Anta's Diary

Anta's Diary
Di Kamar Mandi Angker



Jangan lupa kumpulin poin kalian untuk vote, harus bayar cerita ini pakai vote ya, terima kasih banyak semuanya...


******


"Anta mana, Mey?" tanya Tasya saat melihat Mey ke luar sendirian.


"Tadi ada di—, kok enggak ada, ya?" Mey menoleh ke belakang, ke kanan dan kirinya.


"Terus ke mana?"


"Aku enggak tau, Tante, coba aku telpon nomor hapenya," ucap Mey.


Sayangnya, ponsel gadis itu kehabisan batere, jadi Mey tak bisa menghubunginya.


"Hapenya mati, Tante," ucap Mey.


"Terus ke mana, dong?"


"Coba tanya penjaga sekolah dulu, ya."


Mey melangkah menuju penjaga sekolah.


***


"Taraaaaaa udah jadi riasannya, coba ya Anta foto," ucap Anta mengeluarkan ponsel dari dalam tas.


"Yah, hapenya mati," gumam Anta.


"Apanya yang mau difoto, emang keliatan?" tanya si Pocong.


"Eh bisa kelihatan tapi pake kamera punya si Ria, besok deh Anta pinjem sama Ria," sahut Anta.


"Tuh bisa, wleeekk! Sirik aja elo, item!" sahut si Mimin, hantu muka rata.


"Anta, bisa bikin muka gue putih enggak?" tanya si Pocong.


"Hehehe..." Anta menoleh ke arah pocong tersebut lalu saling berhadapan dengan si muka rata dan langsung tertawa terbahak-bahak berbarengan.


"Kok, pada ngetawain gue, sih!" keluh si Pocong mendorong bahu hantu muka rata.


"Masalahnya muka elo hitam semua geradakan gitu yang kalau dibedakin nanti kulitnya copot, hahaha..." sahut Mimin.


"Maksud Anta juga gitu, lagian megangnya agak gimana, gitu," sahut Anta.


"Tuh kan, kalian mah jahat deh."


Perut Anta berbunyi karena lapar. Ia sudah menghabiskan lima wafer cokelat pemberian Dion tadi.


"Gawat, nih, kalau Anta nginep di sini, bisa mati kelaparan, nih," gumam gadis itu memegangi perutnya.


"Ya enggak mati lah, paling lemes doang, mau makan tikus apa kecoa? Nanti diambilin," ucap Mimin.


"Ogah, Anta manusia pecinta makanan sehat dan matang, itu mah binatang terus jorok lagi iyuh."


"Terus?"


"Terus, Anta minta tolong, kalian ke gerbang depan panggil Tante Tasya, yang satu mobil sama Mey teman Anta itu, nanti kalian kasih tau kalau Anta ke kunci di sini," ucap Anta.


"Emang bisa lihat kita?" tanya si Pocong.


"Tante Tasya, Raja adik Anta, semua bisa melihat hantu," jawab Anta.


"Oh turunan berarti, baiklah gue coba panggil mereka ya, tapi gue enggak bisa ke luar, cuma bisa gentayangan dalam kelas, penunggu sini enggak ada yang bisa ke luar dari area sini," jawab si Pocong.


"Kok gitu, ya, hmmm baiklah, terima kasih sebelumnya, tolong panggilin, ya," pinta Anta.


***


"Tante, itu pocong ngapain, sih, matanya melototin kita?" tanya Raja menarik lengan Tasya yang sedang berdiri di samping mobil.


"Astagfirullah, itu pocong mau ngapain siang-siang begini nongol?" gumam Tasya.


"Mana Raja tau, coba Tante tanya!"


"Heh, ngelunjak! Masa kamu suruh-suruh Tante," ucap Tasya dengan ketus.


"Ya udah, kalau begitu aku yang turun tanya tuh pocong, ya."


"Jangan deh, nanti kamu bawa pulang lagi," sahut Tasya.


"Tapi, beneran itu dia manggil kita!" tunjuk Raja


"Masa, sih?"


Tasya mencoba menoleh ke arah pocong tersebut.


"Kamu manggil kita?" tanya Tasya.


Pocong itu menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Tuh, bener kan kata aku, coba sana samperin aja, Tante!"


"Hadeh, iya deh aku samperin tunggu sini ya, tungguin si Mey datang ke sini!" perintah wanita itu.


Raja menjawab dengan anggukan dan acungan ibu jari.


"Ada apa, Mas, panggil saya?" tanya Tasya dengan hati-hati dan tak mau menatap padanya.


"Gue, Mbak, bukan Mas!"


"Oh, maaf kalau begitu, ada apa ya?" tanya Tasya masih tak mau menatap pocong hitam itu.


"Elo, Tantenya Anta, bukan?" tanya pocong itu.


"Kok, tau?"


"Soalnya kamu telah, eh ngomong apa gue, ya, begini Anta ke kunci di kamar mandi, bukan ke kunci sih tapi ada yang kunciin dia," ucapnya.


"Di sana," tunjuk pocong itu dengan ujung bibirnya.


"Sebelah mana, tunjuk pakai tangan jangan pakai bibir!" keluh Tasya.


"Enggak liat, nih, tangan gue keiket."


"Oh iya, ayo arahin saya kamar mandinya," ucap Tasya lalu masuk ke dalam gerbang sekolah menghampiri Mey dan penjaga sekolah.


"Keponakan saya dikunciin ke kamar mandi, Pak," ucap Tasya.


Kemudian, mereka bergegas menuju kamar mandi tempat Anta terkunci.


"Waduh, kok bisa kekunci di kamar mandi ini?" tanya penjaga sekolah itu.


"Emangnya ada apa dengan kamar mandi ini?" Tasya gantian bertanya.


"Kamar mandi ini serem, Bu, terakhir ada anak perempuan yang dikunci di sini malah masuk rumah sakit ketakutan sampe syok badannya panas," jawab Pak Penjaga.


"Kenapa bisa ketakutan?"


"Ada hantunya, Bu."


"Oh, kirain ketakutan kenapa, kalau cuma hantu mah, saya enggak khawatir."


Penjaga sekolah itu menoleh ke arah Tasya dengan tatapan heran.


Klik.


Pintu kamar mandi itu terbuka kuncinya, lalu perlahan-lahan dibuka pintu tersebut. Terlihat tubuh Anta terbaring dengan kepala berada di atas tas ranselnya.


"Waduh, tuh kan, Bu, pingsan!" seru si penjaga sekolah.


Pria itu langsung menepuk pipi Anta dan mencoba membangunkan gadis itu.


Sementara, Tasya mengamati si hantu muka rata yang berdandan ala jeng keling salah satu tokoh sitkom di tv. Kedua bentuk mata yang tak sama hampir saja membuat Tasya tertawa. Tapi, ia tahan agar tak membuat si penjaga ketakutan.


"Apa ini hantu yang ditakuti di kamar mandi ini, padahal nih hantu kayak badut," batin Tasya.


"Hoaaaammm... eh Pak Soleh, eh Tante Tasya," ucap Anta terbangun dari tidurnya seraya menyeka air liur di sudut bibir mungilnya itu.


"Non, enggak apa-apa, Non sampai pingsan lho tadi?" tanya Pak Soleh.


"Enggak, siapa yang pingsan, Anta tuh ngantuk terus laper, Pak," jawab Anta.


"Siapa yang kunci kamu di sini? Nanti Tante laporin kepala sekolah biar tau rasa!" seru Tasya.


"Biasalah Kakak kelas yang sok berkuasa, udah cuekin aja, nanti juga kena batunya," ucap Anta seraya merapikan tas.


"Ini kan, pouch kosmetik punya Tante, kok bisa sama kamu?" Tasya meraih tas kosmetik kecil yang baru saja masuk ke dalam tas Anta.


"Hehehe... buat main salon-salonan sama kakak ini, kasian mukanya rata enggak ada bentuk mata sama hidung sama bibir, jadi Anta lukis deh wajahnya," tunjuk Anta ke Mimin.


"APA?"


"Ya, maaf."


"Jangan marahin dia, Tante, tadi Anta udah berusaha buat saya cantik, nih buktinya saya cantik, kan?"


Tasya menoleh ke arah Mimin dan berusaha keras menahan tawanya. Ia tarik napas panjang dan dia embuskan agar tak jadi tertawa.


"Iya, cantik," sahut Tasya.


"Pada ngomongin apa, sih, saya sampai bingung?" tegur Pak Soleh menimpali.


"Enggak kok, Pak, bukan apa-apa, makasih sebelumnya, ya. Ayo kita pulang, Nta!" ajak Tasya menarik lengan Anta.


"Pada ngomongin apa, ya, aku enggak paham jadinya."


Hantu Mimin dengan isengnya meniupkan udara ke belakang leher Pak Soleh.


"Kok, aku jadi merinding gini, ya, hiyyyy..." ucap Pak Soleh memegangi leher belakangnya, lalu buru-buru ke luar.


***


"Pokoknya, Tante enggak mau tau, ya, itu semua kuas sama spons harus kamu rengem air anget cuci bersih, apalagi yang kamu dandanin itu hantu, nanti bisa bau ****** semua make up Tante," ucap Tasya memarahi Anta saat berada di dalam mobil menuju jalan pulang.


"Iya, maaf, tapi cantik kan tadi hasil karya Anta?" tanya Anta.


"Cantik dari mana, dia tuh kayak badut tau enggak, parah kamu. Masa bagian pipi blush on di buat bulet-bulet merah, hadeh..."


"Hehehe... namanya baru belajar, nanti Anta kepoin ah para beauty vloger di internet," ucapnya.


Terjadi kemacetan saat itu dan Anta dan Mey langsung fokus melihat sosok berpakaian seragam sekolah yang sama dengan diri mereka terbaring di tepi jalan. Pemuda itu tak sadarkan diri.


"Anta, itu bukannya..."


"Dion?"


Anta dan Mey berucap bersamaan dan keduanya saling menatap satu sama lain.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN” biar


nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.