Anta's Diary

Anta's Diary
S2 - Sosok Aji yang Lain



Note : Bijak dalam membaca ya.


*****


"Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Dita.


Anta juga mendekat di samping bundanya karena penasaran. Hantu Mani membawa Dita dan Anta ke dimensi waktu pada malam saat Mani meninggal.


Malam itu, Mani melihat ibu mertuanya, Nyonya Linda, membawa sekop dari dalam rumah. Air mata mengalir di wajah wanita paruh baya itu. Mani mengintip dari balik tirai dalam kamarnya yang terletak di lantai kedua. Jendela kamarnya menghadap ke halaman belakang rumah.


Sosok Aji muncul dari pintu belakang.


“Apa yang sedang Mama lakukan?” tanya Aji sambil menarik tangan kanan sosok wanita yang Mani kenal.


Wanita itu adalah Nyak Ratih, asisten rumah tangga di rumah itu. Dia sudah tak bernyawa di tangan Aji. Entah apa yang mereka lakukan kala itu. Di tengah rintik-rintik hujan, Nyonya Linda kini mengangkat sekop itu tinggi-tinggi, lalu menghujamkannya ke tanah. Mata sekop itu merobek tanah seakan-akan tanah itu adalah daging segar. Wanita berusia lima puluh tahun itu tengah membuat lubang besar di tanah belakang rumah miliknya.


“Maafkan aku, Mas Broto. Aku tak bisa membiarkanmu membunuh Aji,” lirihnya seraya menumpahkan air mata yang tak bisa lagi ia bendung.


Mani tak bisa mendengar apa yang ibu mertuanya katakan, ia hanya melihat wanita itu sedang tersenyum menyeringai seraya menggali. Rasa penasaran Mani membuatnya ingin mendekat, dia keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju pintu belakang untuk mengintip.


Betapa sangat terkejut dia ketika sang ibu mertuanya menarik kedua tangan seorang pria yang dia sangat kenal. Kepala pria itu hampir putus karena luka di bagian leher yang menganga. Tubuh pria itu bersimbah darah. Tanpa pikir panjang lagi, wanita itu meletakkan mayat suaminya di liang lahat tersebut.


“Apa yang Mama lakukan, kenapa harus membunuh Bapak?” tanya Aji di tengah kucuran derasnya air hujan itu. 


“Kau pergi saja, kubur jasad Nyak Ratih. Mama hanya ingin mempertahankanmu," ucap Nyonya Linda.


“Untuk apa Mama membunuh Bapak?” tanya Aji yang tak jua beranjak pergi menunggu penjelasan.


“Iya, aku harus membunuh bapakmu karena dia akan membunuhmu, sama seperti Kakekmu yang mau mencoba membunuhmu lima tahun lalu,” ucap Ibu Nyonya Linda.


Lubang yang ia buat baru saja menutup saat jasad itu sudah terkubur sempurna. Wanita itu lalu merapikan gundukan tanah tersebut. 


“Padahal saat usiamu sepuluh tahun, kakekmu gagal membunuhmu karena bapakmu masih melindungimu, bahkan dia rela membunuh pamanmu kala itu yang disuruh kakekmu untuk membunuhmu.  Tapi, kedekatannya dengan Ustaz Arifin malah membuatnya berubah," ucap Nyonya Linda.


Aji menarik tangan ibunya mendekat.


"Apa ada yang salah denganku, Ma?" tanya Aji.


 


“Bagi Mama, mendapatkanmu itu tak pernah salah, Nak. Mama sangat menerima kelebihanmu yang kerap berubah-ubah ini," ucapnya.


Tiba-tiba, sosok Aji mulai kejang sampai jatuh ke tanah. Setelah itu, dia bangkit dan tersenyum menyeringai menatap wanita di hadapannya penuh *****.


"Jamin, itu kau yang muncul di tubuh Aji, kan?" tanya Nyonya Linda.


"Tentu saja sayangku," ucapnya.


Pria itu lantas memeluk tubuh ibunya sendiri. Dia lantas membopong wanita itu memasuki rumah layaknya pasangan suami istri.


"Bagaimana dengan Nyak Ratih?" tanya Nyonya Linda.


"Biarkan saja di situ, nanti Aji yang akan membereskannya. Sekarang aku ingin menikmatimu dulu," ucap pria dalam tubuh Aji itu.


Betapa terkejutnya Mani kala melihat suaminya sendiri masuk ke dalam kamar dan memulai hubungan terlarang layaknya suami istri. Dengan penuh kekalutan, dia mendobrak pintu kamar ibu mertuanya dan mendapati suami dan ibu mertuanya sudah tanpa busana.


"Dasar kalian biadab!" pekik Mani.


*****


To be continue...