Anta's Diary

Anta's Diary
Adik Tiri Arga



Happy Reading...


*****


Kayak pernah lihat bapaknya Angel itu dimana, ya?" gumam Anta.


"Halah, Kak Anta modus aja, suka ya sama Om- nya?" ledek Raja.


Pletak!


Tinju Anta mendarat di kepala anak itu.


"Duh, jitakan Kak Anta sakit tau!" keluh Raja.


Anta menatap tajam adiknya mengisyaratkan agar adiknya itu diam.


"Mama kamu tadi telepon Papa, dia bilang mau titip kamu sama Nenek. Mama kamu bilang dia sakit dan waktunya udah enggak lama lagi. Tapi Papa enggak nyangka bukan penyakitnya yang buat Mama kamu meninggal, tapi malah dia kecelakaan seperti ini. Maafin Papa, Njel..."


Pria itu memeluk putrinya dengan erat meskipun Angel merasa ingin melepas pelukannya. Terluhat jelas kebencian di wajahnya. Ia mengingat saat sang mama membawanya pergi dari rumah karena mengetahui perselingkuhan ayahnya dengan rekan bisnis. Sampai akhirnya Papanya itu memutuskan untuk menikahi selingkuhannya.


Semenjak saat itu, Angel merasa sangat membenci sang ayah karena telah menghianati mamanya. Ia kecewa dengan sosok ayahnya yang selalu ia banggakan itu ternyata bisa membuatnya dan sang nama kecewa.


Seorang wanita datang bersama putranya. Keduanya langsung membuat Anta, Tasya dan Raja tersentak menatap tak percaya.


"Anta, kamu ngapain di sini, apa ada yang sakit?" tanya Arga menghampiri Anta.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Anta.


"Umi aku, eh Mami aku minta temenin ke sini, katanya sih istri Papi tiri aku yang sebelumnya meninggal," jawab Raja.


"Astaga, Anta baru ingat kalau bapak itu tuh papi tiri kamu," ucap Anta.


"Jadi si Angel itu adiknya Kak Arga?" tanya Raja.


Arga menoleh pada gadis kecil yang seumuran dengan Raja.


"Itu namanya Angel, adik tiri aku?" tanya Arga.


"Sepertinya iya," ucap Anta.


"Duh, dunia sempit banget ya," celetuk Tasya yang menghampiri Anta dan Arga.


Mereka mengamati Tuan Deja, ayah tiri Arga, sedang berusaha meyakinkan Angel agar mau ikut dengannya. Berkali-kali anak perempuan itu berteriak tak mau, tetapi pria itu kembali bersikeras.


Anta dan Tasya melihat wajah ibunya Arga tersenyum dengan terpaksa saat membantu Tuan Deja merayu Angel agar mau ikut pulang ke rumahnya. Ia sangat memaksakan diri terlihat baik di depan anak tirinya itu.


"Akting mama kamu bagus," ucap Tasya.


"Aku tahu, Tante mau bilang mami aku itu calon ibu tiri yang jahat, kan, yang dilakuin mami aku itu enggak tulus, kan?" sahut Arga menoleh pada Tasya.


"Hehehe... maaf ya, Ga," ucap Tasya menggaruk-garuk kepalanya.


"Idih, Tante julid," sahut Anta menimpali.


Tasya meringis menjawab pertanyaan Arga barusan.


Akhirnya Angel mau juga ikut bersama sang ayah. Tuan Deja menarik lengan gadis itu saat membawanya pergi tetapi Raja langsung menghadang langkah mereka.


"Tunggu, mama kamu kan maunya kamu sama nenek kamu," ucap Raja.


"Ide bagus tuh, Pih, ada baiknya anak ini sama neneknya," sahut mamanya Arga.


Pernyataan Raja barusan bagai kesempatan emas untuk wanita itu agar tak jadi merawat Angel.


"Mih, Papi mohon kali ini turuti permintaan Papi. Biarkan Angel ikut sama kita, kalau perlu neneknya yang di kota melati bakalan Papi bawa ke sini buat jagain Angel. Papi harus nebus hutang bersalah Papi selama ini sama mamanya Angel," ucap Tuan Deja.


Laila merasa dunianya berputar, ia langsung lunglai dan merasa akan pingsan kala mendengar penuturan suaminya. Akan tetapi kedua kakinya masih mencoba tegak berpijak. Ia sangat berharap bisa menghindari anak tirinya. Namun, bukan itu yang akan terjadi melainkan suaminya itu malah menambah beban hidupnya dengan memboyong mantan ibu mertuanya untuk tinggal bersama.


Rasanya Laila ingin berteriak dengan kencang sambil menjambak rambut Angel berkali-kali melampiaskan amarahnya. Akan tetapi, hal itu sangatlah tidak mungkin. Ia akhirnya memaksakan senyum tersungging di bibirnya.


"Papa janji ya bakalan bawa Nenek buat menemani aku?" tanya Angel.


"Iya sayang, Papa janji."


Angel akhirnya pulang bersama papanya, diikuti Arga dan maminya turut serta. Sementara itu Tasya, Anta dan Raja menuju taxi online yang sudah dipesan untuk membawa mereka pulang.


***


"Ini buat Ibu," ucap Anta.


"Wah, makasih ya, cantik banget tampilan pudingnya," ucap Dita kala melihat bentuk bunga mawar warna cokelat di kotak makan warna bening yang Anta berikan.


"Anta suka banget buat seperti itu sama Bunda, rasanya juga Anta jamin enak banget," ucap gadis itu.


"Iya, aku yakin kok enak rasanya."


Brak!


Mendadak lemari kabinet tempat menyimpan buku itu bergetar seperti ada sesuatu yang menabrak lemari buku itu. Anta dan Dita lalu menoleh. Sosok hantu perempuan penuh dengan lumpur terlihat tersenyum meringis menatap keduanya.


"Astagfirullah..."


Dita langsung bersembunyi di kolong meja kerjanya.


"Dih, Bunda biasanya langsung sapa hantu kalau ketemu eh ini malah sembunyi ketakutan gini," gumam Anta.


"Tante ngapain di situ?" tanya Anta pada hantu tersebut.


"Aku kan lagi sembunyi, aku takut, Nta," jawab Dita dari kolong meja.


"Yeee... bukan Bunda, eh maksudnya Ibu, bukan Ibu yang Anta tanya tapi hantu itu," sahut Anta.


"Hah?"


Anta menghampiri hantu tersebut seraya membawa beberapa lembar tisu. Ia menyeka bekas lumpur di wajah hantu perempuan itu. Dita mengintip dari tempat persembunyiannya.


"Wah, ini anak ada kelainan apa gimana sih, masa berani banget sama hantu," gumam Dita.


Anta berhasil membersihkan wajah hantu perempuan itu. Ia tersenyum pada si hantu begitu juga dengan hantu itu.


"Nah, kalau begini kan cakep dilihatnya," ucap Anta.


"Terima kasih," ucap hantu itu.


"Hantu cakep? Wah, ini bocah bener-bener ya masa ada gitu hantu cakep, ckckckc..."


Dita masih menggumam dari kolong meja kerjanya.


"Ciluk... Ba!"


Anta mengejutkan Dita kala itu membuat wanita itu tersentak sampai kepalanya membentur sisi meja.


"Duh, sakit ini kepala aku, kamu ngapain sih ngagetin aku, Nta?"


"Lagian ngapain juga Ibu sembunyi di situ, udah sini ke luar!" ajak Anta menarik lengan Dita.


"Tapi beneran ya hantunya udah enggak ada?"


Dita ke luar dari tempat persembunyiannya.


"Kyaaaaaa!!!"


Dita menjerit kala melihat hantu perempuan tadi sudah berada di sampingnya. Tubuhnya terasa sempoyongan. Anta langsung membawa Dita menuju ke kursi agar wanita itu duduk di kursi tersebut.


"Eits... jangan pingsan, berat nanti Anta bopongnya," gadis itu langsung mencubit pipi Dita.


"Duh, sakit Anta!"


"Nah, syukurlah kalau enggak jadi pingsan."


Dita memeluk pinggang Anta kala itu seraya ketakutan menyembunyikan wajahnya di perut gadis itu.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni