Anta's Diary

Anta's Diary
Pasien Baru



Happy Reading...


***


Bel pintu apartemen Tasya berbunyi, Anta melangkah membuka pintunya. Pak Herdi menatap seraya membawakan satu bungkus martabak manis di tangannya.


"Assalamualaikum, Tasya ada, Nta?" tanya Herdi.


"Waalaikumsalam, ada tuh di dalam sama Om Mark," jawab Anta.


"Apa? Mark?"


Herdi langsung masuk ke dalam dengan langkah cepat.


"Ngapain dia di sini?" tanya Herdi menunjuk Mark.


"Dia lagi ketemu Jorji, kamu liat sendiri kan? Kenapa sih datang-datang langsung marah gitu?" tanya Tasya.


"Ya aku pikir..."


"Pikir apa hayo, cemburu ya?" bisik Tasya.


"Iya," sahut Herdi spontan.


"Anta cari makan dulu ya mau beli nasi goreng," ucap Anta.


"Tapi, Nta, masa Tante ditinggalin gini?"


"Ajak main catur aja bertiga, eh berempat sama Kak Jorji, hehehe..."


Anta lalu pergi.


"Umm... ada yang mau aku omongin Mark sama kamu, mengenai si penabrak kamu dan Jorji," ucap Tasya.


"Si penabrak aku? Kamu tau orangnya?" tanya Mark.


"Aku, Anta dan Raja tau siapa yang nabrak kamu, itu lho Pak Hartono, ayahnya Ria."


"Ria, temennya si Anta?" tanya Herdi.


"Iya, dia yang nabrak terus kabur," ucap Tasya.


"Kenapa enggak bilang dari kemarin-kemarin?" Herdi menarik Tasya agar duduk di sampingnya.


"Aku mau kasih tau Mark, biar dia yang buat laporan, soalnya enggak tega sama Ria," ucap Tasya.


"Tapi kan dia tetep jahat, Sya, udah nabrak terus kabur," sahut Mark.


"Iya, aku minta maaf. Mungkin kalau yang menabrak kalian udah ketangkap, si Jorji bisa balik ke tubuhnya," ucap Tasya.


"Baiklah, kalau begitu, besok saya akan membuat laporan ke polisi, kamu dan lainnya jadi saksi mata ya," pinta Mark.


"Oke, kalau gitu besok aku bilang sama Anta buat ke kantor polisi juga," ucap Tasya.


***


Dion muncul di depan Apartemen Emas bersamaan dengan sosok Anta yang baru saja keluar.


"Mau ke mana, Nta?" tanya Dion.


"Mau beli nasi goreng," jawab Anta.


"Aku ikut ya, aku parkir mobil dulu," ucap Dion.


Anta mengangguk mengiyakan. Keduanya lalu melangkah menuju ke tempat nasi goreng tempat biasa.


"Selamat ya, Kak, udah lulus," ucap Anta.


"Makasih ya, oh iya aku mau pamit."


"Pamit? Pamit ke mana?" tanya Anta.


"Orang tua aku mau pindah ke Inggris, jadi aku mau ikut mereka dan kuliah di sana," ucap Dion.


"Wah, keren banget."


"Kamu enggak sedih, kan bentar lagi aku pergi dari sini, nanti enggak ketemu aku lagi, lho," ucap Dion.


"Hahaha... kan Kak Dion masih suka datang ke sini, kita juga bisa video call jarak jauh," sahut Anta.


"Iya sih, nanti aku mau buat pesta perpisahan gitu sama kalian semua, nanti aku yang traktir," ucap Dion.


"Selama ada makanan mah, Anta siap aja buat ikutan hehehe..." ucap Anta seraya tersenyum manis pada Dion sebelum menyantap nasi goreng di hadapannya.


"Senyum kamu itu yang bakal bikin aku kangen, Nta," gumam Dion.


Arya dan Arga yang baru saja selesai bermain basket di taman, melihat Anta dan Dion dari kejauhan.


"Wah, enggak bisa dibiarin nih, samperin aja yuk!" ajak Arya menarik tangan Arga menghampiri Anta dan Dion di tempat nasi goreng.


"Hmm... ada tikus nih dateng ke sini," gumam Dion.


"Anta takut tikus?" tanya Dion.


"Anta takut digigit, katanya kalau digigit tikus bisa kena penyakit, kan, dih serem banget hiy geli," sahut Anta.


"Ngapain kamu, Nta, nongkrong di kursi kayak gitu?" tanya Arya.


"Tadi kata Dion ada tikus gitu, jadi Anta takut," sahut gadis itu.


"Mana tikusnya?" tanya Arya.


"Yang di depan gue lah tikusnya," sahut Dion.


"Wah, maksud elo kita berdua tikusnya? Wah, cari ribut nih!" Arya dan Arga makin mendekat dan mencengkeram bahu Dion.


"Eh, pada ngapain sih kayak gitu?" seru Anta menunjuk Arga dan Arya.


"Mau ngasih pelajaran ke cowok ini," sahut Arya.


"Kak Dion udah lulus tau, emang mau diajarin pelajaran apaan?" tanya gadis itu dengan polosnya.


"Duh, kalau malam Anta suka lola ya?" gumam Arga.


"Udah deh, mending ikut makan sama gue, gue yang bayar!" sahut Dion menepis tangan Arya dan Arga kala itu.


Keduanya lalu bertatapan dan kemudian mengangguk.


"Bang, nasi goreng komplit spesial dua, ya!" pinta Arya seraya mengangkat tangan kanannya.


***


Ketiga pemuda itu mengantar Anta pulang padahal gadis itu lebih memilih pulang sendiri dibandingkan diantar tiga pemuda yang sedari tadi saling sikut dan dorong. Tiba-tiba, para warga sekitar terlihat berkerumun.


"Eh, ada apa tuh ya rame-rame gitu?" Anta menunjuk arah kerumunan di seberang jalan.


Ia lalu melangkah ke arah tersebut mendekat.


"Ada apaan, pak?" tanya Anta pada salah satu orang disitu.


"Ada kecelakaan, Neng, korban itu tadi ketabrak mobil. Tuh, mobil yang nabrak sampai masuk mini market," ucapnya menunjuk ke arah korban dan mobil sedan yang terlihat penyok itu.


"Yaa Allah, kasian banget korbannya," ucap Anta kala melihat korban yang sudah terbaring tak bernyawa setelah menghamburkan diri mencari celah agar bisa melihat korban kecelakaan itu.


Dion juga ikut memberanikan diri menggeser kerumunan itu untuk melihat korban. Agak susah mencapai korban, karena banyak juga yang penasaran dan mendekat. Namun, pengendara dalam mobil itu membuatnya teralihkan.


Pemuda itu mengenal pengendara dalam mobil yang terlihat tak sadarkan diri itu. Di sampingnya duduk seorang wanita yang wajahnya bersimbah darah juga tak sadarkan diri.


"Om Hartono?"


Dion melangkah ke arah mobil yang pengendaranya sedang di evakuasi oleh warga sekitar. Kedua orang itu masih hidup. Salah satu warga menghubungi polisi dan ambulans. Berbeda dengan korban yang ditabrak itu. Pria yang ditabrak itu tewas seketika.


"Astagfirullah... " pekik Arya dan Arga bersamaan.


Mereka sudah bisa melihat korban yang posisi tubuhnya sedang digerakkan dan ditelentangkan dari posisi semula yang tengkurap. Dari tubuh korban terdengar bunyi tulang retak yang membuat ngilu dan ngeri para pendengarnya.


"Kelihatannya banyak tulang yang patah, ya?" gumam Arya.


"Kita kabur aja, Ya, aku enggak yakin deh kalau ada di sini lama-lama," bisik Arga.


"Kenapa luh, takut ya?" tanya Arya.


"Iya lah takut, apalagi kalau hantunya lagi ngeliatin kita, tuh!" ucap Arga.


Sosok hantu dengan sebagian wajah korban hancur dengan bola mata sebelah kiri yang lepas dari kelopaknya itu berdiri menatap Arya dan Arga. Di bagian kepalanya terlihat darah yang masih mengalir deras.


Anta akhirnya melihat ke arah sosok pria yang mengenakan jaket kulit hitam, jaket yang sama dan celana yang sama seperti korban. Bagian wajah hantu itu jelas terlihat hancur tanpa bola mata sebelah kiri serta tempurung kepalanya yang berrongga meneteskan cairan darah dan isi kepalanya. Dita melangkah mundur mengendap-endap menuju Arya dan Arga.


"Kalian pada liat Om itu kan?" bisik Anta.


Kedua pemuda itu menganggukkan kepala mengiyakan.


"Kita pergi aja, yuk!" bisik Anta.


Sayangnya, saat mereka berbalik badan dan hendak pergi dari tempat kejadian hantu pengendara itu sudah berada di belakang ketiganya. Ia sedang memandang punggung Anta dengan sebelah matanya.


"Tolong saya..." lirihnya.


"Hmmm... pasien barunya si Anta, elu bawa formulir pendaftaran kaga, Ga?" tanya Arya.


"Enggak lucu, Ya, kaki gue gemetaran nih," bisik Arga.


Tiba-tiba, bahu Arya dan Arga ditepuk dari belakang.


"Aaaaaa....!"


Dua pemuda itu berteriak bersamaan.


***


To be Continue...