
Jangan lupa Vote yang banyak buat Anta ya...
*******
Anta mencoba membuka pintu kamar mayat perlahan-lahan.
"Assalamualaikum," ucap Anta perlahan.
"Masuk kamar mayat aja sopan banget, luh!" seru suara pria yang berada di dalam.
"Kok, suaranya kayak kenal, deh," gumam Anta mencoba melongok ke balik pintu untuk mencari asal suara tadi.
"Ciluk... ba...."
"Arya? Arya? Kamu Arya, kan?" tunjuk Anta yang masuk ke kamar mayat dan menghampiri sosok pocong itu.
"Iya, ini gue, sini peluk!" seru Arya.
"Idih, ogah! Nanti bau mayat."
"Anta, yakin enggak mau peluk gue? Yakin enggak kangen?" Arya merentangkan kedua tangannya di hadapan Anta.
"Ummm... Anta kangen sama Arya...!"
Anta menghamburkan tubuhnya memeluk Arya. Tak terasa bulir bening gadis itu menetes sampai sesenggukan.
"Lho, kok nangis?" tanya Arya.
"Arya ke mana aja, Anta sama Ayah kamu kan cari-cari kamu tapi enggak nongol-nongol?" tanya gadis itu seraya memukul dada Arya.
"Ih, gue juga mana tahu, gue juga taunya baru tidur satu jam gitu di rumah baru gue, eh tau-tau gue kepanggil sampai sini," sahut Arya menjelaskan.
"Siapa yang manggil kamu?"
"Mana gue tau cumi albino!" Arya menoyor kepala Anta.
"Sakit tau! Eh, kok baju pocong kamu model terbaru ya, tanpa lengan, emang enggak kedinginan?" tanya Anta mengamati jubah kafan yang menutupi Arya.
"Iya, nih, gue juga heran perasaan waktu gue dikubur rapet kenapa jadi tanpa lengan gini, ya?" ucap Anta.
"Kok, Arya wangi bayi, ya? Wah, apa jangan-jangan sejak Om Herdi bilang nyium wangi parfum bayi itu tandanya kamu udah hadir ke sini?" terka Anta.
"Mana aku tahu, oh iya gimana kabar Ayah gue?" tanya Arya.
"Baik, oh iya ternyata Om Herdi bisa lihat hantu udah lama, cuma dia enggak mau ngaku sama kamu," ucap Anta.
"Apa? Ayah bisa lihat hantu? Terus dia udah nikah belum sama Mak Lampir?"
"Belum."
"Ah, sukurlah..."
"Eh, terus Om Doni mana, ikut kepanggil enggak?" tanya Anta.
"Om Doni masih di situ, belum dibersihin ini aku lagi jagain," ucap Arya.
"Dia enggak bangun dari tadi? Nemu arwah dia juga enggak?"
Arya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Nta, tapi tadi enggak ada anak itu," tunjuk Arya ke sosok anak laki-laki dengan tengkorak kepala terbelah.
Darah masih mengucur dari kepala anak itu membasahi wajah anak itu.
"Hai!" sapa Anta.
"Pe'a, demen banget sih semua hantu disapa," ucap Arya dengan menarik rambut Anta dari belakang.
"Sakit, Arya!" pekik Anta balas menarik ikatan pocong Arya.
Tak lama kemudian satu orang suster pria masuk membawa kasur rumah sakit dengan mayat anak kecil yang tertutup kain putih. Darah masih terlihat di permukaan kain putih itu.
"Heh, kamu ngapain masuk kamar mayat?" tanya suster pria itu.
"Ummm... Anta salah masuk ruangan, Om. Maaf ya..." ucap Anta langsung ke luar seraya menarik lengan Arya.
"Jangan cepet-cepet, Nta! gue keserimpet, nih!" seru Arya.
Tasya sudah berdiri di depan ruang untuk rumah duka. Dia menunggu Anta untuk datang.
"Tante, kenapa ada di sini?" tanya Anta.
"Oh, kalian udah ketemu rupanya. Ayo, masuk! Kamu sudah ditunggu di dalam," ucap Tasya.
"Ditunggu sama siapa?" tanya Anta lagi seraya melangkah ke dalam.
"Bunda, Yanda, Om Doni dan... kok mirip sama Tante Tasya?" tanya Anta seraya memeluk orang tuanya.
"Hai, aku Anita! Ini anak kamu yang gemesin itu, Ta?" tanya Anita.
"Iya, cantik kan kayak Bundanya?" Dita merangkul Anta yang tinggi badannya sudah sejajar dengan dia.
"Cantiknya Anta, tampannya Raja kan banyakan dari aku, Bunda," sahut Anan.
"Ya, banyakan aku lah kamu kan cuma nyumbang doang, aku yang bawa mereka ke mana- mana selama sembilan bulan, hayo?" Dita melirik tajam ke arah Anan.
"Ini kenapa pada ribut, sih?" tanya Anta melerai keduanya.
"Habisnya Bunda nih gemesin banget!" Anan memeluk Dita dari belakang, sesekali ia mendaratkan kecupan di pipi wanitanya itu.
"Kamu enggak bisa ya tetap di sini sama-sama denganku lagi?" tanya Tasya.
Doni menggelengkan kepalanya.
"Mungkin, jodoh kamu bukan aku," sahut Doni.
"Aku enggak ngerti maksud kamu, maksudnya apa, sih?" tanya Tasya lagi.
Doni memeluk Tasya dengan erat.
"Maafin aku, ya, aku udah enggak bisa jagain kamu."
"Kamu masih bisa jagain aku, iya kan Ta, Doni masih bisa jagain aku?" tanya Tasya menoleh ke arah Dita.
"Maaf Tasya, tapi Doni yang ini milik aku sekarang, aku udah lama lho nungguin dia balik," ucap Anita.
"Kamu siapa?" tanya Tasya.
"Aku itu kamu yang terdahulu, makasih ya kamu udah jagain Doni, kamu udah jagain anak-anaknya Dita juga," ucap Anita memeluk Tasya.
"Jadi, sekarang aku enggak bisa bawa Doni kembali?" tanya Tasya, ia masih berusaha untuk menahan Doni.
"Enggak bisa, Sya, udah cari cowok lain aja! Ada Pak Herdi tuh nanti embat aja!" sahut Anan yang langsung disikut oleh Dita.
"Kamu tuh main celetuk aja!" ucap Dita.
"Yang kamu maksud itu saya?" suara sosok berpakaian jas hitam datang dari sinar putih di belakang Dita dan Anan.
"Eh, tofu basi ada di sini juga?" Anan menoleh ke arah pria itu.
"Saya mau menyambut Doni, boleh dong Menyan kalau saya sekali-kali ijin dateng ke sini," sahut Pak Herdi.
"Ayah?"
Arya berseru kala melihat Pak Herdi.
"Bukan, saya bukan Ayah kamu," sahut Pak Herdi.
"Tapi..."
"Begini ya, Ayah kamu itu memang wujud kedua saya, semacam anak kembar, tapi kita enggak kembar cuma mirip. Konon katanya di dunia ini setiap orang punya kembaran meskipun bukan lahir dari ayah dan ibu kandung, konon katanya lho. Tapi, ganteng juga ya kamu," ucap Pak Herdi.
"Iya, tapi ganteng-ganteng pocong, hehehe..." celetuk Anan.
"Astaga, Yanda... ih gemes banget sih dari tadi ceplos-ceplos terus," sahut Dita.
"Udah biasa, Ta, udah paham saya sama sifat si Menyan. Hai, Sya! Apa kabar?" tanya Pak Herdi menoleh ke arah Tasya.
"Ya kabar dia enggak baik, dong, kan habis kehilangan saya, Pak!" sahut Doni.
"Biasa aja dong, Don. Kamu kan udah punya Anita, tuh!" tunjuk Pak Herdi.
"Ya, terus... Bapak mau maju gitu deketin Tasya?" Doni bertolak pinggang.
"Ya..."
"Eh, kamu ngapain masih di situ, katanya cuma bentaran?"
Suara Tania terdengar menegur Pak Herdi yang datang dari belakang Dita.
"Sukurin luh, mau macem-macem, sih!" sahut Anan.
"Eh, bukan begitu sayangku, aku cuma mau jodohin dia sama Herdi yang Ayahnya ini anak," tunjuk Pak Herdi ke arah Arya.
"Oh, gitu... ya udah kalah begitu ayo pulang!" ajak Tania.
"Oke, deh, aku pamit dulu ya, jaga diri baik-baik," ucap Pak Herdi seraya mengusap bahu kiri Tasya perlahan.
"Aku juga pamit, Sya, maaf aku enggak bisa jagain kamu, jadi tolong ya Anta, Arya, jagain Tasya sampai ketemu sama jodoh yang baik, yang lebih baik dari aku," ucap Doni seraya menangis.
Tasya memeluk pria itu sambil menangis juga. Keduanya larut dalam kesedihan.
"Kita semua pamit, ya, Nak. Kamu jagain Raja yang bener, enggak usah terlalu kepo sama para hantu," ucap Dita.
"Bener, enggak usah juga sok pahlawan menolong para hantu ataupun manusia lainnya, itu si Raja masuk tanah kuburan kan ditumbalin sama cewek yang kalian tolong," ucap Anan.
"Hah, maksudnya Yanda...?"
*******
To be continue...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta