Anta's Diary

Anta's Diary
Sosok Ageng



Happy Reading...


Hantu perempuan yang memakai seragam sekolah itu lantas mendekat ke arah Arya dan Arga.


"Kok kalian enggak pada jawab sih?"


Arga dan Arya kembali menggelengkan kepalanya.


"Kalian bisa lihat saya ya, apa kalian juga bisa lihat hantu yang lain?" tanya hantu perempuan itu.


Arga dan Arya kali ini menganggukkan kepala bersamaan. Hantu wanita itu makin mendekat seraya memasang bola mata itu ke dalam rongga matanya kembali.


"Kalian kok ganteng-ganteng pada pacaran juga di dalam toilet ini?" tanyanya.


Arga dan Arya saling bertatapan dengan jijik lalu saling menggelengkan kepalanya.


Terdengar kegiatan Pak Heru dan Lisna sudah selesai, karena pria itu membuka pintu toilet tersebut.


"Coba Ya, kamu intip udah ke luar belum mereka?" bisik Arga.


"Elo aja, gue enggak mau ngelewatin hantu itu," ucap Arya.


"Mereka sudah pergi."


Arga langsung mendorong Arya dan terbukalah pintu bilik toilet tersebut. Hampir saja pemuda itu hilang keseimbangan tetapi hantu perempuan itu berhasil menariknya.


"Wah, aku bisa sentuh kamu," ucapnya.


"Ga, elo tuh ya," ucap Arya mendekati Arga dan hampir meninjunya.


"Maaf deh, maafin gue," pinta Arga.


Hantu perempuan itu juga menyentuh pipi Arga bahkan mencubitnya.


"Wah, hebat... Aku bisa menyentuh kalian berdua," ucapnya dengan tersenyum senang.


"Sakit, Kak!" seru Arga.


"Keren, kalian memang pasangan yang keren, baru ini saya bisa sentuh kalian," ucapnya.


"Heh, kita bukan pasangan!"


Ketakutan Arya pada hantu itu mendadak hilang ia menunjuk hantu perempuan itu.


"Oh, kirain kalian pasangan hehehe..."


"Kakak penunggu di sini?" tanya Arga.


"Iya, sejak 10 tahun lalu. Saat sekolah ini mengalami renovasi. Saya terjatuh dari lantai empat lalu mati," jawabnya.


"Lagian, udah tau sekolah lagi renovasi malah naik ke lantai empat," sahut Arya.


"Heh! Aku juga enggak mau naik ke sana tapi kaki aku bergerak sendiri enggak bisa aku kendalikan," ucapnya.


"Kok bisa ya?" tanya Arga.


"Mana aku tau, mereka pikir aku bunuh diri, padahal aku dirasuki oleh hantu legenda," ucapnya.


"Hantu Legenda?" tanya Arya.


"Kalian berhati-hatilah, karena kupastikan tahun ini pasti ada korban lagi," ucapnya memperingatkan.


"Korban lagi? Maksudnya akan ada murid yang mati?" tanya Arya.


"Iya."


"Apa kakak tau siapa yang bunuh atau membuat Kakak kerasukan?" tanha Arga.


"Mana aku tahu."


"Kakak kan udah mati kenapa enggak cari tau apa balas dendam gitu?" tanya Arya.


"Aku terjebak di sini, aku tak bisa kemana-mana, padahal aku rindu orang tuaku," jawab hantu perempuan itu.


"Hmmm... ada yang aneh sama sekolah ini, kita harus cerita tentang ini ke Anta," ucap Arga.


"Arya, Arya, aku udah selesai bersihin toilet, ayo kita ke gudang sekolah!"


Mey berteriak dari luar pintu toilet.


"Tuh, diajak nge-date sama Mey, uhuy!"


Arga meledek Arya.


"Kampret, Luh!"


Arya lantas menyerahkan mop pembersih lantai pada Arga lalu ke luar dari toilet tersebut menghampiri Mey.


"Woi, ini mau diapain?" tanya Arga seraya berseru.


"Gue belum selesai bersihin toilet gara-gara elo, jadi lanjutin!" sahut Arya lalu berlari menuju gudang sekolah diikuti Mey yang berusaha mengejar Arya.


"Dasar rese!" seru Arga.


"Enggak apa-apa lanjutin aja nanti saya temenin," ucap hantu itu.


"Wah, kamu berani bentak saya?"


Hantu itu memperlihatkan wajah seramnya lagi.


"Eh, enggak berani, Kak, ya udah temenin di situ aja jauh-jauh," ucap Arga.


"Panggil saya, Puah," ucap hantu perempuan itu.


"Oke, Kak Puah."


***


Sementara itu di gudang sekolah, Arya dan Mey mulai membersihkan dan merapikan alat-alat olahraga, musik dan benda tak terpakai lainnya di ruangan itu.


"Kamu lapar enggak, Ya?" tanya Mey.


"Enggak, tadi udah sarapan."


"Oh..."


"Emangnya elo laper?" tanya Arya.


"Iya, laper banget..." jawab Mey seraya memegangi perutnya.


"Tunggu sini, gue nekat ke kantin bentar, gue beliin elo roti," ucap Arya langsung melangkah menuju kantin.


"Tapi, Ya—"


Arya sudah menjauh tak bisa ditahan lagi. Senyum merekah langsung menghiasi wajah gadis itu kala mendapati perhatian Arya barusan. Ia tak menyangka kalau pemuda itu bisa perhatian padanya.


Suara kardus jatuh terdengar menyentak gadis itu sampai membuatnya berpindah tempat. Mey menoleh ke arah suara tersebut. Sosok Kakek penunggu pohon asem besar muncul menampakkan dirinya di hadapan gadis itu.


"Si-siapa kamu?"


Gadis itu ingin berlari tapi ia tak dapat menggerakkan tubuhnya kala itu. Sang Kakek mendekat seraya tersenyum. Ia menyentuh dahi gadis tersebut.


"Jangan takut, Nak, aku datang sebagai juru kunci dari makluk Ageng yang berada di tubuhmu," ucapnya.


"Di-di-di dalam tubuhku?"


"Kau akan berusia 17 tahun minggu depan. Nah, dia akan mulai lapar dan haus darah."


"Dia, dia siapa yang haus darah?" tanya Mey tak mengerti.


"Begini, Nak, penghuni di dalam tubuhmu adalah sosok Ageng yang pernah menghuni tubuh Nenekmu. Setelah Nenekmu meninggal dia memilih tubuhmu untuk dijadikan media, karena sosok Ageng harus turun temurun di silsilah keluargamu."


"Sosok Ageng?"


"Saat kamu berusia 17 tahun dia mulai kelaparan dan haus darah manusia. Setiap satu bulan sekali pada malam jumat kliwon, kamu harus menyerahkan tumbal."


"Tumbal? Tumbal manusia?" tanya Mey dengan mengernyitkan dahinya.


"Kau bisa menggantinya dengan ayam hitam tapi—"


"Tapi apa?"


"Ayam itu harus dibaluri darah manusia," ucap sang kakek.


"Astaga, aku tak mau!" seru Mey.


"Jika kau tak mau, Makhluk Ageng akan menggerogoti tubuhmu sampai habis lalu kau mati. Kecuali kau punya keturunan dan bisa memindahkan Ageng pada keturunanmu," ucap pria paruh baya itu.


"Jadi Nenek mengorbankan aku?"


"Iya, karena nenekmu jatuh cinta pada seorang pemuka agama yang membuatnya sadar," jawabnya.


"Lalu, apa keuntungan bagiku memelihara Ageng dalam tubuhku?" tanya Mey.


"Dia akan mengabulkan permintaanmu," ucapnya.


Mey termenung dan berpikir sisi baik untuknya saat mendengar sosok dalam tubuhnya bisa mengabulkan permintaannya.


"Aku akan membuka mata batin milikmu agar kau bisa melihat Ageng."


Tak lama kemudian, Mey dapat melihat para sosok kuntilanak yang berada di pohon asem yang ada di taman sekolah dekat kantin.


"Lalu apakah —"


"Mey, elo ngomong sama siapa?" tanya Arya yang tiba-tiba sudah hadir di hadapannya.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni