Anta's Diary

Anta's Diary
Buto Hitam



Sosok tak kasat mata itu berwarna hitam dan memiliki sedikit bulu. Wajah Buto Ijo pun sangat menyeramkan. Kedua matanya selalu melotot seakan-akan menantang siapa saja yang berani menatapnya. Ia juga mempunyai taring yang panjang. Selain ciri fisik yang mengerikan tersebut, Buto Ijo juga memiliki ciri lain yaitu baunya yang sangat busuk mirip dengan buangan limbah.


"Hmmm ini sih, Buto Hitam namanya," ucap Anta seraya menutup kedua hidungnya dengan jari.


"Bau banget dia, Nta," gumam Silla mengikuti Anta menutupi hidungnya sementara Pocong Uli memasukkan wajahnya sebagian ke dalam kain kafan lusuh yang ia pakai untuk menutupi hidungnya.


"Permisi ya, Om, Anta kebelet mau pipis sakit perut juga, nih!" Anta melewati celah antara kaki besar makluk hitam itu.


"Eh, kurang ajar nih bocah masa dia lewat di ************ saya!" seru makhluk besar itu.


"Lagian jangan berdiri di situ, Om, ah tau ah udah di ujung nih pup Anta, mau Anta pup depan Om?"


Makluk besar itu lalu membiarkan Anta masuk ke dalam bilik kamar mandi perempuan.


"Udah jangan kaget, nanti juga biasa ketemu manusia macam dia," ucap Silla.


"Kalian kenal?" tanya Mahkluk itu duduk di hadapan Silla dan Pocong Uli.


Tinggi mereka sama dengan makhluk besar itu kala dia duduk.


"Bukan kenal lagi, justru kita kemari karena mengikuti dia," sahut Silla.


"Lho, kalian gentayangan buat mau mengikuti dia, emang dia salah apa sama kalian, apa orang tua dia jahat sama kalian, ya?" tanya makhluk besar itu.


Kuntilanak Silla dan Pocong Uli menggelengkan kepala bersamaan saling menatap satu sama lain lalu menoleh ke arah makluk besar itu.


"Kamu tahu enggak, orang tua dia siapa?" tanya Silla.


Makluk besar itu gantian menggelengkan kepalanya mengisyaratkan jawaban tak tau.


"Dia itu anaknya Ratu dan Raja Kencana Ungu tau," seru Kuntilanak Silla.


"APA? Berarti dia kawannya si Lee genderuwo itu, dong?" tanya Mahkluk besar itu.


"Uli, kamu kenal sama genderuwo yang namanya cakep banget kayak oppa korea itu?" tanya Silla menoleh pada Uli.


"Aku enggak kenal, aku kan baru di apartemen," sahut Uli.


Tak lama kemudian Anta keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega. Si makluk besar itu langsung berlutut dan mencium tanah seperti menyembah Anta.


"Maafin saya, Tuan Putri, maafin saya. Saya enggak tau kalau Tuan Putri anaknya Ratu Kencana Ungu. Perkenalkan nama saya Buto Ijo," ucap makluk besar itu.


Mendengar nama makluk besar itu, Anta langsung tertawa.


"Kok, kamu tahu Bunda aku, terus kok namanya ijo, kamu kan hitam?" tanya Anta.


"Mama saya selingkuh sama orang negro jadi lahir saya," sahutnya.


Sontak saja semua yang ada di sana tertawa mendengar penuturan si Buto.


"Memangnya ada yang aneh, ya? Kok pada ketawa?" tanya si Buto.


"Gak ada yang aneh, cuma ada yang lucu hehehe, kamu tau warna kulit kamu, enggak?" tanya Anta.


"Warna ijo, makanya saya Buto Ijo," sahutnya datar dengan posisi duduk.


"Kamu tau, enggak, Anta pakai baju warna apa?" tanya Anta menunjuk sweater warna merah yang ia pakai.


"Warna ijo," sahut si Buto.


Anta dan yang lainnya kembali tertawa terpingkal-pingkal saat mengetahui bahwa makluk besar ini ternyata buta warna juga.


"Kalau aku pakai warna apa?" tanya Silla.


"Warna putih, semua hantu Kuntilanak pakai daster warna putih," sahut makluk besar itu dengan nada datar.


"Astaga, dia benar- benar dodol banget, ini antara gak tau warna atau emang buta warna," gumam Uli.


"Ya udahlah, Anta mau balik tidur lagi, ya?" Ucap Anta ia lalu pamit tapi makluk besar itu kembali menahan.


"Kamu kenal sama genderuwo yang namanya Lee, kan?" tanya si Buto.


"Iya bener, itu kawan saya waktu awal-awal sekolah hantu," ucap si Buto.


"Oh, gitu, terus kenapa kalau aku kenal sama Om Lee?"


"Kok, dia bisa punya istri manusia yang cantik, ya, apa kamu bisa bantu saya mencari istri macam itu?" tanya Si Buto.


"Buahahahaa... itu mah takdir, Om, bukan karena saya yang jadi mak comblang buat Om Lee dan Tante Shinta," sahut Anta.


"Tapi, saya juga pengin punya istri seperti itu," ucap makluk besar itu dengan raut wajah sedih dan menundukkan kepalanya.


"Nih, ada Silla gak kalah cantik," ucap Anta seraya menyodorkan Silla pada makluk besar itu.


"Eh, jangan dong! Silla itu milik aku," ucap Pocong Uli mempertahankan Silla.


"Aku juga enggak mau sama Kuntilanak, di sini banyak kok hantu macam dia, aku maunya yang manusia, terus cantik badannya bohay," ucap si Buto.


"Heh, siapa juga yang mau sama cowok besan gede kayak kamu, kasihan istrinya nanti kalau ketindihan. Lagian juga waktu aku jadi manusia aku cantik lho foto model," ucap Silla dengan sombongnya.


"Ah, biasa aja, gak cantik banget," sahut Buto.


"Heh, dasar raksasa kurang ajar!" seru Silla bergerak maju tapi terhenti karena melirik ke arah pocong Uli.


"Kenapa, La, kok gak diterusin marahnya malah ngelirik ke aku?" tanya Uli.


"Kamu tahan aku, dong, bilang sabar Silla sabar biar aku gak maju nantang dia," ucap Silla.


"Oh, minta ditahan, bilang dong, kirain emang mau nantangin si besar ini beneran taunya gertak doang," gumam Uli.


"Ih, gak peka nih, maksudnya cewek sok berani gini kan minta ditahan gitu, masa kamu mau biarin aku berantem sama raksasa ini, tanya deh Anta pasti paham."


Hantu Silla menunjuk ke arah Anta, akan tetapi rupanya Anta sudah pergi sedari tadi meninggalkan Silla dan Uli yang masih berdebat dengan si Buto makluk besar itu.


"Lha, si Anta kemana? Tadi aja minta ditungguin sekarang malah kita ditinggalin," keluh Silla.


"Ah, sudahlah saya balik lagi jaga di depan pinta wc dulu ya," ucap makluk besar itu meninggalkan kedua hantu koplak yang masih saja berdebat sengit itu.


***


Saat Anta memasuki tenda kempingnya, terdengar sayup-sayup suara gamelan yang berasal dari kejauhan. Anta mencoba menghampiri arah suara tersebut. Saat dia mengarah ke bukit kecil di bumi perkemahan itu, gadis itu melihat sosok Arya dan Iman yang sedang berdiri mengamati juga.


"Itu apaan, Ya, hantu apa manusia yang main wayang?" tanya Iman dengan suara pelan dan berbisik.


"Manusia kayaknya, mereka lagi latihan, tapi kok malam banget, ya?" gumam Arya.


"Heh, pada ngapain di sini!"


Seseorang menepuk bahu Iman dan Arya, lalu sontak saja keduanya berteriak bahkan mereka mengompol berbarengan saling ketakutannya.


******


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta


Vie Love You All...😘😘😘


Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE buat dapatkan GA pulsa 20K tiap bulannya, semangat...!!!