
Jangan lupa bayar cerita ini pakai vote, kumpulin poin kalian ya buat vote, terima kasih...
******
Anta hendak mengambil buku cerita yang tertinggal di rumah Mama Dewi, akan tetapi saat ia ke luar apartemen, ia mendengar suara tangisan tak jauh dari sana. Gadis itu mencoba memasang kedua telinganya agar lebih peka sampai ia yakin kalau suara itu berasal dari balik pintu tangga darurat.
Anta membuka pintu itu perlahan-lahan. Betapa terkejutnya gadis itu kala melihat sosok yang ia kenal sedang meringkuk dan menangis.
"Arya, kamu kenapa?" tanya Anta.
Arya yang mendengar suara Anta langsung menyeka air mata yang bergulir di pipinya. Ia tak menyangka meskipun sudah menjadi pocong tapi hatinya masih rapuh dan bisa juga menangis.
"Enggak apa-apa," sahut Arya.
"Kamu enggak bisa bohong dari Anta, setelah Anta pelajari, kalau kamu bohong itu, telinganya pasti merah," tunjuk Arya pada kedua telinga Arya.
"Apaan, sih, basi elo!"
"Ya, cerita deh sama Anta, daripada dipendam jadi kotoran nanti bau, lho," ucap Anta.
"Ah, enggak lucu!" sahut Arya menahan senyumnya.
"Tapi, itu senyum-senyum ketawa gitu, hayo lucu kan, biarpun maksa hehehe..." ucap Anta.
"Oke, gue mau cerita, dengerin."
Arya menceritakan apa yang terjadi padanya. Dia juga menceritakan segala kejahatan Hyena yang dilakukan padanya dan ayahnya. Sosok itu juga menceritakan sesuatu yang ia dengar mengenai Iblis Ro dan para tumbal batu serta anak kecil.
"Suku Ro? Jadi, Hyena si Nenek Lampir pakai kalung iblis Ro? Wah, gawat ini!" ucap Anta.
Ia ingat dengan pertarungan Yanda dan Bunda serta Pak Herdi dulu melawan suku Ro dan kaum pengikutnya. Jembatan yang dibuat dulu terkutuk itu sangat mengerikan untuk diingat menurut Anta.
"Lalu, jantung gue gimana, Nta?" tanya Arya.
"Kan, kamu udah mati jadi enggak butuh jantung," sahut Anta.
"Dih, elu mah gitu, gue juga pengen jantung gue balik ke tubuh gue dikubur bareng jangan begitu lah enggak ada organ dalamnya," sahut Arya.
"Ya, cuma si Hyena itu yang tau di mana jantung kamu, coba aja cari tau intai dia," ucap Anta.
"Tapi, gue kan enggak bisa masuk ke rumah Ayah lagi, terus di Hyena juga bisa melihat gue dan hantu lainnya dengan kalung di leher dia itu," sahut Arya.
"Lho, hebat juga tuh Nenek Lampir," sahut Anta.
Gadis itu menatap Arya yang menunduk murung. Anak muda itu masih terlihat berkaca-kaca menahan tangisnya.
"Sini, nangis di pundak Anta!"
Gadis itu menyodorkan bahu kanannya seraya menepuk bagian bahu tersebut. Arya menoleh ke arah bahu itu, lalu menarik lengan Anta.
"Kenapa, sih, gue harus mati semuda ini, gue belum bahagiain Ayah, gue belum punya pacar, gue belum nikah dan punya keluarga, kenapa sih gue harus jadi pocong," ucap Arya seraya menangis di bahu Anta.
"Cup, cup, cup, lepasin aja, Ya, jangan malu nangis, enggak ada siapa-siapa, kok," ucap gadis itu seraya menepuk kepala Arya dengan tangan kanannya.
"Dek, ngapain di sini sendirian, nanti kesambet, lho?"
Seorang petugas kebersihan sedang membersihkan area tangga darurat tersebut.
"Eh, iya, Pak, ini lagi merenung aja," sahut Anta.
"Jangan, lama-lama nanti ketemu pocong baru tau rasa, lho," ucap pria petugas kebersihan itu lalu naik ke tangga berikutnya.
"Dia enggak tau kali ya kalau Anta lagi sama pocong, hehehe..." Anta menoleh pada Arya yang tersenyum.
"Nah, gitu dong senyum, kan jadi gemes sama pipi kempotnya ini," ucap Anta menusuk lesung pipi milik Arya dengan ujung jari telunjuknya.
"Ya udah sana, balik rumah terus bobo, makasih ya udah nemenin gue dan dengerin gue curhat," ucap Arya.
"Sama-sama," sahut gadis itu seraya bangkit berdiri, tapi kemudian saat Anta hendak ke luar dari tangga darurat tersebut dan naik satu tangga, ia malah terpeleset.
Bruk!
