
Happy Reading...
*****
Dita dan Anan bertemu dengan Ratu Sanca pagi itu. Keduanya terlihat memeluk sang ular. Mulai saat itu, Ratu Sanca akan kembali menjadi penjaga rumah itu terutama Raja.
"Aku pikir saat Raja sudah besar aku akan terbebas dari anak kecil, ternyata aku harus masih berhadapan dengan anak kecil apalagi ini kembar," gumam Ratu Sanca kala dua anak kembarnya Dita dan Anan sudah menaiki tubuhnya.
"Duh, maaf ya Ratu Sanca, Adam sama Dira emang begini. Mereka lebih berani dibandingkan dengan Anta dan Raja waktu kecil," ucap Dita.
"Memangnya Anta pernah takut? Kayaknya Anta nggak pernah takut, deh," sahut Anta seraya mengunyak roti panggang di tangannya.
"Raja juga," sahut Raja.
"Apaan, kamu masih ada takutnya sih!" ledek Anta.
"Kalian lupa ya, ada aku yang lagi ketakutan gini?" Ria menunjuk dirinya sendiri seraya menutupi wajahnya dengan tas miliknya.
"Hehehe, sabar ya Ria, harusnya mental kamu udah kuat kayak Oma Aiko tuh," ucap Anta.
"Ya, mau gimana lagi. Oma harus terbiasa dengan keluarga ini yang mainnya sama hantu terus," sahut Aiko.
Tiba-tiba, kedua mata Ratu Sanca memicing tajam, wajahnya menoleh seolah mengendus sesuatu.
"Aku mencium hawa yang tak enak mendekat ke sini," ucap Ratu Sanca.
Tante Dewi dan Andri datang ke rumah tersebut. Ratu Sanca langsung bersembunyi seolah ketakutan kala melihat Tante Dewi.
"Sini, kamu harus jelaskan sama kita tentang kebiasaan kamu yang aneh itu, Wi." Andri mempersilakan istrinya untuk duduk.
"Ada apa ini?" tanya Dita menghampiri.
"Wi, kamu atau aku yang cerita?" tanya Andri.
Dewi hanya terdiam dan menunduk. Wanita itu memegangi perutnya yang mulai terlihat membuncit.
"Perasaan Tante Dewi baru mau jalan tiga kenapa kayak udah gede banget, ya?" gumam Anan yang memperhatikan dari jauh.
"Oke kalau gitu aku yang cerita. Jadi begini, Dewi mulai suka makan daging mentah, dia bilang itu enak," ucap Andri.
Anta dan Raja saling menatap satu sama lain. Mereka tak mengerti dengan pembicaraan Andri.
"Duh, apa ini ada hubungannya sama kandungan Tante? Aku kan udah bilang, kehamilan Tante ini nggak wajar apalagi ada perjanjian dengan Nyi Ageng," ucap Dita mendekat.
"Kandungan aku baik-baik saja, Ta. Apa salah kalau aku ngidam makan daging mentah," sahut Tante Dewi.
"Ya, nggak wajar aja Tante! Aku takut kalau nantinya ...."
"Kamu mau aku menggugurkan kandungan ini? Kamu mau kita kehilangan anak ini?"
Andri menggeleng lemah.
"Ya udah kalau begitu turuti kemauan aku, yang penting aku dan bayi aku sehat. Ayo, pergi dari sini!" Tante Dewi menarik tangan Andri untuk pergi dari rumah Dita.
"Tante Dewi!"
Dita berusaha memanggil tetapi Anan sudah menahan.
"Biarkan dulu, nanti kita bicarakan lebih lanjut lagi," ucap Anan.
"Sebenarnya, ada apa dengan kehamilan Tante Dewi?" tanya Anta.
"Nanti Bunda ceritain, kamu berangkat sekolah dulu aja, nanti telat."
***
Di sekolah Anta.
"Nta, bisa bicara sebentar," ucap Mike yang menghadang Anta kala gadis itu baru keluar dari kamar mandi.
"Ada apa, Mike?"
"Gue mau minta tolong bantu gue cari adek gue!" ucap Mike.
"Mau cari di mana?" tanya Anta.
"Ya kemana aja, elo kan bisa lihat makhluk gaib, kali aja kita bisa tanya sama makhluk gaib," ucap Mike.
"Bentar deh, Anta jadi inget kata Bunda soal Tante Silla. Nanti malam kita ketemuan di rumah kamu, kita mulai menyusuri dari rumah kamu," ucap Anta.
"Elo mau bawa anjing pelacak gitu buat ke rumah gue?" tanya Mike.
"Sembarangan! Anta mau bawa kuntilanak cantik tau ke rumah kamu."
"Gila, gue suruh elo cari adek gue bukan malah nambahin angker rumah gue pakai bawa kuntilanak segala," ucap Mike.
"Ih, Tante Silla itu temen Anta tau! Tenang aja nanti Anta coba liat bayangan hitam yang suka Anta liat di belakang kamu dan Nyak Muna," ucap Anta.
*****
To be continue...