Anta's Diary

Anta's Diary
Pernikahan Pak Herdi dan Hyena



Happy Reading...


*******


Pagi-pagi sekali Arya datang ke Apartemen Emas menggunakan taxi online. Hari itu adalah hari pernikahan ayahnya dan Hyena. Tapi, bukan rumah ayahnya yang ia ketuk melainkan rumah Mama Dewi.


"Kamu siapa, ya?" tanya Mama Dewi saat membuka pintu rumahnya.


"Saya—"


"Kak Arya, ngapain pagi-pagi ke sini?" tanya Raja yang muncul dari belakang.


"A-Arya?"


Dewi menatap tak percaya saat Raja menjelaskan mengenai sosok Arya yang ada dalam tubuh Dion.


"Kakak mau cari Kak Anta ke sini?" tanya Raja.


"Bukan, gue mau cari Om Andri," ucap Arya.


"Kamu mau cari saya, ada apaan?" tanya Andri.


"Saya mau minta tolong, saya mau buat Nenek Lampir itu sakit perut biar enggak jadi nikah sama Ayah saya," pinta Arya.


"Enggak bisa gitu, Ya, nanti usaha catering saya jadi jelek kalau sampai buat Hyena sakit perut," ucap Andri.


"Duh, tapi saya mau pernikahan ini batal, Om," pinta Arya dengan wajah memelas dan tampak putus asa.


"Ya, kalau jodoh enggak ke mana, kalau emang Hyena jodoh ayah kamu mau kita rencanain biar gagal kayak apapun tetep aja jadi nikah, tapi kalau dia bukan jodoh ayah kamu, kalau takdir berkehendak bukan sesuai yang Allah mau, ya tetep aja enggak bakal nikah," ucap Dewi menyela.


"Jadi, apa yang harus saya lakukan, Om, Tante?" tanya Arya.


"Berdoa, kamu berdoa semoga Hyena bukan jodoh ayah kamu," ucap Mama Dewi menepuk bahu Arya.


"Kamu pakai baju kayak Raja, tuh!" pinta Andri menunjuk raja yang sudah mengenakan celana kulot hitam, kemeja putih dan rompi motif kotak bertanda seragam karyawan restoran The Anan's.


"Buat apa, Om?" tanya Arya.


"Biar kamu bisa datang ke pesta itu, kan pakai undangan, jadi kamu saya jadikan karyawan aja itung-itung bantu saya, nanti saya gaji deh, mau enggak?" tanya Andri.


"Mama, liat bros bunga mawar punya Anta enggak?" tanya Anta yang langsung masuk rumah Mama Dewi mencari bros miliknya yang tak ia temukan di rumah Tasya.


Arya menatap Anta yang wajahnya hari itu diberi sedikit riasan oleh Tasya. Rambut hitam gadis itu dikuncir tengah dengan hiasan jepitan mutiara. Dia terlihat tampak cantik hari itu. Seragam yang ia pakai juga sama dengan Raja. Hanya bedanya, gadis itu menggunakan rok hitam selutut.


"Ada di laci meja rias Mama, coba sana ambil!" ucap Mama Dewi.


"Oke. Ngomong-ngomong, ngapain kamu di sini?" tanya Anta menatap Arya.


"Gue, gue mau ngelamar kerja jadi karyawan Om Andri, mana sini Om seragamnya," pinta Arya.


"Oke, bentar saya ambilin."


Anta melangkah menuju kamar Mama Dewi untuk mencari bros yang ia maksud. Setelah ketemu ia sematkan di dada kirinya menambah cantik seragam yang hari itu ia pakai.


Sementara Arya yang selesai berganti pakaian, ke luar dari kamar mandi.


"Wah, ganteng juga kamu pakai seragam ini," ucap Mama Dewi.


"Cakepan dia ya sama aslinya Arya," celetuk Anta yang langsung diancam kepalan tangan yang hendak meninju gadis itu oleh Arya.


"Hahaha... enggak kok, dua-duanya ganteng," ucap Mama Dewi merapikan rambut Arya.


Arya berdiri di depan cermin yang di padang di dinding dekat ruang makan rumah itu. Wajahnya tiba-tiba terlihat sampai ia menarik lengan Anta.


"Tuh, kalau di cermin muka asli gue keluar, cakep kan, gue?" tanya Arya dengan nada sombong.


"Cakep Dion, sih," ucap Anta.


"Iya, cakepan Kak Dion," sahut Raja menimpali.


"Ah, pada rese banget, sih!"


Arya mendengus kesal.


"Udah siap semua? Yuk, kita berangkat!" ajak Mama Dewi.


Andri pun sudah siap dengan kunci mobil. Saat mereka membuka pintu juga ada Tasya dan Mey yang sudah siap menunggu.


Arya masih menatap wajahnya di cermin rumah Mama Dewi karena hanya di cermin itu ia daoat melihat wajah aslinya. Anta mengamati anak muda itu.


Arya masih tak bergeming. Ia masih menatap wajahnya di cermin itu.


"Aduh ni cowok narsis banget, sih! Iya, kamu udah cakep," ucap Anta seraya menarik tangan Arya.


"Kamu tadi bilang apa, gue cakep?" tanya Arya masih tak percaya.


"Enggak sih, salah denger kali," ucap Anta.


Tapi Arya yakin kalau Anta tadi bilang dirinya cakep. Pemuda itu membiarkan tangannya ditarik Anta saat menuju ke dalam lift. Matanya tak pernah lepas menatap genggaman tangan gadis itu sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Masuk!"


Anta menarik tangan Arya dengan paksa dan mendorong pemuda itu masuk sampai membentur dinding lift.


"Awww... sakit cumi albino!" pekik Arya.


"Anta, enggak boleh gitu dong!" protes Mama Dewi.


"Iya, maaf," ucap Anta menoleh ke wajah Arya dengan cemberut.


"Kamu tadi bilang Anta apa, Dion, cumi albino?" tanya Mey.


"Iya, emang dia macam cumi albino, enggak bisa diem cuma putih aja kulitnya," sahut Arya.


"Itu kan panggilan Arya ke Anta," ucap Mey lirih.


"Oh, enggak juga, si Dion suka panggil Anta cumi juga, si Raja aja suka ngatain Anta cumi albino juga, ya, Ja?" tanya Anta menoleh ke arah Raja.


"Enggak," sahut Raja yang langsung diinjak kakinya oleh Anta.


"Ouch, iya iya, kak Anta kayak cumi!" sahut Raja sambil mendengus kesal.


Wajah Mey masih terlihat mengernyitkan dahi tapi ia segera tersenyum meskipun tampak terpaksa.


***


Sesampainya di restoran Andri, dekorasi pernikahan sudah dipersiapkan. Semuanya terlihat sangat cantik penuh dengan hiasan bunga mawar putih dan mawar merah.


Meja penghulu juga sudah disiapkan di tengah ruangan dalam restoran yang sudah dirombak sedemikian rupa. Sementara meja prasmanan berada di halaman restoran yang dirancang untuk pesta kebun minimalis.


Pak Herdi sudah siap dengan setelan jas pengantin warna hitam. Ia berdiri menunggu sang mempelai wanita datang. Saat hendak menyematkan aksesoris sapu tangan putih pada sakunya, ia tak sengaja menjatuhkannya.


Sapu tangan itu tepat jatuh di ujung sepatu hells warna putih milik Tasya. Hari itu juga Tasya mengenakan tampak cantik dengan setelan jas warna pink pastel dan rok sepan berwarna senada. Pakaian seragam yang sama yang Mama Dewi kenakan untuk mengatur para karyawan yang bekerja sebagai pelayan tamu.


Tasya menghampiri Pak Herdi dan melipat sapu tangan itu lalu menaruhnya ke dalam saku jas pria itu.


"Jangan sampai jatuh lagi," ucap Tasya.


"Cantik."


"Apa, Pak?" tanya Tasya yang tampak belum jelas mendengar ucapan Pak Herdi.


"Terima kasih."


"Oh, sama-sama. Belum mulai udah keringetan aja, bentar ya aku ambilkan tisu."


Tasya segera meraih tisu dan mengusap perlahan wajah Pak Herdi.


Anta dan Arya yang melihat kejadian itu langsung menyenggol ujung siku satu sama lain dan saling tersenyum.


"Gue lebih rela kalau nyokap tiri gue itu Tante Tasya," lirih Arya.


*******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.