
Happy Reading...
***
Mey sampai di Apartemen Emas. Seorang
penjaga keamanan apartemen tersebut menanyakan perihal kedatangan gadis itu.
“Saya kecopetan, Pak, saya mau ke
rumah Tante Tasya,” ucapnya.
Penjaga kemananan itu tak menaruh
curiga sama sekali. Pria itu malah sangat kasihan melihat Mey. Ia lantas
mengantar gadis itu masuk ke dalam lift.
“Terima kasih, Pak.” Mey tersenyum
manis.
Di lift satunya, Raja keluar seraya
menggerutu karena Mama Dewi memerintahkan untuk membeli nasi goreng yang
terenak di kawasan itu. Warung nasi goreng yang terletak di seberang apartemen
tentunya. Sebelum pintu lift yang terdapat Mey di dalamnya tertutup, Raja sempat
melihat gadis itu sebelum pintu lift tertutup.
“Lho, itu bukannya Kak Mey,
bukannya dia gila, ya?” gumam Raja.
Ia lalu menyapa sang penjaga
keamanan.
“Pak, itu cewek mau ke mana?” tanya
Raja.
“Lho, dia mau ke rumah Tante kamu,
kamu kenal, kan? Kasian dia katanya habis kecopetan makanya mau minta tolong
sama Tante kamu,” ucap penjaga itu.
“Hah, mau minta tolong? Aduh gawat!”
seru Raja.
“Gawat kenapa, Ja?”
“Itu Kak Mey, dia itu udah
dinyatakan gila, dia pernah membunuh eh hampir membunuh Kak Anta,” sahut Raja
dengan wajah cemas dan ketakutan.
“Waduh, ayo kita ke atas, Ja!”
Bapak penjaga itu menekan tombol
lift tetapi tak terbuka juga.
“Naik tangga aja, Pak!” seru Raja.
“Dua puluh lantai, Ja, Bapak capek,”
ucapnya.
“Yah, nunggu lagi deh, semoga Kak
Mey belum macam-macam sama Tante Tasya.”
***
Mey menekan bel pintu apartemen
milik Tasya. Tak ada yang menjawab karena Tasya sedang berada di rumah Dewi
kala itu. Gadis itu lalu berbalik menuju apartemen Dewi dan menekan bel pintu.
“Lucu banget sih ini sinetron satu
kampung tiap hari ada aja yang mati, jadi hantu, tuyul, dan setan lainnya. Sama
ya ama masalah kita di sini hahaha,” ucap Tasya yang tertawa di samping Dewi.
“Tapi seru, Sya, makanya banyak
yang nonton. Apalagi kalau adegan pesugihan nanti tokoh jahat kena azab terus
mati mengenaskan,” sahut Dewi.
“Itu namanya mah ngajarin orang
buat belajar pesugihan karena ngasih tau caranya,” tegas Tasya.
“Tapi kan ada peringatannya biar
enggak pada coba-coba bersekutu dengan setan,” bantah wanita itu.
Terdengar bunyi bel pintu di tekan.
“Itu si Raja udah balik kali apa si
Andri, bukain sana, Sya!” perintah Dewi.
“Masa sih sesopan itu mereka pakai
teken bel, biasanya langsung masuk,” sahut Tasya.
“Dikunci kali, coba kamu cek lagi,
tanggung nih Tante lagi liat ada pocong lagi bonceng motor gede kayak emak-emak
hahaha…” ucap Dewi.
“Ya mana ada pocong bisa naik ninja
kakinya kebuka kan dia diiket,” sahut Tasya.
“Yah, makanya lucu banget tau!”
Tasya mengerucutkan bibirnya lalu
menuju pintu dan membukanya.
“Hai, Tante!” sapa Mey.
“Astagfirullah… Mey!”
Tasya berusaha menutup pintu
apartemen itu tetapi Mey langsung menendang pintunya sekuat tenaga.
“Tasya kamu kenapa?”
Dewi terlihat terkejut saat
mendapati Tasya tersungkur di lantai. Ia lantas menoleh ke arah Mey yang baru
memasuki rumah itu.
“Kamu? Apa yang kamu lakukan di
sini?” tanya Dewi membentak gadis itu.
“Di mana Anta berada?” tanya Mey
dengan wajah menyeringai.
“Mey, mau apa kamu cari Anta, Dia
sudah kamu bunuh, apa kamu lupa?” seru Tasya
“Kau bohong! Kamu pasti bohong, ya
kan? Aku mencium aura kehidupan dari gadis itu,” ucapnya.
Kedua kata gadis itu berubah
menjadi hitam. Tasya melihat keanehan pada gadis itu.
“Kamu, kamu bukan Mey, siapa kamu?”
Tasya berseru pada gadis itu.
Mey maju dan mencekik leher Tasya
dengan sekuat tenaga sampai tubuh wanita itu terangkat. Tante Dewi berusaha
menarik tangan gadis yang kerasukan itu dengan paksa. Namun, gadis itu
mendorongnya sekuat tenaga sampai terjerembab ke samping sofa dan kepalanya
terbentur dinding meja. Dewi tak sadarkan diri kemudian.
“Tante Tasya, lepaskan Tante Tasya!”
seru Raja berteriak. Anak itu baru saja sampai bersama satpam penjaga tadi.
Mey langsung bertanya pada Raja, “katakan
“Mana aku tau Kak Anta di mana,
cari aja sana di kuburan!” sahut Raja.
Mey melempar Tasya sampai membentur
kaca jendela. Untungnya ada hantu Silla yang sigap menolong kala itu.
“Astaga, itu Nyi Ageng,” ucap
Silla.
“Nyi Ageng?” tanya Tasya sambil
kesakitan.
Ia menghampiri Raja dan berusaha
mencekik anak itu. Anak itu langsung menghindar. Bapak penjaga sampai memukul
kepala Mey tapi ia tak merasa sakit apapun. Penjaga itu lantas menghubungi
kawannya dari handy talkie.
Mey langsung kabur kala penjaga itu
memanggil bantuan. Ia segera berlari menuju lift kala itu. Gadis itu dengan
lincahnya berhasil melarikan diri.
***
Pukul satu dini hari, Arya mencolek
pipi Anta setelah masuk mengendap-endap ke kelas tempat menginap para siswi
kala persami saat itu.
“Nta, ayo ke ruang kepsek!” bisik
Arya di telinga Anta.
Dion langsung menarik kepala Arya
agar tak lebih dekat seperti hendak mengecup gadis itu.
“Jangan modus luh!” bisik Dion.
Anta lalu mengucek kedua matanya
dan bangun dari tidurnya. Ia juga membangunkan Ria kala itu. Kelima sekawan itu
akhirnya pergi ke ruang kepala sekolah. Pak Herdi sudah membuat duplikat kunci
dari ruangan tersebut.
“Hati-hati ada cctv di dalam sana,”
bisik Herdi.
“Cara matiin gimana, Yah?” tanya
Arya.
“Potong aja kabel cctv biar mati,
tapi muka kalian tutup, biar enggak ketauan,” ucap Herdi.
“Yaaahh… kirain Ayah bisa hack tuh
cctv kayak di film action gitu, ah taunya putus kabel, kakek jompo juga bisa
kalau begitu doang mah,” ucap Arya.
Dion. Arga, Anta dan Ria menahan
tawanya.
“Udah cepetan kalian sana masuk!”
Herdi memberi titah ke para anak itu untuk masuk. Setelah melakukan hompimpa
kecuali Ria yang tak mau masuk kesana. Anta dan Dion terpilih untuk masuk ke
ruangan tersebut.
“Gue aja yang masuk, elo kan enggak
bisa lihat setan malah biki repot si Anta,” cegah Arya.
“Bener, Bang… nanti Anta makin
repot kalau Abang ketakutan,” ucap Ria.
Setelah Dion berpikir, akhirnya ia
setuju membiarkan Anta masuk ke dalam ruangan kepala sekolah itu bersama dengan
Arya. Pak Herdi masuk lebih dulu dengan menutup wajahnya dengan sarung. Lalu,
ia memutus sambungan cctv tersebut. Kemudian, ia mempersilakan Anta dan Arya
untuk masuk sementara yang lainnya berjaga di luar.
Anta langsung menuju lemari kabinet
di belakang kursi kepala sekolah. Ia meraba pintu lemari itu lalu tersentak
akan sesuatu. Suara berisik terdengar dari dalam lemari tersebut.
“Nta, itu suara apa?” tanya Arya.
“Apa bener ada tikus di dalam sini,
atau ada makhluk lain di sini?” Anta balik bertanya.
“Coba gue buka tapi elo yang lihat,
ya!”
“Iya udah coba buka!”
“Pakai apa, Nta? Gue enggak punya
kuncinya,” sahut Arya.
“Ya ampun Arya kirain Anta kamu
bisa bukanya tanpa kunci, hadeh…”
“Tenang dong, congkel pakai ini!”
ucap Herdi memberikan gunting dari atas meja kepala sekolah ke tangan Arya.
“Nanti pintunya rusak, Yah,” ucap
Arya.
“Ya, mau gimana lagi, coba gih!”
Akhirnya Anta mencoba mencongkel
pintu itu perlahan. Suara berisik itu makin terdengar. Perlahan pintu lemari
kabinet itu terbuka dan sesuatu mendorongnya dari dalam. Ia menggigit tangan
Arya tiba-tiba sampai pemuda itu menjerit.
“Makhluk apa itu?” pekik Herdi.
Sosok makluk seukuran koala
tiba-tiba berlari dari dalam lemari kabinet. Ia berlari dengan cepat menuju
taman sekolah lalu menghilang di pohon asem besar. Anta kehilangan jejak kala
itu padahal Dion dan Arga sudah berusaha mengejar.
“Apaan tadi, hewan apa itu cepet
banget larinya?” tanya Dion.
“Anta juga enggak tau, Kak.”
“Semuanya ayo beresin dulu ruang
kepala sekolahnya,” ucap Herdi.
“Enggak usah dicari lagi tuh
makhluk, ayo beresin dulu,” ucap Arya.
Tiba-tiba, perasaan Anta berubah
kalut. Ia merasa gelisah kala itu.
“Kamu kenapa?” tanya Dion.
“Perasaan Anta enggak enak,” ucap
gadis itu.
******
To be continue…