
Happy Reading...
*****
Dewi memanggil kawan sejawatnya untuk memeriksakan kondisi Anta. Gadis itu mengalami mati suri.
"Kalau menurutku ya, Dew, mati suri ini adalah proses yang dimulai ketika jantung berhenti berdetak, paru-paru berhenti bekerja dan otak berhenti berfungsi. Suatu kondisi medis yang disebut henti jantung, yang dari sudut pandang biologis identik dengan kematian klinis," tutur Dokter Intan.
"Jadi dia baik-baik aja kan?" tanya Dewi.
"Aku cek semua kondisi dia baik kok, normal pada umumnya, anggap aja ini keajaiban dari Tuhan."
Dokter itu lalu membersihkan luka Anta dan membalut dengan perban yang baru bekas jahitan di perut gadis itu. Setelah Dokter Intan memeriksa kondisi Anta, ia lalu pamit pulang.
Para pria sudah diperbolehkan masuk untuk melihat ke arah Anta. Anan langsung memeluk gadis itu. Ia merasakan ikatan batin dirinya dengan gadis itu mulai kuat. Dita sampai melihat sebuah bayangan yang memperlihatkan Anta kecil sedang memeluk Anan. Sebuah peristiwa dan adegan yang sama.
"Aw..." lirih Dita sambil memegangi kepalanya.
"Kamu enggak apa-apa kan, Ta?" tanya Tasya.
"Enggak apa-apa, cuma pusing aja," sahut Dita.
"Oh iya, kamu kan belum sarapan, ayo makan dulu!" seru Tasya.
"Iya, nanti aku makan, mau lihat Anta dulu."
Dita lalu gantian memeluk Anta yang langsung menyambutnya. Untung saja ukuran badan Dita dan Anta kini hampir sama, jadi gadis itu meminjam pakaian milik Dita untuk sementara waktu itu.
Ria mulai sadar dan masih menatap tak percaya pada gadis itu.
"Kenapa? Takut sama Anta?" tanya Anta menatap Ria.
"Kamu, kamu masih hidup, Nta? Huaaaaaa....!" Ria langsung menghamburkan diri memeluk gadis itu bergantian.
"Aduh jangan kenceng-kenceng perut Anta sakit," seru gadis itu.
"Iya, iya maaf." Ria mengendurkan pelukan dari Anta.
Arga dan Arya masuk ke dalam ruangan dab berharap bisa memeluk Anta, akan tetapi Anan sudah melarangnya.
"Eit, jangan coba-coba, cukup lihatin Anta dari sini!" seru Anan.
"Hehehe... kali aja Om bisa peluk Anta juga," sahut Arya.
"Hai...!" sapa Anta mengibaskan tangannya ke arah Arga dan Arya ia masih duduk di sofa kala itu di samping Dita.
"Hai, Nta! Sehat kan?" tanya Arga seraya mendekat dan mengusap kepala Anta.
"Kok nanyanya gitu, sih, si Anta masih hidup lah, elu liat sendiri kan tadi," sahut Arya.
"Ya gue tau, gue kan cuma nanya," sahut Arga.
"Coba minggir, gantian!" Arya menarik lengan Arga.
"Hai, Anta, kangen enggak sama Arya?" tanya pemuda itu dengan senyum tengilnya.
"Enggak, hehehe..."
Semua yang berada di sekitar Anta langsung tertawa bersamaan.
"Eh, Abang Dion mana? Tadi kan sama kalian?" tanya Ria.
"Dia takut kali ketemu Anta kan gara-gara dia enggak becus jagain Anta sampai cewek gue terluka dan bahkan mati. Untung aja ada keajaiban dia cuma mati suri doang!" sahut Arya dengan kesalnya.
"Cewek gue?" tanya Anan dan Dita bersamaan.
"Hehehe... maksudnya temen saya, Om, Tante," sahut Arya.
Anta mencoba bangkit dan berdiri. Ia mencoba untuk terbiasa dengan sakit di perutnya.
"Mau kemana?" tanya Dita.
"Anta mau cari Kak Dion, Anta enggak mau dia merasa bersalah," sahut gadis itu.
Arya langsung menahan tangan Anta tetapi Arga menahan Arya.
"Biarkan Anta pergi, elo harus ngerti," bisik Arga.
"Ta, kita masak buat makan siang semuanya, yuk!" ajak Tasya.
"Oh boleh juga tuh, Nenek juga mau bantu masak," sahut Nenek Darma.
"Ya udah kalau gitu, aku sama Kak Aiko dan Ibu Ari serta lainnya mau bersih-bersih dulu," sahut Dewi.
Anta melangkah keluar mencari Dion, ia lalu menemukan pemuda itu sedang duduk di tepi lubang tanah yang tadi di gali untuk mengubur Anta sebelumnya.
"Ngapain di sini, mau ngerasain dikubur?"
Anta menepuk bahu Dion sampai pemuda itu tersentak dan jatuh ke lubang tanah itu.
"Nta, please kalau kamu mau marah sama aku silakan, tapi jangan gentayangan nakutin dan berniat mencelakakan aku. Aku tau aku salah enggak bisa jagain kamu, jadi aku minta maaf," ucap Dion seraya menangis dan mengusap air mata di wajahnya.
"Hahaha... Kak Dion pikir Anta udah mati ya?" tanya Anta.
"Memangnya kamu belum nanti?"
"Belum dong, ini kaki Anta napak tanah," ucap gadis itu.
"Jadi, kamu enggak mati. Ah... syukurlah...!"
