
Note : maaf ya lagi slow update.
Happy Reading...
******
Raja lalu menoleh ke arah Pak Herdi yang masih terikat di kursi kayu. Pria itu sangat pulas sampai kepalanya mendangak. Ia juga terdengar mendengkur. Dari sudut bibirnya sudah menetes air liur yang tak terasa keluar sampai ke kerah pakaiannya.
"Idih, udah tua tidurnya ngorok, ngiler lagi," gumam Raja.
Anak itu menepuk bahu Pak Herdi dan membangunkannya.
"Eh, Ja, kamu kok bisa lepas?" tanya pria itu.
"Tuh, dibantuin sama Tante bolong," jawab Raja sambil menunjuk ke arah Susanti yang melambaikan tangannya.
Kepala hantu itu menunduk. Wajah hantu itu juga masih tertutup rambut berantakan saat melambaikan tangan.
"Hah, apaan tuh?" pekik Pak Herdi.
"Ah, Om lebai, udah jelas itu Kuntilanak pake nanya apaan, duh susah banget lagi buka ikatannya," gumam Raja saat membuka ikatan di tangan Pak Herdi.
Untungnya saat dua orang penculik itu meninggalkan mereka tadi, bagian mulut yang dilakban itu sudah dibuka. Sehingga pria itu tertidur sampai meneteskan air liur.
"Susah banget, Om!" ucap Raja.
"Kamu cari sesuatu buat gunting, pecahan kaca misalnya," ujar Pak Herdi.
"Minta tolong sama Tante Sus aja, ya?" tanya Raja menawarkan.
"Jangan, jangan minta tolong sama dia, saya takut, Ja!" tukas pria itu.
"Ah, sama yang kayak gitu aja takut, bentar tunggu sini, aku mau minta tolong Tante Sus," ucap anak itu lalu melangkah menghampiri hantu tadi.
"Ayo Tante ikut aku, bukain ikatan Om itu!" ajak Raja.
"Enggak bisa, tadi saya coba sentuh dia enggak bisa, saya cuma bisa sentuh kamu," ucap hantu perempuan itu.
"Yah, terus gimana dong cara buka ikatannya?"
Raja mencoba mengamati sekelilingnya untuk mencari sesuatu yang tajam. Dia akan menggunakannya untuk membuka ikatan Pak Herdi.
Namun, terdengar suara seseorang membuka pintu sampai membuat keduanya terkejut.
"Balik Ja ke tempat kamu tadi pura-pura tidur!" ucap Pak Herdi dengan suara berbisik.
Raja mengangguk lalu kembali ke tempat tadi dia berbaring. Kedua matanya pura-pura terpejam dengan tangan ke belakang seolah-olah masih terikat. Begitu juga dengan Pak Herdi yang pura-pura tertidur juga.
Seorang wanita masuk ke dalam gudang tua tersebut. Derap langkahnya terdengar mendekat. Kedua penculik tadi juga mengikuti pria itu di belakangnya.
"Kenapa ada orang ini?" tanya wanita itu.
"Dia ngeliat kita pas nyulik bocah ini," ucap si pria berambut panjang itu.
"Tapi, kalian yakin kan kalau anak ini anaknya Andri?" tanyanya.
"Yakin Bos, dia selalu ke restoran tempat Andri, dan Andri juga sering antar jemput anak ini, terkadang sih Tantenya yang antar jemput," ucapnya.
"Lalu anak perempuan satunya mana?" tanya wanita itu.
"Saya enggak yakin itu anaknya Andri, soalnya anak perempuan itu tinggal di seberang apartemennya, yang tinggal sama Andri dan istrinya ya anak ini," jawabnya.
"Hmmm... Tapi pria ini ganteng juga," ucap wanita itu sambil mengitari Pak Herdi yang masih pura-pura tertidur.
"Bos, lebih cakep ini malah sama Andri," sahut pria satunya.
"Iya sih, tapi saya tetap mau sama Andri, dan pastikan foto-foto anak ini besok sampai ke tangan Andri agar dia datang menemui aku secepatnya," ucap wanita itu.
"Baik, Bos!" sahut kedua pria penculik itu bersamaan.
Wanita itu menepuk pipi kanan Pak Herdi untuk membangunkannya. Pria itu akhirnya membuka mata karena dia juga penasaran siapa wanita itu sebenarnya.
"Siapa kamu?" tanya Pak Herdi langsung.
"Halo, namaku Martha," ucap wanita itu sambil membelai pipi Pak Herdi dengan senyum genit menghias wajahnya.
"Kenapa kau menculik kami, apa mau mu?" tanya Pak Herdi lagi lebih tegas.
"Anak itu, apa kau mau uang tebusan?" tanya PAK Herdi lagi menerka.
"Hahaha... uang tebusan? Hahahaha... Aku bahkan mampu membeli seorang seperti kamu, kenapa harus meminta uang tebusan dari Andri dan istrinya yang masih hidup pas-pasan," ucapnya masih tertawa.
Terlihat perut buncit dan lemak di seluruh tubuh wanita itu bergetar saat tertawa dengan puasnya.
"Andri, kau kenal Andri?"
"Iya, dia ayah anak itu, kan? Tentu saja aku kenal."
"Tapi anak itu—"
"Sudahlah, aku sudah lelah habis berpesta, besok kita bertemu lagi ya, setelah ku amati, kau terlihat sangat menggoda."
Wanita itu mencolek pipi Pak Herdi yang buru-buru menoleh sambil memandang sinis ke arah wanita itu.
"Saya mau pulang, kunci ruangan ini, besok saya kembali lagi," ujarnya.
Wanita itu melangkah pergi meninggalkan Pak Herdi dan Raja.
Kedua pria itu lalu melaksanakan perintah wanita tersebut dan memastikan gudang itu terkunci rapat. Raja kemudian bangkit dan mencari sesuatu untuk membuka ikatan Pak Herdi.
"Ja, kita tetap di sini saja," ucap Pak Herdi.
"Kenapa memangnya, Om?"
"Saya mau tau apa yang diinginkan wanita itu dari Andri, dan kenapa dia sampai menculik kamu," ucap pria itu.
"Ya juga sih, terus aku ngapain nih?" tanya Raja.
"Udah tidur aja, istirahat dulu, simpan tenaga untuk besok, saya akan pastikan kamu selamat dari sini," ucap Pak Herdi.
"Baiklah, tapi aku laper, Om..."
Raja memegang perutnya yang berbunyi menandakan lapar minta diisi.
"Tahan, besok juga dikasih makan," ucap Pak Herdi.
Raja hanya menundukkan kepalanya dan kembali ke tempat ia berbaring tadi. Di sampingnya duduk hantu perempuan yang tadi menemani anak itu.
"Kamu lapar?" tanya hantu itu
"Iya, Tante, aku lapar."
"Aku punya makanan, nih!"
Hantu itu menunjukkan sesuatu di kedua telapak tangannya yang terbuka. Banyak belatung dan larva hewan menggeliat di telapak tangan hantu wanita itu. Raja langsung menjerit dan menggeser bokongnya menjauh.
"Idih, jorok! Emangnya aku burung pipit apa makannya begituan!" keluh Raja.
"Tapi ini enak, cobain aja!" pinta hantu itu menyodorkan kembali.
"Enggak mau! Pantas aja di dalam punggung bolongnya banyak belatung makannya begituan mulu, hiiiii...."
"Ya udah kalau enggak mau, aku makan aja," ucapnya.
Raja langsung memilih berbaring tak mau menatap lagi ke arah hantu wanita itu. Saat ia berbaring, ia juga berpikir ada hubungan apa wanita yang penculiknya tadi dengan Papa Andri.
"Kenapa ya dia nyulik aku, apalagi dia pengen banget ketemu sama Papa Andri?" gumam Raja seraya menoleh ke arah dinding.
Hal yang sama juga masih dipikirkan oleh Pak Herdi. Ia juga memikirkan ada hubungan apa wanita yang menculik dia dan Raja tersebut dengan Andri. Apa karena hubungan hutang piutang atau malah hubungan cinta.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni