Anta's Diary

Anta's Diary
Jangan Panggil Aku Bunda!



Happy Reading...


*****


"Nta, aku takut kalau kita harus ke kamar mandi angker yang kemarin lagi, nih," ucap Mey mencoba menahan tangan Anta.


"Enggak apa-apa, nggak usah takut," sahut Anta.


"Ah, takut... kemarin ada yang nangis di dalam sana."


"Tenang aja, udah jinak dia sama Anta," ucap gadis itu.


"Aku tunggu di luar aja, ya," pinta Mey.


"Hadeh... ya udah!"


Gadis itu langsung melangkah menuju ke dalam toilet. Lalu kemudian, ia mendengar seorang berteriak.


"Jangan ganggu saya!"


Suara seorang wanita yang ia kenal sebelumnya itu sedang berteriak dari bilik toilet yang berada di sudut. Anta mengetuk pintu bilik toilet itu.


"Halo, siapa di dalam?" tanya Anta.


"Tolong bukain, saya enggak bisa ke luar!" seru wanita itu dari dalam toilet.


"Perasaan kayak suara Bunda," gumam gadis itu.


"Tante Cong sama Tante Min, tolong dong jangan ganggu terus," ucap Anta.


"Ih, cewek yang kemarin lagi, kamu ngapain sih ke sini terus?" tanya hantu muka rata.


Kedua hantu itu baru saja ke luar dari balik toilet tersebut.


"Ye... siapa juga yang mau ke sini, tuh toilet sana dijagain sama kakak senior," jawab Anta.


Gadis itu lalu membuka pintu toilet di hadapannya. Benar saja sosok Dita ke luar dari dalam bilik toilet itu.


"Ah, syukurlah, bisa kebuka juga, tadi itu saya lihat..."


Dita menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan para hantu. Akan tetapi, kedua hantu itu langsung berada di belakangnya.


"Mbak, cariin kita, ya?" tegur hantu pocong itu tiba-tiba membuat Dita langsung berteriak dan tak sadarkan diri.


"Haduh... Bunda pingsan," ucap Anta.


"Ada apa, Nta?"


Mey mengintip dari luar kamar mandi.


"Tolongin Anta nih, Bunda pingsan," ucap Anta.


"Aku enggak kuat gotong, aku minta bantuan dulu ya," ucap Mey.


"Awas ya kalau pada gangguin Bunda Anta lagi, awas aja nanti Anta panggilin ustaz ke sini," ancam Anta.


"Mau ngapain, mau ngaji di sini? Banyak tuh habtu di sini berkeliaran," ucap hantu muka rata menantang.


"Ummm... kalau gitu besok Anta ajak Tante Silla sama Om Uli ke sini buat kasih kalian pelajaran," tegas gadis itu.


"Siapa itu? Bawa aja ke sini kita enggak takut!"


Brak!


Kedua hantu itu langsung masuk ke dalam bilik yang berada di sudut bersamaan.


"Min, sempit nih jangan ikut ke dalam sini, dong!" keluh hantu Pocong itu.


"Gue kan enggak bisa lihat mana gue tau kalau elu masuk ke sini!" sahut si hantu muka rata.


Tak lama kemudian, Mey datang bersama Pak Herdi dan membantu mengangkat tubuh Dita ke ruang unit kesehatan sekolah. Sesampai di sana, seorang dokter pria muda memakai kaca mata langsung memeriksa keadaan wanita itu.


"Dia syok apa gimana ini?" tanya dokter itu.


"Kayaknya iya, tadi pingsan di kamar mandi," sahut Anta.


"Hmmm tolong ambil minyak angin itu terus kamu dekatkan ke hidung dia biar dia hirup terus sadar," ucap dokter itu pada Anta.


"Dokter Amin, saya turut berduka cita ya atas kematian istri dokter," ucap Pak Herdi.


"Makasih, Pak. Saya masih sedih dan menyesal karena enggak bisa pulang waktu itu. Seandainya saya cepet pulang kampung, pasti saya bisa nolong istri saya yang lagi hamil lolos dari longsor waktu itu," ucap Amin dengan kedua mata tampak berkaca-kaca.


"Semua sudah takdir Ilahi, kita cuma bisa mendoakan yang terbaik semoga istri kamu tenang di sana," ucap Pak Herdi.


"Oh iya, baiklah saya segera ke sana," ucap Dokter Amin.


"Kok bisa tuh ibu kepsek kena paku, saya jadi penasaran," ucap Pak Herdi.


"Kalian tunggu ibu guru di sini ya sampai sadar, saya mau ke ruang kepala sekolah dulu," ucap Amin memberi perintah pada Anta dan Mey.


Kedua gadis itu mengangguk bersamaan.


"Saya tinggal ya, Nta, saya penasaran mau lihat Ibu kepsek kena paku," ucap Pak Herdi lalu pamit.


"Emang segitu anehnya, apa hal yang enggak biasa apa ya kalau ada orang kena paku, sampe penasaran banget," gumam Anta.


"Mungkin emang Pak Herdi belum pernah lihat. Eh, Anta itu ujung minyak kayu putih deketin ke depan hidung bukan malah kamu tuang ke bibir Ibu Dita, aduh....!"


Mey menepuk lengan Anta.


"Astagfirullah... maafin Anta ya, Bunda."


Anta segera meraih tisu dari atas meja kerja Dokter Amin. Ia mengusap bibir Dita dan segera membersihkannya. Perlahan-lahan kedua mata wanita itu membuka.


"Duh, saya di mana ini?" tanya Dita seraya memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Bunda ada di ruang UKS, tadi pingsan di kamar mandi, gara-gara si Pocil," jawab Anta.


"Pocil?"


"Iya, pocong centil, tuh hantu berdua emang rada centil tuh," ucap Anta.


"Kamu, kamu bisa lihat mereka juga?" tanya Dita yang mengubah tubuhnya dari berbaring menjadi duduk.


"Kan Anta keturunan Bunda, jadi bisa lihat mereka," tegasnya.


"Apa, keturunan? Keturunan saya maksudnya? Duh, kan saya udah bilang kalau saya itu beda orang sama Bunda kamu, saya juga belum menikah," tegas Dita.


"Ibu, coba minum dulu ini aku bawain sebotol air minum," ucap Mey yang baru saja membeli air dari koperasi sekolah yang terletak di samping ruang musik yang terletak di samping UKS.


"Makasih, ya."


Dita meraih air mineral dalam kemasan botol itu dari tangan Mey.


"Kok, airnya agak pedes ya?" tanya Dita yang berkali-kali mengecap bibirnya.


Mey mencolek bahu Anta yang berada di dekatnya.


"Hehehe... maaf Bunda tadi Anta enggak sengaja numpahin minyak angin sampai bibir," ucap Anta menunjukkan deretan giginya yang rapi saat meringis.


"Fuih, fuih, fuih, pantesan aja pedes. Oh, iya jangan panggil saya Bunda, ya, panggil aja Ibu Dita, nanti semua warga sekolah pikir kamu itu anak saya," pinta Dita.


"Ummm... Tapi...."


"Pokoknya, jangan panggil aku Bunda!" tegas Dita.


"Nta, Ibu Dita bener, beri dia waktu juga jangan langsung buru-buru semuanya harus mengikuti keinginan kamu, harus bertahap, kalau memang dia reinkarnasi Bunda kamu, cepat atau lambat pasti ada ingatan tersendiri yang dia bakal tau."


Mey menepuk bahu Anta.


Tiba-tiba kaki Anta terasa basah, aliran air kotor terlihat membasahi ujung sepatunya dan bercampur tanah becek.


"Ini becek dari mana ya, emang tadi hujan ya sampai sepatu Anta kotor?" tanya gadis itu sambil menoleh ke bawah.


Mey ikut menoleh bersamaan dengan Dita ke arah sepatu Anta.


"Ih, jorok banget, kamu habis becek-becekan di mana?" tanya Mey.


"Enggak dari mana-mana, terus ini kok agak bau busuk, ya?" tanya Anta.


"Aduh, itu di belakang kamu..."


Dita menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya gemetar ketakutan.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni