Anta's Diary

Anta's Diary
Galau



Happy Reading...


*****


Anta terlihat panik dan mendorong bahu Arya untuk menekan tombol bantuan di dinding samping pintu lift itu.


"Biarin aja sih, entar juga ada yang datang nolongin," ucap Arya sengaja mengulur waktu.


"Aneh banget sih kamu, kejebak di lift bukannya ketakutan malah girang!" seru Anta.


"Soalnya sama kamu, ngapain takut, wajarlah aku girang hehehe...."


"Arya!" seru Anta melotot tajam seraya bertolak pinggang.


"Iya iya, aku panggilan petugas dulu," ucap Arya.


Pemuda itu akhirnya menekan tombol bantuan pada lift dan meminta bantuan setelah meraba-raba di kegelapan dalam lift itu. Tak lama kemudian petugas menjawab dan akan segera membetulkan lift tersebut.


Arya merasakan sesuatu menyentuh tangannya.


Kayaknya si Anta nih, jangan-jangan dia ketakutan sama gelap makanya deket-deket ke aku gini.


Arya tersenyum senang karena mengira kalau Anta yang menggenggam tangannya.


Kok, lama-lama tangannya kasar gini, mana bau ****** lagi.


Arya mencoba meraih ponsel di saku dan mengarahkan sinar pada layar ponsel ke arah sosok yang ada di sampingnya.


"Astagfirullah, ngapain Tante Susi pegang-pegang tangan aku?" pekik Arya yang langsung berpindah tempat ke samping Arya.


"Habisnya kapan lagi bisa dipegang tangannya sama Arya hehehe..." sahut hantu itu.


Anta makin tertawa cekikikan melihat adegan Sisi dan Arya barusan.


"Aduh, perut Anta sakit ketawa mulu," ucap Anta.


"Rese elo, Nta! Kirain aku tuh tadi kamu yang ada di samping aku, taunya hantu itu," ucap Arya bersungut-sungut dengan raut wajah kesal.


"Sayang, kamu di sini, kamu ngapain di sini?" tanya Tomo yang tiba -tiba sampai mengejutkan Arya karena muncul di sampingnya.


"Kampret! Om Tomo jangan nakutin gitu, dong!" seru Arya.


"Aku, nakutin? Lha aku emang nakutin, Ya, nih mata aku aja bisa copot sendiri, terus yang liat Aku pada jerit ketakutan," sahut Tomo menunjukkan bola matanya yang sudah jatuh berada di atas telapak tangannya.


"Idih, nyesel gue ngomong gitu, emang ini setan nakutin," ucap Arya berpindah tempat ke belakang punggung Anta.


Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Dua petugas terlihat mengarahkan senter ke dalam lift.


"Kalian enggak apa-apa?" tanya pria penjaga itu.


"Enggak apa-apa, Pak," sahut Anta.


"Ayo keluar dari sini!"


Pria dari pihak maintenance itu mengulurkan tangannya ke arah Anta. Lift tersebut berhenti di antara lantai sembilan dan sepuluh. Jadi, Anta harus meraih tangan si pria penolong itu agar naik. Lalu, setelah Anta naik gantian Arya yang naik ke lantai tersebut.


"Kalian ada di apartemen lantai berapa?" tanya pria penolong itu.


"Saya ada di lantai 20, Pak," sahut Anta.


"Saya sih ada di lantai ini, tapi saya mau antar dia pulang dulu," sahut Arya.


"Lewat tangga aja, ya, biar lift ini berfungsi dengan baik seperti semula."


"Baik, Pak, terima kasih."


Keduanya lantas membuka pintu tangga darurat dan masuk ke dalamnya.


"Kamu ngapain sih antar Anta, kan rumah kamu udah deket?" tanya Anta.


"Aku itu pria sejati, aku bakalan antar pacarnya sampai depan rumah, jangan sampai ada yang bilang 'ganteng doang nganter cewek depan gang hahaha...." sahut Arya.


"Idih, pacar? Ngarep banget!" sahut Anta.


"Nta, aku mau nanya sama kamu," ucap Arya menahan Anta.


"Entar aja lah, Anta capek nih harus berjuang ke lantai dua puluh, engap tau!" sahut Anta.


Arya akhirnya mencoba menahan perkataannya. Tubuhnya terasa letih juga harus naik sepuluh lantai melalui tangga darurat. Ia berusaha menyusul Anta meski napasnya terdengar kembang kempis.


"Apa sih, Ya?" tanya Anta.


"Aku mau tanya hal yang penting," sahut pemuda itu.


"Hal apa sih, Anta udah capek banget nih, Anta mau tidur," sahut gadis itu.


"Kamu suka enggak sama aku?" tanya Arya.


"Hah? Nanya apa sih kok kayak gitu nanyanya, Anta suka lah sama kamu," sahut Anta.


"Yes, makasih ya, Nta."


Arya mencoba memeluk gadis itu tapi ditahan oleh Anta seketika itu juga.


"Arya mau ngapain?"


"Mau peluk kamu, kan kamu bilang kamu suka sama aku," ucap Arya masih mencoba merentangkan kedua tangannya.


"Ye, maksud Anta, maksudnya suka sama kamu ya suka makanya Anta mau temenan sama kamu, sama kayak suka Anta ke Arga, ke Ria, ke Kak Dion," ucap Anta.


"Hmmm... harus ya nyebut nama Dion? Ya udah ayo aku antar pulang sampai depan pintu!"


Arya menarik tangan Anta dan membawa gadis itu ke depan pintu apartemen milik Tasya. Pemuda itu mengetuk pintu sampai Tasya membukanya.


"Ya ampun, Tante khawatir tau udah jam 11 malam gini belum pulang, untung tadi Dita jelasin semua kejadiannya," ucap Tasya.


"Ya, Tante. Maaf ya kemalaman, ini Anta saya antar pulang dengan selamat. Saya permisi dulu, assalamualaikum."


Arya lalu melepas tangan Anta dari genggamannya. Ia lalu meraih tangan Tasya dan mencium punggung tangan wanita itu lalu pamit. Wajahnya tertunduk lesu saat membuka pintu tangga darurat, ia lalu masuk ke dalam dan menuruni anak tangga tersebut.


"Arya kenapa, Nta?" tanya Tasya.


"Enggak tau, mungkin capek kali sampai lemes banget kayak gitu," jawab Anta.


"Oh, bisa jadi sih. Ya udah kamu ganti baju terus tidur sana istirahat!" seru Tasya memberi perintah.


Sementara itu, Arya masih menuruni tangga dengan lesu. Bahkan sosok pocong anak kecil yang baru saja bergentayangan di tangga darurat apartemen itu tak menakuti pemuda itu sama sekali.


"Lu ngapain, Cong, ngikutin gue kayak gitu?" tanya Arya.


"Main yuk, Kak. Aku capek nih lompat sendiri di tangga ini," sahutnya.


"Derita elo jadi pocong, makanya besok-besok minta jadi hantu biasa aja jangan pocong, capek kan lompat-lompatan kayak gitu, dasar pocong cilik yang aneh," sahut Arya.


Ia sudah tiba di lantai sepuluh dan melangkah pulang ke dalam apartemennya.


"Yeee... bilang aja galau gara-gara ditolak Kakak tadi, pakek ngatain aku lagi, awas ya kalau ketemu lagi, aku minta gendong nanti," ucap hantu pocong anak kecil itu.


***


Anan sampai di panti asuhan tempat tinggal Dita. Wanita di sampingnya itu terlihat tidur pulas. Ia terasa menggemaskan kala sedang tidur. Pria itu sampai tak tega membangunkannya. Ia pandangi gadis itu dengan saksama sampai terpesona.


"Cantik ya, Bang?" tanya hantu wanita penunggu sumur yang sedang melintas dan menggoda Anan.


"Iya ya, cantik banget," sahut Anan. Ia lalu tersadar dan mencari asal suara yang bertanya padanya barusan itu.


"Woi, siapa luh?" tanya Anan.


Tak ada jawaban karena hantu itu sudah menghilang. Tetapi, karena teriakan pria itu barusan sangat dekat ke telinga Dita maka wanita itu terbangun dan menatap ke wajah Anan.


"Kamu ngomong sama siapa?" tanya Dita.


"Eh, kamu udah bangun? Udah sampe rumah, Ta. Aku enggak tega mau bangunin kamu soalnya, eh tau-tau ada yang ngajak ngomong aku," ucap Anan.


"Siapa yang ngajak ngomong kamu, enggak ada siapa-siapa di sini?" tanya Dita.


"Emang enggak ada, kayaknya sih han— tu."


Dita ternyata langsung turun dari mobil dan melangkah masuk menuju panti asuhan. Wanita itu yakin kalau pembuatan selanjutnya pasti mengenai hantu dan ia tak mau mendengarnya.


"Lha si Dita main masuk aja enggak pamit gitu, paling enggak salim tangan gue, apa enggak cium pipi gitu, ah gue kawinin juga nih lama-lama," gumam Anan lalu menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi.


*****


To be continue…


Follow IG : @vie_junaeni