Anta's Diary

Anta's Diary
Penasaran



Jadi...


sebelum membaca, jangan lupa di Vote ya.


Hitung-hitung bayar tulisan ku ini dengan poin 😁


...******...


"Panggil Tante Tasya, Ja!" pinta Anta mulai panik karena demam Mey tak kunjung reda.


"Siap, laksanakan!" seru Raja seraya memberi hormat pada Anta.


Raja membuka pintu apartemennya dan menabrak hantu Susi dan Tomo yang hampir saja menyatukan kedua bibirnya.


"Minggir, minggir, kalian tuh berdosa banget tau, gak!" seru Raja melerai keduanya lalu mengetuk pintu apartemen rumah Tasya.


Hantu Susi menyodorkan bibirnya kembali pada Tomo.


"Gak boleh, malu tau sama Raja, kita main terjun payung aja, yuk!" ajak Hantu Tomo seraya menarik tangan Susi lalu keduanya menembus dinding dan terjun ke lantai bawah.


"Kenapa, Ja?" tanya Tasya saat membuka pintu.


"Kak Anta cariin Tante, soalnya temannya ada yang lagi sakit di rumah," tunjuk Raja ke arah rumahnya.


"Masa, sih? Ya udah yuk ke sana. Sayang, aku di rumah Anta ya," ucap Tasya berseru pada Doni.


"Ya."


Tasya menemui Anta yang sedang memberi handuk kompres di dahi Mey.


"Ini bukannya temen sebangku kamu, Nta?" tanya Tasya.


"Iya, Tante. Gak tau nih kenapa tiba-tiba pas datang ke sini mukanya pucat dan badannya panas, tapi keringetan," jawab Anta.


"Bajunya basah nih, gantiin bajunya dulu yuk!" ajak Tasya.


"Dia kabur dari rumah kali nih, nih tas ranselnya ada baju-baju dia," ucap Raja yang secara iseng memeriksa tas ransel Mey.


"Raja, gak sopan!" Anta meraih tas ransel milik Mey itu.


"Kita bopong ke kamar kamu aja, Nta."


Tasya dan Anta akhirnya mengangkat tubuh Mey menuju kamar Anta yang disekat menjadi dua ruangan untuk memisahkan kamar Raja dan Anta. Lalu mereka membaringkan tubuh Mey di atas ranjang Anta.


"Raja di luar ya, jangan ngintip," hantu Silla menjewer telinga Raja dan membawanya ke luar dari kamar Anta.


"Hehehe..."


Anta menutup pintu kamarnya lalu gadis itu mencari pakaian Mey dalam tas ranselnya dan terkejut saat menemukan ada pakaian Mey yang sobek dan terdapat noda darah. Tadinya Anta mau berkonsentrasi mencari tau bagaimana bisa pakaian Mey ada darahnya, namun niat itu dia urungkan karena Tante Tasya dari tadi berseru "buruan!"


"Maaf ya, Mey, baju kamu basah banget jadi kita ganti," ucap Tasya yang melepas pakaian Mey satu persatu lalu bersama Anta menggantikan pakaian Mey.


"Lihat di bahu Mey, Tante!" tunjuk Anta ke bahu kanan Mey.


Noda hitam yang berbentuk oval seperti ukuran telur ayam itu terlihat di kulit Mey yang kuning langsat dan mulus. Noda hitam itu juga memiliki rambut halus yang lebih lebat dari rambut-rambut halus di tangan Mey.


"Mungkin ini ta* lalat besar, atau tanda lahir," sahut Tasya.


"Oh, iya ya mungkin juga ini tanda lahir, awww!" Anta langsung terkejut saat menyentuh tanda di bahu Mey itu. Tangannya terasa seperti tertusuk jarum dan juga terasa panas.


"Kamu kenapa, Nta?" tanya Tasya.


"Gak tau kok tiba-tiba tangan Anta sakit pegang tanda hitam itu," jawab Anta.


Tasya mencoba menyentuh tanda hitam itu tapi tak terjadi apapun dengannya lalu berucap, "biasa aja sih, Nta, gak kerasa apa-apa."


Anta mencoba menyentuh bahu Mey sekali lagi. Aura hitam muncul di permukaan tubuh gadis itu mengejutkan Anta dan Tasya yang langsung melepas tubuh Mey dan mundur.


"Anta juga gak tau Tante," sahut Anta.


"Jangan dipegang lagi, coba pakaikan dia baju dulu," ucap Tasya.


Terdengar suara Arya dan Dokter Yuni tiba di rumah Anta.


"Maaf ya lama tadi ada yang kecelakaan jadi Dokter Yuni mengobati orang itu dulu," ucap Arya.


"Mana yang sakit?" tanya Dokter Yuni.


Anta lalu mempersilahkan dokter wanita berusia kurang lebih empat puluh lima tahun itu menghampiri Mey.


"Dia memang masih demam, tapi kondisi tubuhnya stabil sih tak ada luka, seperti mendapatkan syok berat gitu, ini saya resepkan obat demam ya buat dia, tebus di apotek klinik saya aja," pinta Dokter Yuni.


"Yee tadi mah obat-obatan sekalian bawa, Dok," celetuk Arya yang langsung diberikan tatapan tajam oleh Dokter Yuni.


"Maaf, Dok, cuma bercanda hehehe."


Dokter Yuni lalu pamit dari rumah Anta diikuti Arya yang hendak menebus obat untuk Mey setelah Tasya memberikannya selembar uang.


Mey mengubah posisi berbaring menjadi duduk perlahan di atas ranjang Anta.


"Ada yang aneh dengan temen kamu, Nta," ucap hantu Silla membuat Anta, Tasya dan Raja menoleh kepadanya.


"Aneh gimana?" bisik Anta.


"Entahlah tapi aku merasakan hawa gaib yang ada di tubuh Mey," ucap Silla.


"Perasaan Tante juga gak enak, temen kamu itu kayaknya ada yang beda gitu," bisik Tasya.


"Entahlah, Anta penasaran sama bahu Mey, nanti Anta coba lihat apa yang terjadi sama Mey sampai bajunya sobek terus ada darahnya," sahut Anta yang juga berbisik.


Mey mulai membuka suara kemudian.


"Anta, makasih ya kamu sudah menolong saya," ucap Mey.


"Iya, sama-sama, memangnya kamu dari mana mau kemana?" tanya Anta.


"Aku, ummm... aku, aku kabur dari rumah."


"HAH, KABUR?"


Semuanya kompak mengucap bersamaan dan saling memandang satu sama lain bergantian.


...******...


To be continue...


Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta


Vie Love You All...😘😘😘


Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE...!!!