"Duh, Arya, bukannya nolongin Anta supaya enggak jatuh kayak adegan drama sinetron gitu pegangin punggung Anta buat nahan biar enggak jatuh, eh malah biarin Anta jatuh, kan pantat Anta sakit, nih," keluh Anta.
"Oh, elu mau jatuh, mana gue tau, hehehe..." sahut Arya sambil menertawakan Anta.
"Arya enggak peka nih jadi cowok," sahutnya dengan kesal lalu pergi dari ruangan tersebut menuju rumahnya.
"Ya, maaf," ucap Arya dengan suara pelan.
"Tuh, kan jadi lupa, tadi awalnya mau ke rumah Mama Dewi," gumam Anta yang kembali berbalik menuju apartemen di seberangnya itu.
***
Keesokan harinya, Anta dan Mey bergegas masuk gerbang karena hari itu mereka telat ke sekolah. Kedua gadis itu buru-buru berlari bergandengan saat penjaga sekolah hendak menutup gerbang tersebut.
"Duh, tapi sepatu Anta copot, nih," ucap Anta yang tak sadar membetulkan tali sepatunya padahal pintu gerbang hampir ditutup.
Anta melepas genggaman tangan Mey yang berlari lebih cepat. Gadis itu berhasil masuk ke dalam sementara Anta tertinggal di luar.
"Iya, Pak, jangan kunci," ucap Anta juga menimpali setelah selesai dengan tali sepatunya ia memohon di depan gerbang.
"Maaf, kalau saya biarin kamu masuk nanti saya kena omel dan jadi kebiasaan karena kalian sudah bersikap tidak disiplin," tegas penjaga sekolah itu berucap.
"Ya udah, Mey, kamu masuk aja sana, Anta enggak masuk enggak apa-apa," ucap Anta.
"Tapi, Nta..."
Anta melambaikan tangannya pada Mey, lalu melangkah menjauhi gerbang.
"Psst, psst,,, woi, anak baru!"
Anta mendengar suara seseorang seperti sedang memanggilnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak menemukan siapapun. Sampai akhirnya seseorang menariknya masuk ke dalam sebuah gang di samping sekolah.
"Waaa—"
Anta yang hampir berteriak langsung dibekap mulutnya oleh seseorang yang rupanya ia kenal. Kedua mata lentiknya itu menatap pria muda yang juga sedang menangkapnya.
"Jangan berisik!" bisik Dion.
"Kak Dion?"
"Iya, gue Dion, lu pikir gue hantu, apa?" bisiknya.
"Kakak ngapain di sini?" tanya Anta.
"Elo telat, kan?"
Anta menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Nah, gue mau bawa elo lewat jalan rahasia supaya bisa masuk ke sekolah," sahut Dion.
"Jalan rahasia?"
"Iya, kita lewat sini!"
Tanpa sadar Dion menggandeng tangan Anta saat menyusuri gang sempit tersebut. Tapi, gadis itu malah fokus dengan penampakan ibunda Dion yang terus ada di punggung anaknya itu.
"Nah, sampai," ucap Dion.
Ia baru sadar kalau dari tadi menggenggam tangan Anta.
"Modus banget elo, ya, biar digandeng sama gue?" Dion menoyor dahi Anta.
"Heh, enak aja! Kan, tadi Kakak yang gandeng Anta," sahut Anta ketus.
"Udah diem, Bu Kantin, Bu..."
Anta mengetuk sebuah pintu di depannya.
"Hmmm... kebiasaan pasti telat, deh?" tanya seorang wanita paruh baya yang mengenakan daster dan apron itu.
"Iya, Bu," sahut Dion.
"Tumben sama cewek, baru ini lho Ibu lihat Dion bawa cewek lewat sini," ucap Ibu Kantin.
"Jangan berpikiran macam-macam, ya, Bu, kita cuma kebetulan ketemu tadi, udah ya saya mau numpang lewat rumahnya," ucap Dion.
Anta tersenyum dan menundukkan kepalanya pada Ibu Kantin lalu melangkah mengikuti Dion.
"Maaf, nih, Anta enggak buka sepatu," ucap Anta.
"Enggak apa-apa, udah sana entar keburu gurunya pada dateng, lho," ucap Ibu Kantin dengan senyum hangatnya mempersilahkan.
Anta dan Dion ke luar dari rumah Ibu Kantin menuju ke taman belakang sekolah. Para hantu kuntilanak sudah tertawa menyeringai menyambut Anta seraya menyisir rambut mereka yang berantakan.
"Heh, elo ngeliatin apa?" hardik Dion.
"Enggak, cuma kagum aja ini pohon besar banget," jawab Anta berbohong.
"Udah sana masuk kelas! Awas jangan bilang siapa-siapa soal pintu rahasia tadi!" ancam Dion.
Anta hanya menjawab dengan menganggukkan kepala lalu berlari menuju kelasnya.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN” biar
nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni
Dan mampir juga ke novelku lainnya.