas untuk menyiapkan mobil diikuti Arya.
"Om, Tante, jangan cepet-cepet dong, saya belum terbiasa nih, ribet banget sih, kenapa ya enggak jadi hantu biasa aja, kenapa harus pocong," keluh Arya.
"Berisik nih, bukannya bersyukur balik lagi ke sini buat ketemu semuanya, kali aja kamu tuh dikirim ke sini ada tujuannya tau!" sahut Tasya yang coba melirik tajam ke arah Arya.
Arya langsung menunduk tak mau melihat lirikan tajam itu.
"Cuma di sini doang kali ya, jadi hantu bukannya ditakuti malah takut, huh..." gumam Arya yang mencoba mempercepat lompatannya.
******
To be continue...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta