
Happy Reading...
*****
Di pasar seru, Anta dan Arya masih mencari keberadaan Raja yang menghilang di bazaar tersebut. Sementara di sisi lain, Dita dan Anan juga masih sibuk mencari keberadaan Raja kala itu.
Mereka juga menghubungi pihak keamanan dan bagian informasi untuk menyebutkan nama Raja di bagian informasi anak hilang.
Sebenarnya Raja melihat Mey yang terlihat aneh. Gadis itu membawa ayam hitam dan menuju ke sebuah toko yang berada di sudut gang dalam pasar seru. Gelagat gadis itu terlihat aneh sampai membuat anak kecil itu memutuskan untuk mengikuti Mey.
Raja mengendap-endap dan bersembunyi saat mengikuti gadis itu. Hantu kakek yang biasa berada di gang tersebut berdiri di samping anak itu. Hantu itu terlihat berjongkok sambil menangis. Darah menetes dari tangannya yang terpotong.
"Astagfirullah... si kakek ngagetin aja! Duh, sana deh aku lagi enggak mood, jangan nakutin kayak gitu!" Raja mendorong kaki hantu tersebut, tetapi hantu itu malah ikut berjongkok di samping Raja.
"Kenapa kau tak takut padaku?" tanya hantu tersebut.
"Ssttt... jangan berisik! Kalau mau ngumpet bareng aku, diem aja disitu, lagian masih banyak hantu yang lebih serem ketimbang Kakek doang, udah biasa, udah sering saya lihatnya," sahut Raja sambil berbisik.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya hantu kakek itu.
"Tuh, aku lagi mengawasi anak perempuan itu," bisik Raja.
Hantu kakek itu malah makin mendekat dengan wajah lebih seram dari yang tadi.
"Aku enggak takut, udah sana jangan deket-deket, Kakek bau amis tau!"
Raja mencoba mendorong hantu tersebut.
"Kau mau tau apa yang sering dibeli gadis itu?" tanya hantu Kakek.
"Memangnya dia beli apa di sana?" tanya Raja.
"Darah, darah manusia."
"Hah? Kakek jangan bohong deh!"
"Dia mendapat darah manusia dari suster yang bekerja di bank darah, hasil para pendonor darah," ucap hantu itu.
"Bagaimana Kakek bisa tau? Eh, Kakek kan hantu ya pasti tau lah ya. Terus buat apa Kak Mey beli darah manusia dan ayam hitam itu?" tanya Raja.
"Biasanya, manusia penganut sekte sesat atau pesugihan yang membutuhkan hal-hal seperti itu," tutur hantu Kakek.
Raja mendengar dengan saksama sambil bergeser perlahan ketika kaki kanannya terkena tetesan darah si hantu kakek itu.
"Raja, kamu ngapain ngumpet di situ?"
Sosok gadis kecil menegur Raja saat melihatnya bersembunyi.
"Eh, Angel... kamu ada di sini juga?"
"Iya, aku pergi ke bazaar ini sama Nenek, kamu ngobrol sama siapa?" tanya Angel.
"Enggak ngobrol sama siapa-siapa, cuma lagi ummm... duh, lho si Kak Mey kemana? Yah, aku kehilangan jejak deh," gumam Raja.
"Angel, ini siapa?" tanya seorang wanita paruh baya mengenakan terusan motif batik dengan memakai hijab warna hitam.
"Ini Raja, temen sekolah aku, Nek," ucap Angel memperkenalkan Raja.
"Halo ganteng!"
Nenek Wati mengulurkan tangan pada Raja. Anak itu terlihat malu dan merona pipinya kala mendengar ucapan kata ganteng dari neneknya Angel.
"Wati, itu kamu..."
Hantu Kakek itu langsung berdiri dan menatap wajah sang nenek dengan tatapan terpesona.
"Kakek kenal?" tanya Raja.
"Dia, cinta pertama saya yang selama ini saya cari," jawab Kakek.
"Kamu ngomong sama siapa, Kakek siapa?" tanya Angel.
"Ummm... itu maksud aku..."
"Oh iya, aku ingat, kamu bisa lihat hantu, berarti kamu lagi ketemu hantu di sini?" terka Angel.
Raja meringis lalu menjawab dengan anggukan kepala.
"Tolong saya, sampaikan pernyataan cinta saya pada Wati," pinta hantu Kakek.
"Yang bisa memperlihatkan Kakek dengan Nenek ya cuma Kak Anta, tunggu ya aku cari Kak Anta."
Raja tersenyum pada hantu kakek sampai membuat Nenek Wati dan Angel saling pandang penuh tanya tak mengerti.
"Kakek tunggu sini ya, aku mau cari Kak Anta dulu!" ucap Raja.
"Memangnya Kak Anta di mana?" tanya Angel.
"Tadi sama aku, berarti sekarang dia hilang."
"Hah, kak Anta hilang? Berarti Kak Anta sendirian?"
Angel berusaha mengikuti langkah Raja, sementara sang nenek melangkah mengikuti di belakangnya.
"Kak Anta tadi sama Kak Arya sama Bunda sama Yanda," jawab Raja.
"Lho, berarti yang sendirian itu kamu dan berarti yang hilang itu kamu, Ja!"
Angel melirik ke arah Raja dengan tatapan kesal.
"Ih, kamu gimana sih, berarti Kak Anta dan yang lainnya sekarang kebingungan cari kamu," ucap Angel menepuk bahu Raja.
"Ya udah sekarang kita cari penjaga, atau kita ke tempat informasi," ucap Nenek Wati memberi saran.
Raja dan Angel mengiyakan.
"Memangnya kamu ketemu hantu apa, Ja?" tanya nenek.
"Hantu Kakek yang tangannya buntung, tapi dia bilang dia itu cinta perlahan nenek," ucap Raja.
"Apa? Cinta pertama nenek?"
Kedua mata wanita itu terperanjat tak percaya.
"Cinta pertama itu apa sih, Nek?" tanya Angel dan Raja bersamaan.
"Duh, gimana ya cara Nenek menjelaskan, perasaan pertama kalinya kalau kalian menyukai seseorang dan selalu ingin bertemu dengan orang tersebut. Kalian tuh rasanya seneng banget kalau ketemu orang itu," tutur nenek menjelaskan sekenanya.
"Kayak aku yang maunya ketemu sama kamu terus ya, Njel," celetuk Raja.
"Ih, Raja apaan sih, bikin malu aku aja!"
Angel mendorong bahu Raja pelan.
"Hehehe..."
"Raja! Kamu ke mana aja, Kak Anta tuh dari tadi cari kamu tau enggak?"
Gadis itu sudah bertolak pinggang dengan wajah sangar dan mata melotot menatap Anta.
"Aduh, ini sih lebih serem dari hantu Kakek tadi," gumam Raja.
"Sukurin luh, Ja!" ucap Arya.
"Iya maaf, tadi aku enggak sengaja ketemu sama— ayo Kak Anta ikut aku, ada yang penting, Angel sama Nenek juga ikut aku!" seru Raja sambil menarik lengan Anta.
Arya dan lainnya mengikuti langkah kedua kakak beradik itu menuju gang yang terdapat hantu Kakek tadi. Di perjalanan, Raja menceritakan pertemuannya dengan sang kakek dan ia meminta bantuan pada Anta agar mempertemukan kakek tadi dan nenek Wati.
Sesampainya di gang itu, Anta lantas memperlihatkan kan sosok hantu Kakek pada di nenek. Akan tetapi, gadis itu memastikan terlebih dulu pada Nenek Wati untuk menyiapkan mental kala melihat hantu Kakek.
Arya yang sudah keburu takut bersembunyi di balik tubuh Raja. Ia menundukkan kepalanya karena lebih tinggi dari anak kecil di hadapannya itu.
"Baiklah, Nak, Nenek sudah siap," ucap Nenek Wati.
Anta mulai memperlihatkan sosok si Kakek.
"Wati, akhirnya kita ketemu juga di sini, sudah lama aku menunggumu di sini," ucap hantu Kakek itu.
"Ariadi, itu kamu?"
Nenek Wati mulai menangis. Ia teringat kenangan 40 tahun lalu saat ia menunggu Ariadi untuk dilamar. Namun sayangnya, pria itu tak kunjung datang juga untuk melamar.
Ternyata sosok Ariadi mengalami kecelakaan dan lumpuh saat ia hendak membelikan barang-barangku seserahan untuk Wati. Kini, Nenek Wati tau kenapa pria yang ia tunggu itu tidak kunjung datang. Padahal rumor beredar kalau sosok pria itu berselingkuh dan tak mau menikahinya.
Ariadi ditolong oleh seorang wanita yang akhirnya dia nikahi. Karena pria itu mendengar kabar Wati sudah menikah dengan pria lain. Mereka akhirnya saling melupakan satu sama lain. Istri dari kakek sendiri telah meninggal karena sakit dan kakek itu meninggal karena kecelakaan di depan Pasar Seru.
Anehnya, ia tak bisa kembali malah terjebak dalam area Pasar Seru. Kini ia mengerti kenapa ia masih berada di sana. Ternyata ia harus menjelaskan kepada Wati kenapa ia tak pernah tiba di desa dan melamar nenek kala itu.
Derai air mata tercipta di antara keduanya. Bahkan Nenek Wati tak takut untuk memeluk Ariadi kala itu. Apalagi sosok kakek itu tak pernah bisa dilupakan oleh neneknya Angel meski ia telah menikah dengan pria lain.
"Terima kasih, Nak, kalian sudah mempertemukan kami," ucap Kakek itu lalu ia menghilang.
Anta sampai berurai air mata kala itu. Angel yang memeluk neneknya dari samping masih tak mengerti kenapa sang nenek menangis.
"Udah, Nta, jangan nangis," ucap Arya berusaha membuat Anta tenang dengan menyandarkan kepala gadis itu di bahunya.
"Makasih, Ya, pinjem kaus kamu, ya," pinta Anta.
"Buat apa?"
"Buat elap ingus Anta," ucap gadis itu.
Arya tak sempat menghindar karena Anta keburu mengusap bawah hidungnya ke ujung lengan kaus milik pemuda itu.
"Cumi....!" seru Arya.
"Hehehe... maaf. Ya udah Anta beli tisu dulu."
Gadis itu melangkah mencari penjual tisu.
"Untung gue suka sama tuh cewek, kalau enggak mah udah habis sama gue!" gumam pemuda itu.
"Kak Arya ngomong apaan barusan?"
Raja menelisik sambil tersenyum jahil pada Arya.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni