
Happy Reading...
*****
"Enggak ngomong apa-apa, udah kita cari Bunda sama Yanda kamu," ucap Arya mencoba menjauhi Raja.
Anta menghubungi Anan dan Dita untuk memberitahukan kalau Raja sudah ditemukan. Mereka akhirnya memutuskan untuk bertemu di depan Pasar Seru.
Angel dan neneknya pamit pada Raja dan lainnya. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah duluan dari rombongan itu. Meskipun wajah nenek Wati masih menyiratkan kesedihan mengenang kisah cinta pertamanya tadi.
"Ayo, kita temui Yanda sama Bunda!" ajak Anta.
Raja dan Arya mengikutinya .
"Oh iya, ada yang mau aku omongin tapi apa ya, duh apa sih yang tadi aku lupain," gumam Raja.
"Kalau elo mau minta balon helikopter, udah enggak pantes, Ja, udah gede!" ledek Arya sambil merangkul bahu Raja.
"Sembarangan, emang aku bocah kecil yang masih cari balon apa, huh!" seru Raja mendorong pelan tubuh Arya sampai tak sengaja memeluk Anta dari samping.
"Ih, apa-apaan sih Arya!" pekik Anta yang langsung melepaskan diri dari pemuda itu.
"Nih, gara-gara si Raja, bukan gue yang mau, lho," sahut Arya seraya menunjuk Raja.
"Halah, emang sengaja juga sih, kan aku dorongnya pelan," sahut Raja mengelak.
"Eh, jangan coba-coba bohong, tadi elo dorong gue kekencangan tau!" seru Arya tak mau kalah.
"Bohong, kak!" sahut Raja lagi.
Arya kali ini memiting kepala Raja dan membawanya ke dalam jepitan ketiaknya.
"Ampun, ampun! Bau banget ketek Kak Arya!" keluh Raja.
Anta tertawa melihat keduanya. Entah kenapa tawa gadis itu mampu membuat Arya terpana dan menghentikan jepitan di kepala Raja.
"Kalian lucu banget, sih!"
Anta masih saja tertawa sampai memegangi perutnya.
"Elo sadar enggak sih, kalau elo tuh yang sebenarnya lucu," ucap Arya sembari terpana memandangi gadis di hadapannya itu.
"Apaan sih, Ya, enggak jelas!"
Anta langsung membalikkan tubuhnya 180 derajat lalu melangkah menuju ke depan gerbang masuk Pasar Seru.
"Cie... Kak Arya suka tuh sama Kak Anta. Kata Nenek Wati tadi apa ya, itu lho, ummm... cinta pertama, cieee...!"
Raja menunjuk wajah Arya yang tiba-tiba bersemu merah merona.
"Udahlah, kita susul kakak elo!"
Arya melangkah cepat menyusul Anta diikuti oleh Raja. Tenyata setibanya mereka di sana, mereka melihat kerumunan pengunjung yang mengerumuni sesuatu. Arya memberanikan diri bertanya pada salah satu pengunjung yang tadi sudah melihat.
"Ada apaan, Pak?" tanya Arya.
"Ada yang meninggal ketabrak bus," ucapnya.
"Oh, ya udah kalau gitu, makasih, Pak."
Arya langsung menarik lengan Anta dan Raja untuk menjauh.
"Ayo, pergi dari sini! Gue enggak mau ada pasien baru yang ikutin kita lagi!" ajak Arya.
Sementara itu, Anan dan Dita sudah terjebak kerumunan dan melihat kecelakaan tersebut. Sebuah motor besar menabrak pengendara sepeda yang hampir saja menabrak Dita tadi. Pengendara sepeda tersebut terpental beberapa meter dari dan kepalanya terlindas bus yang melintas.
"Jangan lihat, Ta, pura-pura aja enggak lihat, " bisik Anan.
Akan tetapi, ucapan Anan terlambat, Dita dan hantu pengendara sepeda itu tak sengaja saling bertatapan.
"Dia kemari, Nan," ucap Dita langsung bersembunyi di balik punggung Anan. Ia bahkan memeluk pria itu dari belakang.
"Sssttt udah sih jangan berisik, diem aja udah pura-pura gak lihat," bisik Anan.
Pria itu melangkah menjauh sambil memegangi tangan Dita yang masih menyembunyikan kepala di punggung Anan. Mereka berjalan beriringan layaknya peserta yang sedang mengikuti lomba bakiak.
"Aku tahu, kalian bisa lihat saya," ucap hantu itu.
Dita dan Anan sengaja tak menjawab.
"Bunda, Yanda, di sini!" seru Anta sambil lambaikan kedua tangannya.
Tadinya Dita hanya memandangi tubuh si hantu yang kulit tubuhnya hampir 70 persen mengelupas akibat terseret di aspal jalan tadi. Rasa penasaran wanita yang masih bersembunyi di punggung Anan itu lama-kelamaan membawanya naik ke tubuh si hantu. Wajah si hantu ternyata hancur. Tengkorak yang retak dengan kulit mengelupas memperlihatkan daging pipi yang penuh darah masih menetes. Mulutnya menganga tanpa terbungkus kulit lagi.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa...!!!
Dita kemudian jatuh tak sadarkan diri. Anan langsung sigap memegangi tubuh wanita itu.
"Gara-gara itu," ucap Anan menunjuk hantu tadi dengan lirikan matanya.
"Yah, pasien baru lagi aja dah," gumam Arya menepuk dahinya.
"Itu si Om diperban dulu, darahnya kemana-mana, mana kulitnya mau lepas," ucap Raja seraya menunjuk hantu itu.
"Ja, jangan tunjuk-tunjuk, lagian juga dia udah mati gimana bisa perbannya, udah enggak ngerasain sakit juga tau!" sahut Arya.
"Ya, bantu Om angkat Dita!" seru Anan.
"Siap, Om!"
Keduanya lalu membopong tubuh Dita dan membawanya ke klinik dekat dengan pasar.
Anta menoleh pada Raja yang menjadi pusat perhatian karena masih berdiri memandangi hantu pengendara sepeda itu dan mencoba berkomunikasi.
"Ja, kamu dilihatin sama orang-orang tau!" ucap Anta lalu menarik tangan adiknya pergi menjauh.
"Tapi, Kak, kasian Omnya itu minta ditolong," ucap Raja.
"Enggak semua hantu bisa kita tolong, lagian juga Kak Anta capek, Ja!"
"Nanti dia jadi penunggu pasar kayak Kakek tadi, lho," ucap Raja masih bersikeras.
"Biarin aja, nanti kita ke pasar sini lagi buat bantuin dia, sekarang pikirin Bunda dulu," ucap Anta.
Keduanya lantas menyusul Anan memasuki klinik. Sesampainya di sana, terlihat Dita sudah sadar dan menangis ketakutan seraya memeluk Anan.
"Aku enggak kuat kalau kayak gini terus, huhuhu... Mereka makin nakutin," rengek Dita.
Wanita itu masih menangis di dada Anan. Seluruh air mata dan aliran air dari hidungnya membasahi kaus yang Anan pakai saat itu.
"Hmmm... ya mau gimana lagi, Ta, udah kamu puasin aja nangisnya, anggap aja kaus aku tisu enggak apa-apa aku ikhlas," ucap Anan meskipun wajahnya terlihat menahan kesal.
"Bunda luh sama joroknya sama elu, Nta," bisik Arya pada Anta sambil menahan tawa.
Anta mencubit pinggang pemuda itu dengan kesal.
"Bunda Anta lagi sedih malah diketawain," lirih Anta sambil melotot ke arah Arya.
"Sukurin, sereman liat Kak Anta melotot kan daripada liat hantu," bisik Raja yang berdiri di samping Arya.
Pemuda itu mengangguk, mengiyakan pertanyaan Raja.
"Aku antar kamu pulang aja, ya," ucap Anan.
"Tapi, aku lupa mau beli iga sapi," sahut Dita.
"Ya udah aku anterin dulu."
Setelah diizinkan pulang oleh dokter klinik, Anan mengantar Dita mencari daging dan bahan untuk membuat sop iga. Anta dan lainnya memutuskan untuk mengikuti.
"Asik, Bunda mau masak sop iga," ucap Raja saat perjalanan pulang ke panti asuhan."
"Iya, Ja, Rudi juga pasti suka sama sop iga buatan aku, dia lagi sakit sampe pengen makan sop iga buatan aku," jawab Dita.
"Tunggu, siapa tadi yang kamu sebut?" tanya Anan menyelidiki lebih jauh.
"Rudi, memangnya kenapa?"
"Cowok?"
"Iyalah cowok, masa iya ada perempuan namanya Rudi," sahut Dita.
"Nyesel aku nemenin kamu beli bahan sop iga, mana aku mau ikut kamu ke panti lagi. Jadi, si Rudi ada di panti asuhan sekarang?" tanya Anan.
"Iya, dia pasti nungguin aku," jawab Dita tersenyum pada Anan.
Anta yang duduk di belakang Anan dan Dita mendengarnya dengan saksama. Raja dan Arya yang berdiri di dalam busway itu juga menyimak pembicaraan dua orang dewasa itu.
Anan mengerucutkan bibirnya, ia cemberut sepanjang perjalanan dan tak mau berbicara lagi pada Dita.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni