Anta's Diary

Anta's Diary
Ada Apa Dengan Arya



Happy Reading...


******


"Nangis aja sayangku, lepaskan semua kesedihan kamu, Nak."


Dita menepuk-nepuk punggung Ria dengan lembut.


"Mulut Ria pedes, Bu..." sahut Ria.


"Waduh, maaf ya Neng." Taysa langsung meminta maaf dan mengusap kepala Ria.


Anan yang datang membawa sebotol minuman teh dingin langsung diraih oleh Tasya.


"Dih, kayak copet cepet banget gerakannya si Tasya," gumam Anan.


"Minum nih, Neng. Habisin semuanya!" pinta Tasya menyerahkan botol minuman itu pada Ria.


"Hiks hiks hiks, makasih Tante."


Ria langsung menghabiskan satu botol minuman teh manis itu.


"Ada lagi enggak, Tante?" tanya Ria.


"Waduh, haus apa laper, Neng?" tanya Tasya.


"Bentar deh aku beliin dulu," sahut Arga yang langsung menuju tempat Anan membeli minum tadi.


"Minum ini dulu aja yang punyaku," ucap Dita menyerahkan teh botol dari Anan itu.


Ria mengucapkan terima kasih lalu menghabiskan lagi teh dalam kemasan botol itu.


"Udah tenang, kan? Kamu yang sabar, ya," ucap Dita.


"Kenapa sih Papi sama Mami aku jahat semua, aku kan malu, Tante... huhuhuhu... Bisa enggak sih mereka ditukar aja sama kuaci, aku ikhlas banget deh, hiks hiks...!"


Ria masih berurai mata kala menceritakan perihal kesedihannya. Arga yang baru tiba langsung duduk di samping gadis itu. Ia bahkan mendengar penuturan Ria barusan sampai mencubit lengan gadis itu.


"Aw... sakit Arga! Ibu Dita... tuh Arga nakal, masa aku dicubit padahal aku pacarnya sendiri huhuhu...!" Ria mengadu dengan manja.


"Arga, jangan cubit gitu!" seru Dita menepuk bahu Arga.


"Ya habisnya masa punya orang tua mau dituker sama kuaci!"


"Habisnya aku kesel banget punya orang tua macam mereka, mana keluarga Abang Dion udah pergi ke Inggris semua. Masa aku nyusul mereka ke sana..."


"Jangan jangan jangan! Aku enggak mau ya kehilangan kamu gara-gara jauh dari aku!" seru Arga.


"Hmmm bocah bucin, romantis banget ngomongnya," sahut Tasya.


"Gini aja, kamu tinggal aja sama kami di panti asuhan, mau?" tanya Dita.


"Emang ada kamar buat aku, Bu?" tanya Ria.


"Kamu bisa satu kamar sama Anta, gimana?"


"Wah... Makasih banyak ya, Bu."


Ria memeluk Dita kembali dengan erat.


"Yess, alhamdulillah...." sahut Arga.


"Hmmm... dasar bucin!" Tasya sampai mencubit pipi Arga dengan gemas.


***


"Pada kemana sih, Nek?" tanya Arya pada Ibu Aiko.


Wanita paruh baya itu sedang menyuapi Raja dengan nasi goreng telur.


"Di rumah sakit, barusan Bunda telepon Kak Anta—"


"Kak Anta masuk rumah sakit?" tanya Raja dengan wajah panik. Ia pun tersedak kemudian.


"Aduh, minum dulu nih, lagian bukan Kak Anta yang sebenarnya sakit, tapi si Arya," ucap Ibu Aiko.


"Kok, bisa sih masuk rumah sakit?"


"Entahlah sepertinya ada hubungannya sama kejadian sama galeri apa gitu, mereka mau cari Arga sama Ria di galeri. Udah ini habisin dulu makan malamnya terus minum susu terus kamu tidur ya," ucap Ibu Aiko.


"Iya, Nek."


"Ja, hape kamu bunyi nih, tulisannya ma... ye babiye... apaan sih ini bacaannya?" tanya Bu Ari seraya membawa ponsel Raja ke hadapannya.


"Ih, itu mah si Angel, My Baby ini bacanya. Waduh video call lagi, udah Nek Aiko jangan suapin aku lagi, aku makan sendiri. Mohon maaf ya para nenek sekalian silakan pergi jangan nguping!" pinta Raja.


Aiko dan Ari saling bertatapan dan tertawa melihat kelakuan anak itu. Mereka akhirnya pergi.


"Ya, bebi ada apa?" tanya Raja.


"Hai, Ja! Aku beliin robot ultraman yang bisa nari, lucu deh, kamu suka enggak?" Angel memperlihatkan sosok robot ultraman yang tengah menari dari layar ponselnya.


"Wah, lucu banget, apapun yang kamu kasih ke aku, barang-barang dari kamu, aku pasti suka," ucap Raja.


"Makasih ya, Ja."


"Aku dong yang makasih."


"Ja, kamu lagi di beranda ya? Itu kayak ada kepala cewek tapi melayang?" tanya Angel dengan nada ketakutan.


"Ah, masa sih? Coba aku liat dulu!"


"Jangan deh, Ja, biarin aja, kamu masuk ke dalam aja gih!"


