Anta's Diary

Anta's Diary
Di Tanah Kuburan



Jangan lupa Vote yang banyak buat Anta ya...


*******


Raja terbangun di sebuah kamar yang gelap, dia mencoba bangkit dan meraih ponsel di tas kecilnya yang ia bawa bersama uang receh saat hendak pergi menolong Delima tadi.


"Duh, enggak ada sinyal," gumam Raja.


Anak itu lalu menyalakan senter dari ponselnya untuk memberi cahaya di ruangan tersebut.


"Boooooooo!"


Ponsel anak itu terpelanting ke lantai saat ia terkejut melihat wajah menyeramkan penuh darah menyapanya.


"Jangan ngagetin, dong!" seru Raja seraya mencari ponselnya yang jatuh ke lantai.


Sesosok jari tangan tersentuh oleh Raja saat tangan itu menyerahkan ponsel Raja yang mati.


"Makasih, ya," ucap Raja.


Anak itu duduk di lantai seraya menunggu ponselnya menyala kembali. Setelah menunggu lima menit ponsel Raja kembali menyala dan membuatnya melihat ke arah sesuatu lagi. Sosok tangan tanpa tubuh itu mengetuk-ngetuk jarinya di lantai. Lalu, tangan itu melambai pada Raja seraya melayang.


"Hai," ucap Raja.


Sosok yang hanya jari tangan kanan itu melambai lalu menunjuk ke samping Raja. Anak itu menoleh dan memperjelas samping tubuhnya dengan senter di ponsel yang sudah menyala.


"Kyaa...! Si Mbak, ngagetin aja!" sahut Raja.


Hantu perempuan dengan wajah penuh darah itu lalu duduk di samping Raja.


"Kamu enggak takut sama aku?" tanyanya.


Hantu perempuan itu terlihat memakai gaun putih yang sudah lusuh dengan rambut pendek ala Marlyn Monroe. Hantu perempuan itu seperti Noni Belanda yang cantik pada zamannya.


"Aku takut, sih, tapi udah biasa," sahut Raja.


Sosok pergelangan tangan tadi melayang lalu mencolek lutut Raja, ia ingin berkenalan. Anak itu menyambut dengan menjabat sosok itu.


"Namanya siapa?" tanya Raja.


Hantu pergelangan tangan itu menuliskan namanya di lantai yang berdebu di hadapan Raja.


"Naga"


"Wah, namanya keren, Naga. Tapi kok, cuma tinggal tangan kanan aja, sih?" tanya Raja.


"Badannya udah hangus terbakar, sisa itu doang!" sahut hantu tadi.


"Kakak, namanya siapa?" tanya Raja.


"Aku, Isabella."


"Pasti cantik deh pas jadi manusia," ucap Raja.


"Ya begitulah, saya memang cantik," aku Isabella.


"Kok, aku bisa sampai sini, ya? Terus tadi kan tangan aku luka sekarang udah berhenti, kok bisa ya?" tanya Raja.


"Tangan kamu sudah diobati, hanya saja sepertinya kamu harus tinggal di sini karena seseorang menumbalkan kamu," ucap Isabella.


"Tumbal, tumbal itu apa, sih?" tanya Raja.


"Hadeh... itu lho orang yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu seperti kekayaan atau kesuksesan, ya pokoknya gitu lah," sahut wanita itu.


"Terus yang mau tumbalin aku siapa?" tanya Raja.


"Mana aku tahu, kamu aja masuk ke rumahku ini," sahut Isabella.


Hantu pergelangan tangan itu mengangkat telunjuknya.


"Tuh, si Naga tau," sahut Isabella.


Naga menulis sesuatu di lantai itu. Ia menggambar manusia lidi berambut panjang.


"Perempuan bukan? Perempuan kurus?" tanya Isabella.


Tangan itu menunjukkan ibu jarinya mengiyakan.


"Kayak main tebak gambar ya?" ucap Raja.


Mereka kembali menyimak lukisan lantai tangan itu kini bertambah menjadi tiga manusia lidi.


"Ada tiga?" tanya Raja.


Naga hanya melingkari satu gambar saja.


"Oh, paham aku, tadinya bertiga terus yang menumbalkan Raja cuma satu orang gitu?" tanya Isabella.


Hantu tangan itu kembali menunjukkan ibu jarinya.


"Yeay, bener tuh, Kakak hebat!" sahut Raja seraya menepuk bahu Isabella.


Sesuatu yang tak terduga terjadi, lengan kanan hantu wanita itu terjatuh ke lantai.


"Eh, tangannya copot," celetuk Raja.


"Kamu tuh jangan kenceng-kenceng, aku kan udah tua umurnya seratus tahun lebih makanya rapuh," sahut Isabella ia meraih lengannya yang tadi jatuh lalu menyambungnya lagi sampai terdengar bunyi gemerutuk tulang di telinga Raja.


"Idih, serem bunyinya," ucap Raja.


Lalu, sesuatu terdengar mengetuk langit-langit di atas Raja.


"Kak Anta, iya itu Kakak aku namanya Anta," ucap Raja.


Ia bangkit lalu berteriak-teriak memanggil Anta.


***


Sementara itu Anta kembali bersama Pak Herdi menyusuri makam. Anta menyapa salah satu penunggu makam yang tubuhnya besar berwarna hitam. Semua tubuh makhluk itu ditumbuhi rambut berwarna pirang.


"Wuidih, Tante Genderuwo habis ke salon ya, sampai cat rambut gini?" tanya Anta.


"Ih... biasa aja dong ngeliatinnya. Kenapa sih, aku cantik banget, ya?" tanyanya seraya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.


Hantu perempuan besar itu bangkit lalu meregangkan tubuhnya. Ia menatap Pak Herdi dengan tatapan genit.


"Cakep juga nih cowok, sini godain, Tante!" ucapnya.


Pak Herdi langsung bersembunyi di belakang tubuh Anta.


"Tuh kan, Om bisa lihat hantu," tunjuk gadis itu ke arah Pak Herdi.


"Udah deh, Nta, saya tuh enggak mau bahas tadinya, semenjak Mamanya Arya enggak ada saya jadi bisa lihat hantu gara-gara mau melihat arwah mamanya Arya kembali, tetapi saya gagal, semua hantu di sekitar rumah saya malah deketin saya."


"Terus kenapa pura-pura?" tanya Anta.


"Saya enggak mau Arya tau, dan saya juga enggak mau dibilang berbeda bahkan dibilang gila," sahut Pak Herdi.


"HAH? Berarti Om ngatain Anta sama Raja, sama Tante Tasya sama Doni juga gila, dong?" Anta melirik tajam pada pria itu.


"Banyak banget yang bisa lihat rupanya."


"Arga juga bisa lihat, bahkan sebelum Arya pergi juga dia bisa lihat, emangnya enggak pernah ngobrol, ya?" keluh Anta makin menelisik.


"Arya bisa lihat? Kenapa dia enggak bilang, pasti dia ketakutan," ucap Pak Herdi.


"Iyalah takut dia, tapi kan Om sibuk kerja sama Tante Hyena mungkin sibuk pacaran," sahut Anta mulai berani.


"Enggak, Nta, sebenarnya saya malah mencoba menghindari Hyena, papi enggak bisa-bisa, gara-gara dia saya malah kehilangan waktu sama Arya," ucap Pak Herdi.


"Pada ngomongin apa, sih? Pada bisa lihat apa memangnya?" tanya hantu perempuan besar itu.


"Kalau enggak berkepentingan jangan kepo!" sahut Anta.


"Wah, sombong banget nih bocah, anaknya siapa, sih?" tanya hantu itu lagi.


"Kenalin, namaku Ananta, panggil aja Anta, aku anaknya Bunda Dita sama Yanda Anan, Ratu Kencana Ungu," sahut Anta seraya mencoba menyombongkan diri dengan mengulurkan tangannya.


"Siapa tuh, enggak kenal!" sahutnya.


"Lho, enggak kenal ya? Bunda sama Yanda apa mainnya kurang jauh ya belum sampai sini, masa dia enggak kenal, sih?" gumam Anta.


Tak lama kemudian dari kejauhan muncul Lee, si genderuwo yang dikenal Anta.


"Wah, apa itu?" pekik Pak Herdi ketakutan, tetapi ia mencoba untuk tetap tenang.


"Sayang, kamu dari mana aja aku tungguin dari tadi," ucap hantu perempuan besar itu.


"Hai, Miwo! Makasih ya udah nungguin aku," ucap sosok Om Item alias Lee.


"Heh, Om Item, ngapain ke sini? Hayo, mau selingkuh, ya?" tegur Anta.


"Lho, Anta? Kok, ada di sini?" tanyanya keheranan sekaligus mulai gelisah.


"Anta cari Raja sampai sini, tapi ketemu Tante besar ini terus taunya ketemu Om Item, hayo selingkuh, ya? Wah, Anta bilangin nih sama Tante Shinta dan Lee," ancam Anta.


"Jangan Anta, ampuni saya, saya khilaf," ucapnya memohon ampun seraya berlutut di hadapan Anta.


"Eh, ini apa-apaan, sih, kamu kenal sama anak ini? Kok, kamu ketakutan gitu sama dia?" tanya Miwo menepuk bahu Om Item.


"Ini ada apa sih, Nta, kok saya makin bingung?" tanya Pak Herdi seraya berbisik.


"Nanti Anta jelasin, duduk dulu situ, Anta mau memanfaatkan Om Item buat cari Raja hihihi..." bisik Anta.


Pria itu menurut lalu mundur beberapa langkah sampai menginjak sesuatu.


"Aduh, Pak liat-liat dong kalau jalan!" seru sosok kepala yang baru muncul dari permukaan tanah kuburan hendak ke luar. Tangan hantu itu terinjak oleh Pak Herdi.


"Maaf, Mas, lagian tanda kuburannya udah enggak kelihatan," sahut Pak Herdi.


Bulu kuduknya makin meremang dan bergidik ngeri. Kalau bukan karena Anta dan Raja, mungkin dari tadi ia sudah kabur dari tempat itu.


*******


To be continue...


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta