
Happy Reading...
******
"Halo, selamat datang di sekolah ini, semoga kalian betah di sini," sapanya.
Mey terlihat risih dengan sentuhan pria itu yang seolah-olah menunjukkan kasih sayangnya pada para murid. Akan tetapi, Anta memandang sinis ke arah pria itu. Arga dan Arya paham dengan tatapan kesal gadis tersebut.
Arya langsung bangkit dan menyapa guru pria itu.
"Halo, Pak! Apa kabar? Senang bertemu Anda," ucap Arya langsung meraih tangan pria itu.
"Halo, nama saya Pak Heru, kamu pasti anaknya Herdi, kan?" tanya pria itu.
"Iya, Pak."
"Pantes mirip banget, sama-sama ganteng, tapi gantengan saya. Maklumlah saya guru paling ganteng di sini," ucapnya dengan congkak.
Anta dan Mey langsung terbatuk-batuk bersamaan.
"Tuh, sampai pada keselek akibat melihat kegantengan saya, ya kan?" tanya Pak Heru.
"Duh, Anta mual," gumamnya berbisik sampai membuat Arga tertawa.
"Oke kalau begitu, bapak mau menyapa murid yang lain dulu, ya, sampai jumpa di kelas matematika," ucap Heru lalu pergi meninggalkan meja mereka.
"Mey, pokoknya kamu harus hati-hati sama bapak itu, jangan sampai kena ilmu peletnya," ucap Anta.
"Oke, aku juga risih banget tadi pas diusap sama dia," sahut Mey.
"Sini gue bersihin, nanti elo kena najis habis dipegang tuh guru," sahut Arya spontan seraya mengusap rambut Mey.
Gadis itu menatap Arya dengan takjub. Ia tak menyangka akan mendapat perlakuan itu dari pria yang selama ini ia sukai. Arga dan Anta saling bertatapan dan melempar senyum menertawakan perlakuan dua sahabatnya itu.
"Ehm... ehm... bisa-bisanya elo bikin baper anak orang, Ya," ucap Arga.
"Eh, emang ada yang salah ya sama gue?" tanya Arya tak mengerti.
Arga dan Anta langsung tertawa.
Yang salah itu perasaan aku buat kamu, Ya, seandainya aja kamu tau perasaanku, seandainya aja buka Anta yang selalu kamu lihat...
Mey masih menatap Arya dengan tatapan terpesona.
***
Anta dan Mey bertemu dengan Ria, mereka berada di satu kelas yang sama. Gadis baru itu sangat senang begitu tau mereka satu kelas. Itu artinya ia dapat mencari tau tentang Arga lebih jauh.
Bel pulang sekolah berbunyi, Mey mengajak Anta menuju kamar mandi khusus putri di sekolah. Keduanya melangkah menuju toilet perempuan, akan tetapi gadis itu teringat sesuatu. Saat hendak masuk ia teringat akan ada dua orang siswi kelas XII yang menghadang mereka dan melarang masuk.
“Anak baru, ya, anak kelas sepuluh,kan?” tanya siswi bertubuh tinggi semampai dan berambut lurus bak iklan shampo itu.
“Iya anak baru, pasti kakak anak lama, soalnya keliatan wajahnya rada tua gimana gitu," jawab Anta.
“Heh, berani-beraninya elo ya jawab kayak gitu ke gue," hardik gadis itu.
“Oh, kalau begitu, permisi kak mau numpang lewat," ucap Anta.
Mey sudah melingkarkan tangannya di lengan Anta dan mencengkeram sedari tadi.
“Na, antar mereka ke toilet yang itu!" tunjuk Fani menunjuk toilet angker di sekolah.
"Serius, Fan?"
“Biarin, biar tau rasa!"
Anta dan Mey menuruti permintaan dua gadis itu dan masuk ke dalam toilet angker itu.
"Untung Anta bawa tisu, soalnya Anta inget di toilet ini kotor banget," gumamnya.
Tiba-tiba, terdengar sayup-sayup suara gadis yang menangis.
"Hmmmm, hantu Tante muka rata, nih," ucap Anta, ia lalu berjongkok di depan kloter.
Kemudian terlihat kepala manusia dengan rambut hitam berantakan keluar dari dalam kloset. Sedikit demi sedikit memperlihatkan wajahnya. Wajahnya yang rata, tanpa mata, hidung, mulut dan segalanya makin menambah keseraman saat melihat
kepala hantu itu keluar dari lubang kloset.