Dion lalu berusaha naik ke permukaan meskipun berkali-kali ia jatuh terjerembab. Anta berusaha ingin menolong tetapi Dion tak mau karena tahu kondisi gadis itu masih sakit. Akhirnya pemuda itu sampai juga ke atas permukaan tanah.
"Tadi aku sekarang gue, hehehehe enggak jelas!" sahut Anta.
"Ya udah, maafin aku ya, aku enggak bisa jagain kamu dan udah buat kamu celaka," ucap Dion.
"Semua udah takdir, Kak."
"Aku juga enggak bisa nemuin Ratu Sanca dia menghilang gitu aja," ucap Dion.
"Anta udah ketemu, dia mengorbankan diri supaya Anta bisa balik ke dunia," ucap Anta dengan raut wajah sedih memandang langit biru dari tempat dia berpijak.
"Jadi, Ratu Sanca..."
Anta menganggukkan kepala mengiyakan. Gadis itu sudah tau apa yang hendak Dion tanyakan selanjutnya.
"Keadaan Mey gimana ya, Kak?" tanya Anta.
"Nta, kamu tuh baik banget sih, dia tuh mau mencelakai kamu, masih aja kamu tanyain," sahut Dion.
"Anta kasian sama dia, biar gimana pun dia kan sahabat Anta," sahut gadis itu.
"Aku taunya Arya sama Arga nengokin si Mey di penjara. Entah gimana lagi kelanjutannya."
Dion menyentuh pergelangan tangan Anta dan menggenggamnya.
"Sekali lagi maafin aku, ya," ucap Dion.
Di balik dinding panti asuhan, Arya dan Arga menyimak pembicaraan keduanya. Arya mulai geram kala melihat Dion menggenggam tangan Anta. Akan tetapi, Arga menahannya.
"Udah liat kan siapa yang dipilih Anta," bisik Arga.
"Masa sih Anta suka sama Dion?"
"Liat aja sendiri, gue juga pernah liat Dion peluk Anta, jadi... kita harus lapang dada, Bro!"
Arga menepuk punggung pemuda itu untuk sabar dan bertahan.
"Gue masih enggak bisa lapang dada, kalau elo udah nyerah buat dapetin Anta, gue enggak akan nyerah," sahut Arya.
"Terserah elo lah! Gue sih cukup sabar aja buat jagain Anta meski cuma jadi sahabat gue. Udahlah yuk makan siang dulu, daripada makin panas elo entar ada di sini ngeliatin mereka. Ayo, kita makan!" ajak Arga merangkul bahu Arya dan mengajaknya masuk.
"Elo aja duluan! Gue di sini dulu, masih gue liatin mereka berdua," sahut Arya.
"Terserah elo, lah!"
Arga melangkah masuk ke dalam panti setelah Tasya memanggil mereka untuk makan siang. Hidangan sayur bayam, telor dadar dan sambal ala kadarnya terasa nikmat jika dinikmati bersama-sama.
Dion juga memesan beberapa pizza dan minuman untuk menambah keseruan kali itu. Awalnya mereka mengira mendung dikala pagi itu akan mengiringi acara pemakaman Anta. Akan tetapi, takdir berkata lain. Tak ada upacara kematian hari itu seiring cuaca yang berubah cerah.
***
Satu minggu berlalu, para murid masih heboh mendengar kematian Anta. Mereka mendekati gadis itu saat di kantin untuk tanya jawab.
"Anta, ceritain dong, kan katanya kalau mati suri bisa lihat hantu apa yang serem-serem gitu?" tanya Irma.
"Jiah, sebelum mati suri juga si Anta udah bisa—" ucapan Ria tertahan kala Anta menatapnya tajam sambil menggeleng. Ria langsung terdiam dan tersenyum.
"Minggir, minggir! Jangan pada gangguin cewek gue, biarkan dia makan dengan tenang."
Arya datang langsung membubarkan para kerumunan itu. Ia lalu berdiri di samping gadis itu.
"Anta mau makan apa biar Arga yang beliin," ucap Arya menunjuk Arga.
"Lha, yang mau traktir elo, kok gue yang beliin?" tanya Arga.
"Jadi, elo enggak suka kalau beliin Anta makanan?" ledek Arya mencoba mengambil kesempatan.
"Suka kok, gue mau banget malah beliin Anta makanan tapi bukan elo!" sahut Arga menunjuk dada Arya dan mendorongnya.
"Udah deh jangan pada mulai," sahut Ria.
"Belum mulai, ini baru pemanasan ya, Ga?" Arya menoleh pada Arga.
"Bodo amat! Anta mau makan apa? Bubur ayam mau? Bakso apa siomay juga boleh?" tanya Arga.
"Enggak usah makan macem-macem, gue udah bawa menu sehat buat Anta!"
Dion hadir mendekati Anta dan yang lainnya seraya membawa dua kotak makan berisi nasi, sayuran wortel dan brokoli kukus, serta ayam teriyaki dan tofu. Di kotak lainnya ada salad buah dan juga sekotak susu cokelat untuk gadis itu.
"Oh, jadi dari tadi Abang Dion pagi-pagi sibuk di dapur buat bikin bekal cantik penuh cinta ini untuk Anta," ucap Ria langsung membuat wajah Dion bersemu.
"Ga, saingan kita lama-lama kok tambah berat gini, ya?" bisik Arya.
"Ho oh, kualitas kita jadi beda jauh gini," sahut Arga yang juga berbisik pada pemuda di sampingnya itu.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Vie punya cerpen baru, yuk mampir
"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon
Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, cuma komen dan love ya.
Follow IG : @vie_junaeni