"Hmmm... Aku penasaran. Nanti aku telepon kamu ya," ucap Raja lalu menutup sambungan video call dari Angel.


"Permisi ya dedek bayi, aku numpang lewat."


Anak itu berusaha menghindari tangan-tangan mungil yang berusaha menyentuhnya.


"Tante Sadako, liat hantu kepala perempuan lewat sini, enggak?" tanya Raja pada hantu perempuan penjaga sumur tua.


"Umm... Aku baru aja keluar cari angin, jadi enggak liat."


Hantu wanita itu duduk di tepi sumur seraya menyisir rambutnya dengan jari jemarinya. Tiba-tiba terdengar suara dari atas pohon dekat dengan raja.


"Apaan tuh?" tanya Raja.


"Oh... itu tuh yang kamu cari!" seru hantu penjaga sumur seraya menunjuk ke atas pohon.


Raja langsung menoleh ke atas pohon. Ia melihat sosok hantu kepala perempuan yang ternyata berbentuk palasik tersangkut di antara kedua ranting. Usus milik hantu itu tersangkut bahkan bagian hati milik si hantu tertusuk ranting kecil berujung tajam.


"Oh itu ya, hahahaha....!" Raja menertawai si hantu palasik itu.


Anak itu dan hantu penjaga sumur bergegas ke arah pohon sebaliknya untuk melihat wajah hantu palasik itu.


"Kayak pernah lihat, kamu yang ada di deket rumah Robi, kan?" tanya Raja.


Hantu wanita itu hanya tersenyum menyeringai.


"Apa kau mau aku makan?" tanyanya sambil tertawa cekikikan.


"Heh, ketawa cekikikan kayak gitu tuh punya si kunti, kamu nggak pantes ketawa kayak gitu!" seru Sadako.


"Aku isengin, ah...." Raja menimpuk hantu palasik itu dengan batu kerikil.


"Aku bantuin, Ja!" ucap hantu penunggu sumur mengikuti kelakuan Raja.


Mereka terus menimpuk hantu itu dengan batu kerikil sampai hantu palasik itu menjerit kesakitan.


"Aku yakin nih, kalau dia terus-terusan tersangkut gitu, apalagi sampai pagi, dia pasti enggak bisa balik ke tubuhnya terus mati," ucap Sadako.


"Jadi sekarang dia bukan hantu? Lalu kalau nanti dia mati bisa jadi hantu, dong?"


"Tidak tidak tidak, dia akan pergi ke neraka ke alam iblis palasik yang sama seperti dia."


"Oh, bagus kalau begitu, ya udah kita timpukin aja terus. Sebentar aku mau cari batu yang lebih gede," ucap Raja.


Hantu palasik yang tersangkut di atas pohon itu langsung menoleh ke arah wajah Raja dengan sangat cemas.


"Tidaaaaaaaaak....!"


***


Keesokan harinya, setelah mendonorkan darah untuk Arya, Anta terbangun di sebuah ranjang rumah sakit karena tubuhnya sampai lemas dan tertidur pulas setelahnya sampai pagi menjelang.


Dita menunggui putrinya tersebut. Sementara Anan pulang untuk mengambil pakaian ganti dan juga membawa sarapan untuk Dita. Sinar mentari pagi yang masuk dari celah jendela sampai menerpa gadis itu dan membuat kedua matanya sampai memicing karena silau.


Anta menoleh ke arah Dita yang sedang membaca majalah pagi itu di kursi samping ranjang putrinya.


"Bunda... kondisi Arya gimana?" tanya Anta.


"Eh, Anta udah bangun, mau minum apa mau sarapan bubur?" tanya Dita.


"Kondisi Arya gimana, Bunda?"


"Duh, sarapan dulu ya, kamu kan baru bangun dari semalam abis donor darah," ucap Dita.


"Tapi Anta kepikiran Arya, kondisinya gimana?"


"Oke oke oke, tadi sih Bunda dengar kondisi Arya sudah membaik," jawab Dita.


"Syukurlah..."


Tiba-tiba derap langkah suara terdengar sangat cepat.


"Wah, gawat!" Arga tiba-tiba masuk ke dalam ruang perawatan Anta.


"Arga, kamu kenapa? Gawat kenapa?"


Anta mencoba bangkit dari ranjangnya.


"Arya, si Arya, Nta...."


"Arya kenapa?" tanya Anta mulai panik.


"Udah cepetan, ayo ikut!" seru Arga.


Wajah Arga terlihat cemas dan panik. Ia segera membantu gadis itu dan memapah tubuh gadis itu menuju ruang perawatan tempat Arya. Dita mengikuti di belakang.


"Hati-hati, jangan cepat-cepat!" seru Dita.


"Tapi harus cepat, Tante."


Mereka tiba di sebuah ruangan tempat Arya dirawat. Tasya dan Herdi sudah berada di depan ruangan itu. Kedua wajah mereka terlihat menunduk. Bahkan ayahnya Arya terlihat terisak menahan tangis.


"Ada apa dengan Arya?" tanya Anta.


Tasya mengulurkan tangannya ke arah dalam.


"Kamu lihat sendiri aja, Nta!" pinta Tasya.


****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰


Selamat menjalankan ibadah puasa.