"Loh, mana murid tadi?" gumam hantu itu.
"Ciluk... Ba...!"
Anta mengejutkan hantu dalam toilet itu.
Byur!
Hantu itu masuk kembali ke dalam toilet begitu saja karena terkejut oleh Anta.
Tiba-tiba datanglah sosok pocong di samping Anta. Sosok itu terlihat memiliki wajah hitam berbalut kain kafan. Sosok pocong itu bermata merah dan tersenyum menyeringai pada gadis itu.
“Nah, yang satu ini nongol, apa kabar Mbak Pocong?" sapa Anta.
Pocong itu buka suara memanggil kawannya si perempuan muka rata tadi. Mereka memperhatikan Anta dengan saksama.
"Hooh, say, masa dia ngagetin gue. Bukannya gue yang nakutin malah dia nakutin gue," keluh si hantu muka rata.
“Kamu enggak takut sama kami?”
tanya si hantu Pocong.
“Enggak, udah biasa liat yang kayak
kalian, lagian kita pernah kenalan,” sahut Anta.
“Pernah kenalan?” tanyanya lagi.
“Iya, coba minggir Anta mau ke luar dulu, oh iya
sebagai penunggu toilet yang baik harusnya kalian bersih-bersih tempat ini biar nyaman dan
wangi,” ucap Anta.
“Min, harga diri gue jatoh banget sama nih anak masa kita enggak ditakutin, mana disuruh bersihin wc lagi,” ucap si muka rata pada pocong hitam itu.
“Iya, mending kita gangguin yang di
sebelah, yuk!”
Anta langsung merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi para hantu itu.
"Itu temen Anta, kalian enggak boleh ganggu dia! Eh, kok Mey diam aja, ya?"
Anta segera mengetuk pintu bilik tersebut.
"Pingsan dia kan tadi pas gue nangis dia ketakutan," ucap si pocong.
"Astaga, pokoknya Anta enggak mau tau ya, kalian harus buka pintu ini, atau Anta bakal panggil pak ustaz buat bersihin tempat ini termasuk kalian," ancam Anta.
"Gimana nih, Min?"
"Kalau dia enggak takut sama kita berati ada kemungkinan ancamannya beneran kejadian, udah yuk bantuin aja," ajaknya.
Pintu kamar mandi itu terbuka. Terlihat Mey sudah tergeletak di lantai.
"Aduh, mana tuh lantai kotor gitu, Mey bangun dong!"
Anta menepuk pipi gadis itu sampai tersadar dari pingsannya.
Sementara itu, Tasya yang sudah hadir di parkiran menjemput Anta bertanya pada Arya dan Arga mengenai keberadaan keponakannya itu yang tak kunjung ke luar gerbang sekolah. Kedua pria itu langsung sigap mencari gadis itu kembali ke dalam sekolah.
"Tante, Raja mau es krim di seberang sana, ya?" pinta Raja yang sedari tadi menunggu di dalam mobil sambil bermain game.
"Ya udah sana hati-hati jalannya, liat kanan kiri, kalau bisa pas nyebrang minta bantuan orang lain biar aman," ucap Tasya.
"Iya."
Raja turun dari mobil dan hendak melangkah ke seberang. Namun, langkahnya terhenti. Tasya menarik lengannya tiba-tiba.
"Tante aja yang tuntun kamu nyebrang, ayo cepet!"
"Aduh, aku udah gede Tante, masa dituntun kalau temenku lihat nanti aku dikatain masih bocah kecil," protes Raja.
"Emang kamu bocah sd masih kecil!" sahut Tasya yang tak mau melepas genggaman tangannya dari Raja.
Saat sedang membeli es krim di sebuah gerobak kecil. Bahu Tasya tertabrak seseorang.
"Aduh, maafin aku ya, aku enggak sengaja," ucap wanita itu seraya tersenyum pada Tasya.
Wanita itu mengenakan kemeja putih bergaris warna biru. Rok hitam selutut dan sepatu hak tinggi warna hitam terlihat cantik dan anggun ia kenakan. Rambut hitamnya dikuncir satu makin membuat wanita itu tampak manis dipandang. Tasya masih melongo menatap wanita itu.
"Tante, aku mau dua es krim cokelat yang gede, ya, yang i— ni."
Ucapan Raja terhenti kala melihat wanita di hadapan Tasya itu.
"Bunda...."
Raja menyerahkan dua es krim itu ke tangan Tasya yang masih melongok, lalu memeluk wanita itu dengan erat.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni