
Happy Reading...
Anan akhirnya menuruti perintah Aiko. Namun, saat pria itu membuka pintu kamar Nenek Dharma, ia mendengar kalau sang Nenek sudah mendengkur.
"Tuh kan udah tidur, mana tidurnya pules lagi hehehe..." ucap Anan.
"Ya sudah kalau begitu besok saja saya bicara sama Nenek Dharma."
***
Malam itu, Anan bermimpi berada di sebuah bukit hijau yang indah. Banyaknya pohon-pohon yang rindang dan menambah kesejukan di perbukitan itu menambah sejuknya udara. Ia juga melihat taman bunga tulip di sekelilingnya, lalu ia terperanjat dengan keberadaan nenek Dharma yang sudah duduk di dekat danau samping taman bunga tulip.
"Nek, ini lagi apa di sini?" tanya Anan.
"Eh, Anan... sini duduk dulu. Nenek mau pamit ya."
"Lho, mau pamit ke mana?" tanya Anan memastikan pendengarannya.
"Maafin Nenek ya, pokoknya Nenek mau bilang terima kasih, karena kamu udah jadi cucu yang baik untuk Nenek."
"Maksud Nenek apa sih?"
"Pokoknya, sekali lagi Nenek cuma mau minta maaf dan ini Nenek cuma bisa mendoakan agar kamu bisa hidup bahagia bersama keluarga kamu yang sekarang."
Lalu, setelah itu Nenek Darma bangkit dari kursinya dan mendadak dia pergi menjauh.
"Nek, mau ke mana?" panggil Anan.
Nenek Darma hanya menoleh dan tersenyum setelah itu ia melangkah lagi sampai akhirnya dia menghilang.
Anan terbangun di pagi hari dengan perasaan bingung.
"Aku mimpi apa ya semalam, kenapa nenek tiba-tiba pergi," gumamnya masih berbaring di atas ranjang.
Dita lalu membangunkan suaminya itu dan mengajaknya untuk pergi sarapan. Akan tetapi, sebelum dia beranjak bangun, ia bercerita pada Dita kalau Nenek Dharma datang ke mimpi dia dan wanita itu memeluk erat cucunya tercinta. Bahkan nenek juga mengucapkan kata maaf dan terima kasih kalau dia sudah menjadi cucu yang baik untuk Nenek Dharma.
Pagi itu, Anan sedang sarapan bersama Dita dan keluarganya didatangi oleh ibu Aiko.
"Selamat pagi, begini Nan ibu mau menanyakan tentang keberadaan Nenek Dharma kok belum keluar kamar ya?" tanya Aiko.
Anan jadi jadi teringat dengan Nenek Darma karena belum keluar sama sekali. Lalu, ia bersama Dita diikuti Ibu Aiko menuju ke kamar neneknya. t
Ternyata setelah sampai di sana sang Nenek sudah tidak bernyawa. Itu berarti waktu semalam saat Anan melihat wanita itu mendengkur, itu tandanya adalah sakaratul maut yang dihadapi oleh Nenek Dharma.
Kesedihan langsung menyeruak kala itu. Anan menangis merangkul sang nenek yang sudah tak bernyawa. Akhirnya hari itu Nenek Darma dimakamkan di tempat pemakaman umum yang ada di dekat panti asuhan.
Sayangnya ibu Aiko belum menanyakan sesuatu mengenai perihal keberadaan tanda di punggung Anan. Akhirnya, sepulang dari pemakaman Ibu Aikp menceritakan hal tersebut pada Dita. Ia meyakini kalau tanda yang ada di punggung Anan itu persis seperti tanda yang ada pada putranya yang hilang.
Lagipula Dita lalu mengingat kalau ibu itu sebenarnya ibunya Anan di kehidupan sebelumnya. Maka dari itu, ia menyarankan untuk melakukan tes DNA di Rumah Sakit Keluarga tempat tante Dewi bekerja. Anan dan ibu Aiko akhirnya menuruti perintah Dita. Hari itu juga mereka melakukan tes DNA di rumah sakit.
***
Satu minggu berlalu Anan masih tampak murung karena kehilangan sosok Nenek Darma yang ia sangat sayangi. Dia masih ingat betul bagaimana ia sangat dimanja oleh neneknya tersebut. Dita yang melihat itu langsung menenangkan Anan yang tak boleh terus-terusan bersedih.
"Kamu enggak boleh terus kayak gini, kamu lupa ya kalau kamu masih punya Bunda, Anta sama Raja. Kamu harusnya tetap semangat, nenek juga pasti pengennya kamu hidup bahagia bukannya terus-terusan terpuruk seperti ini," ucap Dita.
"Maafin aku ya, Bun, makasih ya Bunda aku cuma lagi bingung aja, aku cuma lagi sedih kangen sama nenek," ucap Anan.
"Makanya kamu nggak boleh gitu. Oh iya, kan sekarang kamu harus ngambil hasil tes DNA kamu ke rumah sakit ya, aku anterin yuk," kata Dita.
"Oh iya hari ini aku harus ambil hasil tesnya. Oke kalau gitu aku ambil kunci mobil dulu ya," ucap Anan yang hari itu memutuskan untuk tidak bekerja mencari ikan di Kampung Nelayan.
Ketika dia masuk mengambil kunci, ia berpapasan dengan ibu Aiko.
"Anan, kapan mau ke rumah sakit?" tanya Ibu Aiko.
"Ini saya baru ingat, ini saya mau ke sana," jawab Anan.
"Ya udah kalau gitu kalian hati-hati ya. Oh iya, mau bagaimanapun hasilnya, cocok atau tidak cocok, bolehkah Ibu tetap menganggap kamu sebagai putra Ibu?" tanya Aiko dengan mata berkaca-kaca.
Anan langsung mencium punggung tangan wanita paruh baya di depannya itu.
"Bu, walaupun nantinya kita tidak sedarah, aku juga sudah menganggap ibu sebagai ibu saya sendiri. Terima kasih ya, Bu, terima kasih sudah menghadirkan sosok Ibu bagi saya, sosok yang selama ini saya rindukan dari saya kecil. Sosok yang selalu digantikan oleh nenek Darma setiap saya mencari keberadaan ibu saya.
Ibu Aiko menganggukkan kepalanya.
Dita yang melihat keduanya dari depan pintu beranda samping Panti Asuhan tak dapat menahan air matanya lagi yang tak bisa dibendung. Seandainya saja mereka ingat bahwa di kehidupan sebelumnya mereka memang seorang anak dan ibu. Namun sayangnya, di kehidupan sebelumnya Aiko merupakan sosok ibu yang jahat, tidak seperti ibu Aiko yang sekarang. Oleh karena itu Dita sangat bersyukur karena akhirnya dia menemukan sosok ibu Aiko yang baik yang dikembalikan ke masa sekarang.
***
Selama perjalanan Dita selalu menggenggam tangan Anan. Dia berusaha untuk menyemangati pria tersebut dan dia yakin kalau hasil tes DNA mereka cocok. Meskipun Anan masih ragu tapi dia juga sudah tidak peduli mau cocok dan tidak cocok, dia sudah menganggap Aiko sebagai ibunya sendiri.
"Yanda, kayaknya dedek bayi minta makan enak," ucap Dita.
"Ah, itu mah ibunya juga lapar kali," sahut Anan.
"Hehehe..."
"Ya udah kalau gitu kita makan dulu ya, Dedek bayi mau makan apa, sayang?" tanya Anan seraya mengelus perut Dita.
"Aku mau makan steak, boleh nggak Yanda"" jawab Dita dengan suara seperti anak kecil.
"Oh, dedek bayi mau makan steak, ya boleh dong. Ya udah kalau gitu kita cari restoran steak dulu ya," ucap Anan.
"Aku juga mau steak dong Yanda!"
Tiba-tiba suara Raja terdengar dari bak belakang mobil pick up tersebut. Anan langsung menghentikan laju mobilnya.
"Eh, kamu sejak kapan ada di situ?" tanya Dita.
"Hehehe... tadi kan aku lagi main petak umpet sama Udin, terus aku ngumpet naik ke bak mobil ini, eh ketiduran... pas aku bangun taunya aku udah di jalan ini, eh aku dengar Bunda minta steak. Ya udah aku juga pengen steak dong, boleh ya Yanda..." pinta Raja.
Dita mencubit pipi Raja dengan gemas.
"Ini anak ya, untung ketahuan coba kalau enggak ketahuan kalau kamu naik mobil di belakang begini. Awas ya kalau pulang sekolah kamu berani nekat nge- BM naik mobil di belakang kayak gitu!" ancam Dita.
"Iya, maaf..."
"Bunda nggak mau ya , kalau sampai ketauan ibu jewer kuping kamu sampai merah. Pokoknya Bunda nggak suka kayak gitu, ih nggak suka gelay!" kata Dita.
"Bunda ih, jijik banget dengernya," sahut Raja.
"Ya udah kalau gitu sekarang kamu duduk di depan samping Bunda!" ucap Anan memerintah Raja.
Akhirnya sebelum pergi ke rumah sakit, mereka pergi menuju restoran steak yang terkenal enaknya di 90's Love Cafe. Karena di kafe tersebut sudah ada menu terbaru yang kekinian.
Setibanya mereka di kafe tersebut, ternyata Dita bertemu dengan Anta dan teman-temannya sedang mengantre di depan kafe. Betapa terkejutnya Anan kalau melihat Arya sedang berusaha merangkul bahu putrinya. Ia lalu mendekat.
"Heh, bisa enggak kamu lepasin tangan kamu dari bahu putri saya!" seru Anan.
"Waduh ada Om di sini, aduh mati gue," gumam Arya.
Anta langsung menoleh pada Arya.
"Emang dia mau ngapain Anta?"
"Tuh, mau coba merangkul kamu!" seru Anan.
Anta langsung menatap tajam pada Arya yang meringis.
"Duh, maaf ya Yanda, eh Om, kok ada di sini?" tanya Anan.
"Oh, jadi gitu, ternyata kalian masih di sini, kenapa kalian belum pulang juga, kenapa malah mampir ke kafe ini?" tanya Dita seraya bertolak pinggang, Ia menatap tajam ke arah Anta.
"Hehehe... hape Anta lowbat jadi tadi lupa kasih kabar soalnya si Arga ulang tahun, tuh juga ada Ria sama Arga!" tunjuk Anta.
"Siang Tante Dita! Siang semuanya!" sapa Arga.
"Kak Arga ulang tahun, ya?" tanya Raja.
"Iya, hehehe..."
"Selamat ulang tahun ya," ucap Dita dan Raja.
Anan juga memberi ucapan selamat ulang tahun pada Arga.
"Kalau gitu, sekalian aja minta traktir sama Kak Arga," sahut Raja.
"Ide bagus!" sahut Anan.
"Hahaha... boleh boleh, ayo saya traktir."
Arga mengajak semuanya ke dalam kafe.
***
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰
Selamat menjalankan ibadah puasa.