
Happy Reading.
******
Eh, kalian pada ngapain berduaan di mall gini?"
Seorang pria menggunakan kemeja warna merah dan celana jeans menyapa Tasya dan Dita.
"Anan?"
Keduanya berseru bersamaan.
"Kamu kenal sama dua cewek ini?" tanya Dina perempuan yang bersama Anan.
"Kenal, memangnya kamu juga kenal?"
Anan balik bertanya.
"Enggak sih, cuma yang ini kayak pernah liat," ucap Dina menunjuk Tasya.
"Ih, main nunjuk aja, kalian ngapain berduaan gini?" tanya Tasya.
"Heh, kita kencan tau, dia pacar gue!"
Dina melingkarkan tangannya di lengan Anan.
"Din, kayaknya kita belum pernah jadian," ucap Anan melepaskan tangan Dina di lengannya.
"Tapi, Nan, Nenek kamu kan sama mama aku menjodohkan kita, jadi kita harus nurut sama orang tua, udah yuk nanti filmnya keburu mulai!"
Dina menarik lengan Anan menuju bioskop yang sama dalam mall tersebut.
"Hah, dijodohkan? Waduh, gawat ini," gumam Tasya.
"Kenapa gawat?" tanya Dita.
"Anan itu harusnya jadi jodoh kamu, Ta."
"Sya, itu kan masa lampau, generasi sebelumnya, sekarang nah beda, jangan memaksakan hati kalau enggak jodoh, udah yuk keburu malam entar," ucap Dita seraya menarik lengan Tasya.
Di area dalam bioskop sebelum pintu theater dibuka, Anan bertemu dengan Herdi dan Heru. Dina juga langsung memperkenalkan diri dengan bangga pada dua pria itu.
"Perkenalkan, aku Dina calon istri Anan," ucap wanita itu.
"Gue belum setuju ya sama perjodohan kita," sahut Anan.
"Anan sayang... kamu itu selalu menuruti perintah nenek kamu, jadi pasti kamu akan tetap menikah denganku."
Dina tersenyum bangga pada Anan, dia berhasil membuat pria di sampingnya itu terdiam.
Di belakang keduanya tampak Tasya yang sedari tadi ingin menjitak kepala Dina dengan gemas. Dita selalu menghalangi seraya tersenyum.
"Pintu teater satu telah dibuka, pengunjung yang sudah memiliki tiket dipersilakan masuk!"
Suara seorang wanita menggema di area bioskop tersebut. Mereka bersama pengunjung yang lain masuk ke dalam. Anan masuk dari kiri dan Dita masuk dari arah kanan. Kursi mereka tepat berada di bagian C tengah area teater satu. Takdir membawa mereka duduk bersebelahan.
"Nan, kamu duduk di samping aku dong, tukeran!" bisik Dina.
"Lha, ini udah duduk di samping elo," ucap Anan.
"Ya, tapi kamu jadi deket perempuan begitu."
"Udah ah, gue udah pewe duduk di sini," sahut Anan seraya mengunyah popcorn yang tadi ia beli.
"Heh, berisik aja nih!" seru Tasya yang duduk di bagian B atas Dita bersama Herdi.
Dita menatap ke arah Pak Herdi sekilas dan keduanya saling tersenyum. Anan menangkap tatapan keduanya.
"Pacar kamu yang mana, itu apa yang di atas?" ledek Anan berbisik pada Dita.
"Bukan urusan kamu! Aku enggak punya pacar," sahut Dita.
"Oooo... dasar perempuan pemberi harapan palsu," bisik Anan.
"Kamu juga, eh kenapa ngomong sama dia gue elo, sama aku ngomongnya aku kamu, jijik banget dengernya," ucap Dita melirik tajam.
"Lha, kamu aja ngomong aku kamu."
"Ini mah emang kebiasaan aku, huh!"
"Udah fokus ke layar, udah mulai tuh!"
Tasya terus saja memperhatikan tingkah Dina yang selalu berusaha menggoda Anan. Sesekali wanita itu menaruh kepalanya di bahu Anan yang selalu juga ditepis.
Tasya melempar popcorn pada Dina, terkadang berusaha menendang belakang kursi wanita itu dengan ujung kakinya.
"Kamu iseng banget, sih!" ucap Herdi dengan nada berbisik.
"Hehehe gemes mau gangguin cewek gatel itu, dia kan selingkuhan ayahnya Ria temen si Anta."
"Ah, kamu salah liat kali, jangan buat gosip, duduk tenang gih!"
"Enggak mau ah seru tau godain dia, pegangin tangan aku nih," pinta Tasya.
"Kamu cemburu ya liat Anan sama pacarnya?"
"Heh, di mana cemburunya? Anan itu jodohnya Dita, harus! Lagian ngapain aku cemburu sama Anan, kalau kamu tuh sama cewek lain aku cemburu," ucap Tasya keceplosan.
"Tadi ngomong apa?"
"Husssss!"
Penonton di sekitar Tasya menatap tajam ke arahnya seraya memperingatkan agar diam. Wanita itu kembali ke tempat duduknya dengan tenang.
"Tadi botol kecil yang aku siapin mana?" tanya Tasya pada Herdi.
"Ada nih, tadi kamu bilang apa?" bisik Herdi.
"Enggak usah dibahas," sahut Tasya lalu memberi kode pada Dita.
Air teh lemon dari tangan Dita dicampur dengan obat yang dapat membuat Heru mabuk. Tanpa disadari pria itu wanita di sampingnya menyerahkan minuman dalam kemasan plastik itu ke Tasya.
Begitu seterusnya kembali lagi ke tangan Dita dari sela kursi Dita dan Anan, Tasya menyerahkan minuman yang dicampur itu kembali.
"Apaan tuh?" tanya Anan.
"Bukan urusan kamu, jangan kepo!" sahut Dita.
Wanita itu lantas menaruh teh lemon di lubang tempat menaruh minuman samping kursinya di samping Heru agar pria itu meminumnya. Benar saja dugaan Dita, pria itu lantas meminum teh lemon itu tanpa curiga sedikit pun.
Setelah film tamat dan selesai para penonton pun bubar. Efek obat itu baru terasa dan membuat Heru meracau.
"Kamu apain dia?" tanya Anan.
"Duh, nanti kita jelasin deh," ucap Dita.
"Kamu bantuin saya gotong dia ke mobil saya!" Herdi menunjuk Anan agar membantunya.
"Lho, kita kan mau makan dulu," ucap Dina.
"Iya nanti kita makan, gue mau nolongin dia dulu," sahut Anan yang akhirnya menuruti perintah Herdi.
Mereka menuju parkiran mobil.
***
Anta sudah ditunggu oleh Arga dan Arya di depan halaman Apartemen Emas.
"Eh, kok kamu sama dia?"
Arya bersungut -sungut seraya menunjuk Dion.
"Tadi ketemu di jalan, jadi sekalian antar Anta pulang," jawab gadis itu.
"Kita enggak cuma ketemu di jalan, gue abis nge-mall sama Anta, terus kenapa?"
Dion seolah meledek Arya dan Arga.
"Eh, sama aku juga kok, halo Arga...!"
Ria muncul dari balik jendela.
"Anta mandi bentar terus ganti baju pada nunggu sini ya," ucap Anta segera berlari menuju ke dalam apartemen.
"Elo ngapain sih deket sama Anta?"
Arya menatap tajam.
"Suka-suka gue, emangnya tuh cewek cuma boleh deket sama kalian?"
"Mending Kakak pulang deh, ribut aja urusannya dan bakalan ribet nantinya," ucap Arga berusaha melerai dan mendorong pelan bahu Dion agar kembali ke dalam mobil.
"Kalian mau ke mana emangnya?" tanya Dion penasaran.
"Enggak ke mana-mana, cuma mau nunggu Anta terus ke restoran dia buat mempersiapkan acara ulang tahun kamu besok, kan?"
Arga mencoba mencari alasan palsu.
"Oh, gitu... ya udah elo urus acara gue supaya dekorasi sesuai sama yang gue mau ya!" pinta Dion.
"Beres!"
Mobil Dion lalu melaju pergi meninggalkan Arga dan Arya.
"Rese banget tuh cowok!" gumam Arya.
"Sama resenya," sahut Arga.
"Sama siapa?"
"Sama elo lah, siapa lagi?"
Arya langsung menerjang Arga dan memiting pemuda di hadapannya itu. Keduanya saling berbalas tawa saat melakukannya.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni