Anta's Diary

Anta's Diary
Rencana Anta



Happy Reading...


*****


Nenek masih ingat nama Anta, duh senengnya. Anta ke sini mau cari Om Anan ada, Nek?" tanya Anta seraya mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. Arya mengikuti gerakan Anta kemudian.


"Tadi lagi di kamar mandi bentar ya Nenek panggil."


Nenek Darma lalu masuk ke dalam rumah.


"Anta, dia kemari!" tunjuk Arya pada hantu perempuan yang menyeringai dan menyeramkan itu.


Anan menghampiri Anta dan Arya kemudian seraya membawakan dua teh dingin dalam kemasan kotak.


"Tau aja si Om kalau kita haus," ucap Arya dengan percaya diri seraya meraih minuman dingin di tangan Anan.


"Eits... enak aja, ini buat gue sama Anta," ucap Anan.


"Anan..." Nenek Darma menatap cucunya dengan tajam seraya memberi peringatan.


"Iya, maaf... nih buat elo!"


Anan menyerahkan minuman teh dingin itu pada Arya.


"Nah, gitu dong! Terima kasih, Om."


Arya duduk di kursi depan etalase. Hantu wanita itu makin mendekat dan duduk di sampingnya.


"Heh, sembarangan aja main nongol enggak jelas!" seru Arya lalu bangkit berpindah.


"Yang kamu maksud, saya?" tanya Nenek yang baru muncul seraya membawa pisang goreng buatannya.


"Eh, bukan Nenek tapi—"


"Itu lho, Nek, si Gina," sahut Anan.


"Lho, memangnya anak ini bisa lihat itu hantu?" Nenek Darma menunjuk Arya dan Anta.


"Ya, gitu deh," jawab Anan.


"Ya udah kalau gitu Nenek mau mandi dulu, ya, kalian jagain toko!"


Nenek Darma kemudian melangkah masuk.


"Emang tuh hantu belum tenang masih di situ aja, Yanda, eh Om?" tanya Anta.


"Enggak apa Nta kalau kamu mau panggil Yanda, aku juga paham kok gimana rasanya kangen sama sosok ayah. Tuh hantu katanya mau tetep di sini jagain toko. Kan lumayan punya satpam gratis ya," ucap Anan.


"Tapi lama-lama serem juga, Om," ucap Arya.


"Udah biarin aja, emang kamu ada apa tumben kemari sama pacarnya lagi," ucap Anan.


"Dih, siapa juga yang pacaran sama dia, ini anak ngikutin Anta mulu tau Yanda," sahut Anta.


"Heh, bukannya bersyukur dibilang jadi pacar gue, ye enggak Om?"


Arya menoleh pada Anan yang sedang menatapnya dengan sinis.


"Kenapa Om, ada yang aneh?" tanya Arya pada Anan.


"Kalau saya pikir-pikir, rugi juga si Anta kalau dapet pacar kayak kamu, hahaha..." ucap Anan mengejek Arya.


"Huh, enggak bapak enggak anak sama aja suka menghina nanti pada nyesel lho kalau jauh dari aku," ucap Arya bersungut -sungut lalu kembali ke kursi tadi.


"Minggir, Tante, gue mau duduk nih geseran dikit!" seru Arya pada hantu Gina.


Emosi yang mulai meninggi di tubuhnya sukses membuat anak muda itu jadi lebih berani meski berada di dekat hantu menyeramkan.


"Kamu cari saya ada perlu apa?" tanya Anan.


Anta langsung teringat pembicaraannya semalam bersama Tasya agar berakting tampak sedih di hadapan Anan saat menceritakan kondisi Raja.


"Huhuhu... Anta sedih, Yanda, si Raja masuk rumah sakit," ucap gadis itu seraya berpura-pura menangis.


"Hah, Raja sakit?" tanya Anan dengan suara meninggi.


"Iya, Yanda, Raja kena demam berdarah dengue terus kondisi trombosit dia semalam drop, dia lemes banget, huhuhu..." ucap Anta berusaha menangis dan mengeluarkan air mata yang tak kunjung keluar.


"Heh, Anta! elo ngomong apaan?" tunjuk Arya sampai Anan menoleh ke arahnya.


Akhirnya gadis itu mengusap embun es di kemasan teh kotak dan menempelkan pada kedua matanya seolah - olah itu air matanya.


"Anta sedih lah, Raja kan ngigo terus cariin Yanda, soalnya kalau dia tidur waktu kecil sering dibacain dongeng sama Yanda, makanya dia kangen banget tau!" seru Anta seraya mengedipkan kedua matanya ke arah Arya memberi kode.


"Tuh cewek kenapa genit banget ya sama gue?" gumam Arya yang lupa dengan sandiwara yang dipersiapkan Anta dan Tasya.


"Terus sekarang kondisinya masih lemes?" tanya Anan mulai termakan sandiwara Anta.


"Iya, makanya Anta mohon Yanda datang ke rumah sakit terus jagain Raja, dia sampai enggak mau makan lho buat ketemu sama Yanda," ucap Anta dengan wajah memelas mengharap belas kasihan pria di hadapannya itu.


"Di rawat di mana dia?" tanya Anan.


"Ummm... Ya udah bentar aku izin sama nenek dulu."


Anan melangkah masuk ke dalam mencari sang nenek.


"Anta, elo genit banget sama gue pake kedip-kedip segala," ucap Arya menghampiri Anta.


"Eh, dodol banget sih, Anta tuh kasih kode biar kamu enggak ganggu tau, ini kan sandiwara biar Yanda pergi ke rumah sakit terus ketemu sama Bunda," ucap Anta berbisik seraya menambal rambut Arya dengan gemas.


"Ampun sakit! Duh, mainnya kayak emak-emak nih jambak-jambakan!" seru Arya.


"Biar isi otak kamu di kepala ngumpul terus pinteran dikit!" sahut Anta.


Hantu Gina kembali mendekat bahkan kali ini darahnya bercucuran untuk menakut-nakutin. Senyum menyeringai menakutkan selalu ia layangkan di wajah pucat miliknya itu. Anta menuju kotak P3K yang menempel di dinding ruangan toko Anan.


"Elo ngapain, Nta?" tanya Arya.


Anta kembali sambil membawa perban di tangannya.


"Ini si Tante darahnya masih keluar mau Anta perban dulu," ucap gadis itu.


Anta memutari tubuh hantu Gina dengan perban.


"Mau pake obat merah, enggak?" tanya Anta.


Hantu Gina menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, duduk sana yang anteng, kalau nanti ada preman tukang palak atau penjahat yang mau mencuri kamu takutin ya, Tante, demi Yanda Anan dan Nenek Darma," ucap Anta seraya menjabat tangan hantu Gina.


Hantu perempuan itu menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Stress luh, Nta!" seru Arya.


"Yuk, kata Nenek boleh, ayo naik mobil aku aja!" ajak Anan.


Ketiganya lalu pamit pada Nenek Darma. Anta dan Arya duduk di kursi depan bersandingan. Kedua paha mereka menempel dan membuat gadis itu merasa risih.


"Geser apa, Ya!" seru Anta.


"Enggak bisa udah sempit," ucap Arya sengaja lebih merapatkan kakinya pada kaki Anta.


"Ih... bisa kali geseran lagi!" seru Anta menatap tajam pada pemuda itu.


"Enggak bisa! Habisnya elo gede banget, sih, gendutan kayaknya!" ledek Arya seraya tertawa.


Tanpa sepatah dua patah kata, Anta langsung mencubit paha Arya dengan kencang.


"Aaaww...!"


Teriakan Arya sukses membuat yang berada di samping mobil Anan saat lampu merah itu menoleh ke arahnya. Anan tak henti-hentinya tertawa sedari tadi melihat kelakuan kedua orang di sampingnya itu.


"Jangan sembarangan ngatain cewek gendutan, awas ya!" ancam Anta sambil menunjukkan kepalan tangannya.


"Hahaha... emangnya enak!" seru Anan.


Datanglah pria gemulai dengan membawa marakas bernyanyi dangdut di samping mobil Anan.


"Om, eh Tante, biasanya pakai kecrekan kenapa pake marakas?" tanya Arya.


"Biar unik dong, ganteng banget sih kamu," ucap pengamen itu seraya mencolek pipi Arya.


"Hidih, najis gue dipegang elo!" celetuk Arya.


"Heh, elo pikir gue jaing apa? Sini turun!"


Suara pengamen itu berubah lebih berat dan bass.


"Waduh, gawat nih, Om, buruan ngebut!"


Arya menoleh pada Anan yang berharap segera menekan pedal gas untuk melaju.


"Makanya, jangan gangguin banci!" seru Anan.


"Hahaha... lucu banget, mukanya Arya lebih pucat mau diuber-uber banci daripada diuber-uber hantu," ucap Anta menunjuk wajah Arya.


Pemuda itu malah mengamati wajah gadis di sampingnya yang terlihat makin cantik itu jika tertawa.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni